Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Menerima Sang Adik



Sesampai di rumah, Sarah langsung masuk ke kamar. Rangga benar-benar merasa bersalah, karena dirinya yang tidak pernah mau memakai pengaman dan itu membuat istrinya sekarang hamil. Dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan mengirimkan pesan singkat untuk anaknya.


“Bang, apa kabar? Ayah ingin bicara sesuatu yang serius sama kamu,”


Mendapat pesan dari ayahnya dengan cepat Kenzo menelepon sang ayah. Mendengar ponselnya berbunyi, Rangga dengan cepat mengangkat telepon dari anak kesayangannya.


Kenzo :“Halo, Yah, ada apa?”


Rangga :“Halo, Bang. Bagaimana kabarmu dan istrinya?”


Kenzo :“Kami baik Yah, Ayah sama Bunda gimana?”


Rangga :“Kami juga baik nak. Bang ada yang ingin ayah bicarakan mengenai Bunda,” mendengar ini Kenzo dan Zana saling menatap. Mereka langsung merasa khawatir mengingat sang Bunda yang akhir-akhir ini selalu mengeluh sakit.


Kenzo :“Ada apa dengan Bunda, Yah? Bunda baik-baik aja kan?” tanyanya cemas.


Rangga :“emmm ... Sebelumnya kamu jangan marah ya?” Rangga ragu ingin menceritakan kondisi istrinya. Kenzo dan Zana semakin penasaran dengan apa yang di katakan Ayah mereka.


Kenzo :“Ada apa Yah? Kenapa juga Abang harus marah? Ayah kan tidak melakukan kesalahan.”


Rangga :“emmm ... Bunda sekarang sedang mengandung adikmu,” mendengar itu Kenzo menjatuhkan Ponselnya, karena merasa kaget luar biasa. Dia tidak menyangka di usianya Dia sekarang harus mempunyai seorang adik, terlebih saat ini Dia sudah memiliki istri. Benar saja yang di pikirkan Sarah, kalau Kenzo akan sulit menerimanya. Zana mengambil ponsel yang jatuh dan berbicara dengan Ayahnya.


Zana :“Yah, Kenzo masih syok, Dia tidak mau bicara dulu katanya. Maafin Zana ya, Yah!”


Rangga :“Kamu tidak perlu minta maaf sayang, Ayah yang minta maaf. Bilang padanya, kalau dia harus menerimanya kasian Bunda, Dia pun sama stress memikirkan ini.”


Zana :“Iya, Yah. Ayah sama Bunda jaga kesehatan ya,”


Rangga :“Iya sayang, kamu juga. Kalau gitu, Ayah tutup teleponnya ya,”


Zana meletakkan ponselnya di meja samping kasurnya. Dia memeluk pinggang suaminya dan menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya. Zana tau kalau Kenzo tidak menerima apa yang di katakan Ayahnya tadi. Tapi, Zana berusaha menenangkan suaminya dan menyemangati suaminya. Walaupun sebenarnya hati kecilnya sakit, karena dia juga sangat menginginkan seorang anak.


“Bang, kasian Bunda kalau kamu ga mau menerima adikmu,” ucap Zana sambil menyentuh lembut wajahnya yang cemberut.


“Memang sayang, aku sangat ingin mempunyai seorang adik, tapi itu dulu. Yang aku inginkan sekarang seorang anak bukan adik,” Kenzo tidak menyadari apa yang dia katakan dan itu berhasil membuat hati Zana teriris.


Zana memeluk suaminya, tidak terasa air matanya jatuh di pipi. Kenzo kaget saat merasakan majunya yang basah. Dia mendorong tubuh Zana, “Sayang, kamu kenapa?”


“Bang, maafin aku! Karena keegoisanku, aku belum memberikanmu seorang anak,” Kenzo menarik tubuh Zana kembali dalam pelukannya.


“Bagaimana sekarang kalau kita membuatnya?” bisik nakal Kenzo membuat Zana merinding.


Zana melepaskan pelukannya, tangannya di tarik oleh Kenzo saat hendak keluar dari kamarnya. Tubuh Zana terjatuh di atas kasur. Kalau sudah begini, Zana tidak bisa menolak keinginan sang suami. Malam itu pun menjadi malam yang indah. Kenzo berharap kali ini benihnya akan membuahkan hasil.


**♥️♥️**


Pagi hari Kenzo berniat menelpon Bundanya. Setelah dibujuk beberapa kali dari sang istrinya, akhirnya hati Kenzo luluh dan mau menerima adik yang ada di dalam kandungan Bundanya. Sarah yang mendapat telepon dari anaknya merasa bahagia. Sejak kemarin Sarah bersedih karena, menunggu telepon dari anaknya dan Dia ingin mengetahui respon dari sang anak tentang adiknya.


“Halo Bang, Bang maafin Bunda ya! Bunda ....”


“Ga perlu minta maaf Bun. Abang yang minta maaf, karena Abang kemarin ga langsung telepon Bunda. Abang senang Bun, terimakasih Bunda akhirnya memberikan Abang seorang adik.”


“Abang ga marah sama Bunda?”


“Awalnya marah Bun, tapi setelah Abang pikir lagi Abang merasa senang. Kan memang sejak dulu Abang minta adik dan mungkin Tuhan mengabulkan doa Abang sekarang.” Sarah merasa terharu dengan apa yang di katakan anaknya. Dia tidak menyangka kalau selama ini anaknya selalu berdoa mempunyai seorang adik. Sarah mengira Kenzo baik-baik saja selama ini dengan menjadi anak tunggal. Ternyata pikirannya salah.


“Makasih ya sayang, jaga kesehatanmu disana. Sampaikan salam Bunda buat Zana ya,”


“Oke Bun. Bunda juga jaga kesehatan, makan yang banyak buat calon adik Kenzo. Sampaikan pada dia kalau Abang sangat menyayangi dirinya.” Sarah meneteskan air matanya.


Zana bangga melihat sikap suaminya. Dia memeluk tubuh suaminya dan mencium kedua pipinya. Kenzo tersenyum, dia bersyukur ada seorang istri sampingnya yang selalu mengingatkan dirinya.


.


.


.


.


~Bersambung~


Ditunggu komen, like dan votenya yaaa...


kalau kalian suka sama novel ini vote sebanyak-banyaknya ya....


Terimakasih....