Mysterious Love

Mysterious Love
Hanya malam ini!



"Aku tak butuh simpati darimu."


Cestor berucap dengan tegas dan berani. ia terlihat tak ingin merubah apapun yang semula telah terjadi membuat metamorfosa besar baginya, lebih baik ia sendiri menjauh karna memang paham bagaimana pendapat keluarga sebelah Dadynya tentang apa yang selama ini ia lakukan.


Kakek Hand dan Nenek Wel saling pandang menghela nafas halus melempar senyum hangat yang baru pertama dipertunjukan ke netra elang Cestor yang mendamai.


"Siapa yang bersimpati? kami hanya ingin semuanya damai. itupun kalau kau mau, jika tidak kami tak masalah karna itu keputusanmu."


"Yah, yang penting kau tak menganggap kami musuh itu sudah lebih baik."


Timpal Kakek Hand lalu menggandeng istrinya untuk kembali melanjutkan langkah keatas disela tatapan rumit Cestor yang memandangi mereka dengan penuh makna.


Tak ingin larut berdiri lama. Cestor lansung memutar langkah kembali menuju tangga dekat kamarnya. kepala pria itu berputar mencerna semuanya tapi tak ada raut berlebihan yang dipaparkan dari wajah tampan datar itu.


"Tuan!"


"Hm!"


Asisten Brian yang ternyata sudah menuggu di depan pintu kamar sana dengan wajah yang terlihat kaku dan membeku membuat dahi Cestor menyeringit.


"Ada apa?"


"A... itu.. sebaiknya anda kembali keatas atau.."


Asisten Brian terlihat aneh dilanda kegugupan. pandangan Cestor semangkin menajam bak elang tengah menemukan korban.


"T..Tuan itu.. saya.."


Cestor sudah mendorong pintu kamarnya acuh tak ingin menaggapi perilaku aneh Asisten Brian yang sudah kejang-kejang ditempatnya melihat pria ini masuk.


Langkah Cestor terhenti memperhatikan semua sudut kamar luas ini tapi tak ada yang aneh. hanya Sofa yang terlihat sedikit basah tapi itupun tak terlalu ia pikirkan.


"Kau pergilah!!"


"T..Tuan.."


Pintu itu sudah tertutup hingga Cestor melakukan aktifitas seperti biasanya. ia dengan gemblang membuka Jam tangan dan sepatunya diletakan ditempat biasa. semuanya rapi dan bersih, sifatnya mulai terlihat begitu menyukai kebersihan seperti ini.


Cestor duduk ditepi ranjang menghela nafas mencoba mencari ketenagan yang tak ia temukan. kenapa hidupnya terlalu datar seperti ini? apa ia juga bisa seperti Lucifer pria menyebalkan itu?


Tapi sayangnya itu hanya sebuah angan yang sama sekali tak diperdulikan Cestor. ia memilih acuh kembali membuka satu persatu kancing kemejanya dan melepaskannya begitu saja seiring masalah yang ia buang tanpa mencari penyelesaian.


"Parfum?"


Gumam Cestor menyeringit setelah aroma Parfum wanita ini masuk disela nafas tenangnya. mata Cestor menatap kesemua arah hingga lansung tertuju pada pintu kamar mandinya.


"Baunya dari sini."


Cestor melangkah pelan kearah benda itu dengan bagian atas yang sudah terbuka memperlihatkan bentuk tubuh kekar yang sangat berotot dan keras. ia benar-benar tak menyembunyikan indahnya pahatan syurgawi itu.


Saat tangan Cestor terulur memeggang gagang pintu diselingi hal yang sama dari dalam hingga dengan cepat pintu itu terbuka membuat tubuh seseorang dari dalam sana lansung membentur dada bidang Cestor yang terkejut.


Degg..


Wanita itu meneggang sempurna dengan kedua tangan memeggang dada bidang keras ini tak bisa dikondisikan lemparan pandangan murka Cestor yang menyala-nyala.


"Kauuu!!"


"A.. T..Tuan!!"


Wanita itu lansung menarik diri dari postur ini. ia berdiri canggung dengan wajah memucat dan sisa air ditangannya masih terasa didada Cestor.


Pahatan nyaris sempurna ini tak berani Cellin pandangi karna Cestor seakan-akan menghisap seluruh nyawanya yang memang buru-buru ingin pergi tapi tak bisa secepat ini.


"KELUAR!!!!"


"A.., M..Maaf aku..aku.."


Cellin membeku saat netranya lansung bersitatap dengan mata elang Cestor yang seakan melahap tubuhnya dengan tak berperasaan. keringat dingin itu keluar dikening Cellin yang menegguk ludahnya berat menahan degupan jantungnya.


"BRIAN!!!!"


Suara Cestor menggelegar membuat Asisten Brian yang tadi belum angkat kaki dari depan sana lansung masuk dengan lidah tercekik melihat apa yang telah terjadi didalam sini.


"T..Tuan!"


Cestor melempar tatapan mata singanya hingga dengan sigap Asisten Brian berlari mendekati Cellin yang tak tahu harus apa dalam kecanggungan ini.


"N..Nona!"


"Bawa dia pergi!!!"


"A.. Itu.. a..aku tak sengaja. aku pikir ini k..kamar t..a.."


Brakkk..


Pintu kamar mandi sudah ditutup keras hingga mengejutkan dua manusia yang lansung berlari keluar kamar dengan jantung merosot menciut entah sampai kapan.


"Nona! kenapa anda bisa didalam?" protes Asisten Brian menghakimi Cellin yang sudah berdiri diluar kamar.


"A.. aku..aku tak tahu. Luifi meninggalkan aku di Toilet saat mendengar sorakan dari atas, jadi aku..aku mencari kamar tamu untuk sedikit berbaring tapi.."


Asisten Brian lansung mengisyaratkan berhenti. mendengarnya saja ia paham kalau Kediaman ini sangatlah besar apalagi banyak ruangan yang masih asing bagi Cellin.


"Hm. lain kali kau jangan sembarangan! untung dia tak mencabut nyawamu ditempat sekaligus."


Cellin mengangguk pamit pergi diiringi rasa terimakasih menjahui Asisten Brian yang memijat pelipisnya seakan berdenyut pecah akan masalah kali ini.


"Kenapa dia sangat Galak?"


Sedangkan di kamar atas sana. keributan juga mulai terjadi saat Lucifer keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri tadi tapi ia mendengar ucapan Nenek Wel yang sangat menyulut emosinya.


"Nak. Nenek tidur denganmu malam ini."


Athena sedikit membeku mendengar itu tapi setelahnya ia mengangguk tanpa menatap Lucifer yang sudah mencengkram handuk ditangannya kuat melihat Nenek Wel memanipulasi Istrinya dan Pria tua itu tengah berbicara dengan Putrinya yang menatap polos tanpa tahu artinya.


"Ouuhh. dia sangat cantik sepertimu, Nak!"


"Kakek bisa saja."


Sangkal Athena sedikit melirik kearah pintu kamar mandi dengan mata kaku saat melihat Lucifer sudah menatapnya datar dan penuh penghakiman.


"Sayang!"


Mereka mengalihkan kefokusan kearah Lucifer yang enggan menunjukan wajah bersahabat. Kakek Hand menyipitkan matanya saat Lucifer hanya memakai handuk sepinggang saja tanpa malu.


"Hey! disini ada Nenekmu tapi kau.."


"Keluar!!"


"Jangan membentak. Putrimu bisa terkena penyakit jantung."


Lucifer menghela nafas halus meredam rasa kesal dan dongkol ini.ia sangat tak suka jika waktunya dan sang istri jadi terganggu hanya karna kedatangan dua manusia Abnormal ini.


"Tengil! malam ini dan seterusnya sampai Istrimu selesai berdarah, aku akan menemaninya."


"Tidak!"


"Kenapa? aku bisa merawatnya dan lebih berpengalaman darimu. kau hanya akan memancing keributan dimana tempat."


Ucapan Egois dari Nenek Wel menarik rasa panas Lucifer yang mendekat kearah Athena.


"Jangan dekat-dekat dengan, menantuku!"


"Awas!!!"


Lucifer acuh lansung memeluk Athena posesif. wanita itu tengah bersandar dikepala ranjang tanpa bisa merubah posisi untuk sementara waktu.


"Sayang! jangan dengarkan bisikan apapun, hm?"


"Maksudmu apa? aku tak berbisik!" sewot Nenek Wel tak terima.


"Keluarlah! Istriku ingin istirahat."


"Kau yang keluar. aku akan menjaga mereka 24 jam."


"Kauu.."


Cup..


Satu kecupan dipipi itu membuat Lucifer menatap Athena yang memberi senyum tenang dibibir yang tak terlalu pucat itu.


"Sudahlah. biarkan malam ini Nenek tidur disini. hm?"


"Sayang! aku tak bisa Tidur tanpamu."


Lemah Lucifer sedikit memelas membuat seringaian di bibir Nenek Wel terukir indah dengan bangga.


"Hanya malam ini. tak masalahkan?"


"Iya, lagi pula kau tak akan bisa berbuat apapun disini. Istrimu butuh Istirahat dan aku akan menjaganya."


Timpal Nenek Wel dengan penuh kemenagan menatap Lucifer yang tanpak mengeraskan wajahnya kelam penuh peperangan.


"Sudahlah. hanya malam ini, Sayang!"


"Aku tak bisa."


Lirih Lucifer sangat ampun jika tidur sendirian tanpa wanita ini. ia sangat merindukan Istrinya setiap saat apalagi Putrinya disini, ia tak mau berjahuan.


Melihat itu Nenek Wel lansung menggeser Lucifer menjauh dari Athena yang agak geli melihat interaksi Cucu dan Nenek ini sedari tadi.


"Pergilah! Istrimu mau makan."


"Kauu!"


Lucifer tak punya cara lain lagi hingga ia lansung menangkup kedua pipi Athena yang menatapnya lembut.


"Kau jangan perdulikan apapun yang dia katakan. kalau ada sesuatu kau bisa berteriak aku akan selalu memantaumu, hm?"


"Iya. Sayang!"


Cupp..


Lucifer menghadiahkan ciuman penuh penekanan itu ke bibir Athena hingga Nenek Wel menarik lengan Lucifer turun dari Ranjang.


"Pergilah! Istrimu aman bersamaku."


"Kau tunggu saja pembalasanku!"


...


Vote and Like Sayang..


Jangan lupa mampir ke Novel baru Author ya.. Dilema Cinta Natalia. Kilik Profil author untuk melihat Novelnya. dijamin nggak kalah seru😊 ditunggu jejaknya say