Mysterious Love

Mysterious Love
Malam penuh Drama!



Semberaut merah itu tercipta diwajah Tampan yang tadi mengeras mengintimidasi berubah melemah tampak ke semsem dengan ucapan Athena barusan.


Tak ia sangka ternyata bukan hanya ia yang merasa sangat malas saat tak ada wanita ini, ternyata wanita ini pun sama. ada rasa bahagia yang tak terjabarkan dihati Lucifer membayangkan Athena begitu mencintainya.


"Itu aku!"


"Hm, Nenek selalu bertanya soal Kekasih dan namanya. karna aku kesal dan jengah akhirnya aku melihat Panci di dapur dan lansung mengatakannya, tapi tak ku sangka Nenek mengenalnya dengan nama itu terus."


Kekehan Athena muncul membuat Lucifer juga ikut geli dengan nama itu, tapi rasanya ia tak masalah selagi hanya dia yang ada dihati wanita ini.


Perdebatan Nenek Nuseta dan Madam Mery didepan sana masih berlansung. Lucifer dan Athena memilih melangkah masuk duluan meninggalkan kedua wanita berumur itu bicara sesukanya.


Saat didalam Rumah, Athena terkejut saat melihat perabotan Rumahnya sudah diganti yang baru tapi bentuknya masih sama dari Sofa depan TV, dan tirai jendelanya hingga ia menatap Lucifer dengan pandangan menajam.


"Apa?"


"Kenapa kau ganti?"


"Bukan aku yang menggantinya, Sayang! mereka yang mengerjakannya." jawab Lucifer masih memeluk Athena yang menatap ke meja makan dimana makanan itu sudah tertata rapi dengan alat pemanasnya.


"Kau tahu?"


"Apa?"


"Kalau sudah disediakan semua alat-alat ini aku akan jadi wanita pemalas."


Ketus Athena hanya dijawab senyuman kilas Lucifer yang duduk diatas kursi makan dengan Athena yang hanya mengambil buah Appel dari keranjang diatas meja.


"Tak baik makan Appel malam-malam."


"Kenapa?" dahi Athena mengkerut mengigit Appelnya.


"Makan Pisang!"


"Kauu!!"


Athena memukul bahu Lucifer dengan tangannya hingga Nenek Nuseta tampak menyudahi perdebatannya menutup pintu kasar.


"Kalau manusia Iri sepertinya memang tak pantas di layani."


"Nek, Nenek sudah makan?"


"Sudah, eh.. kenapa kau makan sendiri Bocah? layani Kekasihmu!"


Nenek Nuseta melempar Athena dengan Sendalnya membuat Lucifer yang makan pisang tadi lansung tersenyum geli.


"Nek, dia sudah makan!"


"Aku masih lapar."


"Dengar! kau ini mau jadi Istri macam apa? pasti dia sangat lelah menyetir malam-malam begini dan apalagi mengajak mu bicara itu membutuhkan tenaga Exstra."


Athena mendegus memandang Lucifer dengan rasa jengkel tapi Lucifer begitu menunjukan keangkuhan masih memakan pisangnya santai dengan Nenek Nuseta yang mendorong bahu Athena untuk melayani Lucifer.


"Hena!!"


"Iya, Nek! kau pergilah tidur!"


"Layani Panci dulu!"


Athena mendengus mengambilkan makanan untuk Lucifer yang menolak tapi Athena mempunyai ide gila hingga ia mengambil banyak makanan ke piring sampai penuh hingga membuat mata Lucifer membulat.


"Sayang kau.."


"Makanlah, aku baru ingat sedari kemaren kau belum makan, hm?"


Athena menyeringai mendekatkan piring penuh berisi Nasi, Omlet, Ayam Buberkis dan sayuran lengkap dengan potongan sup jamur.


"Makan!"


"Sayang. aku.."


"Nenek Pergilah tidur, biar aku yang melayaninya!"


Athena mendorong pelan Nenek Nuseta agar pergi hingga wanita tua itu mendekatkan air putih ke piring Lucifer yang tercekat.


"Makan yang banyak, kau butuh tenaga untuk meladeni Henaku ini."


"Iya, Sayang! ayo makan."


Athena semangkin menyodorkan piring itu saat Nenek Nuseta sudah melangkah pergi ke kekamarnya membuat Athena benar-benar bahagia.


"Sayang. aku sudah kenyang."


"Tadi kau bilang masih lapar!"


"Aku.."


"HABISKAN!"


Tekan Athena hingga Lucifer menyuap satu kali dan menelannya paksa menarik senyuman dibibir Athena yang mengecup kilas pipinya.


"Makan yang banyak, hm? aku mau mandi!"


Athena menepuk bahu Lucifer lalu melangkah pergi ke kamarnya. Lucifer terdiam mengunyah makananya lalu menatap piring penuh menggunung ini.


"Kau tak akan bisa mengelak lagi!"


Gumam Lucifer mengangkat piringnya menuju pintu keluar. ia membuka benda itu hingga malam pekat yang agak dingin ini menyapanya.


Ia menatap kearah bagian tembok hingga ada 3 Bayangan yang meloncat dari pagar itu lansung kilat mendekati Lucifer.


"Master!"


"Hm, ini untuk kalian!"


Lucifer memberikan Piringnya membuat ketiganya saling pandang tapi tak ada yang berani bertanya selain menerimanya.


"Tak ada racun!"


"Baik, Master! apa anda butuh sesuatu?"


Lucifer menggeleng datar hingga ia kembali melangkah masuk menutup pintu sampai membuat 3 Bawahannya saling pandang lemah, mereka sudah makan tadi dan sekarang kembali menyekang perut.


.........


Athena mengelus dadanya lega. akhirnya ia bebas dari rasa takut akan permintaan yang terus Lucifer tagih padanya, ia sekarang tengah berada didalam kamar mandi mengunci pintu itu rapat seakan menjadikan tameng untuknya.


"Fyuhh, akhirnya!"


Athena mengusap keringat didahinya seraya menatap wajahnya dicermin kamar mandi, selikon yang dipasang dibagian pipinya untuk menutupi luka itu ia lepas begitu juga yang ada dilengannya.


"Tubuhku sangat lelah, apalagi membayangkan permintaannya. argghhh.. aku tak bisa."


Athena ngeri memeggangi bagian bawahnya, seumur-umur ia tak pernah melakukan hubungan itu bahkan tak jarang ia menghindari semua pria yang bernafsu padanya. tapi bagaimana dengan Lucifer?


"Hena. dia pasti kekenyangan lalu tidur, dia tak akan sempat menemuimu."


Athena meyakinkan dirinya sendiri hingga ia menghapus Make-up sesuai yang diarahkan Laura tadi siang hingga barulah Athena mandi meringankan tubuhnya yang lengket.


Waktu terus berjalan, Athena benar-benar membersihkan tubuhnya karna memakai banyak peralatan tadi siang, kulitnya bertambah halus berkat perawatan yang dilakukan Laura tadi hingga ia semangkin bersinar.


"Shittt!"


Athena mengumpat saat ia lupa lagi membawa handuk, tabiatnya yang sangat susah ia hilangkan sampai sekarang.


"Bagaimana ini? bagaimana kalau dia diluar?"


Athena khawatir meletakan Showernya dengan rambut yang basah, ia melangkah kedekat pintu mencoba menangkan hatinya.


Ia mencoba membuka kembali pintu kamar mandi dengan kecil hanya sebatas kepalanya untuk keluar, mata Athena menatap kearah Jendela dan Sofa hingga ia tersigap menemukan Lucifer yang berbaring diatas Ranjang Minimalisnya dengan tengkurap.


"Sutt!"


Athena memanggil Lucifer agar ia tahu pria itu bangun atau tidur, karna tak ada jawaban akhirnya sangat hati-hati Athena keluar perlahan menutup pintu kamar mandi lalu melangkah mendekati ranjang dengan tubuh polosnya.


"Sutt, Cifer!"


Athena mengguncang bahu Lucifer pelan hingga ia lega saat melihat mata pria ini terpejam dengan helaan nafas teratur dan stabil.


"Syukurlah, aku selamat!"


Athena duduk disamping Lucifer yang telah terlelap nyenyak membuat Athena lama memandangi wajah Tampan ini, tangannya terulur merapikan rambut yang menutupi pelipisnya.


"Kenapa kau sangat tampan, hm?"


Athena membungkukan tubuhnya menikmati pahatan sempurna ini sampai jari telunjuknya menyusuri garis rahang tegas Lucifer sampai ke bibir pria ini, semuanya sempurna tanpa cela buruk.


"Apa aku boleh menciummu?"


Tanya Athena mendekatkan wajahnya hingga Lucifer yang sejatinya tak tidur itu sangat panas menghirup aroma Shampo dan tubuh Athena yang segar.


Cup..


Athena menempelkan bibirnya ke bibir Lucifer yang hanya diam membiarkan Athena melakukan apapun yang ia mau, mata keduanya terpejam saling menikmati kelembutan ini.


Namun, mata Athena terbuka labar saat bibirnya malah dihisap kuat oleh Lucifer yang sudah membuka matanya menatap Athena berat.


"Emmm!!"


Brugh..


Lucifer menarik Athena ringan keatas Ranjang hingga sekarang ia mengungkung tubuh polos Athena dengan ciuman yang terlepas, mata Athena terkejut dengan mata yang memucat.


"C..Cifer!"


"Hm."


"K..Kau..Kau pasti ngantuk kan?"


"Aku ingin!"


Lucifer meminta dengan deru nafas yang tak terkendali, suaranya juga mulai serak saat melihat Tubuh Athena yang benar-benar membakar aliran darahnya, ia tak kuat menahan lagi.


"C..Cifer, kau.. kau ingin..a..apa?" Athena gugup.


Lucifer menegguk ludahnya kasar melihat bagian atas Athena dimana gudukan sintal itu begitu ranum ingin sekali ia jamah, semuanya berkumpul menjadi hasrat dibagian intinya.


"Kau! aku sangat ingin!"


"A.. Apa aku..Aku tak mengerti dan.."


"Ehm!"


Lucifer sedikit menggeram saat tangan Athena tak sengaja menyentuh bagian keras dibawah sana hingga wajah tampannya benar-benar meradang dengan gelombang hasrat keras.


"I..Itu.."


"Itu sakit, aku ..aku tak bisa melakukannya sendiri!"


Deru nafas Lucifer semangkin memburu sampai suaranya mulai serak membuat Athena sangat kasihan, tapi ia takut melakukannya.


"A..Aku tak bisa, aku..aku tak tahu caranya."


"Aku yang bergerak!"


"T..Tapi aku.."


Cup..


Athena lansung dibuat pasrah saat Lucifer sudah menyambar kembali bibirnya, ciuman pria ini sangatlah lembut mencumbu halus tak melukainya sama sekali.


Lucifer berusaha mengendalikan hasratnya agar tak terlalu liar agar Athena bisa Rileks menerima semuanya. hisapan lembut itu membuat Athena tak mampu mengacuhkan hingga ia perlahan membalas kaku tak terlalu pandai berciuman membuat bara api ditubuh Lucifer semangkin membara.


"Ehm!"


Athena meremas rambut Lucifer yang mengiringnya untuk berbelit lidah sampai ia merasakan sensasi yang luar biasa saat benda tak bertulang itu membelit saling bertukar saliva.


Tangan Lucifer tak tinggal diam, ia bergerak turun membelai tubuh indah ini sampai Athena menggeliat beberapa kali saat remangan itu mampu membuatnya merasa tersengat.


"Enghhh!"


Athena melenguh kecil memejamkan matanya saat cumbuan Lucifer bergerak turun sangat stabil tak terburu-buru menggerayai lehernya sampai Athena mengigit bibirnya menahan suara itu lagi.


"C..Cifer, emm!"


Athena tak kuasa saat puncak bukit kembar yang menjadi Aset berharganya itu kembali dicumbu penuh hisapan, bibir sensual itu sangat lihai menghisap lembut menariknya beberapa senti karna rasa gemas akan keranuman bentuknya.


Darah ditubuh keduanya sudah benar-benar naik bergejolak, sampai puncak kedua aset itu sudah mengeras selalu dipermainkan dengan sangat spesial, apalagi satu tangan Lucifer sudah turun kebawah membelai bagian mulus dan merona bak delima segar itu dengan sangat lembut.


"Sayang, Akhs!"


"Kau suka?"


Athena terus menggeliat mencengkram bantalnya merasa sangat-sangat terbakar dengan belaian tangan kekar itu, Lucifer memang sangat tahu dimana titik yang membuat ia menggelijang menahan geli sekaligus rasa nikmat yang datang.


"Kau keluar!"


"Em!"


Athena malu saat Lucifer tersenyum menunjukan tangannya yang terlihat memeggang sesuatu sampai semberaut merah itu terlihat di pipi Athena.


"Cifer!!"


"Hm, kau malu?"


Athena menutup wajahnya dengan selimut hingga Lucifer tersenyum kecil membuka Jas dan Dasinya cepat seraya terus memperhatikan tubuh Athena yang sudah begitu pasrah.


"Sayang, ini sudah malam!"


"Benarkah?" serak Lucifer kembali melepas Kemejanya hingga tubuh gagahnya terlihat sangat Sexsi dengan tonjolan otot perut dan semua bagian atasnya tak mampu diacuhkan.


"Hm, sudah jam 2. Sayang!"


"Sangat malam!"


"Iya, kau tak ngantuk?" tanya Athena masih belum sadar apa yang dilakukan Lucifer yang melepas semua pakaiannya hingga keduanya sudah polos, tak ada lagi yang menghalang untuk menyatu.


"Sayang!" tak ada jawaban dari Lucifer yang membuka paha Athena kembali mengungkung wanita ini hingga Athena membuka selimutnya.


Degg..


Mata Athena membulat melihat Lucifer sudah tak memakai apapun hingga tungkainya lansung gemetar melihat satu objek mengerikan sekaligus sangat Perkasa tengah berdiri tegap menantang badai tepat menyentuh bagian bawahnya.


"I..Itu.."


"Aku sudah tak bisa menahan."


Lucifer menggenggam tangan Athena untuk menyentuhnya hingga dengan sangat gemetar Athena memeggangnya begitu tegap, keras dan besar, ia sangat jantungan menatapnya dengan pandangan ngeri dan lemah.


"C..Cifer, i..ini tak muat!"


"Bisa, jika kita berkerja sama."


Athena diam dengan tubuh kaku sampai Lucifer kembali menyambar bibirnya lembut kembali membawa Athena melambung tinggi sebelum mendaki Nirwana ini.


Ia sangat terlatih dan pelan. semua pergerakan Lucifer sama sekali tak membuat Athena terkejut melainkan membuai untuk terus larut, saat bibirnya memberi cumbuan tangan Lucifer sudah lebih mesra bermain dibawah sana untuk merilekskan bagian yang menjadi inti dari Permainan mereka.


"Ehm!"


Athena mencengkram bahu Lucifer saat ada sesuatu yang menekan dibawah sana. Lucifer mencoba terus membawa Athena lebih rileks agar tak terlalu terkejut saat ia menekan nanti.


"Emm!!!"


Kali ini Athena mencengkram lebih kuat sampai menancapkan kukunya ke bahu dan leher Lucifer yang menekan agak kuat hingga bibirnya juga digigit Athena.


"S...Sakit!!"


"Sutt! hey, Rileks!"


Lucifer meniup leher Athena yang mulai meringis dengan wajah takut tapi ia menciptakan suasana yang tak membuat Athena gemetar, karna ia melihat tipe selaput Athena memang tebal.


"A..Asss Sudah!!! Sakitt!!" Athena menepuk bahu Lucifer yang sudah separuh jalan sampai punyanya juga sakit menekan begini.


"Apa sangat sakit?"


Athena mengangguk. rasanya benda itu benar-benar mengoyak sampai rasa perih menjalar disemua sudut tubuhnya.


Lucifer memejamkan matanya mencoba untuk meredam semua ini, ia juga tak mau memaksa Athena untuk melakukannya apalagi mementingkan dirinya sendiri.


"Hm, Baiklah! maaf aku terlalu menyakitimu."


Athena merasa bersalah hingga ia tak tega membiarkan Lucifer menahannya sendiri, dengan cepat Athena mencengkal tangan Lucifer yang ingin menarik diri.


"Apa? apa kau butuh sesuatu?"


"Lanjutkan!"


Lucifer lansung tersenyum kecil mengecup kening Athena yang terlalu memaksakan, ia tak apa karna apapun yang diinginkan Athena itu adalah hal penting dalam hidupnya.


"Sudahlah, aku tak apa! ini sudah malam, kau pasti lelah!"


Namun, Athena lansung menekan pinggang Lucifer dengan kakinya sampai membuat tubuh Lucifer terdorong merapat membuat benda yang sedikit sudah menerobos itu kembali tertekan kuat sampai Athena menjerit.


"Aaamm!"


Lucifer membekap mulut Athena yang mencakar punggungnya sampai Lucifer merasakan dua sensasi yang Exstrem, antara nikmat karna penyatuan dan kedua cakaran Athena ke punggungnya.


"S..Sakittmm!"


"Kau!! bodoh, ha?"


Geram Lucifer menatap kebawah dimana darah itu keluar sampai membuat ia termenggu, itu sangat kasar tapi bukan ia yang melakukannya.


"Sakitt!!"


"Suttt! aku tak melakukannya, Sayang!"


Lucifer tak bergerak, walau rasanya ia sudah begitu tak tahan tapi ia tak ingin Athena merasa sangat sakit.


"Kenapa sesakit ini?"


"Karna ini yang pertama, aku janji setelah ini tak akan sakit lagi!"


"Benarkah?" Athena tak paham soal ini.


"Hm, pasti rasanya nikmat!"


Athena mengangguk membiarkan Lucifer menghapus sisa air mata yang keluar, walau ia seorang Agen cerdas tapi soal hubungan Ranjang ia tak tahu begitu banyak.


Saat melihat Athena mulai Rileks, barulah Lucifer memompa lembut hingga membuat Athena melenguh antara perih dan rasa aneh yang tak bisa ia jabarkan.


Lucifer menggeleng merasakan ini sangatlah membuat ia mabuk, sensasi gila tak pernah ia bayangkan akan melakukannya dengan musuhnya sendiri.


"Akhs, S..Sayang!"


Keduanya tak mampu menahan suara kenikmatan itu sampai larut dalam ranjang sempit yang menjadi keuntungan bagi Lucifer untuk terus mengeluarkan keperkasaan jiwa jantannya.


...


Vote and Like Sayang..