
Mendung itu telah meluruhkan buliran air deras yang membasahi tanah Negara Venuz ini. awan biru yang biasa terukir berganti dengan asap gelap menghitam diatas sana dengan kilatan petir menyambar membuat gemuruh yang beriringan.
Menubruk atap dari rumah kecil yang seketika sunyi. tak ada aura ataupun candaan kecil yang biasa tercipta, semuanya seakan menjadi rumah kosong dengan lampu menyala tapi tak ada suara selain rintikan hujan mengguyur tanahnya.
Didekat Jendela Trali yang daliri air itu ia duduk menekuk kedua kakinya diatas Sofa singel yang menjadi topangan untuknya.
Air mata Athena terus keluar begitu saja, ia mencengkram sikunya yang memar dengan kepala masih membayang tentang kejadian itu.
Kau kenapa?
Satu pertanyaan yang tak pernah Athena temukan jawabannya. perubahan sikap Lucifer sangat berdampak pada hidupnya, Neneknya sakit dan belum sadar membuat rasa khawatir itu bercampur dengan rasa takut akan ditinggalkan.
"M..Mom!"
Gumam Athena hanya punya nama itu yang ia lantunkan ketika sendiri tanpa ada yang bisa merangkuhnya.
"Dia pasti hanya kesal padaku, kan?"
Serak Athena masih tak menerima, ia sangat merindukan pria itu bahkan entah kenapa semua yang dilakukan Lucifer merubah emosinya hingga begitu mudah menangis.
"Dia.. dia mendorongku dan.. dan itu hanya bercanda kan? s.. suamiku tak begitukan, M..Mom? hiks!"
Isak Athena tertahan melihat Cincin dijari manisnya, Cincin ini adalah Cincin Pernikahannya yang dulu disematkan oleh pria itu. janjinya untuk tak meninggalkannya membuat Athena benar-benar merasa sakit jika itu hanya bualan semata.
"Permisi!!!!"
Athena tersigap saat mendengar suara didepan sana hingga ia termenggu sesaat melihat jam yang menunjukan pukul 9 malam. tak mungkin ada orang bertamu malam-malam begini ke rumahnya.
"Siapa?"
Gumam Athena menghapus lelehan bening diwajahnya lalu memakai Blazer melangkah keluar melihat siapa yang memanggilnya.
"Permisi!!!"
"Sebentar!!"
Athena melangkah ke pintu masuk hingga ia membuka benda itu kecil dengan kepala yang melihatnya.
Seorang kuris dengan jaket tebal tengah mengantar satu Kotak yang dikemas ditetesi air yang berasal dari hujan lebat ini.
"Ada apa, ya?"
"Ini, Nona! ada kiriman dari Tuan Lucifer!"
Seketika wajah Athena yang tadinya mendung seketika cerah mendengar nama itu hingga senyumnya kembali melengkung indah.
"Berikan!"
"Ini suratnya, juga Nona!"
Athena mengambilnya dengan penuh semangat menandatangani kartunya lalu menutup pintu dengan kotak yang cukup besar ditangannya.
"Aku benarkan? kau pasti hanya kesal padaku!"
Gumam Athena meletakan benda itu diatas meja makan lalu mengambi pisau membuka kemasannya yang berlapis agar tak basah. mata Athena begitu berbinar setiap membuka plastiknya hingga terlihatlah Kotak yang masih misterius.
"Dia selalu membuat hal misterius!"
Gerutu Athena membukanya hingga matanya terfokus pada plastik Tablet pil dan ada botol-botol kecil yang tak Athena mengerti.
"Obat? ini untukku atau punya Nenek?"
Athena mengambil kertas yang ada didalamnya hingga ia membacanya dengan baik.
Tablet obat itu untukmu. cuaca sekarang sedang tak menentu apalagi kau butuh Vitamin, berikan suntikan itu pada Nenekmu.
Athena diam sejenak menatap Tablet obat ini bergantian dengan botol-botol kecil yang dikemas rapi didalamnya. ada yang janggal dari pengiriman kali ini tapi apa Lucifer juga merubah bahasanya?
"Baik! aku akan meminumnya. sesuai aturan pakaimu, Suamiku!"
Jawab Athena berbinar membawa kotak itu kedalam kamarnya hingga membuat seseorang dengan Mobil hitam dibalik beton sana tengah menunggu kabar selanjutnya dari alat perekam yang ia pasangkan ke kotak itu.
Athena meletakan Kotaknya diatas ranjang lalu berdiri sejenak menatapnya lama hingga hanya orang-orang tertentu yang tahu maksud dari raut wajah tenang Athena.
"Kau sangat pengertian, Cifer!"
Athena berucap seraya mengambil senter diatas nakas hingga ia melihat barang-barang didalamnya dengan teliti. jiwa Intelijennya keluar seketika menjadikan tisu sebagai pencari alat kecil itu.
"Aku tahu kau tak marah padaku, kau hanya kesal karna aku terlalu memperdulikan Nenek. padahal kau juga butuh perhatianku, Sayang!"
Athena menggeram saat melihat ada alat kecil dibalik kotak ini hingga ia mengambilnya pelan dan meletakannya kedalam tisu yang ia remas kuat hingga remuk membuat Pria yang memantau dari pintu gerbang sana terkejut.
"Kenapa putus?"
"Saya tak tahu. Tuan!"
Ia mencoba menyambungkannya kembali tapi tetap saja tak bisa hingga ia lansung mengisyaratkan Asistennya untuk pergi sebelum ada yang melihat Mobil mereka disini.
"Siapa? kenapa tiba-tiba berniat jahat ke rumahku?"
Gumam Athena berfikir. kalau itu Hera tak mungkin dia tak menyerang secara lansung atau menemuinya karna ia tahu wanita licik satu itu akan memakinya terus.
Lama Athena berfikir hingga ia menghela nafas halus. sepertinya Lucifer memang tak akan pulang seperti semalam dan ia kembali menelan kesunyian.
Athena memilih mengambil selimut lalu melangkah pergi kekamar Neneknya untuk menemani wanita tua itu walau masih belum membuka mata.
"Nek! aku numpang tidur lagi."
Pamit Athena masuk melihat Ranjang yang sudah dipenuhi obat-obatan hingga ia menghela nafas melihat lantai dibawah sini.
"Hena tidur di lantai saja, cepat bangun. Nek!"
Athena mengecup kening Nenek Nuseta lalu mengambil satu bantal dan meletakannya keatas lantai yang dingin ini. ia tak masalah karna sedari kecil ia sudah biasa tidur dilantai ketika suasana rumah panas.
"Selamat malam!"
Gumam Athena memejamkan matanya yang sudah mulai berat dan sembab membuktikan dia habis menangis. sesekali Athena membuka matanya lalu melihat kearah tirai kamar Neneknya tak ada orang sama sekali hingga ia memeluk dirinya sendiri ditengah kehangatan yang ia rindukan dari seseorang.
"Kau pasti bisa tidur tanpa aku, kan?"
Athena tersenyum perih kembali memejamkan matanya menelan suara hujan yang membasahi Atap Rumah ini, suara angin semangkin kencang dengan suhu naik membekukan membuat Athena mengeratkan selimut tipisnya kembali menyambung tidur yang dipaksakan.
Setelah beberapa lama akhirnya ia sudah tak mendengar apapun selain keheningan dalam Dunia barunya sampai tak mendengar suara langkah kaki yang ada diluar sana.
"Ambil barang ini!"
"Baik!"
Dua anggota berpakaian hitam yang basah itu mengambil Kotak yang diberikan Masternya hingga mereka bawa keluar setelah menjebol pintu ini secara paksa tapi diperbaiki kembali takut wanita itu mencurigainya.
Dengan rambut ditutupi Topi dan Mantel membalut tubuh kekarnya yang sedari tadi memantaupun lansung ia lepas seraya melihat kesemua penjuru sudut ruangan ini.
"Dia sudah mulai menunjukannya!"
Gumam Lucifer geram. Cestor memang tak main-main kali ini, bahkan Racun pelumpuh itu ia kirim atas namanya tapi untung saja Athena sicerdas itu bisa menerkanya.
"Aku ingin kalian jaga tempat ini 24 Jam! laporkan siapapun yang mengunjungi ini dan tambah CCTV disini."
"Baik!"
Berots melangkah pergi seraya mengkerahkan anggota untuk melindungi area Rumah ini. sedangkan Lucifer, ia lansung melangkah ke tempat seseorang yang sudah membuat ia merindu berat sedari siang.
Hanya beberapa langkah saja Lucifer sampai kesana hingga dengan helaan nafas halus ia menyibak Tirai kamar ini hingga lansung dipaparkan dengan Ranjang Minimalis yang ditempati Nenek Nuseta yang masih lemah hingga mata Lucifer mencari sesosok itu.
"Apa dia tak disini?"
Gumam Lucifer tak menemukan Athena hingga matanya terbelalak melihat selimut yang terlihat dari sini hingga ia dengan cepat melangkah kesana.
Degg..
"Kauu!"
Geram Lucifer melihat Athena meringkuk seperti bayi dengan tubuh mengigil karna dingin yang sangat menusuk tulang. tanpa pikir panjang Lucifer melepas Mantel tebalnya yang agak basah kesembarang arah lalu berjongkok mendekati Athena.
"Wanita bodoh!"
Umpat Lucifer membuka baju kaosnya hingga tubuh kekar itu terlihat sangat sexsi dengan tonjolan otot kerasnya. tangan Lucifer dengan gesit menyela dibawah punggung Athena menggendong ringan menuju Sofa panjang yang ada disudut ruangan ini.
Dengan pelan tapi pasti Lucifer berbaring diatas Sofa dengan tubuh Athena merapat masuk kepelukannya serta kepala wanita itu terbenam kedada bidangnya yang jantan, selimut tipis tadi ia balutkan ketubuh Athena yang perlahan berhenti mengigil dan tanpa sadar mengeratkan pelukannya ke dada bidang ini dengan lengan kekar sang suami mengelus punggungnya.
"Cifer!"
Lirih Athena dengan mata terpejam membuat Lucifer termenggu diam menatap intens wajah damai ini. walau mereka sudah tak seperti dulu lagi yang bebas tapi ia tak bisa menepis kalau hatinya terus memberontak keras saat berjahuan begini.
"Aku sangat merindukanmu."
Bisik Lucifer mengecup lama puncak kepala Athena yang semangkin lelap dengan belaian tangan kekar itu kekepala hingga punggungnya. kehangatan dari tubuh kekar yang selalu mendekapnya kapanpun itu Athena rasakan lagi walau tak bisa melihatnya secara nyata.
Namun, wajah Lucifer mengeras melihat memar biru yang ada disiku Athena hingga ia lansung membenturkan sikunya ke sanding Sofa hingga ia juga merasakan hal yang sama dengan memar yang tercipta dikulitnya.
"Lihat, aku juga punya. Sayang!"
Keggilaan yang memenuhi kepala Lucifer yang tak ingin luka itu hanya dirasakan Athena, apapun akan ia lakukan agar wanita ini baik-baik saja.
"Kau tak perlu khawatir kalau Cintaku itu terbagi, kau yang pertama dan terakhir untukku! hm?"
Lucifer mengecup lama siku Athena hingga ia meletakan tangan wanita itu kebibirnya. jika ia dikatakan gila, ia sedari dulu memang gila atas apapun yang sudah ia tetapkan sebagai miliknya.
...
Vote and Like Sayang..