
kekesalan Zana berlanjut sampai keesokan harinya. Kenzo yang masih tidak mengerti dengan sang istri yang sejak pagi sudah uring-uringan merasa sangat heran. Setelah dia menelepon sang bunda, dia baru bisa mengerti kalau wanita hamil itu sangatlah sensitif.
Seperti biasa, setiap pagi Kenzo menyiapkan susu ibu hamil dan roti bakar kesukaan sang istri. Zana masih rebahan di atas kasur menatap sinis pada suaminya yang baru masuk kedalam kamar.
“Sayang, ini susu dan makanan kesukaan kamu,” ucap Kenzo sambil duduk di samping istrinya. Zana hanya diam dan tidak mempedulikan suaminya dan konsen menatap pada layar televisi di depannya.
“Sayang, bagaimana hangout, sambil jalan-jalan. 'Kan kata dokter kamu harus rajin jalan-jalan.” mendengar kata-kata itu membuat Zana merasa sangat senang. Karena semenjak hamil dia sangat jarang untuk keluar rumah karena kedua orang tuanya yang selalu cerewet dengan kehamilannya.
Tidak langsung menyetujuinya, Zana tetap pada pendiriannya yang masih mengacuhkan suaminya. Dia sengaja mempertahankan egonya, karena sangat gengsi kalau sampai dengan cepat menyetujui suaminya.
“Emmm ... kayanya kamu ga mau ya? Ya udah, kalau gitu aku bakal kumpul sama anak-anak aja ya! Udah lama ga kumpul sama mereka.” dengan sengaja Kenzo memancing emosi sang istri. Dan benar saja, saat Kenzo hendak akan berdiri keluar kamar, dengan cepat Zana menarik bajunya dan itu membuat Kenzo tersenyum.
Yes ... berhasil juga 'kan caraku, ucapnya senang dalam hati.
“Ya udah, ayo!” ucap Zana dan dia perlahan turun dari kasurnya menuju kamar mandi. Kenzo tersenyum nakal dan dia mengikuti jejak istrinya masuk ke sana.
Kenzo memeluk tubuh istrinya dan mencium aroma wangi khas Zana saat bangun dari tidurnya. Tidak bisa dipungkiri, kalau dirinya masih rindu dengan sang istri.
“Sayang, aku masih sangat merindukan dirimu,” bisik Kenzo di belakang daun telinga Zana yang membuat bulu kuduk Zana berdiri.
“Aku juga,” ucap Zana tersenyum pada Kenzo saat keduanya saling menatap didepan cermin kamar mandi.
Kenzo membalikkan badannya istrinya, dan mencium lembut bibir mungil Zana. Perang semalam pun terulang kembali. Niat hati ingin membersihkan diri dan pergi keluar malah dihabiskan keduanya melepas rindu mereka kembali.
Setelah keduanya membersihkan diri, Zana yang sudah siap dengan gaun pink selututnya membuat Kenzo semakin jatuh cinta pada istrinya. Dia berlutut di depan perut istrinya dan terus menciumnya.
“Sayang, daddy sangat menunggu kehadiran kamu 'nak. Sehat-sehat terus di dalam sana ya! Dan terimakasih telah hadir dalam kehidupan kita.” kembali Kenzo mencium perut besar istrinya. Zana yang melihat kelakuan sang suami tersenyum bahagia sambil mengusap rambut suaminya yang masih dalam keadaan berlutut mencium perut istrinya.
**♥️♥️**
Rasa cemas Kia pada sang kekasih membuat dirinya nekad menghubungi semua teman Gian. Semua orang yang dihubungi dirinya, 'tak satupun ada yang tahu keberadaan kekasihnya. Dengan seperti ini membuat Kia bukan malah semakin cemas tapi malah semakin bertambah emosinya.
“Lo di mana sih?” ucap Kia sambil memandang ponselnya.
Gian yang sudah puas merenung akhirnya kembali pulang ke rumahnya. Sebelum dia menaiki motornya, Gian mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya dan mengaktifkan ponselnya yang sejak tadi dia nonaktif-kan.
Betapa kagetnya dia saat melihat banyak pesan dan laporan panggilan masuk ke dalam ponselnya. Melihat puluhan nama yang sama menghubungi dirinya membuat Gian dengan cepat menelepon balik ke nomer kekasihnya. Tidak butuh waktu lama, dengan cepat Kia mengangkat telepon dari calon tunangannya itu.
“Kamu kemana aja sih, Gian?!” teriak Kia yang membuat Gian menjauhkan ponselnya dari telinganya, karena suaranya yang sangat menusuk ke daun telinganya.
“Dari mana?!” kembali Kia bertanya dengan nada yang sangat tegas.
“Tadi habis dari rumah Zacky dan istirahat sebentar,” jelas Zacky.
“Kenapa ponselnya pake ga aktif segala coba? Gian, kalau lo benar-benar belum siap, gue ga maksa kok. Dan memang mungkin sejak awal gue bukan jodoh yang baik buat lo,” jelas Kia yang mengubah bahasanya. Gian yang mendengar omongan Kia langsung mematikan ponselnya dan segera menghidupkan motornya, melaju dengan kecepatan tinggi untuk menghampiri kekasih pujaan hatinya.
“Halo ... halo. Gian lo benar-benar ya!” Kia yang kesal dengan kelakuan kekasihnya membanting tubuhnya ke atas kasur.
“Giaaaaaan lo jahaaaaaat!!!” teriak Kia dibawah bantal.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Hai semuanya ....
Maafkan Author yang 2 bulan ini ga UPDATE.
Kalau kalian masih berkenan, baca lagi yaaa...
InsyaAllah Author bakal UPDATE sebisa mungkin tiap hari dari sekarang.
Jangan tinggalkan author sendiri ... 😭😭😭😭
Maaf ya semua sekali lagi Author mau minta maaf pada kalian semua.
Mohon untuk Like dan Komen kalian yaaaa...
AKU PADAMU SEMUANYA 😘😘😘😘