
Pemberitaan itu lansung di hantam kuat oleh Topik ledakan yang terjadi di Istana Venuz, para Wartawan terlihat memenuhi area depan Gerbang dengan wajah yang sangat penasaran meliput Team pemadam yang semalam bekerja keras menahlukan api yang telah memakan Papiliun disebelah barat.
Bagian Taman tampak hancur dengan reruntuhan Koridor Istana. semuanya tengah kembali di Renovasi setelah ledakan besar itu terjadi.
Mata para Media sana sangat tajam sampai melihat salah satu Mobil Mersedes pengeluaran terbaru itu melaju pelan menuju Gerbang.
"Tuan!!"
"Tuan Muda Cestor!"
Mereka mengerumuni Mobil Cestor yang baru saja pulang setelah semalam meninggalkan Istana. wajah Tampannya dengan raut tenang itu hanya diam menatap Brian yang mengangguk melajukan Mobilnya masuk kedalam Gerbang sementara para Media sana diamankan Pengawal yang berjaga ketat.
Mata elangnya melihat jelas para Team Pembangun kembali bekerja disebelah sana hingga wajah Cestor sedikit mengeras menduga siapa yang telah membuat kekacauan yang kekanak-kanakan ini.
"Tuan. sepertinya pengawalan di Istana akan sangat ketat. President Arcules memanggil anda di ruang kerjanya."
"Hm!"
Brian menghentikan Mobil didekat Keramik pintu Utama. ia keluar membukakan pintu untuk Cestor yang turun dengan langkah tegap dan berwibawahnya masuk ke Pintu Utama.
"Tuan!"
Para Pelayan membungkuk hormat menyambut Cestor yang hanya mengangguk datar menatap semua orang yang rapi dan tak merusak matanya pagi-pagi begini.
"Nak!!!"
"Mom!"
Nyonya Violette yang terlihat turun dengan para pelayan yang ikut menjaganya sampai Cestor hanya membisu berdiri ditempatnya.
"Nek!"
"Ada apa, Mom?"
"Kau kemana saja? Istana ini sudah mau hancur karna ledakan tadi malam."
Nyonya Violette begitu cemas dan khawatir tapi sejujurnya ia sudah tahu siapa yang telah membuat kekacauan sampai Media mengerumuni lingkungan Gerbang.
"Aku ada urusan!"
"Aku sudah pusing melihat Team Media sana apalagi sekarang banyak yang terjadi di Negara ini membuat Dadymu tak sanggup lagi duduk dijabatannya."
Cestor terdiam sesaat. sungguh ia tak pernah berniat menjadi pengganti President Arcules memimpin Negara ini, ia khawatir ia akan berhadapan dengan Lucifer yang pasti sangat membencinya.
"Semuanya pasti akan membaik."
"Cestor! Momy mohon buat Adikmu mengerti, Nak!"
Momy Violette mengiba begitu tak berdaya, hanya Cestor yang bisa sepadan dengan Lucifer. kalau mereka yang menghadapinya maka Lucifer bisa saja membantai habis semua orang didalam Istana ini.
"Momy mohon! dia tak akan mendengarkan Momy atau siapapun, hanya kau yang bisa menguasai emosinya."
"Hm, akan ku coba!"
Nyonya Violette berbinar memeluk Cestor yang hanya diam membuat para Pelayan sana saling pandang, memang kalau bisa memilih mereka lebih aman melihat Cestor tapi kadang pria ini diam-diam juga mengerikan.
"Terimakasih, Nak! kau memang bisa memahami, Momy!"
"Hm. Momy Istirahatlah!"
Nyonya Violette mengangguk melangkah pergi menghapus air matanya dengan wajah bahagia, setidaknya Lucifer akan berhadapan dengan lawan yang sepadan.
..........
Pagi ini Nenek Nuseta dibuat heran saat Athena tak kunjung keluar dari dalam kamarnya, ia tadi memergoki Lucifer tengah memasak di Dapur hingga semua makanan itu telah tertata rapi diatas meja makan lengkap dengan susunya.
Tapi, Lucifer sudah pergi setelah memasak beberapa jam tadi hingga hanya berpesan padanya agar tak membangunkan Istrinya, cihh.. Nenek Nuseta sudah sangat girang saat si Panci itu memanggil Athena dengan kata Istri, walau mereka tak menikah tapi Nenek Nuseta bahagia karna setidaknya ada yang menjaga Athena saat ia sudah tiada.
"N..Nenek!"
"Hena!!"
Nenek Nuseta tersigap dari lamunannya saat suara Athena dari kamar berbunyi lirih terdengar seperti ringisan. dengan sigap ia melangkah mendekat membuka pintu kamar.
"Hena!"
Nenek Nuseta mendekati Athena yang masih berbaring didalam selimut dengan sangat lemah. wajah Nenek Nuseta khawatir sampai duduk disamping Athena yang memakai Kemeja kebesarannya.
"Kau..Kau sakit?"
"Nek. dimana Cifer?" tanya Athena tanpa membuka matanya karna ia tadi bangun tak menemukan pria itu disini.
"Maksudmu Panci?" Athena mengangguk lemah dengan wajah pucatnya.
"Em, Iya!"
"Dia tadi memasak di Dapur lebih awal bangun dari Nenek, lalu dia pergi setelah berpesan jangan membangunkanmu."
Athena menghela nafas halus, setelah menggempurnya habis-habisan semalam sampai dini hari Lucifer malah melarikan diri pagi-pagi begini, padahal bagian intinya begitu sakit sampai ia tak mampu bergerak.
"Apa kau sakit? atau kau.."
Nenek Nuseta tercekat saat melihat leher Athena yang dipenuhi bekas Kismark hingga ia berdiri menutup mulutnya tak percaya menatap Athena dengan binar kebahagiaan.
"Hena!!!!!"
"Nek! kenapa berteriak?" jengah Athena kesal.
"K...Kau..Kau melakukannya?"
"Nek! Please, Hena lelah dan sekarang ngantuk. jadi jangan bicara yang aneh-aneh."
Athena mengatupkan tangannya lalu menggulung tubuhnya dengan selimut, ia tak bisa berfikir jernih sekarang. matanya sangat lelah dan berat karna Begadang semalaman.
"H..Hena, kesayangan Nenek! apa ada yang sakit? biar Nenek bantu pijat!"
Gumam Athena hingga Nenek Nuseta berjingkrat kecil mengecup puncak kepala Athena yang tersenyum senang, tak ia sangka Neneknya begitu bahagia melihatnya begini.
"Semoga kau baik-baik saja, cepat berikan Nenek Cicit, hm?"
"Hm!"
Nenek Nuseta lansung berbalik kearah pintu keluar seraya bernyanyi kecil tentang Cicit yang akan hadir.
"Yeah. Cicitku sudah mulai datang!!"
"Dasar!"
Athena menoleh menatap Nenek Nuseta yang sudah menghilang diambang pintu, hanya suara nanyian aneh wanita tua itu yang ia dengar.
"Dia begitu senang, tapi tak mungkin akan hadir secepat itu!"
Gumam Athena mengelus perutnya, rasanya jika ia benar-benar mengandung maka ia menjadi wanita beruntung mendapat benih yang sangat langka diperebutkan berbagai orang.
"Kau sudah bangun?"
"Eh!"
Athena tersigap saat mendengar suara datar lembut itu. ia menoleh menatap seorang pria yang telah mendekat kearahnya dengan memakai Kaos lengan pendek berlapis Jaket serta celana Jogernya membuat tampilan santai namun sangat Cool.
"Kemana saja?"
"Kau merindukanku?" goda Lucifer mencoel dagu Athena yang lansung memukulkan bantal disampingnya ke tubuh Lucifer yang hanya tersenyum geli membawa Paper-bag ditangannya.
"Aku serius! kau dari mana? kenapa pagi-pagi sekali sudah pergi?"
"Aku membeli ini!"
Lucifer mengeluarkan isi Paper-bagnya hingga Athena mengkerut melihat satu kotak kecil seperti Salep dan satu lagi ada Pil obat-obatan yang tak Athena tahu.
"Itu apa?" gugup Athena kalau itu adalah Pil Kontrosepsi. ia takut Lucifer ingin ia tak mengandung atau melahirkan benihnya.
"Ini Salep!"
"Y..Yang itu.."
Athena menunjuk Pil ditangan Lucifer hingga tatapan mata Lucifer menyeringit mendekatkan bibirnya ke telinga Athena yang sangat gugup jika Lucifer mengatakannya.
"Itu.."
"A..Apa?"
"Pil Ko.."
"Kau sangat jahat!!"
Athena mencekik tengkuk Lucifer yang lansung terbatuk karnanya.
"Sayang!!"
"Kalau tahu begini, aku tak akan sudi memberikannya padamu!! aku membencimu!!"
"Heyy!!"
Lucifer menagkap tangan Athena yang terlihat emosi memukulinya.
"Kau ingin aku meminum pil Kontrosepsi itu, ha?"
"Sayang. ini Vitamin, bukan Pil yang kau sebut tadi."
Ucap Lucifer lansung memeluk Athena yang membelit tubuh kekar Lucifer erat, sekarang rasa takutnya sangat besar karna Lucifer mengambil salah satu hal yang paling berharga baginya.
"Kau tak akan membuangku, kan?"
"Kau bicara apa? hm. tak mungkin aku membuangmu, aku sudah begitu susah mendapatkanmu sampai melanggar janjiku selama ini."
Lucifer mengelus kepala Athena yang mengadah menatapnya hingga raut lega itu bisa Lucifer lihat jelas, lagi pula ia sudah berencana menikahi Athena secepatnya.
"Janji?"
"Hm, setelah kau bilang kalau Dendam ku salah aku berfikir semalaman. jika aku ingin memilikimu maka aku harus ikut pola pikir yang kau katakan, aku tak akan merusak Masyarakatmu ini lagi."
Athena tersenyum penuh binar bahkan sangat senang dari rona pucatnya yang masih terukir nyata.
"Kau tak akan membunuh mereka lagi kan?"
"Untukmu aku tak akan membuat Pembunuhan rakyat biasa tapi aku tak bisa melepas mereka yang ikut campur dalam Pembantaian itu!"
Dahi Athena mengkerut mendengar kata Pembantaian. ia mulai menyeringit bingung memikirkan apa yang sebenarnya membuat Lucifer begitu membenci Keluarga Istana dan apa hubungannya dengan Dendam lama ini?
"Sayang! Pembantaian apa?"
Athena mengelus pipi Lucifer agar lebih tenang dan tak emosi, ia tahu Lucifer sangat tempramental soal masa lalunya.
"Mereka membunuh kedua orang tuaku!"
"Iya, tapi siapa? dan bukannya kau anak dari.."
"Aku Putra Keluarga Hannes!"
Degg..
...
Vote and Like Sayang..
Author peringatkan ini Kehidupan bebas ya say😂.. jadi di maklumi..