
Tatapan mata menajam itu terlihat terbakar api yang panas saat melihat sesuatu yang ada di leher Masternya. ia berdiri kaku didepan pintu kamar menatap penuh rasa sakit dan perih pada Lucifer yang berdiri tegap dihadapannya, sesekali pria itu terlihat menatap kedalam kamar tengah mengawasi seseorang.
"Hm. ada apa?"
"Master! anda dipanggil ke Istana!"
Suara Hera begitu terkesan datar dan sangat tak bersahabat membuat Lucifer hanya acuh kembali fokus melihat Athena yang tengah berbaring diatas Ranjang sana setelah berbenah diri tadi.
"Master. ini perintah lansung dari Tuan Muda Pertama."
"Katakan kalau aku tak ada urusan dengannya."
Tegas Lucifer tanpa menatap Hera yang benar-benat naik pitam. akal sehat pria ini memang sudah hilang sampai tak mengindahkan foto-foto yang ia kirim.
Sekilat ide nekat mulai menghantui kepala Hera, ia begitu ingin Athena melihat ia juga bisa membuat bekas Kismark di leher Lucifer yang tak disembunyikan pria ini.
Athena terus mengawasi Hera yang tepat berjarak 1 meter dari Lucifer, walau ia terlihat memejamkan matanya tapi Athena tak akan membiarkan Hera menjalankan rencana liciknya itu lagi.
"Kau lihat, kali ini kau yang akan panas."
Hera lansung pamit pada Lucifer yang hanya diam masih menatap ke arah Ranjang hingga ia sengaja menyipakan kakinya ke ujung meja disamping sampai tubuh oleng.
"Master!"
"Cifer!!!!!"
Brugh..
Hera terjatuh na'as sedangkan Lucifer sudah berlari mendekati ranjang dengan wajah panik saat mendengar pekikan Athena yang menarik dirinya untuk mendekat.
"Ada apa?"
"S..Sakitt!"
Athena memeggangi bagian bawahnya hingga Lucifer lansung menyibak selimut membuka Hotpans yang Athena pakai hingga terlihatlah Daleman wanita itu terlalu menarik keatas hingga sampai menekan bagian intinya yang tadi masih nyeri.
"Aku sudah bilang padamu. tidak usah pakai Daleman, kau masih belum bisa mengenakannya. Hena!"
"T..Tapi perih, Sayang!"
Rengek Athena membuat suara manja sampai menyulut emosi Hera yang terjerumus kelantai tadi, wajah wanita itu sudah merah menatap Athena yang sengaja begitu intim mendekat kearah Lucifer.
"Apa Salepnya tak bereaksi?"
"Aku tak tahu, tiba-tiba saja dia perih, mungkin terjepit pinggir Daleman ini."
Athena menyandarkan kepalanya ke dada bidang Lucifer yang masih memakai Kaos lengan pendeknya. pria ini terlihat masih fokus melepas Daleman Athena. bagian bawah wanita ini hanya dibaluti selimut sementara atasannya memakai Tangtop.
Sebenarnya rasa nyeri dan perih itu sudah tak begitu terasa karna obat yang diberikan Lucifer memang sangat bagus dan berkualitas, tapi ia hanya ingin Hera tahu kalau Lucifer hanya miliknya.
"Ya Sudah, sementara waktu kau pakai selimut saja. hm?"
"Nanti aku digigit semut." gerutu Athena memanyunkan bibirnya hingga Lucifer tak mampu untuk tak mengecupnya ringan.
"Tak akan ada Semut atau apapun yang menyentuhmu, mereka akan berhadapan denganku."
"Cih, kalau Semutnya lebih hebat darimu, bagaimana?" pancing Athena menepuk kecil pipi Lucifer yang menyipitkan matanya.
"Semutnya akan ku basmi sampai 7 Keturunan."
Athena lansung terkekeh kecil dibuatnya, ia mengelus bekas kismark dileher Lucifer dan cakarannya tadi malam juga masih segar, belum lagi sudut bibir Lucifer terlihat terluka karna ia gigit.
"Sayang!"
"Hm?"
"Aku lapar!"
Tak ada jawaban lagi selain gendongan Lucifer yang menarik tubuh Athena merapat dengan balutan selimut yang menguat dipinggang Athena melangkah menuju pintu keluar.
"Menyingkir!"
"Hm. untuk apa kau duduk di lantai? atau kau terbiasa?"
Tanya Athena pada Hera yang lansung berdiri dengan kedua tangan terkepal, wajahnya benar-benar merah padam hanya diam memberi jalan pada Lucifer yang menggendong Athena keluar kamar menuju meja makan.
"Sebentar, Sayang!"
Lucifer mendudukan Athena diatas kursi makan lalu mengambil Sarbet diatas Sofa, ia baru membeli ini pagi tadi agar Athena bisa makan dengan tenang.
"Apa?"
"Pakai ini!"
"Tidak, aku tak biasa memakai itu."
Athena menepisnya halus, tapi Lucifer sudah memasangkan itu kebagian dadanya hingga dahinya mengkerut tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Kalau kau makan, itu sering belepotan. jadi bagus seperti ini."
"Sama saja."
Gumam Athena tanpa mau membantah mengikuti semua yang Lucifer berikan padanya, sementara Hera mematung didepan pintu kamar melihat mereka yang asik dengan Dunianya sendiri.
"Master!"
"Hm."
"Master! bagaimana dengan Pekerjaan anda di Alaska?"
"Untuk saat ini, aku tak bisa kesana! kau Hendel terlebih dahulu." Tegas Lucifer meminumkan segelas susu yang ada disamping piring pada Athena.
"Tapi mereka mendesak bertemu dengan anda, sudah beberapa pertemuan tapi anda tak hadir. Master!"
"Apa pedas?"
"Sedikit!"
Lucifer malah tak mendengar penjelasan Hera hingga ia lansung mengecup bibir Athena yang merah karna makananya agak pedas, tak hayal pria ini meniupnya kecil membuat Athena melayang sendiri diperlakukan bak Ratu dihadapan musuhnya ini.
"Apa sudah?"
"Sudah, Sayang!"
"Mau lagi?"
Athena menggeleng hingga Lucifer lansung membereskan piringnya agar tak tersenggol pecah bisa membahayakan Athena.
"Master!"
"Keluar kau dari sini!"
Geram Lucifer merasa terganggu membuat Hera terperanjat diam, ia bersumpah akan membuat Athena menangis darah membalas rasa sakit yang sekarang menggerogoti hatinya.
"KELUAR!"
"Baik!"
Hera melangkah keluar dengan pandangan sinisnya kearah Athena yang hanya diam. untung Neneknya tak ada di Rumah karna pergi keluar menjual hasil panen Sayuran dibelakang rumah, kalau sampai Neneknya ada maka Hera akan bernasip buruk dari ini.
"Kau jangan galak-galak, Sayang!"
"Tidak kalau denganmu!"
Lucifer menyatukan keningnya hingga keduanya tak berhenti saling memeluk seakan waktu ini hanya untuk mereka saja, tak perduli panggilan beruntun di Ponsel masing-masing yang sudah terus berbunyi seakan menuli.
Athena dan Lucifer lebih memilih menonton TV untuk menikmati Siang menjelang Sore ini, tapi tentu saja Lucifer tak memutar Berita karna ia tak ingin ketenagan Athena terganggu jika melihat hasil perbuatannya di Istana semalam.
Namun, Ponsel Lucifer terus berdering sampai membuat tangannya ingin membanting benda itu tapi Athena mencengkalnya.
"Sayang!"
"Angkat saja."
"Tapi aku masih ingin bersamamu."
Athena menghela nafas halus menggeleng kecil.
"Angkatlah, siapa tahu itu penting. hm?"
"Hm. kau jangan banyak bergerak, kalau butuh sesuatu panggil aku. Sayang!"
Athena mengangguk hingga Lucifer mengecup kilas bibirnya lalu melangkah menuju pintu depan untuk menelfon, tak ada nama orang yang tertera disana membuat dahi Lucifer mengkerut berdiri didepan pintu seraya mengawasi Athena.
"Hm."
"Temui aku!"
Seketika raut wajah Lucifer berubah derastis dengan kepalan tangan menguat dan meradang geram. suara yang begitu menjijikan terdengar ditelinganya.
"Penjilat!"
"Di tempat biasa!"
"Penjilat!! kau masih berani bicara."
Geram Luciger benar-benar murka hingga urat tangannya mulai terbentuk dengan rahang mengetat. sungguh darahnya lansung naik membayangkan kebodohan pria ini.
"Temui aku, malam ini!"
"Kau.."
Tutt..
Panggilan itu dimatikan hingga Lucifer lansung ingin meninju pintu tapi ia seketika tertahan saat melihat Athena yang menatapnya dari Sofa sana.
"Sayang!"
"A..Aku ke kamar mandi!"
Lucifer melangkah cepat menuju kamar Athena karna tak ingin meluapkan emosinya dihadapan wanita itu, ia tak ingin membuat Athena takut atau gelisah.
....
Vote and Like Sayang