Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Perjuangan



**Flashback On**


Semenjak memberi kejutan untuk Kia, Galen masih terus memikirkan wanita yang membuat hatinya berdebar. Bayang-bayang wajah cantik Erina selalu bergentayangan dalam pikirannya. Setelah hari itu Galen meminta nomer Erina pada Raka sepupunya. Raka pun memberikan nomernya atas seizin Erina-nya sendiri.


Awalnya Erina merasa terganggu dengan chat yang masuk dari Galen. Dia merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang di tanyakan Galen padanya. Mulai dari menanyakan 'sedang apa', 'udah makan atau belum', sampai menanyakan 'sudah punya pacar atau belum'. Erina hanya membalas pesannya dengan singkat agar Galen tidak terus-menerus menghubungi dirinya.


Selesai kelas Galen bergegas melajukan motor sport-nya ke SMA dimana dulu dia sekolah. Sudah dua hari Erina mengabaikan pesannya dan itu membuat Galen semakin penasaran pada gadis cantik berdarah Malaysia itu. Sampai di sekolah, Galen memarkirkan motornya tidak jauh dari gerbang sekolah. Dia terus menatap spion motornya untuk melihat siswi yang keluar dari gerbang itu.


Melihat gadis pujaan hatinya, Galen turun dari motornya dan menghadap ke arah gerbang sekolah. Tidak sedikit dari mereka melihat keberadaan Galen sambil berbisik dan melirik tajam ke aranya. Bagaimana tidak? Galen, lelaki yang berwajah tampan berada disekolah dengan tampilan yang sungguh menawan dan menarik hati perempuan yang melihatnya.


Galen pun menghampiri Erina saat dirinya keluar bersama Nia dan Rei. Mereka saling menyapa, kecuali Erina yang hanya tersenyum masam pada Galen. Galen meminta izin pada Rei untuk mengantarkan pulang sepupunya. Rei dan Nia pun menyuruh Erina untuk ikut bersama dengan Galen. Pad awalnya Erina menolak mentah-mentah tawaran dari Galen, karena kedua temannya memaksa akhirnya Erina menyetujuinya.


Selama perjalan Erina merasa tidak nyaman, karena jok motor yang terlalu tinggi sehingga tubuhnya harus mencondong ke depan. Dia berusaha meluruskan tubuhnya, tapi lama-kelamaan pinggangnya terasa pegal. Galen memarkirkan motornya di sisi jalan, karena dia tahu sejak tadi Erina tidak bisa diam dengan posisi duduknya yang tidak nyaman.


“Kalau kamu kaya gitu, nanti kamu pegal, mending kamu maju dan peluk pinggang aku biar nyaman.” ucap Galen menarik tangan Erina untuk memeluk pinggang.


Erina tidak menolak, dia menuruti perintah Galen. Sebelum pulang, Galen membawanya di sebuah cafe yang dekat dari komplek tempat dia tinggal.


“Ngapain kesini?” Erina yang sudah fasih berbahasa Indonesia menanyakannya pada Galen.


Galen hanya tersenyum, dia menarik tangan Erina untuk masuk ke dalam cafe tersebut. Keduanya pun duduk di pojok kanan dekat jendela yang menghadap langsung ke jalan. Erina sejak tadi pasrah, karena dia tidak mau jadi pusat perhatian orang. Sebenarnya dia ingin sekali memaki cowok yang menarik tangannya itu.


Saat keduanya duduk Galen memanggil waiters dan memesan makanan. Hanya satu kata yang muncul dari mulut gadis cantik itu yaitu kata 'terserah' dan itu membuat Galen memesan menu yang memang best seller di cafe itu. Galen berusaha sabar untuk menghadapi sikap jutek Erina, karena menurutnya mengejar cinta itu sangat membutuhkan kesabaran yang cukup besar.


“Kok, kamu ga pernah bales pesan aku?”


“Emang penting?” jawab Erina jutek.


“Ya ... buat aku penting banget. Kamu tahu ga, aku sampai ga bisa tidur mikirin kamu,”


“Kak, aku ga suka cowok yang suka gombal. Mending kita pulang sekarang ya, aku capek!” Erina bangkit dari tempat duduknya. Galen menyimpan uang di atas meja untuk bayaran makanan yang sudah terlanjur dipesannya dan langsung berlari menyusul Erina.


“Er, tunggu! kamu kenapa sih? apa aku melakukan kesalahan sampai kamu bersikap seperti ini padaku?” Erina menepis tangan Galen yang menggenggam tangannya.


“Maaf Kak, Erina ga biasa dekat dengan cowok yang baru Erina kenal. Kalau Kakak masih mau disini ga apa-apa, Erina mau pulang capek,” Galen kembali menarik tangannya.


“Oke ... kita pulang, tapi kamu aku anter ya ....” Erina pun kembali naik ke atas motor Galen dan mereka pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.


Sesampai di rumah Erina hanya mengucapkan terimakasih dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Galen menatap punggung Erina sambil tersenyum.


Er, aku bakal dapetin hati kamu, ucap Galen dan dia pun melajukan motornya.


Setiap hari Galen selalu menjemput Erina di sekolah. Walaupun sudah beberapa kali mendapat penolakan Galen tidak menyerah. Dia tetap mendekati gadis pujaan hatinya. Kedua sahabat yang sudah dia anggap adik pun membatu dirinya untuk dekat dengan Erina.


Bukan tidak menyukai Galen, tapi Erina lebih teliti lagi untuk mencari kekasih, karena dia pernah mempunyai pengalaman buruk tentang hubungan percintaannya. Sejak saat dia diselingkuhi oleh kekasihnya, Erina tidak lagi membuka hatinya untuk pria lain. Dia lebih fokus pada sekolahnya untuk meraih cita-cita yang ingin menjadi seorang penulis.


Butuh perjuangan yang sangat berat untuk mendapatkan hati pujaan hatinya. Selama hampir satu minggu Galen tidak menjemput atau menghubungi Erina, itu dia lakukan agar Erina merasa kehilangan dirinya. Apa yang dilakukan Galen ternyata berhasil. Setiap pulang sekolah Erina bergegas berjalan ke depan gerbang sekolahnya, dia berharap kalau Galen akan berdiri menyender di motor sport-nya seperti yang selalu dia lakukan. Tapi, sosok yang dia cari tidak ada dan itu berhasil membuat dirinya merasakan Rindu pada Galen.


**Besok harinya**


Saat pulang sekolah, Erina meminta tolong pada Rei untuk mengantarkan dirinya ke kampus tempat Galen kuliah. Rei dan Nia yang mendengar itu saling bertatapan dan tersenyum. Dengan senang hati mereka pun mengantarkan Erina ke sana. Sesampai di sana Erina menyuruh sepupunya untuk pulang, Rei dan Nia pun menuruti apa yang diperintahkan Erina.


Erina mengambil ponsel yang ada di sakunya dan memencet nomer Galen. Galen yang sedang asik nongkrong dengan teman-teman kaget mendapat telepon dari pujaan hatinya. Dia pun pergi menjauh dari kumpulan teman-teman dan mengangkat telepon ditempat yang suasananya sepi.


“Ya, Halo,” jawab Galen.


“Kak, kamu dimana?” tanya Erina malu.


“*lKampus. Kenapa Er?”


“Kampusnya disebelah mana?”


“Memangnya ada apa?”


“Kampus Kakak besar, Erina takut nyasar.” mendengar perkataan Erina, Galen langsung berlari ke arah gerbang kampus.


“Kamu dimana? Biar kakak yang nyamperin kamu.” belum sempat Erina menjawab, Galen langsung menemukan keberadaan dirinya. Galen tersenyum, dia menutup ponselnya dan berlari ke arah Erina yang terlihat kebingungan.


“Ngapain ke sini?” tanya Galen sambil memancarkan senyumannya.


“Erina ... Erina rindu kakak,” ucapnya pelan sambil menunduk.


Galen langsung menarik Erina masuk ke dalam pelukannya, dia sungguh bahagia akhirnya gadis yang dia sukai juga menyukai dirinya.


“Kakak juga rindu kamu Er, please jangan pernah menolak perasaan kakak padamu lagi!” Erina mengangguk, Galen melepaskan pelukannya, keduanya saling pandang dan melempar senyuman.


**Flashback Off**


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaaaa....