
Langkah lebar pria itu begitu besar seraya terus berlari masuk kesebuah Rumah Sakit ternama, semua orang terkejut akan kedatagannya hingga mereka menunduk tak berani berjalan beriringan dengan sesosok Tampan nan gagah tapi seperti dilanda kekhawatiran yang nyata.
Wajahnya memucat dengan degupan jantung tak terkontrol. kepalanya terus menduga apa yang terjadi tapi ia sangat-sangat berharap Istrinya baik-baik saja.
Hampir semua orang di Rumah sakit besar ini termenggu diam melihatnya, tak ada yang berani mengeluarkan Ponsel untuk berfoto atau merekam gejolak hati sang Tuan Muda yang tengah memberontak dengan rasa takutnya.
Para anggota Lucifer mengamankan situasi sampai Masternya melesat kearah para Suster yang keluar menyonsong Lucifer.
"Hena!!!"
"Tuan!"
"Dimana? Dimana dia??"
Suster itu gemetar mendengar suara geraman kelam Lucifer hingga ia mengiring masuk menuju Ruang IGD yang telah dijaga Anggota Lucifer yang gemetar takut Masternya mengamuk disini.
"Hena!!!"
"M..Master!"
Mereka tertunduk diam hingga akhirnya dengan kepalan tangan panas itu lansung melayang ke wajah mereka yang hanya pasrah tersungkur ke lantai dingin ini membuat para Suster yang melihatnya lansung dibuat membeku.
"Sialan!!! sudah ku bilang untuk menjaganya selagi aku tak ada tapi apa yang kalian perbuat, ha!!!!!"
Brakk...
Lucifer menendang mereka semua ke Kursi tunggu membuat Berots yang datangpun lansung berlari terkejut melihat Masternya menghajar membabi-buta setiap anggota yang hanya bisa diam menerima itu semua.
"Mati kalian semua!!!"
"Master!"
Berots menahan bahu kekar Lucifer yang sudah ingin memukulkan Kursi besi didekat dinding ini kearah 5 orang dilantai ini yang sudah seakan mati ditempat dengan tubuh mengigil.
"Aku sudah bilang, bukan? Nyawa kalian taruhannya dan sekarang nikmati hasilnya!!"
"T..Tuan!"
Lucifer tersigap saat pria berjas putih dengan rambut klimis rapi dan masih muda itu tampak takut-takut menatap wajah merah padam Lucifer yang terlihat benar-benar hilang kendali.
"Kau!!"
"Tuan! apa anda ada.."
"Dia!! Istriku kenapa?"
Mereka terkejut mendengar ucapan Lucifer yang sudah melempar kasar Kursi ditangannya seraya mendekati Dokter Reuben yang baru keluar hingga pernyataan itu membuat suasana mulai mendingin, mereka saling tatap tak percaya.
"JAWAB!!!"
"I..itu.. Maaf, Tuan! Nona yang tadi dibawa kesini mengalami luka berat di.."
Brakk..
Lucifer sudah menerobos masuk ke dalam ruang IGD membuat Berots mengusap wajahnya kasar. pasti Masternya tak lagi mampu membendung rasa khawatir itu hingga menyelonong sesuka hatinya.
"Tuan! Nona masih belum sadar, dan.. dan Tuan Muda Lucifer itu.."
"Biarkan saja, kau masuk jelaskan apa yang terjadi dan selebihnya obati mereka!"
"Baik!"
Para Suster itu membantu para anggota Lucifer berdiri dan mengiring menuju ruang rawat sementara Dokter Reuben berbicara dengan Berots yang mendengarkan bagaimana tingkat keparahan ini tapi ada satu hal yang membuat Berots terkejut dan sangat dari penjelasannya barusan.
....
Langkah Lucifer terhenti saat melihat Bangkar yang tengah menampung sesosok wanita yang terlihat terbaring diatasnya dengan alat medis yang berbunyi nyaring dipendengaran Lucifer.
Perlahan ia mendekat seakan begitu lemas melihat jarum infus itu tertancap ke punggung tangan lembut sang istri dengan selang oksigen dihidung Athena membuktikan seberapa parahnya wanita ini mengalami kecelakaan.
"K..Kau.."
Tangan Lucifer gemetar terulur menyentuh pelan pipi Athena yang tak membuka matanya hingga membuat dada Lucifer sesak melihat wajah pucat ini.
Ia menatap bagian tubuh Athena yang diperban hingga ia perlahan menyibak selimut ini, kepalan tangan Lucifer menguat melihat satu kaki sebelah kiri Athena diperban dibagian betisnya.
"Aku tak akan melepaskan mereka!"
Geram Lucifer membara begitu geram bahkan sampai ia sendiri ingin segera memusnahkan manusia sampah itu yang telah berani mengusik Istrinya. hanya satu orang yang tahu bagaimana cara kerja anggotanya sampai kecolongan begini dan sampai keujung Duniapun akan ia cari.
"Kau!"
Degg..
Lucifer lansung menoleh hingga wajahnya seketika termenggu pada indah namun sayu yang sudah terbuka dan menatapnya dengan penuh gejolak rasa rindu dari keduanya tapi ia segera berpaling dengan wajah datarnya dimana sudah melepas selang Oksigen itu.
Tanpa pikir panjang seakan hanyut dalam rasa paniknya Lucifer berhambur memeluk Athena yang hanya diam dengan dekapan yang sangat hangat penuh kasih disertai degupan jantung sang suami yang jelas begitu cepat.
"Sayang!! Hena!"
Serak Lucifer parau merasa begitu lega setelah melihat netra itu lagi. jantungnya sudah seakan terlepas saat mendengarnya apalagi jika sampai terjadi sesuatu yang sangat serius pada wanita ini.
"Aku...Aku sangat khawatir terjadi sesuatu padamu, Sayang! kau.."
"Kenapa?"
Satu kata yang mewakili segalanya dari bibir Athena yang lolos begitu saja, ia mengurai pelukan erat Lucifer ketubuhnya dengan mata menatap kearah wajah Tampan yang terlihat memandangnya sendu.
"K..Kau.."
"Kenapa kesini?"
Lagi-lagi Lucifer dibuat tersayat peeih dengan kata itu sampai dada Lucifer terasa ditusuk sembilu yang tajam atas maksud dari ucapan Athena.
"S..Sayang!"
"Kenapa kesini? seharusnya kau tak disini, kan?"
"A..Aku.."
"Pergilah!"
"H..Hena aku.."
"Per..Pergilah, aku.. aku bisa mengurus diriku sendiri, dan... kau lihat bukan?"
Athena menjatuhkan bulir bening itu seraya terus berucap dengan senyum biasanya membuat Lucifer seakan disengat rasa sesaknya sendiri.
"A..Aku masih hidup! kau..kau tak perlu perduli lagi padaku dan.."
"Suttt!"
Lucifer lansung menarik Athena dalam rangkuhannya hingga tangis wanita itu pecah mendorong dada bidang ini sekuat tenaga agar tak menemuinya lagi dan hanya memberinya harapan.
"Kau pergilah!!! hiks, j., jangan perdulikan aku, Cifer! kau..kau ingin pergi, kan? hiks, Pergi!!"
"Maaf!"
Lucifer semangkin mengeratkan pelukannya membuat Athena melemah berhenti mendorongnya tapi isak tangis wanita ini masih terdengar menyayat hati dengan ucapan penuh permohonanya.
"Kau..Kau bisa pergi, aku..aku tak akan menganggumu, Cifer! t..tak akan, hiks!"
"Maaf, Maafkan aku. Sayang. Maaf!"
Pinta Lucifer mengecup kening Athena yang menatapnya dengan mata mengembun. terlihat sekali wanita membendung rasa yang tak bisa orang lain jabarkan dari hatinya.
"K..Kau berubah, aku..aku lelah, Cifer! jika..jika kau ingin pergi seharusnya kau..kau bicara, Sayang hiks! aku..aku akan mencoba mengerti, hiks!"
"Sutt, jangan katakan itu! aku.. aku tak akan pergi, Sayang!"
Athena terdiam dengan nafas tersendat dan mata sembab hingga Lucifer mengulur tangannya menghapus lelehan bening yang jatuh itu.
"Jangan menangis, lagi!"
"Kau berubah!"
Lucifer menatap Athena rumit dan sangat intens hingga perlahan Lucifer mendekatkan wajahnya ke wajah Athena yang sendu hingga bibir itu menempel sempurna membuat Athena mencengkram dada bidang Lucifer yang dibaluti kaos lengan pendek ini.
Mata keduanya terpejam menikmati sensasi rasa yang sangat dirindukan oleh masing-masing hati yang tengah menyatu dalam decapan lembut yang sangat memuja.
Hisapan lembut yang diberikan Lucifer tak bisa ditepis Athena yang sangat menginginkannya, ia begitu merindukan belaian tangan sang suami entah kenapa ia bisa begini ia pun tak tahu.
Lucifer-pun cukup dibuat terkejut saat ciuman Athena begitu mendominasi bibirnya tapi ia suka karna wanita ini selalu bisa membuat kejutan yang menjalarkan panorama Cinta diantara keduanya.
Namun, disaat cumbuan itu mulai liar Athena lansung terbelalak saat merasakan nyeri yang sangat diperut bagian bawahnya.
"Emm!"
Lucifer melepas tautannya hingga wajahnya terkejut mendengar Geraman sakit Athena barusan.
"Sayang! apa..apa aku menekan lukamu atau.."
"P..Perut ss Cifer!"
Desis Athena mencengkram perutnya hingga Lucifer lansung berteriak memanggil Dokter dengan suara keras dan menggema.
"Dokter sialan!!! kemana kau???"
"T..Tuan!"
Dokter Reuben lansung melesat masuk saat tercekik suara kelam Lucifer yang sudah seakan ingin menghisap nyawanya didalam sana karna tak tahan dengan desisan sakit Athena yang kembali membuatnya Sport jantung.
"S..Sakittt!"
"S..Sayang, tenanglah. kau..kau akan baik-baik saja."
Lucifer mencoba menepis prasangka buruk dengan mengucapkan kata-kata penenang tapi sejujurnya ia sendiri sudah seakan berhenti bernafas melihat wajah pucat Athena yang berkeringat membuat Dokter Reuben sangat dibuat jantungan melihat raut menerkam Lucifer padanya.
"Kenapa Istriku begini? ada apa dengan perutnya?"
"Master, anda bisa tenang. biarkan Dokter Reuben bekerja!"
Berots yang datang bersama satu Dokter wanita paruh baya yang ia pinta menangani khusus Nonanya karna akan terjadi masalah besar jika ada satu pria yang menyentuh wanita itu.
"S..Sakitt, p..perutku keram!"
"Sebentar, Nona!"
Dokter Maudy menatap Dokter Reuben yang mengangguk melangkah pergi dengan Berots yang menunggu diluar ruangan sampai Lucifer kembali menggema.
Raut wajah Lucifer begitu khawatir terus menyangga keringan dkngin di kening Istrinya, ia terlihat terus mencoba tenang mengecup kening Athena lama dipelukannya.
"Maaf, saya buka!"
"Cepat!!"
Desak Lucifer saat Dokter Maudy membuka pakaian rumah sakit Athena berwarna biru seperti piyama itu hingga perut datar Athena terlihat nyata dengan mulus tak ada luka.
Dokter Maudy terlihat menekan bagian bawah pusat hingga Athena meringis lebih sakit membuat Lucifer ingin mencekik wanita paruh baya ini.
"Kau bekerja yang benar!!! Istriku kesakitan karnamu!!"
"M..Maaf, Tuan! tapi sepertinya Nona terlalu emosional hingga membuat kontraksi kecil."
Dahi Lucifer mengkerut tak mengerti seraya menatap Athena yang begitu lemah.
"Beruntung kecelakaan ini hanya mengenai bagian kening yang tak terlalu parah dan Kaki dibagian betis yang dijahit , tapi masih harus ditangani serius. kalau saja benturan itu menambrak pinggang atau perut maka akan dipastikan kalau.."
"Apa yang terjadi?" tanya Lucifer serius menggenggam tangan Athena erat dengan rasa khawatirnya.
"Janin yang ada diperut Nona, tak bisa diselamatkan!"
Duarrr.....
Vote and Like Sayang..