Mysterious Love

Mysterious Love
Putriku!



Suara tangisan yang lantang itu terdengar menggema di setiap penjuru Istana yang lansung gempar dibuatnya. tak pernah sepanjang sejarah suara lengkingan belia itu mengalun dan ini merupakan peristiwa yang sangat ditunggu bahkan tak dikira bagaimana raut wajah semua orang yang tengah menunggu diluar kamar dengan raut wajah beragam.


Cestor yang merapat ke pintu kamar dengan Relov yang ikut bahagia mendengar suara mahluk murni itu sudah bergema dimana-mana.


"Apa? Apa sudah lahir?"


"Laki-laki atau perempuan?"


Pertanyaan yang terucap dari beberapa pelayan yang tak sabaran. Luifi pun sangat gemetar mendengar tangisan si kecil itu yang tak sabar mereka lihat.


Tak lama setelahnya pintu kamar itu terbuka memperlihatkan wajah pucat pasih Lucifer yang kosong. netra elangnya lansung bersitatap dengan Cestor yang memeggang bahunya jantan.


"Apa semuanya baik-baik saja?"


Tanya Cestor khawatir melihat raut sendu Lucifer yang terlihat tak bisa menyembunyikan rasa yang tak pernah bisa ia jabarkan dengan melakukan apapun.


"A..Aku.."


"Kenapa? apa..apa terjadi sesuatu yang.."


Grepp..


Lucifer sudah memeluk Cestor dengan sangat erat dan berani membuat tubuh pria itu membeku merasakan dekapan ini sangatlah kokoh tapi mengisyaratkan perasaan dari sang adik.


"P..Putriku!"


"P..Putri? d..dia.."


Lucifer mengangguk dengan bibir melengkung indah membuat para Pelayan sana malu menatapnya segan. wajah Tuannya terlihat sangat bahagia dan begitu bercampur aduk dipandangan mereka.


"Kau..."


"Aku..aku punya seorang Putri. Cestor!"


Ucap Lucifer bangga dan terlihat tak menyangka. tak pernah ia bayangkan sebelumnya ia akan memiliki keturunan dan kisah hidup normal seperti ini. tubuhnya yang begitu berlumuran dosa dan darah masih diberi kebahagiaan yang manusiawi tapi ini sebuah fenomena bersejarah atas kelahiran Putri Alaska itu.


"Hm. Selamat!"


Hanya itu yang bisa Cestor berikan seraya menepuk punggung Lucifer tegas. ia ikut senang dengan pencapain tertinggi Adiknya di hidup ini dan itu sebuah masa indah yang pernah ia lihat diwajah datar pria itu.


"Selamat. Tuan!"


"Selamat atas Putri anda. Master!!"


Mereka sangat bersemangat memberi ucapan haru itu pada Lucifer yang hanya mengangguk melepas dekapannya dari Cestor yang menatap Asisten Brian penuh arti. tentu pria itu mengerti hingga mengambil Tisu diatas sofa sana dan memberikannya ke tangan Cestor.


"Ini!"


Cestor menyalurkan itu ke tangan Lucifer yang mulai merubah raut wajahnya dingin menatap tajam sang kakak.


"Untuk apa?"


"Kau ingin menangis, kan?"


Lucifer hanya diam mengusap wajahnya cepat dan melempar tisunya ke dada Cestor yang hanya mengulum senyum pelit menatap Lucifer yang sudah kembali masuk kedalam.


"Apa jenisnya tadi?"


Cellin yang baru datang tampak tergesa-gesa setelah mendengar samar suara percakapan mereka dari atas sini. ia dipandang tak bersahabat oleh netra elang Cestor yang terlihat tak menyukainya.


"A..Maaf! em, aku tadi ke toilet jadi.."


"Perempuan. Nona!"


Sambar Luifi cepat hingga Cellin mengangguk ikut senang melangkah ke dekat Pintu kamar dimana Cestor tengah berdiri risih.


"Kau bisa menjauh?"


"A..emm, itu.. aku.. i..ingin melihat, Nona Kecil!"


Gugup Cellin menunduk tak berani menatap wajah keras Cestor yang seakan menelannya hidup-hidup. Relov yang melihat itu lansung menarik Cellin pelan untuk berdiri disampingnya.


"Disini saja. Nona!"


"Em, Terimakasih!"


Ucap Cellin sopan sedikit menundukan tubuhnya tapi Relov hanya memberi senyum hangat tak ingin mempermasalahkan apapun.


Setelah beberapa lama. Dokter Isabel keluar dengan beberapa Suster yang membawa keranjang kotor dimana peralatan bersalin dan beberapa kapas yang dilumuri darah membuat kepala Cellin berkunang.


"I..Itu.."


Cellin yang tak bisa melihat darah pun lansung oleng hampir tumbang mengenai Cestor yang bukannya bersiap menopang ia malah menjauh hingga Relov sigap menarik lengan wanita ini.


"Nona!"


"D..Darah!"


Gumam Cellin lirih dan terlihat pucat membuat Relov tanpa pikir panjang menggendong ringan tubuh Cellin menuju sofa didepan sana.


"Bisa tolong ambilkan air putih?"


"Baik. Tuan!"


Para Pelayan pergi dengan cepat sementara Cellin terlihat mulai ingin muntah dengan keringat yang sudah merembes dikeningnya.


"T..Toilet! aku..T.."


"Maaf, bisa tolong antar. Nona ini?"


Tanya Relov yang agak segan jika harus mengantar Cellin yang notabentnya seorang wanita. tak mungkin baginya berbuat tak sopan seperti itu.


"Baiklah. saya akan membantu!"


"Terimakasih!"


Luifi membopong Cellin yang sudah beberapa kali keluar masuk Toilet. dan mungkin inilah salah satu penyebab ia tak bisa berlama-lama didepan pintu kamar karna aroma amis dari dalam sana tercium sampai kesini. Namun, Cestor yang tanpa rasa bersalah sama sekali hanya berdiri tenang didepan pintu seakan tak punya hati nurani pada wanita itu.


Sementara Lucifer didalam sana. tengah terpaku menatap wajah mungil merah yang terlihat menekuk tubuhnya diatas dada sang Momy yang terlihat sudah sangat lemah hanya bisa memejamkan matanya tapi air bening itu tak bisa ia tahan untuk keluar dari ekor matanya.


"Terimakasih. Sayang!"


Bisik Lucifer lembut mengecup lama kening Athena yang sangat bahagia sekaligus sangat merasa hangat. satu tangannya yang digenggam Lucifer mesra dengan ucapan terimakasih dan kata cinta yang tak pernah luntur dari bibirnya.


"Nona. anda bisa memberinya Asi!"


Dokter Maudy yang baru selesai membersihkan jalan lahir mengarahkan Athena memberi Asi pertamanya pada si kecil yang terlihat sudah mencari-cari Dot Pabriknya yang tampak sudah membengkak dan sangat berisi.


"Ehmm!"


"Sayang!"


Lucifer terlihat khawatir saat Athena sedikit mendesis saat bibir merah mungil itu sudah menyesap Dotnya dengan sangat lapar membuat rasa nyeri itu merembes ke dada Athena.


"Ini wajar, Tuan! Asi Nona memang sangat banyak dan itu akan diproduksi terus sesyai susu yang selalu ia minum, dalam beberapa hari sakitnya akan berkurang tapi usahakan anda istirahat yang cukup, jangan banyak bergerak dan jangan makan-makanan berminyak apalagi pedas."


Lucifer mengangguk seraya mengulur jarinya menyentuh punggung merah mungil Bayinya lembut membuat si kecil itu menggeliat menggapai jari besar sang Dady dengan genggaman remang penuh kasih.


"Hey. Baby haus, hm?"


Cup...


Lucifer menatap Athena yang sudah membuka matanya memberi kecupan lembut ke pipi sang suami yang setia menemaninya kapan pun bahkan ini sudah jam 9 malam tapi pria ini masih enggan meninggalkannya sendiri.


"Dia Mirip sepertimu!"


"Tidak juga, bibirnya mewarisimu!"


Tambah Athena mengelus kepala mungil ini dengan lembut dan sangat hati-hati. bahkan si kecil itu menggeliat membuka matanya menatap wajah nyaris sempurna kedua orang tuanya dengan tatapan yang polos tapi tersirat segaris lengkungan dibibir sensual mungil menggemaskan itu.


"Hey! jangan banyak-banyak, sisakan untuk Dady!"


"Kauu!!"


Lucifer hanya pasrah dicubit remang Athena dibagian dadanya. dikeadaan seperti ini Suami tak tahu malunya ini malah membahas soal sensitif.


"Jangan bicara yang aneh-aneh."


"Apanya? Baby pasti mengerti karna dia Putri terbaikku!"


Bangga Lucifer mengecup lama kepala mungil itu sampai si kecil ini kembali terpejam tidur dengan sendirinya.


"Tengil!!!!!"


Degg..


...


Vote and Like Sayang