Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Rasa Cemburu



Setelah sampai di Singapura, Zana sangat sibuk mengejar ujian yang beberapa hari lalu dia tinggalkan. Itu berhasil membuat dia lupa tentang pesan dari Mamanya. Jangankan bisa memperhatikan suaminya, memperhatikan dirinya sendiri pun dia tidak bisa.


Beberapa hari ini Kenzo pasti pulang lebih dulu dibanding dengan istrinya. Karena ini adalah tahun terakhir Zana kuliah, makanya dia banyak mendapatkan tugas dari dosennya. Kenzo kadang merasa khawatir dengan istrinya, karena dia terlihat sangat lelah saat pulang ke rumah.


Waktu sudah menunjukan jam 7.30 malam dan Zana belum juga pulang ke rumah. Kenzo merasa sangat khawatir dan berencana untuk menjemputnya ke kampus. Sejak tadi pikiran Kenzo di penuhi oleh istrinya. Dia memakluminya karena banyaknya ujian susulan dan tugas yang menumpuk, tapi dia sangat tidak setuju apabila harus pulang selarut ini demi mengerjakan tugasnya.


Sesampai di kampus, Kenzo pergi ke fakultas ekonomi di ruangan kelas tempat Zana dan teman-temannya biasa berkumpul dan mengerjakan tugas bersama. Saat sampai di sana, hati Kenzo merasa panas saat melihat Zana hanya berduaan dengan Alex di dalam ruangan itu. Walaupun hanya mengerjakan tugas, tapi menurut pikiran dia, tidak baik wanita yang sudah mempunyai suami berduaan dengan pria lain terlebih di ruangan yang sepi.


Kenzo membuka pintunya membuat keduanya melirik ke arahnya. Zana kaget melihat suaminya yang datang menyusulnya.


“Bang, kok ke sini? Aku kan udah bilang pulang telat,” tanpa menjawab perkataan istrinya, Kenzo mengambil tasnya yang ada di kursi sampingnya dan meletakkannya di depannya. Tidak usah di tanya, Zana udah tahu apa maksud dari suaminya. Dia pun membereskan buku-bukunya. Zana meminta maaf pada Alex untuk pulang terlebih dahulu. Alex tersenyum mengangguk, dia memahami posisi temannya itu.


Kenzo berjalan selangkah di depan Zana sambil menarik tangannya. Zana menghentikan langkahnya dan itu membuat Kenzo berbalik kebelakang.


“Abang, kenapa seperti ini? Emang aku melakukan kesalahan lagi?” kesal Zana, karena sejak tadi suaminya hanya diam.


“Kamu tahu apa kesalahan kamu, aku ga perlu jelaskan kan?” Kenzo melanjutkan langkahnya meninggalkan Zana.


Zana menarik nafas dalam, dia berlari untuk menghampiri suaminya. Zana merangkul tangannya dan mengecup pipi kirinya. Tidak ada respon sama sekali dari Kenzo, dia tetap melangkahkan kakinya.


“Bang, maafin Zana ya ... ya, please!” dengan suara manja Zana memohon, tapi sama sekali Kenzo tidak menggubrisnya.


Sesampai di Apartemen, Kenzo langsung duduk di depan TV dan menyalakannya dengan volume yang sangat besar. Beginilah kalau Kenzo sudah marah dan ini udah menjadi hal biasa untuk Zana. Zana menyimpan tasnya dan langsung menghampiri suaminya. Dia mengambil remote yang ada di tangan suaminya dan mematikan TV-nya.


“Bang, maafin aku! Abang ngomong donk Aku salah apa sampai Abang semarah ini?” Kenzo melirik sinis pada istrinya. Dia merasa kesal ternyata sejak tadi Zana tidak menyadari kesalahannya.


“Kamu tahu status kamu apa?” Riana mengangguk.


“Seorang istri dari Kenzo Al-Farizi,” jawabnya sambil tersenyum.


“Bang, aku tuh banyakan, cuma yang lain lagi pada keluar beli cemilan. Emang tadi Abang ga liat banyak tas di sana?”


“Ga, ngapain juga aku liat-liat yang lain. Liat kamu aja udah buat Abang naik darah,” Zana merasa gemas dengan suaminya yang sedang cemburu. Dia menarik wajahnya dan mengecup bibir manis suaminya.


Awalnya Kenzo hanya diam dan tidak memperdulikan godaan dari istrinya. Tapi, Zana terus menggoda dirinya dan itu berhasil membuat benteng pertahanan Kenzo runtuh. Tanpa bicara, Kenzo menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. Dia benar-benar akan menghukum Zana karena telah membuat rasa cemburu keluar hari ini.


**♥️♥️**


Zana merasa badannya sakit-sakit karena kelakuan Kenzo semalam. Dia benar-benar disiksa oleh suaminya. Zana melihat jam yang ada di dinding kamar, rasanya ingin sekali hari ini dia tidak masuk kuliah. Tapi, hari ini adalah hari terakhir Zana mengikuti ujian susulan. Dengan hati yang berat Zana turun dari kasurnya dan pergi membersihkan dirinya.


Sebelum berangkat ke kampus, terlebih dahulu Zana menyiapkan makanan untuk suaminya yang masih terlelap. Tidak lupa dia menuliskan memo kecil untuk suaminya kalau dirinya pergi ke kampus. Sampai di kampus Zana bertemu dengan teman-temannya di gerbang dan mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam.


Kenzo membuka matanya pelan. Dia melihat ke sampingnya ternyata istrinya sudah berangkat kuliah. Hari ini adalah hari sabtu dan kampus libur kecuali mereka yang mengikuti ujian susulan. Sebelum menyantap sarapan, Kenzo terlebih dahulu membersihkan dirinya. Dia tersenyum saat membaca memo kecil yang di tempel di atas meja makan. Dan itu berhasil membuatnya sangat merindukan istrinya, padahal belum lama ditinggalkan oleh istrinya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaa.....