
Tatapan kosong itu lansung menghunus keluar Jendela sana dengan tubuh molek yang dibalut Tangtop ringan dengan Hotpants yang membentuk lekukan pinggang dan bokong cantiknya. wajahnya termenung kosong menatap dengan satu arah.
Kenapa rasanya sangat sesak?
Pertanyaan yang muncul ketika telah pulang dari tadi subuh tapi ia terus merenggu didalam kamar tanpa ingin mengunjungi Markas Besar CIA.
"Hena!!!!"
Suara Nenek Nuseta menggelegar tapi Athena hanya diam seakan tak mendengar sampai ia sendiri larut dalam lamunannya.
Ia tak menyadari wanita tua dengan rambut yang semuanya memutih itu tengah berdiri didepan pintu kamar sana berkecak pinggang dengan Apron yang tampak terikat dipinggang lemahnya.
Nenek Nuseta menggeleng menatap Athena seraya melangkah mendekat memeggang satu Sendok makan besi dan Panci Alumunium yang ia bawa dari dapur.
Tangg..
"Ehh!!"
Athena terlonjak kaget saat Nenek Nuseta memukul Panci itu dengan Sendok didekat telinganya hingga membuat kesadaran Athena kembali kepermukaan menatap jengkel Nenek Nuseta yang terkekeh kecil.
"Neek!!"
"Em! apa? Sedari tadi Nenek panggil kau seakan tuli. apa si Panci itu menyakitimu?"
Athena lansung lesu kembali duduk dipinggir Jendela bersandar menatap keluar dengan wajah masamnya, ia sekarang malas bergerak atau melakukan apapun.
"Tidak!"
"Lalu? apa dia kurang jantan atau bagaimana?"
"Nek. Ayolah! kau bicara apa?"
Dengus Athena mengacak rambutnya frustasi. kepalanya semangkin pusing memikirkan tentang ucapan Nenek Nuseta yang sedari ia pulang menanyai tentang Cucu, bagaimana Liburannya? apa pria itu sangat tampan dan kaya? sungguh Athena sangat bosan mendengarnya.
"Nenek benarkan? dia pasti sudah membuat hatimu Gelisah! apa Panci itu punya wanita lain?"
"Aku tak tahu."
"Atau jangan-jangan, dia sudah menikah dengan wanita lain! sialan.. dimana Rumahnya? Nenek akan akan memberinya pelajaran!"
Athena hanya diam bertopang dagu ke lututnya lalu kembali menatap keluar hingga membuat Nenek Nuseta menghela nafas mendekat ke tubuh Athena yang tak bersamangat.
"Ada apa, hm?"
"Tidak ada!"
Jawab Athena lirih hingga tangan Nenek Nuseta terulur membelai surai kecoklatan pendek ini membuat Athena menyandarkan kepalanya keperut Neneknya yang dibalut Apron.
"Nek!"
"Hm? ada apa?"
"Aku merindukan Dady dan Momy!"
Nenek Nuseta terdiam mengelus kepala Athena yang pasti sangat merindukan kedua orang tuanya yang telah meninggal Dunia saat ia masih berumur 12 Tahun karna kecelakaan.
"Mereka pasti bangga padamu!"
"Cih, tidak juga." decih Athena membelit pinggang ramping Nenek Nuseta yang terlihat berkaca-kaca menatap keluar hingga ia membuang muka menyembunyikan air matanya.
"Sudahlah. tak usah dikenang lagi! sekarang kau fokus pada masa depanmu. hm?"
"Nek! dimana makam Momy dan Dady?"
Pertanyaan yang selalu Athena katakan pada Nenek Nuseta yang tak bisa menjawabnya, lidahnya keluh untuk bicara sampai membuat Athena kebingungan.
"Nek?"
"Mereka..Mereka meninggal saat kecelakaan. Jasadnya memang sudah hancur, Nak!"
"Nek! apa tak ada peninggalan lain selain namanya?"
Nenek Nuseta menggeleng hingga Athena lansung murung sangat merasa sunyi. Nenek Nuseta paham itu hingga ia berusaha untuk selalu menyibukan Athena dengan sikap anehnya.
"Kau do'akan saja semoga mereka tenang. hm? kau sekarang fokus pada kehidupanmu. lupakan masa lalu dan tatap masa depanmu. hm?"
"Hm. Baiklah! lagi pula menangis darah pun mereka tak akan kembali."
Ketus Athena jengkel menoyor pinggang Nenek Nudeta pelan lalu bersandar ke pinggir Jendela.
"Eh, apa Panci itu sangat Tampan?"
"Panci ditangamu?" tanya Athena geli membayangkan wajah Tampan Lucifer disamakan dengan Panci ini.
"Nenek serius, apa dia Kaya? atau dia itu Pria Jelek?"
"Nek! aku tak ingin membahasnya!"
Decah Athena menutup telinganya tak mau mendengar itu lagi.
"Tapi, Nenek ingin tahu siapa yang membuat Hena Nenek yang galak ini jadi diam, tak mau bergerak, pemalas, dan yang jelas selalu berwajah masam!"
"Haiss!! lihat saja Panci itu, wajah dia sama saja!"
Tapi, ia seketika berubah murung menatap kepergian Athena dengan sendu. apa yang terjadi jika Athena tahu yang sebenarnya? apa dia akan membencinya atau tak mau menerima?
"Maafkan. Nenek! Ne..Nenek harus merahasiakan itu darimu, Hena!"
Gumam Nenek Nustea mengusap bulir bening yang jatuh dari kerutan kelopak matanya.
...........
Teggukan minuman itu ia telan bulat beberapa kali merasa pusing tapi ia hanya diam menatap lurus ke luar sana. ia duduk diatas Sofa Balkon menatap semua Gedung rubuh di Kota Alaska yang sudah sepi hanya kicauan Gagak yang tengah makan diatas sana menggelora.
Matanya sudah merah terus minum meluapkan semua Emosinya. sedari tadi ia disini seskan tak ingin keluar dari kamarnya ditemani sunyi dan bayang-bayang yang sama.
"Kau.. Kau lakukan ini padaku!"
Gumam Lucifer menatap ke Perbatasan Venuz dan Alaska. sedari tadi ia meratapi itu sampai ia sendiri lupa waktu akan keheningan yang menelannya.
Dada Lucifer selalu sesak saat melihat ke Ranjang, Kamar mandi, apalagi barang-barang yang biasa digunakan Athena disini. semuanya mengingatkannya pada wanita itu sampai hanya Minum dan Rokoklah membuat Lucifer membayang sendiri.
"Kau..Kau mendengarku? kau dengar aku kan?"
Lucifer kembali menegguk minumannya sampai ia merasa perutnya sangat perih sedari tadi tak makan tapi ia tak punya selera untuk menelan hal lain selain air keras ini.
Ia tadi sempat ingin ke Perbatasan mencari wanita itu tapi ia kembali berfikir tentang Venuz. ia sangat muak menjejaki tanah sialan itu sampai ia terus menyiksa dirinya sendiri dengan rasa rindu yang teramat dengan wanita itu.
"Aaaa!!!"
Prankk..
Lucifer melempar botol ditangannya ke lantai sana hingga membuat ia benar-benar kacau. ia tak bisa menahan ini tapi ia juga tak mungkin ke Venuz.
"Sial!!!! Keluar dari kepalaku!!!"
Geram Lucifer memukul kepalanya yang terus terngiang wajah wanita itu. setiap ia menatap kesemua arah maka seakan ia melihat Athena dimana-mana.
"Kau meracuni semuanya!!! Wanita pembohong!!!"
Teriak Lucifer menggeleggar menerbangkan para Gagak yang merasa takut mendengarnya. sudah sedari pagi Lucifer seperti itu sampai ini sudah agak Sore pun ia tetap sama.
"Hena!!!"
Gumam Lucifer menatap kearah Ranjang didalam kamar hingga dengan sempoyongan ia melangkah kembali masuk meninggalkan Balkon. langkahnya sangat oleng tapi tak jatuh melainkan tubuhnya membentur beberapa barang yang menghalangi jalannya.
"Hena. kenapa kau pergi, ha?"
Lucifer berdiri didekat Ranjang menatap Bantal yang biasa digunakan wanita untuk berbaring, ia sudah kehilangan kesadarannya hingga seakan-akan ia melihat wanita itu disini.
"Kau..Kau minta padaku! aku akan melakukannya. kenapa harus pergi? katakan.. Engg!"
Lucifer terengah diakhir kalimatnya saat rasanya ia ingin muntah tapi ia menahannya saat melihat Baju Kaos yang Athena pakai tadi malam ada diatas Sofa disudut ruangan.
"Heyy!!"
Lucifer mendekat dengan langkah sempoyongan seakan bumi ini berputar dipenglihatannya. ia tersenyum meraih Baju kaos hitam ini hingga terduduk diatas Sofa.
"Sayangku! kenapa harus ke Venuz, hm? lari kemana saja. tapi jangan kesana."
Gumam Lucifer berbicara dengan mata sayu-sayu lalu bersendawa kecil karna kekenyangan Alkohol. ia mencoba berdiri mencengkram Baju itu keluar kamar dengan wajah yang berubah datar mengeras.
"Dengarkan aku!!!!"
Suara Lucifer lantang hingga membuat semua Pelayan dan Anggota berkumpul naik ke lantai kamar Lucifer yang berdiri bersandar di daun pintu menatap mereka semua dengan agak sayu.
"Master!"
Mereka semua berbaris rapi dan memenuhi lantai sampai ketangga hingga lantai dibawahnya lagi menajamkan telinga mendengarkan perintah Masternya.
"Dengarkan baik-baik!!!"
"Siap. Master!!"
Lucifer membekapkan Baju Kaos itu ke hidungnya hingga ia benar-benar meras terbang dengan aroma khas tubuh wanita ini yang masih menempel kental.
"Cari Wanita Inteligen sekaligus Tikus liarku itu dan bawa kembali kesini!"
"M..Master! tapi, pasti dia.."
"Tak ada bantahan!!"
Mereka lansung mengangguk lansung bergegas hingga Lucifer kembali masuk kedalam kamarnya menghempaskan tubuh keatas Ranjang seraya memeluk Kaos kebesaran Athena itu dengan penuh kasih.
"Saat kau pulang, kau akan tahu betapa aku sangat gemas padamu!"
Gumam Lucifer lalu kembali melayang sendiri. entahlah ia tak bisa melakukan apapun untuk saat ini, ia merasa tak bersemangat dan hanya ingin Minum lalu merokok dan tidur.
"Malam. Sayang!"
.....
Vote And Like Sayang...