Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
Berpisah Sementara



Akhirnya acara pernikahan Zana dan Kenzo selesai dan berjalan dengan lancar. Keduanya terlihat sangat lelah karena selesai acara keduanya langsung tertidur sangat pulas. Pada malam hari Zana tidak sadar yang dirinya sudah tertidur bangun dan kaget melihat Kenzo yang sedang mengepak baju-bajunya. Wajahnya seketika menjadi muram, karena mengingat besok Kenzo akan pergi ke Singapura untuk mengurus berkas-berkas kuliahnya.


Kenzo yang melihat istrinya yang baru saja bangun tersenyum dan langsung menghampirinya.


"Bangun tidur mukanya udah cemberut aja, kenapa sih?" ucapnya sambil membelai rambut panjang Zana.


"Kita baru nikah loh yank, masa kamu udah pergi ninggalin aku," keluh Zana.


"Kita 'kan hanya berpisah sementara sayang, aku cuma emoat hari kok disana." Zana memang tidak bisa ikut dengan suaminya, karena besok dirinya akan melaksanakan ujian semester di kampus.


"Nanti aja bareng sama aku." ucapnya manja sambil memeluk tubuh suaminya.


"Cuma bentar sayang, aku harus kesana mengurus persyaratan dan balik lagi ke Indonesia buat jemput kamu,"


"Ciiih ... Kenzo nyebelin." Zana kembali tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai menutupi kepala.


Kenzo tersenyum dan menggoda istrinya dengan menggelitik tubuhnya. Zana yang tidak kuat akan geli, berteriak ampun berulang kali, tapi tidak juga Kenzo menghentikannya sampai wanita cantik itu mengigit bahunya. Kenzo berteriak kesakitan, untungnya di rumah Kenzo hanya ada mereka berdua, karena kedua orang tua Kenzo yang sengaja mengungsi di hotel. Terbalik sebenarnya, tapi ya mau gimana lagi Kenzo malam itu memang harus menginap di rumah untuk mempersiapkan kebutuhan dirinya.


Kenzo yang merasa kesakitan menarik tangan Zana sampai istrinya berada di atas tubuhnya. Keduanya saling menatap, Zana yang merasa canggung dengan suasana langsung menjauh dari Kenzo, tapi dasar lelaki, tidak mau momen emas itu berlalu. Kenzo kembali menarik tubuh kecil Zana ke dalam pelukannya.


Perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir kecil Zana.


"Sayang, apa aku ...." belum selesai Kenzo melanjutkan bicaranya, Zana membalas ciuman suaminya yang membuatnya berhenti bicara.


"Jatahnya nanti pulang dari Singapura aja ya." Zana melepaskan pelukannya dan langsung meninggalkan Kenzo masuk ke dalam kamar mandi. Tidak puas dengan alasan sang istri dia pun mengikuti langkah istrinya.


"Sayang, kenapa ga sekarang aja sih?" rengek Kenzo seperti anak kecil yang meminta jatah jajan pada ibunya.


"Ya biar kamu cepet pulang ga lama-lama di sana." canda Zana sambil menggosok gigi nya. Kenzo yang masih belum menyerah memeluk tubuh Zana dan merayunya.


"... yank ga lucu!!" ucap Zana yang sudah selesai dan berjalan keluar dengan langkah yang berat, karena Kenzo yang masih saja memeluknya.


"Yank, ayo donk!" kembali Kenzo merengek, Zana menggelengkan kepalanya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.


"... sayang, kamu mau sama-sama suka atau dipaksa?" Kenzo yang memang sudah tidak tahan memberi pertanyaan yang tidak ada jawabannya untuk Zana, karena memang apapun jawabannya pasti tetap akan melakukannya.


Zana menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya, Kenzo yang merasa gemas ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh istrinya.


"Ampun Ken,please udah!" Kenzo menghentikan aksinya mengoda Zana. Kini dirinya sudah berada di atas tubuh istrinya. Keduanya saling menatap dan perlahan Kenzo mencium lembut bibir manisnya. Cuman yang ketiga kalinya untuk keduanya, dan entah kenapa kali ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya.


Akhirnya keinginan Kenzo pun terlaksana dan keduanya merasakan kenikmatan bersama. Kenzo memeluk tubuh istrinya yang masih polos begitupun dengan dirinya di bawah selimut putih tebal.


"Makasih ya." ucap Kenzo sambil mencium kening istrinya. Zana hanya mengangguk tersenyum, dirinya masih merasakan sakit yang luar biasa akibat ulah Kenzo pada malam itu.


***♥️♥️***


05.00


Kenzo menatap wajah manis istrinya yang masih terlelap tidur. Dia tidak menyangka akhirnya impian dia selama ini terwujud, yaitu menikahi wanita yang sejak dulu sudah mengikat hatinya.


"Good morning, sayang,"


"Morning. Yank, kamu berangkat jam berapa?"


"Emmm ... setelah menitipkan benih cintaku sama kamu." ucapnya dan langsung menyerang kembali istrinya. Ingin rasanya Zana menolak, tapi apa daya Kenzo yang sudah menyerangnya terlebih dahulu membuatnya pasrah terbawa suasana.


Setelah keduanya mencapai puncak, mereka pun bersiap untuk pergi ke bandara, karena penerbangan Kenzo yang jam sembilan pagi. Ke-empat orang tua sudah menunggu kedua pengantin baru ini turun.


"Lama banget sih siap-siapnya?" goda Rangga saat keduanya baru datang.


"Ayah kaya ga tau pengantin baru aja." niat hati ingin melempar candaan sang ayah, tapi malah mendapat cubitan keras dari sang istri yang membuat dirinya meringis kesakitan. Para orang tua hanya menggelengkan kepala sambil tertawa.


Selama perjalanan Zana tidak melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya, dan itu berlanjut sampai mereka tiba di bandara.


"Sayang jangan gini donk nanti akunya ga tega ninggalin kamu." bisik Kenzo tapi tidak membuat Zana melepaskan pelukannya, dia hanya menggeleng dan semakin erat memeluk tubuh Kenzo. Ke-empat orang tua yang melihat keduanya hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah laku sang pengantin baru.


Panggilan untuk penumpang pesawat yang akan di tumpangi Kenzo pun sudah diumumkan, agar bersiap-siap masuk ke dalam ruang tunggu. Zana meneteskan air matanya. Bagaimana tidak merasa sedih? dia harus berpisah sama laki-laki yang baru saja menjadi suaminya, kare9na pada umumnya di saat seperti ini harusnya menjadi hari bulan madu keduanya.


"Sayang, aku janji bakal secepatnya pulang." Kenzo berusaha melepaskan pelukan Zana, tapi wanita cantik itu malah mempereratnya.


"Kak, kalian hanya berpisah sementara aja kok, biarkan abang Kenzo mengurus sekolahnya dulu." bujuk sang mama, yang akhirnya membuat Zana melepas pelukannya.


"Janji pulangnya cepet," ucapnya dengan nada yg manja.


"Iyaa, aku pergi yaa kamu di rumah baik-baik jangan nakal." candanya dan mencium kening istrinya. Kenzo pun pamit pada para orang tua dan melangkah masuk ke dalam. Zana tak henti-hentinya mengeluarkan air mata dipelukan sang mama.


"Udaah aaah, masa anak papa cengeng. Yuk, sekarang kita pulang! biar kamu istirahat pasti kamu masih lelah 'kan?" Zana mengangguk dan akhirnya menuruti perkataan papanya.


Selama suaminya di negeri orang Zana memilih tinggal di rumah kedua orang tuanya, karena memang barang-barang nya yang masih berada disana. Dia terus saja memegang ponselnya berharap Kenzo segera menghubungi dirinya.


Sayang, kamu kok belum nelepon aku sih? ucapnya yang terus saja memencet layar ponsel, saat layarnya mati agar terus menyala. Saking lamanya dia menunggu, tanpa disadari dirinya pun tertidur dengan sangat pulas.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


nantikan kisah selanjutnya yaaa


jangan lupa like dan komen yaa ♥️😘