
Tatapan penuh kebencian itu lansung menghunus cermin yang ada dihadapannya. rambut emas yang terurai agak panjang dengan separuh uraiannya menutupi satu mata yang ia sembunyikan. bahkan, tak seorang pun yang tahu apa yang dilakukan pria itu padanya sampai keadaannya seperti ini.
"Hanya karna wanita itu kau menyiksaku dengan ini semua!!!"
Prankk..
Ia menepis semua barang-barang dimeja riasnya hingga wajahnya benar-benar merah padam. mungkin jika orang melihatnya secara kilas akan terlihat baik-baik saja tapi percayalah dibalik rambut emas itu ia menutupi satu hal yang akan selalu ia ingat dan penyebabnya hanya wanita itu.
"Kau lihat saja, Athena! walau dua manusia tak berguna itu tak lagi bisa menyakitimu tapi kau harus membayar semuanya."
Geram Hera menyeringai dengan sangat licik, untung saja malam itu nyawanya tak lenyap oleh pria itu walau dia menyisakan satu kesakitan yang ia tahan dan akan ia balas setimpal.
"Hera!!!!"
Suara Nyonya Emayri yang berteriak membuat Hera hanya diam hingga wanita paruh baya itu menatapnya dari ambang pintu.
"Hera. ayo ke Dokter, Nak!"
"Tidak!"
"Hera. kau bisa tiada dengan luka di.."
"Aku bilang TIDAK kau TULI, ha!!!!"
Nyonya Emayri lansung mematung ditempat menatap Putrinya yang benar-benar sudah tak lagi memiliki rasa hormat padanya, wanita ini seperti kehilangan akal sehatnya.
"H..Hera.."
"Kenapa? aku sudah berharap kau mau membantuku tapi tidak, kau semangkin memperburuk keadaanku!!!"
"N..Nak hiks, M..Momy tak bisa mendekatkan dia padamu dan.."
"Kalau begitu jangan mendekatiku!!"
Bentak Hera menggelegar hingga barulah Nyonya Emayri melangkah pergi hingga Relov sepupu Hera pun lansung menyonsong Auntynya.
"Aunty!"
"N..Nak, dia tak mau mendengarkanku!"
"Aku akan bicara dengannya!"
Nyonya Emayri mengangguk membiarkan Relov masuk kedalam kamar Hera yang masih berdiri ditempat semula. wajah damai Relov sangat lembut menatap Hera yang masih bungkam.
"Hera!"
"Keluar!!"
"Aku tak tahu apa yang membuatmu segila ini padanya. tapi kau juga harus perdulikan, Momymu!"
Hera menatap tajam Relov si pria muda yang merupakan Dokter Spesialis Kandungan itu dengan sangat geram.
"Tangani saja kehidupanmu, dan jangan mengurusku!!"
"Aku tahu, tapi Tuan Muda Kedua sangat sulit kau capai. lebih baik kau berhenti dan fokus pada dirimu sendiri."
"Selama nyawaku masih ada maka dia tak akan ku biarkan bersama wanita lain!"
Relov terdiam hingga ia menghela nafas halus tak bisa memberi pengertian pada Hera yang sangat keras kepala dan Egois.
"Hm, aku harap kau tak menyesal!"
"Cihh!"
.......
Prosesi Pemakaman itu dilakukan dengan sangat hikmat. para anggota Lucifer dan Team Medis yang tengah memberi penghormatan terakhir itu seketika termenung melihat papan nama terakhir yang mereka taburi bunga segar malam ini.
Tadi Lucifer berfikir untuk memberi tahu Athena tapi ia takut jika wanita itu kembali terpukul hingga ia menyetujui Pemakaman Nenek Nuseta. berlansung sangat Dramatis karna Berots yang melihatnya menjadi iba melihat jasad kaku wanita tua itu telah disemayamkan ditempat sandaran terakhirnya.
Wajah datar Lucifer terlihat menatap gudukan tanah itu dengan tegas hingga Lucifer berjongkok memeggang papan nama ini.
"Terimakasih, kau menjaga Istriku dengan baik selama ini. aku sangat menghargai perjuanganmu membesarkan wanita sekuat Athena. kau bisa beristirahat dengan tenang, dan aku akan melanjutkan peranmu."
Ucap Lucifer berwibawah penuh rasa hormat seraya menatap makam kedua orang tuanya yang sudah bertahun-tahun tak ia kunjungi.
"Kalian juga, saat Istriku sudah membaik maka aku berjanji akan membawanya mengunjungi kalian!"
"Ini barang-barang, Nyonya Nuseta. Master!"
Berots memberikan satu kantong Plastik bening dimana terlihat ada cincin dan anting yang biasa dipakai wanita tua ini beserta baju terakhir yang ia pakai sudah dibersihkan.
Tentu, ia masih mengenang bagaimana omelan dan baiknya wanita tua ini saat di Rumah Kecil dulu dan sekarang dia telah tenang memejamkan mata.
Setelah berbicara banyak tentang kewajibannya. Lucifer lansung berdiri tegap kembali memasang Maskernya.
"Master!"
"Biarkan dia bergabung dengan yang lainnya."
"Semuanya aman. Master!"
Gumam Berots menatap lingkungan pemakaman asri yang sangat terawat disebuah tempat yang khusus dan Spesial tersembunyi disebuah Vila yang ada dibelakang Peggungan yang jauh dari Alaska tapi tempat ini dijaga oleh petugas khusus dan diurus setiap harinya.
"Pastikan Makam Tuan Besar dan Nyonya Besar terjaga dan Makam Nyonya Nuseta juga."
"Baik!"
Berots mengangguk mengikuti Lucifer yang sudah melangkah keluar area Pemakaman tepat dibelakang Vila mewah ini hingga ia hanya melewati beberapa pelayan yang menunduk.
"Apa anda ingin istirahat? Master!"
"Hm!"
Lucifer menggeleng datar tetap melangkah kedepan menuju Mobilnya. ia harus segera bicara dengan seseorang yang menangani khusus tentang masalah Janin Athena yang tadi diutus lansung oleh Dokter Maudy.
"Dia menunggu di Resto. Master!"
"Kosongkan tempat itu!"
Berots mengangguk masuk kedalam Mobil melajukan benda itu pelan seraya memberi pesan pada nomor Dokter itu agar bisa mengerti keadaan disana nantinya.
"Master!"
"Hm!"
Lucifer diam memijat pelipisnya seraya bersandar ke kursi Mobil. banyak hal yang harus ia bangun sekarang, Alaska dan semuanya kembali.
"Katakan aku akan menemuinya sendiri jika sudah ingin!"
"Baik. Master!"
"Hm."
Lucifer membuka Ponselnya memantau dari layar pipih itu sesosok wanita yang masih tertidur di dalam ruangannya dengan penjagaan yang tentunya ketat hingga tanpa sadar ia memandangi wajah damai itu akhirnya Mobil ini membawa mereka ke Resto yang sudah sunyi ditekan malam tak ada orang karna Lucifer menghindarkan Paparazi.
"Sepertinya disini sudah tak ada orang, Master!"
"Hm."
Berots memarkirkan Mobil hingga Lucifer lansung keluar memakai Topi dan Maskernya yang menutupi wajah Tampan dan Identitasnya malam ini.
Sedangkan Berots, ia mengiring Lucifer masuk kedalam Resto bergaya barat ini hingga deretan kursi dan Furniture Resto Camber ini terlihat rapi dengan seseorang yang tampak memunggungi mereka dari arah Sofa ruang Privat sana.
"Nona!"
"Eh!"
Wanita dengan rambut bergelombang hitam itu lansung menoleh hingga mata hazelnya menatap mereka dengan senyum ramah dan wajah yang manis menyapa mereka diringi sapaan beberapa pelayan Resto.
"Tuan!"
"Hm!"
Lucifer dengan datar duduk dihadapan wanita berpakain feminim ini hingga tatapan wanita itu begitu mengaggumi Lucifer yang nyatanya sangat gagah walau wajahnya tak begitu terlihat dibalik masker sana tapi yang pasti mata elangnya saja sudah begitu mempesona.
"Tuan!"
"Anda pasti sudah tahu tugas anda, Nona!"
"A.. Iya, perkenalkan saya Isabel putri Dokter Maudy yang ada tugas di luar kota ini. saya akan membantu anda dalam Proses pemulihan Istri anda, Tuan!"
"Hm!"
Lucifer hanya menjawab seadanya membuat Dokter Isabel agak panas dingin berhadapan begini. tapi ia harus menjaga batasan karna sesuai apa yang dikatakan Momynya pria ini telah beristri secara sembunyi.
"Jadi, terapi pertama adalah memberi pijatan khusus di perut. Istri anda! pastikan setiap kali dia selalu menemukan hal menyenangkan atau anda bisa membahas masa indah kalian belakangan ini."
"Apa yang dia bisa makan dan tidak?"
"Jangan dulu memberinya makan pedas dan berlemak, usahakan saat luka di bagian tubuh lain mulai membaik anda bisa membawanya ber yoga kecil atau sekedar jalan-jalan santai. Tuan!"
Lucifer mengingatnya dengan cepat membuat Dokter Isabel menjadi sedikit merasa terbawa perasaan, jarang-jarang ada suami yang sangat perhatian seperti ini sampai mengumpulkan berbagai Dokter profesional.
Lama mereka berbincang serius tentang apa yang harus dilakukan kedepannya hingga Ponsel Lucifer berbunyi menyita perhatian pria itu.
"Hm!"
"Ehm, Kau dimana?"
Lucifer lansung berdiri membuat Dokter Isabel juga melakukan hal yang sama dengan wajah terkejut karna pria ini terlihat aneh.
Ternyata Athena menelfon dari Ponsel anggotanya.
"Aku akan segera pulang!"
"Hm. ini sudah larut!"
"Kau tidurlah lagi, aku akan pulang cepat!"
Ucap Lucifer mengisyaratkan Berots mengambil alih hingga ia tanpa pamit pergi meninggalkan Dokter Isabel yang merasa sedikit kesal karna pria ini nyatanya benar-benar angkuh.
"Itu memang sifat. Masterku!"
"A.. Iya, Tak apa! aku mengerti."
Jawab Dokter Isabel ramah hingga Berots pamit berterimakasih lalu mengikuti Lucifer yang masih berbicara dipintu mobil sana.
"Kau mau makan apa?"
"Memakanmu!"
Sudut bibir Lucifer terangkat. akhirnya rencanaya berhasil, Athena tak terlau mengingat tentang Neneknya sekarang.
"Cepatlah sembuh! akan ku ajarkan Gaya baru!"
"Kauu!!"
Athena diseberang sana benar-benar memerah. entahlah ia sangat menantikan itu tapi kondisinya tak memungkinkan sekarang.
"Gaya apa?"
"Kau persiapkan saja suaramu. aku ingin membuatmu menjerit lebih keras dari sebelumnya."
Pembicaraan ambigu itu membuat Berots sedikit gagal fokus tapi ia berusaha melencengkan kearah lain agar ia lebih konsentrasi mengendarai Mobil Mewah ini.
"Cepat pulang. aku takut sendirian disini!"
"Cih, Tidurlah lagi, kalah kau buka mata aku sulit mengendalikan diri!"
"Haiss, baiklah! selamat malam."
"Malam!"
Athena mematikannya hingga barulah ia menatap langit kamarnya. ia memang tak teringat apapun karna kamar ini benar-benar membuatnya Rileks dan terus mengantuk.
"Baby! kita berjuang bersama, hm? Dadymu terlalu baik melepaskanmu."
....
Vote and Like Sayang..