Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Rindu itu Berat



Walaupun kepergian sang suami hanya sementara, tapi membuat Zana masih merasa sedih. Dia harus menerima kenyataan, yaitu menghadapi pertanyaan dari teman kampusnya, yang menanyakan sang suami atau menggodanya tentang bagaimana rasanya malam pertama? hal yang sangat tidak ingin di jawabnya.


*M*engapa ini lebih menyiksa dibanding pertama kali orang tau kalau dirinya bertunangan dengan brondong? ucapnya kesal dalam hati. Zana hanya menanggapi semua pertanyaan teman-temannya dengan senyuman.


Tidak lepas disetiap jam Kenzo selalu menghubungi istrinya, walaupun sekedar mengirimkan pesan singkat padanya. Itu dia lakukan karena keinginan dari sang istri tercinta. Hanya dengan mendapat kabar dari suaminya, membuat mood Zana kembali membaik. Disetiap malam sebelum tidur yang dilakukan sepasang suami istri ini selalu VC untuk melepas rasa rindu keduanya. Kenzo yang sudah tidak tahan ingin memeluk sang istri diam-diam menyelesaikan semuanya lebih cepat satu hari dari jadwal sebelumnya. Kenzo merahasiakan kepulangannya pada istrinya, karena akan membuat kejutan untuknya.


**♥️♥️**


Hari ini kebetulan Zana ingin sekali menginap di rumah mertuanya. Mungkin dengan tidur di kamar suaminya akan sedikitnya menghilangkan rasa rindunya, karena rasa ini sudah menyiksa dirinya. Dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya tidak ikut pindah bersama pujaan hatinya ke Singapura, karena pasti dia tak akan sanggup. Sebelum berangkat Zana menyiapkan pakaian juga beberapa buku yang akan dia pelajari di rumah mertuanya.


Ujian masih berlangsung, Zana berusaha mendapatkan nilai yang sempurna disemester ini, sebagai persyaratan dirinya untuk pindah di universitas sang suami. Sejak pagi dirinya sudah merasa kesal dengan Kenzo, karena tidak ada kabar sama sekali, di tambah ponselnya pun yang tak kunjung aktif. Zana merasa khawatir terjadi sesuatu pada suaminya.


"Mesem amat nyonya Kenzo." goda Icha yang baru keluar ruangan ujian dan langsung menghampiri sahabatnya yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Lama banget sih keluarnya!" kesal Zana karena menunggu dirinya cukup lama.


"Ya gue 'kan ga kaya lo otak encer." ucapnya sambil menariknya berjalan ke kantin.


Selama di kantin Zana terus memainkan ponselnya, berharap sang suami menghubunginya, tapi nyatanya nihil. Tiap kali ponselnya berbunyi dengan sigap Zana membukanya dengan semangat, tapi tubuhnya kembali melemas, saat yang dia tau kalau itu bukan dari Kenzo. Icha yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Beres makan jalan yok? gue udah hubungin Keysa dan dia dengan senang hati mau, gimana?" Icha sengaja menghubungi Keysa yang kini juga sudah menjadi sahabatnya untuk menghibur Zana.


"Gue ga mood." tidak memperdulikan jawaban Zana, Icha langsung menarik tubuhnya berjalan menuju parkiran. Icha membuka pintu mobil untuk Zana di kursi penumpang dan kemudi di ambil alih olehnya. Zana hanya bisa pasrah dengan kelakuan sahabatnya.


**♥️♥️**


Hari ini adalah tes terakhir yang di jalani oleh Kenzo dan persyaratan pun sudah lengkap. Kenzo sengaja mematikan ponselnya seharian, karena ingin membuat kejutan untuk istrinya. Setelah membereskan barang-barangnya, Kenzo langsung menuju bandara. Dia sebelumnya sudah memesan tiket pesawat yang jam tujuh malam.


Sesampai di Mall, Icha kembali menarik tangan sahabatnya untuk masuk ke dalam. Keysa yang sudah menunggu keduanya langsung berlari dan memeluk kedua sahabatnya.


"Kenapa dia?" bisik Keysa pada Icha karena melihat wajah Zana yang muram.


"Rindu." jawabnya singkat, Keysa tertawa kecil.


"Memang jangan main-main sama rindu, soalnya rindu itu berat." Zana yang mendengar kedua sahabatnya berbisik-bisik tertawa.


"Akhirnya lo ketawa juga," ucap Icha.


"Ciiih ... dasar kalian tuh udah mabok sama film Dilan, ya udah sekarang kita kemana?"


"Yeaaay, akhirnya lo udah kembali ke Zana yang semula. Kita habisin duit laki lo laaaaaah, leeetsss goooo." teriak Keysa membuat semua orang yang berada disana melirik ke arah mereka. Zana dan Icha menutup wajah mereka karena malu dengan kelakuannya.


Tidak terasa waktu cepat berjalan, mereka benar-benar menghabiskan jatah belanja Zana dari suaminya. memang dasar wanita. Zana yang sudah belanja, lupa akan waktu dan juga tidak sadar barang yang sudah dibelinya. Al-hasil dia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk belanjaannya. pengumuman Mall akan segera ditutup, menyudahi ketiga wanita itu berbelanja.


"Gila gue habisin uang jatah jajan gue satu minggu dari Kenzo dalam satu hari." ucap Zana yang menyesal saat melihat bon belanjanya. Kedua sahabatnya hanya tertawa, mereka tau kalau Zana penggila shopping dan mereka tidak heran dengan semua barang yg dibeli oleh sahabatnya.


"Kalian bukannya ingetin gue," ucapnya menyesal.


"Udah dari pada lo sesali, gimana kita lanjut karaoke?" ajak Keysa.


"Tapi gue harus pulang, gue hari ini tinggal di rumah mertua guys,"


"Masih jam sembilan Zan, mumpung laki lo belum ada ke Indonesia, kapan lagi coba?"


"Gue coba hubungi Kenzo dulu ya." jawabannya tetap sama Zana tidak bisa menghubungi suaminya. Wajahnya kembali muram, tanpa mendengar jawaban dari Zana mereka pun pergi ke tempat karaoke keluarga yang sengaja mereka pilih di dekat rumah Zana.


Sesampai di Indonesia Kenzo langsung memesan taxi untuk ke rumahnya.


"*J*am sembilan, pasti dia udah tidur." ucapnya sambil melihat jam yang ada di tangannya. Satu jam perjalanan akhirnya dia sampai di rumahnya. Saat masuk kedalam rumah, dia melihat bundanya yang sedang mondar-mandir merasa khawatir.


"Bunda." tegur Kenzo.


"Abang? kok kamu pulang sekarang?"


"Iya Bun, Abang sengaja pulang lebih cepat. Kok Bunda belum tidur?" Sarah binggung menjelaskan pada anaknya. Kalau dia bilang dirinya sedang menunggu sang istri, pasti Kenzo akan marah pada Zana dan Sarah tidak mau hal itu terjadi. Baru saja Sarah ingin mengeluarkan suara Zana datang dan betapa kagetnya dia melihat Kenzo dan bunda yang berdiri di ruang tamu.


"Oh ... jadi Bunda belum tidur gara-gara nungguin Zana?" Kenzo langsung mengetahui alasan bundanya. Dia menatap sinis pada istrinya dan itu berhasil membuat sang istri merasa ketakutan.


"Kalian berdua pasti capek 'kan? mending kalian istirahat ya." Sarah mendorong kedua tubuh anaknya untuk naik ke atas. Dia tau kalau Kenzo akan memarahi istrinya. Disisi lain Zana tertunduk merasa bersalah dan tidak sama sekali mengeluarkan suaranya. Keduanya pun menuruti perintah sang bunda dan segera naik ke atas.


Bagaimana nasib Zana? akankah Kenzo memaafkannya? ikuti terus kisah nya yaaaa...


.


.


.


.


.


~Bersambung~


terimakasih yang sudah setia menunggu up novel ini 🙏🙏🙏


jangan lupa like dan komen yaaa...