
Seperti biasa sore-sore menjemput senja ini semua orang akan sibuk dengan urusan pribadi di Istana. semua pelayan membersihkan Bangunan Besar Megah ini, tanpa membiarkan sedikitpun debu menempel disela-sela lantai dan beton yang dianggap sebagai ancaman bagi sang Nona.
Mereka berderu cepat menyiapkan makan malam dan semua hidangan yang sangat lezat untuk disantap seraya sesekali melihat jam takut jika Tuan-tuannya sudah ingin masuk ke Istana.
"Cepat!! kita harus keluar sebelum Tuan dan Nona datang!"
"Baik!"
Kepala koki Istana mengkerahkan segalanya hingga ia melangkah pergi mengurus yang lain. sedangkan para bawahannya masih sibuk menyiapkan makanan.
Tak ada yang curiga atau menduga sesuatu hal yang terjadi ditempat ini. semuanya sangat dilakukan dengan terlatih dan penuh rencana.
........
Langkah pelan wanita itu terlihat bergerak perlahan menyusuri lapangan Golf yang lebar membentang hijau ini. ada rusa-rusa taman yang berlarian bergerombol diseberang sana tengah memakan rumput hijau yang banyak tertanam buah-buahan segar.
Renjana senja tadi ditatap segar oleh dua pasang mata yang sedari tadi berjalan bersama dengan ucapan pedas dari mulut masing-masing.
"Cifer!"
"Hm?"
"Aku mau duduk."
Lucifer mengangguk mengiring Athena pelan menuju kursi Taman yang cukup luas menampung wanita ini. ia berjongkok dihadapan sang istri seraya melepas Sendal Santai berbulu yang halus dan lembut tak melukai kaki Athena itu.
"Kakimu masih bengkak."
"Hm, aku tak tahu kenapa bisa begitu."
Jawab Athena seraya mengelus perut besarnya. rasanya sedari tadi pinggangnya sangat nyeri dari yang biasanya tapi ia takut Lucifer menanggapinya secara berlebihan nanti.
"Tak apa Bengkak. tapi tak sakitkan?"
"Tidak, hanya pegal kalau terlalu lama berdiri!"
"Hm. sebentar."
Athena terkejut saat Lucifer duduk direrumputan didekat kursinya membuat Athena menarik lengan kekar suaminya.
"Kenapa duduk dibawah? kursinya masih lebar."
"Sudahlah, kau diam saja!"
Gumam Lucifer memijat kaki istrinya yang bengkak, ia tak tahu rasanya berjalan membawa perut besar ini bagaimana? apalagi ia melihat sendiri masa kehamilan Istrinya selalu dilanda sakit dan demam membuat Lucifer terkadang khawatir pada Athena yang mudah jatuh sakit.
Lama Athena memandangi wajah Lucifer yang begitu fokus memijat kakinya dengan telaten. tatapan yang sangat dalam sampai Lucifer merasakannya pun menjadi agak malu.
"Apa aku setampan itu?"
"Hm?"
"Kau menatapku sangat intens, Nyonya!"
Athena menyunggingkan senyum kecilnya merapikan rambut Lucifer yang tak lagi menutupi bekas lukanya, ia terlihat semangkin hari semangkin tampan membuat Athena menjadi agak tak terima suaminya keluar dari Istana ini.
"Kau bisa tidak, jelek?"
"Maksudmu?" dahi Lucifer mengkerut bingung seraya bergantian memijat paha Athena yang sudah berlemak tapi sangat empuk ditangannya.
"Rubah sedikit wajahmu. hilangkan satu lubang hidung dan copot satu gigi depan."
"Kau mau aku jadi Kakek-Kakek sebelum waktunya, hm?"
Suara tak terima Lucifer membuat Athena terkekeh geli memencet hidung mancung suami perkasanya ini. entahlah mungkin ia memang sudah mabuk dengan pesona suaminya.
"Aku tak suka kau dekat-dekat dengannya."
"Siapa?" Lucifer pura-pura tak tahu.
"Wanita Ulat bulu itu!"
Lucifer dibuat tak bisa menyembunyikan wajah geli antara tergelitik dan gemas sekaligus mendengar suara Athena berubah geram disertai raut wajah ditekuk masam.
"Sudahlah, kau hanya membual!"
"Aku serius, rasanya aku ingin mencekiknya."
"Tuan!"
Lagi-lagi waktunya kembali diganggu hingga Athena menarik lengan Lucifer untuk duduk disampingnya dengan tatapan mata menajam kearah Dokter Isabel yang meneguk ludahnya berat.
"Hm."
"Bicara saja disini!"
Sambar Athena tak terima tapi tatapan Lucifer dan Dokter Isabel seakan memiliki arti membuat Athena benar-benar merasa keduanya memiliki kedekatan.
"C..Cifer!"
"Tunggulah disini sebentar, hm?"
"Kau..kau mau kemana?"
Tanya Athena mencengkal lengan kekar Lucifer yang berdiri dengan wajah yang tak terima dan penuh tanya. kali ini sepertinya raut wajah keduanya serius tak ada raut candaan.
"Aku akan kembali secepatnya, ada urusan penting yang harus ku selesaikan."
"D..Dengannya?"
"Hm. dan kau.."
Athena menepis tangan Lucifer yang ingin memeggang perutnya membuat tatapan Dokter Isabel terlihat berbeda hanya merekalah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Pergilah!"
"Hm, Jaga diri baik-baik."
Athena hanya diam mencengkram pinggir baju hamilnya lansung menatap kearah kepergian Lucifer dan Dokter Isabel yang sangat dekat, ia merasa sakit dengan itu.
"K..Kau..Kau kenapa?"
Lirih Athena mulai mengembun merasa sangat terluka. sedari beberapa bulan ini keduanya semangkin banyak bertemu dan tak hayal memiliki waktu berdua untuk bicara. Athena takut jika Lucifer berpaling darinya hanya karna ia gendut dan tak berguna lagi.
"Nona!"
"Aku ingin ke Rumah Nenek!"
"Nona. sebaiknya anda tidak.."
"Aku ingin keluar dari tempat ini!!!"
Bentak Athena membuat Luifi terdiam. sangat sulit dijelaskan bagaimana keadaan sekarang, yang pasti ia harus tetap menjaganya agar tak menghancurkan hidup Masternya.
"Nona. anda hidup dengan seorang yang memiliki banyak kedudukan, diluar sana banyak orang yang ingin menghancurkan Master dan.."
"Dengan berdua dengannya setiap waktu apa itu bisa membuatku nyaman disini??"
Luifi terdiam bungkam hingga Athena berdiri dengan sendirinya melangkah pergi dengan perasaan yang hancur. Moodnya sudah tak lagi baik hingga tak ada raut bahagia melainkan hanya geram dan tak lagi tahan dengan semua ini.
Dan yah, lagi-lagi Athena melihat Lucifer satu Mobil dengan wanita itu hingga membuat ia benar-benar merasa marah. apa salahnya mengatakan apa yang direncanakan dan yang terjadi padanya?
"Sialan kalian semua!"
Umpat Athena melangkah masuk dengan Luifi yang mengikutinya. wanita muda itu tak berani meneggur Athena yang dalam perasaan tak stabil, wanita ini bisa saja membuat keputusan yang besar nantinya.
Cestor yang melihat perubahan raut wajah Athena lansung menatap Luifi yang mengisyaratkan penuh hormat agar tak mendekati Nonanya tapi Cestor tak bisa membendung rasa penasarannya.
"Berhenti!"
Athena menghentikan langkahnya didekat Lift tanpa menatap Cestor yang mendekat kearahnya. kedua tangan Athena masih mengepal membuat Cestor semangkin kebingungan.
"Kau kenapa?"
"Memangnya kau perduli apa padaku?"
Athena berbalik menatap Cestor dengan datar selayaknya Athena yang memang ia kenal. terlihat sekali netra coklat ini tengah menahan amarahnya sendiri.
"Ini Kediamanku, aku berhak tahu siapapun yang tinggal disini."
"Oh, jadi kalian menganggap aku hanya menumpang disini?"
Cestor terkejut akan respon Athena yang tak sesuai biasanya lalu menatap Luifi yang memelas agar tak melanjutkannya. ia akui memang kedekatan Masternya dan Dokter Isabel terlihat sangat dekat terbukti mereka selalu satu mobil ketika ingin bicara hingga Nonanya berusaha bersabar.
"A..Aku.."
"Baik. ini Kediaman kalian, dan TERIAMAKASIH sudah menampungku!"
Degg..
...
Vote and Like Sayang..