
Cestor masih terlihat sibuk dengan Baby Angel yang juga tak rewel bersamanya. si kecil ini asik menatap wajah Uncelnya dengan polos lalu meraba pipi Cestor yang memang agak ditumbuhi bulu halus yang menjadi salah satu pembeda ia dan sang dady.
Lama Cestor memandangi sentuhan penuh penasaran ponakannya itu tanpa ada pembicaraan yang menimbulkan kecanggungan diantara keduanya.
Apalagi ia sekarang berada didepan pintu utama tengah duduk menunggu rekan yang tadi Lucifer sebutkan seraya memangku Baby Angel ditengah penjagaan ketat anggota Lucifer.
"Kenapa lama sekali?"
"Tuan! dia.."
Seketika kalimat Asisten Brian terhenti saat Mobil yang menjemput wanita itu sudah masuk ke pekarangan Istana hingga wajah Cestor benar-benar sudah tak bersahabat. ini sudah mendaki sore tapi manusia ini masih berani membuatnya menunggu.
"Maaf. saya terlambat!"
Degg..
Seketika Cestor lansung berdiri dari duduknya menatap siapa yang telah keluar dengan stelan formal yang sangat Casual dan feminim menatapnya dengan rasa segan dan gugup.
Rahang Cestor sudah mengetat keras menelan wanita cantik ini sampai Baby Angel tersenyum manis menatap wanita itu.
"Selamat siang menjelang sore Nona kecil!"
"Kauu!!"
Geram Cestor lansung memutar tubuhnya melangkah masuk kedalam Kediaman dengan berjuta rasa dongkol dan tak setuju akan apa yang Lucifer lakukan.
"Cifer!!!"
Suara Cestor menggelegar membuat sepasang pasutri yang tengah asik berciuman didepan televisi sana tersigap dengan Athena mendorong dada bidang suaminya menjauh merubah exspresinya yang canggung.
Raut wajah Lucifer berubah menelan Cestor yang sudah berdiri dihadapannya menggendong Baby Angel ringan.
"Apa-apaan kau, ha?"
"Apanya?"
"Dia!!"
Cestor menatap kilas Cellin yang sudah masuk lansung menunduk tak berani menghadapi kemarahan pria yang sangat menyeramkan ini.
Alis Lucifer terangkat sinis lansung mengambil putrinya dari gendongan Cestor yang masih menghakimi keputusannya.
"Dia akan membantumu!"
"Tidak! aku bisa melakukan semuanya sendiri."
"Ini bukan tawaran."
Tegas Lucifer benar-benar menjelma sebagai Master Alaska. entah kenapa ia begitu kuat menjadikan Cellin rekan Cestor yang notabentnya memang tahu Cellin menyukainya itu karnanya ia tak ingin semangkin memberi harapan.
"Cifer! aku tak bercanda."
"Kenapa kau takut?"
"Aku sama sekali tak takut!" tekan Cestor dingin.
"Lalu? dia adalah seorang wanita berpendidikan. mempunyai karakter dan keahlian dalam bidang Artistik dan sejenisnya, apa masalahmu dengan itu?"
Cestor dibungkam dengan ucapan Lucifer yang sangat mencekik lidahnya. tanpa melontarkan kata-kata bantahan lagi ia berbalik pergi menatap membunuh Cellin yang menunduk tak ingin mengeluarkan suara hanya diam mengikuti pria ini.
"Sayang!"
Athena meraih tangan Lucifer yang sebenarnya ia yang menyarankan itu karna saat persalinan dan beberapa hari ini Cellin sering datang ke Istana mengunjunginya. jelas Athena tahu mana yang baik dan hanya bertopeng dihadapannya dan Cellin memang wanita yang baik, menatap putrinya tulus dan sedari ia kenal di Cam dulu wanita itu tak pernah mencari masalah soal apapun.
"Apa Cellin akan baik-baik saja?"
"Sudahlah. Cestor tak pernah ingin menyakiti seorang wanita kecuali masih berhubungan dengan Momy dan Dady."
Lucifer meredam kekhawatiran Athena takut Cellin dilukai. tapi niatnya hanya sekedar mendekatkan bukan termasuk untuk memaksa atau menjebak keduanya.
......
Cengkraman tangan lentik itu menguat disela Dress selutut yang ia pakai. rasa gugup yang menjalar dihatinya menundukan benak yang berkecamuk merasa takut dan tak berani menatap wajah kelam Cestor yang duduk dikursi belakang dengan wajah dinginnya.
Asisten Brian yang melihat ketakutan Cellin hanya bisa menghela nafas. jika tak kenal dengan dengan pria ini maka setiap orang akan menganggapnya sangat tak berwarna dan selalu galak, walau aslinya memang tak beda jauh dari dugaan yang terlintas.
"Anda ingin minum! Nona?"
"A.. t..terimakasih!"
Namun, Asisten Brian lansung mengerem mendadak karna ada Mobil Ambulans yang menyalip Mobilnya dengan suara decipan ban mobil beradu kencang dengan aspal yang membuat Cellin terhuyung kedepan dengan botol ditangannya berguncang menjipratkan air kebelakang.
"Kenapa Rem mendadak??" pekik Cellin menatap Asisten Brian yang sudah menelan ludahnya kasar melihat kekaca spion membuat Cellin pun menoleh kebelakang.
Duarrr..
Cellin seakan tersambar petir menjatuhkan botol ditangannya cepat menutup mulutnya tak percaya melihat wajah siapa yang basah dengan Jas yang juga sama menatapnya membunuh bahkan membekukan kaki wanita itu.
"T..Tuan!"
Wajah Cellin memucat menatap pahatan tampan ini sudah merah padam dengan urat kemurkaan yang menjalar dikepalan tangannya yang menguat.
"Kauuu!!!!"
"S..saya akan bersihkan!!"
Pekik Cellin meredam rasa takut menyambar tisu disampingnya lalu membungkuk kebelakang menerobos pembatas kursi hingga ia berjongkok membersihkan paha Cestor yang sudah basah.
"Kauu!!"
"M..Maaf! maafkan saya!"
Cellin benar-benar mengelapnya sampai menepuk dada Cestor mengeringkan Jas yang basah dan tanpa sadar menipiskan jarak dengan beralih mengelap wajah tampan Cestor yang masih basah.
"Maaf! maafkan saya, Tuan!"
Gugup Cellin mengusap leher kokoh ini sampai Asisten Brian merasa Cellin akan semangkin menyiram bensin ke bara api yang panas.
"Menyingkir!!!"
Brugh..
Tubuh Cellin membentur punggung kursi depan akibat dorongan kuat Cestor yang mengakibatkan suara benturan keras itu menggema didalam Mobil.
"Nona!!"
Asisten Brian terkejut lansung menarik tubuh Cellin kembali kekursi depan dengan paha wanita itu memar dan pinggang yang seakan mau patah.
"Nona! anda.."
"A..Aku..aku tak apa!"
Gumam Cellin memeggangi pinggangnya memaparkan wajah pucat yang menahan sakit membuat wajah Cestor sedikit berubah melihat memar biru dipaha putih wanita ini.
"Apa perlu kita kerumah sakit?"
"Em, tidak! lanjutkan saja perjalananya."
Ucap Cellin berusaha tersenyum padahal tubuhnya sudah sangat sakit. ia tak menyangka Cestor sekasar ini pada wanita padahal dulu ia kira pria ini tak sejahat itu.
Melihat wajah Cellin yang agak berubah menatap ke spion menarik rasa bersalah Cestor yang sebenarnya tak sengaja melakukannya. ia tadi refleks karna tak pernah berdekatan seperti itu dengan seorang wanita.
"Buang dia kerumah sakit!"
"T..Tuan.."
"Aku tak ingin dia mati di mobilku!"
Cellin lansung terbongkem diam menggeleng pada Asisten Brian yang tak bisa membantah memutar stir Mobil menuju arah Rumah Sakit.
Disepanjang perjalanan Cestor menatap pinggang Cellin yang dipeggangi wanita itu lalu memandang tempat benturan. dari perkiraanya akan timbul luka dalam dipersendian wanita ini.
"Tuan! saya tak apa, kita bisa ke tempat kerja."
Cestor hanya diam menatap lurus kedepan seakan ia benar-benar tak perduli. tapi sayangnya ia tak bisa menarik diri dari apa yang baru saja ia lakukan.
"Tuan! saya.."
"Bicara sekali lagi. turunkan dia dipinggir jembatan."
Cellin lansung diam tak bersuara lagi hingga sudut bibir Asisten Brian terangkat melihat wanita ini tak berkutik akan ketegasan Tuannya.
...
Vote and Like Sayang..