
Malam pun berkabut pekat, seperti biasa Negara Venus selalu disibukan dengan urusan pentingnya mengejar waktu yang berputar cepat.
Seperti sekarang, Mobil Sedan itu lansung terparkir didepan Gerbang Rumah kecil Athena yang telah disulap menjadi Rumah Klasik Moderen dengan beton yang sangat mahal dikelilingi lampu Neon yang cantik, memang bentuknya masih sama tapi bahan-bahan bangunan yang berkualitas serta keramiknya begitu mahal sampai membuat Dames terperangak tak percaya.
"Cih, Rumah seperti itu terlalu kecil."
Madam Mery berpapasan dengan Dames yang memiringkan bibirnya seraya membuka kacamata hitamnya, ia melonggarkan tali pinggang yang mengikat perut buncitnya sampai terasa lega.
"Lihat Rumahmu, Nyonya! jangan bandingkan Kandang Ayam dengan Rumah Pejabat!"
"Kauu!!"
"Bayy!"
Dames memilih pergi meninggalkan Madam Mery yang menggeram kesal, tapi memang ia akui semuanya sangat mahal tak bisa ia tandingi dengan rumah biasanya.
"Ihh, aku harus menyuruh putriku mendekatinya."
Gumam Madam Mery sangat percaya diri lalu melangkah pergi, ia menatap kiri kanan lalu berpose mengeluarkan kameranya mengambil gambar.
Sedangkan Dames, ia menyeringit bingung melihat Mobil mewah didepan Rumah Athena, pikirannya melayang saat berita di Pesta kemaren kedatangan Putra kedua Hermes itu membuat ia menyangkut pautkannya dengan sang Kapten.
"Kapten!!!"
Dames memanggil Athena seraya melihat bentuk pagar dan pintu ini sampai ia tak sadar kalau Nenek Nuseta sudah berdiri didepan pintu dengan tatapan jengahnya.
"Kapten!!!" Dames hampir mengetuk wajah Nenek Nuseta yang lansung memukul lengannya membuat Dames tersigap menoleh.
"Eh, Nek!"
"Kenapa kau kesini? merusak suasana malamku." ketus Nenek Nuseta kesal.
"Nek, apa Kapten ada?"
"Tidak!"
Ketus Nenek Nuseta menghalangi Dames ingin mengintip kedalam sana. wajah Dames sangat penasaran siapa pemilik Mobil mewah ini?
"Nek! aku ingin mampir."
"Tidak, kau pulang saja!"
"Aku haus, Nek!"
Dames memaksa tapi Nenek Nuseta semangkin menghalangi, ia tak ingin Athena dan Pancinya itu terganggu didepan Televisi sana.
"Nek. ada Pria Tampan!"
"Mana?"
Dames lansung menerobos masuk saat Nenek Nuseta lengah hingga ia tersenyum senang namun seketika Dames lansung memanggil tanpa menatap kearah depan.
"Kapten!"
Degg..
Athena lansung terperanjat menoleh kebelakang hingga matanya membulat melihat Dames yang masih berdebat dengan Nenek Nuseta hingga ia menatap Lucifer yang juga memandangnya.
"Sembunyi!!"
"Kenapa?"
"Masuk kekamar!"
Athena mendorong Lucifer menuju kamar hingga wajah Lucifer menyeringit menatap kearah pandangan khawatir Athena hingga ia lansung melepas baju kaosnya.
"Cifer kau.."
"Pakai ini dan jangan banyak bergerak!"
Athena mengangguk saat Lucifer memakaikan pakaian itu menutupi Tangtopnya hingga Lucifer masuk kekamar dengan Athena yang berdiri agak kaku karna pinggangnya masih nyeri.
"Kapten!!"
Dames mendekat kearah Athena yang mengeratkan belitan selimut kepinggangnya seraya menutupi bekas Kismark dilehernya dengan rambut.
"Kenapa kau kesini?"
"Haiss! Jendral marah-marah padaku."
Dames berdiri dihadapan Athena hingga wajah pria gempal itu menyeringit mendapati rona pucat ini tertera, tangannya lansung terangkat ingin memeggang kening Athena namun ditepis kasar oleh wanita itu.
"Kau!!"
"Kau sakit? Kapten! kenapa wajahmu sangat pucat?"
"Em, aku hanya kurang enak badan. ini biasa terjadi."
Elak Athena menutup pintu kamar karna Dames mulai mengintip kedalam, apalagi ada aroma Maskulin yang sangat segar dan harum membuat ia agak menghayal.
"Apa kau punya Parfum se gagah ini, Kapten? baunya sangat jantan!"
"Cih, ini Parfum Nenek! kau pergilah!!"
Athena mengusir Dames yang mendengus masih menghirup aroma Maskulin ini, ia sedikit mengendus rambut Athena hingga baunya sangat pekat ditubuh Kaptennya.
"Baunya menempel di Tubuhmu, Kapten!"
Brakk..
"Kapten!!"
"Sudahlah, itu kucingku!"
"T..Tapi, a..apa kucing bisa meninju sekeras itu?"
Gumam Dames merinding menjauh dari pintu kamar membuat Athena menghela nafas melangkah menuju Sofa, ia tahu Dames punya perintah hingga datang kesini.
"Kenapa kau kesini?"
"B..Begini, Kapten!"
Dames melangkah mendekati Athena walau keberaniannya sudah ciut didepan pintu kamar tadi.
"Jendral ingin menemuimu, membicarakan soal kasus kemaren!"
"Aku tak bisa datang!"
Jawab Athena menatap Televisi dihadapannya yang tengah berganti dengan berita, ia masih mencari siaran secara acak hingga ia menemukan sesuatu.
Bagian Taman disebelah Papiliun Barat Istana telah di Bom secara Misterius tadi malam. tidak ada korban jiwa tapi penyebabnya masih belum diketahui.
"B..Bom?"
Gumam Athena lansung menatap kearah pintu kamarnya. apa maksudnya? bukannya semalam mereka Berdansa di tempat itu tapi..
Shittt.. Dia memang benar-benar.
Batin Athena menggeram membuat Dames yang memakan sisa camilan diatas meja ini pun menyambar.
"Itu kejadian tadi malam. Jors bilang Bomnya itu Bom rakitan."
"Apa ada jejak?"
"Em, Tidak ada Kapten! semuanya rapi, CCTV didekat sana juga mati."
Athena lansung menghela nafas lega, kalau Lucifer kembali meninggalkan Kode namanya maka semua orang akan curiga akan persamaan nama dari kedua identitas itu.
"Hm. aku akan datang!"
"Bagus! aku juga malas menghadapi Jendral sendiri, hanya kau yang paling berani dan serba bisa, Kapten!"
Dames menepuk bahu Athena yang hanya diam berdiri melangkah ke kamarnya sementara Dames mengganti siaran ke pertandingan Bola.
Athena masuk kedalam kamar menatap kearah Jendela dimana Lucifer berdiri dengan tegap menghadap Jendela, sesekali Lucifer terlihat memijat pelipisnya karna mungkin ia tak merokok jadi pusing.
"Sayang!"
"Hm?"
Lucifer tersigap saat kedua lengan Athena melingkar ke perutnya yang terpampang bebas tak memakai atasan, tubuh kekar yang sangat Athena sukai.
"Kau kenapa?"
"Tidak ada!"
Lucifer memejamkan matanya mengelus lengan Athena yang tak lagi di Perban, apalagi bibir Athena menempel kepunggung Lucifer yang berotot.
"Aku pamit, ya?" mata Lucifer lansung terbuka.
"Kemana?"
"Aku harus ke Markas besar, Sayang!"
Lucifer menggeleng berbalik menatap Athena yang juga memandangnya lembut, satu tangan Lucifer lansung membelit pinggang Athena.
"Tidak, kau masih belum sehat! wajahmu masih pucat."
"Sayang hanya sebentar! lagi pula aku pergi pakai Mobil, tak apa kan?"
Lucifer kekeh menolak hingga Athena menghela nafas diam sampai pada Ponsel Lucifer berdering didalam saku celananya. dan ternyata pesan singkat itu masuk yang mengingatkannya pada Pertemuan tadi.
"Sayang. aku harus pergi!"
"Kemana?"
Athena menatap Lucifer yang meraih Jaketnya diatas Sofa hingga membuat kebingungan diwajahnya.
"Kau kemana? kenapa buru-buru?"
"Ada urusan kecil, ingat kau jangan pergi kemanapun. istirahatlah!"
Cup..
Lucifer meloncat dari Jendela setelah mengecup kilas bibir Athena. ia kembali memakai Topi dan Maskernya memasuki Mobil untuk pergi meninggalkan tanda tanya besar dikepala Athena.
"Kapten!!! kau sudah selesai?"
Suara Dames memanggil hingga Athena berfikir keras, jika ia tak pergi maka Jendral Guinter akan curiga. apalagi ia sudah banyak berubah akhir-akhir ini.
"Maaf, tapi ini demi hubungan kita! aku harus perlahan mencoba memperbaiki citramu, Cifer."
Gumam Athena lansung melangkah menuju Lemari, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa ia gunakan untuk keluar. kali ini lebih tertutup agar tak terlalu dingin.
.....
Vote and Like Sayang..