Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Teman Seperjuangan



Hari pertama keduanya menyambut mentari pagi dari lantai 10 tempat tinggal mereka. Sinar matahari yang masuk di salah-salah jendela kamar mereka, sedikit menerangi suasana kamar yang masih gelap. Sepasang pengantin baru itu masih menikmati waktu tidur mereka.


Zana masih terlelap tidur di pelukan sang suami. Hari ini, hari terakhir mereka untuk bermalas-malasan di pagi hari karena, besok Kenzo mulai masuk untuk kuliah.


“Laper,” Ucap Zana manja pada suaminya.


“Cari makan yu, yank!” Ajak Kenzo. Zana mengangguk tersenyum dan keduanya pun bersiap untuk pergi.


Karena, bahan-bahan makanan belum ada stok di rumah, mereka pun memutuskan untuk mencari makan di luar. Pagi hari yang indah di negeri orang, keduanya berjalan sambil bergandeng tangan di sisi jalan. Tidak ada yang menyangka kalau keduanya adalah sepasang suami istri, karena keduanya yang masih terlihat mudah dan masih imut.


Langkah keduanya berhenti di rumah makan khas makanan Indonesia. Setelah memesan 2 porsi makanan, mereka pun mengambil bangku yang ada di pojok belakang, karena memang saat itu suasana sangat ramai dan penuh.


Kenzo merasa aneh dengan dua pria yang duduk di meja samping istrinya. Mata keduanya tidak lepas dari Zana dan itu membuat Kenzo merasa risih.


“Sayang, kamu kenapa?” Tanya Zana yang merasa aneh dengan sang suami.


“Ga, sayang, aku ga apa-apa,” jawabnya. Salah satu lelaki yang ada di samping Zana pun menghampiri keduanya.


“Kamu, Zana kan?” Tanya Pria yang sejak tadi memperhatikannya. Zana menoleh padanya, dia langsung tersenyum lebar saat melihatnya. Hati Kenzo saat itu terbakar api cemburu, karena memang dia tidak menyukai istrinya yang tersenyum untuk pria lain.


“Alex? Hei apa kabar?” Sapa nya dan langsung mengulurkan tangannya.


“Baik, lo kok disini?”


“Gue baru pindah ke univ. Nanyang. Oia, Lex kenalin suami Gue,” Keduanya pun saling bersalaman. Alex sedikit kaget, saat melihat keduanya yang masih sangat muda tapi, sudah menikah.


Alex dan temannya ikut bergabung dengan keduanya. Dia juga kuliah di tempat yang sama dengan keduanya. Dan tidak di sangka, Alex satu fakultas dengan Zana. Zana yang mendengar merasa sangat senang, karena ada teman seperjuangannya di sini. Alex sendiri adalah teman Les Zana saat di Indonesia.


**♥️♥️**


“Akhirnya, bisa ketemu teman seperjuangan di disini,” Ujar Zana sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


Sejak pulang dari rumah makan, Kenzo tampak diam dan berbeda. Zana yang menyadarinya pun, langsung menanyakan ada apa dengan dirinya? Tidak ada jawaban dari suaminya. Zana terus merayu suaminya untuk menceritakan ada apa sebenarnya dengannya hari ini.


“Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan pria lain,” Ujar Kenzo, membuat Zana tertawa. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan cemburu dengan Alex temannya.


“Kamu, cemburu sama Alex? Sayang dia teman Aku dan wajar Aku senang bertemu dengannya di negeri orang. Jadi, aku mohon sayang kamu jangan cemburu seperti ini!” Zana mengecup bibir suaminya yang sejak tadi cemberut.


Kenzo yang mendapat serangan mendadak dari sang istri, langsung mengendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. Zana hanya pasrah, Karena memang sejak menikah Kenzo lebih Agresif dan terlebih menjadi lebih posesif di banding saat mereka pacaran dulu. Keduanya pun hanyut dalam lautan asmara.


Siang harinya, Zana dan Kenzo berencana untuk membeli kebutuhan rumah tangga, karena mulai besok mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing. Kenzo juga akan membeli bahan-bahan yang di tugaskan oleh kampusnya.


Sesampai di Supermarket, jiwa shopping Zana keluar. Dia mengambil banyak bahan-bahan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kenzo yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.


“Sayang, apa ini tidak terlalu berlebihan?” Zana hanya melihat sang suami dan tersenyum. Kenzo menarik nafas dalam, dia tau kalau istrinya memang sangat gila belanja.


Saat di kasir, Kenzo harus mengeluarkan kocek yang lumayan banyak untuk semua belanjaan istrinya. Zana hanya tersenyum tanpa dosa yang mendapat lirikan sinis sang suami saat dia membayar semua belanjaan istrinya.


“Sayang, lain kali kamu cukup menulis apa aja yang harus di beli, biar Aku yang membelinya,” Kesal Kenzo. Zana tersenyum nakal dan merangkul lengan suaminya.


“Dih, gitu aja ngambek. Wajar donk Yank, Aku beli sebanyak ini. Rumah kita kan belum ada apa-apa nya jadi, aku membeli semua kebutuhan buat rumah kita,”


“Pokoknya lain kali Aku saja yang belanja.” Keputusan Kenzo sudah bulat. Karena dia tidak mau kebobolan lagi untuk yang kesekian kalinya. Zana hanya mengangguk tersenyum dan mencubit gemas kedua pipi suaminya.


.


.


.


.


Terimakasih atas dukungannya..


Maaf yaaa selalu telat up...


Author sangat sibuk di dunia nyata soalnya..


Jangan lupa like dan komen yaaaa 😘 ♥️...