
Beruntungnya kehamilan Zana yang tidak sama sekali merasakan mual seperti hamil pada umumnya. Zana sekarang sedang sibuk-sibuknya untuk menyusun skripsinya. Dia ingin saat perutnya besar nanti, dia sudah lulus dari universitas. Kadang Kenzo merasa khawatir dengan istrinya yang super sibuk akhir-akhir ini. Dia malah menyuruh Zana untuk cuti kuliahnya sampai dirinya melahirkan. Tapi, Zana tidak mendengarkan dirinya. Menurutnya tanggung untuk cuti sekarang dimana kelulusan ada di depan mata.
Setiap hari orang tua Kenzo maupun orang tua Zana selalu menghubungi keduanya, untuk menanyakan bagaimana cucu dalam kandungan Zana. Zana merasa sangat senang banyak yang menaruh perhatian padanya.
Hari ini Zana begitu malas turun dari kasurnya. Dia ingin terus merebahkan badannya dan memeluk guling kesayangan. Kenzo yang melihat istrinya merasa khawatir, dia takut kalau Zana kenapa-kenapa.
“Yank, ke Dokter Alexa aja yu! Aku benar-benar khawatir loh,”
“Aku ga apa-apa sayang, cuma males ngapa-ngapain aja sayang. Kamu ga usah khawatir yaaa.”
Zana memeluk tubuh suaminya. Tiba-tiba mencium aroma wangi tubuh suaminya, Zana jadi teringat buah Cempedak. Entah kenapa dia sangat menginginkan buah itu.
“Sayang, di sini mana ada buah itu. Aku harus nyari kemana?”
“Kemana aja Bang. Ya aku ga mau tau, pokoknya aku pengen buah itu.” Kenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia binggung harus cari buah itu kemana.
Untuk membahagiakan hati sang istri, Kenzo pun berusaha mencari dimana pun buah itu berada. Sambil mencari, dia juga sudah meminta pada sahabat-sahabatnya untuk mencari buah itu dan meminta untuk dikirimkan ke Singapura. Bukan hanya temannya saja, tapi ke-empat orang tuanya pun ikut Turun mencari buah yang pertama yang diinginkannya anak mereka.
Kenzo menyerah,sejak tadi dia sudah mencari di setiap toko buah dan super market yang berada di dekat tinggal dirinya. Semua orang yang ada di Indonesia pun ribut untuk mencari berbagai toko buah yang ada di Jakarta, tapi hasilnya tetap saja nihil, mungkin karena buahnya yang belum musim. Terpaksa Kenzo pulang dengan tangan hampa.
Zana sejak tadi menunggu suaminya di ruang TV sambil menikmati cemilan yang tersedia disana. Mendengar suara pintu dibuka, Zana langsung menghampiri suaminya dengan wajah tersenyum. Dengan cepat dia mengambil plastik yang ada di tangan suaminya.
“Bang, ini bukan cempedak!!” Ucap Zana kesal.
Kenzo membawa buah mangga muda sebagai pengganti buah cempedak. Pikirnya, biasanya orang hamil sangat menginginkan manga muda. Tapi, ternyata pikiran Kenzo salah dan itu membuat Zana merasa kesal dan marah.
“Sayang, jangan marah donk! Sumpah aku udah keliling toko buah disini dan tidak ada satupun yang menjualnya.” Kenzo memohon pada istrinya.
Memang akhir-akhir ini Zana sangat sensitif dan mudah sekali marah. Mungkin itu bawaan kehamilannya dan Kenzo memaklumi itu.
Zana memeluk tubuh suaminya dan berhasil membuat Kenzo merasa sangat kaget.
“Makasih Daddy, maafin aku yang ga mengerti perjuangan kamu.” Kenzo tersenyum dan mengecup keningnya.
“Untuk anak dan istriku, aku rela melakukan apapun sayang,”
“Maafin aku ya, Bang!”
Kenzo tersenyum dan kembali mengecup kening istrinya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
jangan lupa like dan komen
vote sebanyak-banyaknya yaaaaa