Mysterious Love

Mysterious Love
Nona!!



Seketika semuanya hening. kepala Cellin tertunduk diam membisu saat tatapan elang itu terus memandanginya yang tengah diperiksa Dokter di Rumah Sakit ini. antara rasa gugup dan takut bersamaan menjadi satu dihatinya.


Memar biru dipinggang dan pahanya hanya diberi salep dengan beberapa resep obat karna Cellin mengalami peradangan sendi dipinggang akibat benturan keras tadi, untung saja tak terlalu parah tapi Cellin tak diperbolehkan untuk bergerak banyak atau terlalu spontan.


"Nona. anda harus berhati-hati dalam bergerak, kemungkinan akan terjadi peradangan yang lebih lagi dari ini jika anda tak menjaga keseimbangan tubuh anda."


"Apa tak ada yang serius?"


Tanya Asisten Brian yang berdiri disamping Bangkar Cellin dengan wajah penuh keperdulian. ia terlihat sangat menjaga wanita ini sedari tadi.


"Tidak juga, Tuan! tapi hanya Nona tak bisa melakukan pekerjaan berat atau melakukan sesuatu yang terlalu lama seperti berdiri, duduk atau berjongkok."


"Baiklah!"


Asisten Brian membantu Cellin untuk duduk hingga wanita itu benar-benar merasa pinggangnya sangatlah perih dan nyeri membuat Asisten Brian prihatin.


"Saya akan bantu menghubungi Master kalau anda tak.."


"Sudahlah. ini hanya kecelakaan kecil, aku masih bisa bekerja!"


Jawab Cellin tak manja bangun dari Bangkar sendiri lalu berdiri seperti semula walau ia masih memeggangi pinggangnya. sementara Cestor, ia memalingkan wajahnya kearah lain seakan tak perduli sama sekali.


"Kembali ke pekerjaan!"


"Baik. Tuan!"


Jawab Cellin tegas mengikuti Cestor yang diberi salam hormat para petugas Rumah Sakit yang mengenalnya. ia terlihat dipandang penuh kagum menarik rasa kecewa Cellin yang berusaha tak mencampurkan urusan hati dan pekerjaannya.


"Maafkan Tuan saya. Nona!"


"Kenapa?"


Tanya Cellin menatapa Asisten Brian yang merasa sedikit canggung dipandangi sepasang mata santai ini. tak ada yang tahu ia tengah mengaggumi sosok Nona Mentri yang bekerja sendiri tanpa bantuan kedua orang tuanya.


"Tuan saya terlalu menyudutkan anda."


"Sudahlah. sejak pertama Tuanmu memang tak suka denganku. bukan?!"


Celetuk Cellin menyelipkan kekehan santai menepuk bahu Asisten Brian yang tertegun lalu mengangguk berjalan beriringan membuat Cestor yang sedari tadi melihat dari kaca di sepanjang pintu ruamah sakit lansung mengepalkan tangannya.


"Kalian bisa cepat, ha???"


"B..Baik!"


Keduanya berlari mengejar Cestor yang sudah jauh didepan sana dengan raut marah yang terlihat jelas. Cellin tak melampaui langkah Cestor melainkan ia berusaha mengimbangi tapakan kaki jenjang itu menuju Loby.


"Tuan!"


"Hm!"


Beberapa orang yang berpapasan menyapa tapi mereka sebagian laki-laki yang juga memberi sapaan renyah pada Cellin yang membalas seadanya.


"Kau senang?"


Dahi Cellin menyeringit saat sudah menuju Mobil dihadihkan pertanyaan yang kurang ia pahami.


"Apanya? Tuan!"


"Cih, entah apa yang kau lakukan sampai ingin bekerja ditempatku?!"


Cellin diam memejamkan matanya mencoba menelan semuanya membawa diri lebih tenang masuk ke Mobil mencari tempat nyaman yang tak ia dapatkan.


Asisten Brian memberikan sebotol air lagi tanpa mengemudi terlebih dahulu karna ingin Cellin minum dengan tenang.


"Silahkan!"


"Em, tapi.."


"Tak apa. Nona! saya akan menunggu."


Cestor memandangi interaksi Asisten Brian dengan Cellin yang menurut meminumnya pelan tapi dipenglihatan Cestor wanita ini tengah mencari perhatian Asistennya.


Bughh..


"Uhukk!!"


Cellin terbatuk saat Cestor menendang kursi mobilnya elegan tanpa terlihat rasa bersalah dimata angkuh itu.


"T..Tuan.."


"Ini bukan tempat berpacaran!"


"A.. itu..Saya hanya.."


Disepanjang jalan pintas ini Cellin hanya diam menatap Asisten Brian yang sedari kemaren memang perduli padanya. pria ini yang melindunginya dari amukan Cestor dan selalu ada disetiap rasa takutnya.


"Cepatlah!!!"


"Cepat dari ini. maka nyawa kita akan melayang lebih cepat lagi. Tuan!"


Jawab Asisten Brian mulai kehabisan kesabaran menarik keterkejutan Cellin yang melirik kaca spion dimana Cestor diam menatap keluar jendela hingga ia dan Asisten Brian kembali saling pandang lalu melepaskan kekehan geli yang dikulum senyum pelit.


Cellin bertanya dari raut wajahnya seakan mengatakan Kenapa dia diam? dan tentu Asisten Brian dengan raut wajah yang sama penuh isyarat mata membuat Cestor tak bisa menahan.


"Berhenti!!!"


Seketika suara itu lansung membuat Rem diinjak kuat sampai Ban mobil berdecipan dengan Aspal yang tak jauh dari lokasi pembangunan.


"Ada apa? Tuan!"


"Turun!"


Cestor menatap Cellin yang saling pandang dengan Asisten Brian yang tak mengerti akan reaksi pria ini.


"Tuan! kalau saya salah saya minta ma.."


"TURUN!!!"


Cellin lansung bergegas turun dengan air mata tak lagi terbendung. ia sudah puas menerima semua ini semenjak bertemu dan sekarang terus berkelanjutan.


"Nona!"


"T..Tak apa. aku..aku bis mencari Taxsi!"


Jawab Cellin bergetar menepi dijalanan menghapus cairan bening yang keluar membuat Asisten Brian tak tega membiarkannya sendirian di tepi jalan.


"Tuan! Master bisa marah besar kau melakukan ini."


Cestor hanya diam menurunkan kaca jendela mobilnya tanpa menatap Cellin yang juga enggan memandangnya sampai keduanya memiliki batasan yang labil.


"Niatmu bekerja denganku!"


"Ini tawaran dari Tuan Muda Kedua. tentu saya mau karna.."


"Ingin mengambil kesempatan!"


Seketika kepalan tangan Cellin menguat dengan wajah berubah geram dan tak bisa menahan rasa hina itu lagi hingga menarik diri mendekati kaca mobil Cestor.


"Kesempatan?"


"Hm."


"Kesempatan apa yang kau maksud, ha?"


Geram Cellin menantang sampai membuka pintu mobil Cestor yang hanya diam duduk bertopang kaki angkuh seakan tak menganggap lawan bicaranya.


"Kau pikir aku tak tahu niat licikmu?!" tekan Cestor menatap genagan dimata Cellin yang selalu terang dipikirannya sejak kejadiam malam itu.


"Tuan Muda Pertama yang terhormat. kau pikir tak ada laki-laki yang lebih tampan darimu didunia ini?"


"N..Nona!"


Asisten Brian terkejut mendengarnya sekaligus syok melihat raut wajah Tuannya.


"Aku sudah cukup bersabar. sejak hari pertama aku ke Istana Hermes kau memang tak menerimaku aku tak masalah karna aku pikir kau memang sulit mempercayai wanita sepertiku tapi ingat, aku juga bukan penggemar FANATIKMU!"


Tekan Cellin lalu menutup pintu Mobil itu kasar dan melangkah pergi membuat wajah Cestor benar-benar berubah mendingin bahkan sangat dingin menatap kepergian Cellin yang terlihat menangis menyebrangi jalan yang ramai.


"N..Nona!"


Gumam Asisten Brian melihat ada Mobil Tangki yang melaju dari arah berlawanan tanpa disadari Cellin yang tengah dilanda emosional yang kuat.


Cetor hanya diam ditempat dengan kepalan tangan yang menguat tanpa menatap kearah pandangan Asisten Brian yang sudah jantungan lansung membuka sabuk pengaman turun dari mobil.


"Nona!!!!!"


Cellin menoleh kebelakang menatap Asisten Brian yang berdiri didepan Mobil menatapnya dengan mata terbelalak membuatnya tak mengerti. karna rasa sakit hati itu masih bersarang dihati dan kepalanya, Cellin kembali berbalik ingin tetap melanjutkan langkahnya namun Mobil Tangki itu sudah mendekat dan..


"Nona!!!!"


.....


Vote and Like Sayang..