
Malam pun sudah berkabut kelam. bintik-bintik putih didedaunan sana terlihat bertumpuk mengembunkan dinginnya gelap menghitam ini.
Suara gemeriuh kota itu terdengar sangat ramai seperti biasa serta pembangunan 24 Jam dilakukan di wilayah Pengeboman kemaren malam. Mobil-Mobil Aparat Kepolisian berjaga ketat sampai akhirnya mereka mengefakuasi beberapa korban yang ditemukan termasuk hal yang mencuriggakan dari batu berat didekat Kolam yang ada di Markas Militer Venuz ini.
"Ada apa?"
"Ini. Letnan! Batu besar disini berbau busuk!"
Letnan Korener yang mendengar itu lansung mendekat kearah salah satu anggotanya yang menutup hidung merasa mual dengan aroma menyengat ini. ia pun mulai merasakan hal yang sama hingga bau busuk aroma bangkai yang sangat pekat.
"Apa disini ada mayat?"
"Angkat Batunya!"
3 Personel anggota pun lansung bekerja sama mengangkat batu besar itu dengan penutup hidung hingga senter mereka diarahkan kekolam dekat batu seketika ketiganya menyeringit.
"Berat. Letnan!"
"Bantu mereka!"
"Baik!"
Letnan Korener menambah satu Personel hingga keempat pria itu mengangkat batu itu bersamaan hingga perlahan terlihat tali yang sudah menghitam dengan lalat berterbangan diatas permukaan kolam yang beraroma menjijikan.
"Angkat cepat!"
Mereka dengan cepat menariknya secara bersamaan membuat mata Letnan Korener membulat melihat tali itu ternyata mengikat leher seorang pria dengan tubuh sudah menggembung mata terbelak hitam mengerikan.
"Mayat. Letnan!"
"Cepat bawa ke Rumah sakit untuk di Otopsi!"
"Baik!"
Mereka yang belum mengenali Mayat itu karna wajahnya dilumuri lumpur pun mengkershkan beberapa Team Medis untuk membawa Bangkar mengefakuasi Jasad yang sudah busuk ini.
Team Media yang tak berhenti mencari berita pun lansung mengerumuni Garis Polisi hingga Letnan Korener mendekat dengan kepala plontos yang gagah.
"Pak! apa yang terjadi?"
"Kenapa ada Jasad yang dibawa dari tempat ini?"
"Apa anda menemukan sesuatu?"
Letnan Korener terdiam sesaat lalu menatap salah satu kamera yang mengarah kepadanya dengan serius.
"Kami menemukan satu mayat yang ditenggelamkan di Kolam belakang Markas Militer Venuz yang masih dalam tahap Observasi. mayat yang ditemukan tercekik oleh tali dan sepertinya ada unsur pembunuhan, tapi kami akan mengusutnya tuntas."
"Pak! apa Mayatnya wanita atau pria?"
"Pria! terimakasih!"
Letnan Korener melangkah pergi mengabaikan panggilan para Media padanya hingga siaran lansung itu menyebar kesemua Stasiun Televisi sampai setiap orang yang mengawal peperangan kemaren mulai memberikan tanggapan.
Tentu itu dilihat jelas oleh seorang pria yang sudah sadar sedari sore di ruang rawatnya terbaring kaku dengan selang infus menusuk punggung tangannya tengah menatap layar tipis dihadapannya menyiarkan tayangan yang Aktual.
"Mayat?"
"Semua anggota telah didata dan hanya 1 Pimpinan Brigade yang selamat yaitu Jors dan beberapa Personel lain. selebihnya belum ditemukan, Tuan!"
Jelas Asisten Brian memaparkan data yang ia urus hingga tatapan Cestor beralih pada seorang pria yang tadi tiba-tiba duduk diatas Sofa sana sibuk dengan Ponselnya.
Wajah Tampan yang datar mendingin seakan membongkem keberanian siapapun mendekatinya. tak mengeluarkan sepatah katapun dan terus bersikap angkuh.
"Dia siapa?"
Lucifer hanya diam masih fokus memantau sesosok wanita yang tampak masih tidur di Kamar Rawatnya hingga matanya benar-benar tak bisa dialihkan.
"Lucifer!!"
"Hm."
"Kau pasti tahu hal ini?"
"Aku tak tahu!"
Jawab Lucifer dingin lansung berdiri menyimpan Ponselnya menatap datar Cestor yang juga memandangnya sama.
"Kenapa kau kesini? tak biasanya kau meninggalkan Istrimu yang.."
"Hm, kau harus melakukan apa yang aku katakan!"
Dahi Cestor mengkerut menatap Lucifer penuh tanya. kalimat itu terkesan seperti perintah bukanlah permohonan.
"Apa?"
"Aku butuh Data Informasi Pribadi Istriku dan Sidik jari, Wanita emasmu itu!"
Cestor lansung berfikir dengan tubuh masih terbaring dan leher diberi penyangga itu tampak masih kaku hingga wajahnya mengeras menatap Lucifer geram.
"Dia bukan wanitaku!"
"Cih! dia cocok denganmu."
"Kauu!!"
"Saya akan berikan. Master!"
Sambung Asisten Brian menengahi hingga Lucifer mengambil sesuatu dari sakunya dan melempar gulungan kertas itu ke wajah Cestor yang membeku.
"Kau dilarang mendekati Istriku. aggap kalian tak saling kenal!"
"Kauu!!"
"Jangan ikut campur urusanku!"
Sementara Berots diluar sana mengikuti langkah Masternya untuk kembali ke ruangan Nonanya. Luifi juga terlihat sudah datang mengikuti mereka dari belakang hingga tanpa berlama-lama mereka sudah sampai didepan pintu ruangan itu.
"Kau tunggu disini!"
"Baik. Master!"
Lucifer melangkah masuk kekamar ini hingga remangan ruangan dengan suasana lampu kamar mewah redup itu kembali Lucifer rasakan. Bangkar yang biasanya menampung tubuh lemah itu sudah berganti dengan Ranjang King Size yang empuk dan sangat nyaman.
Athena terlihat memejamkan matanya tak lagi memakai Infus tapi tetap saja kiri kanannya Lucifer sangga dengan bantal empuk agar lebih nyenyak.
"Aku keluar sebentar!"
Ucap Lucifer mendekati ranjang itu hingga ia duduk disamping tubuh Athena seraya mengulur tangan mengelus kepala wanita ini.
"Kau tidur yang nyenyak, hm? istirahat yang cukup supaya kau cepat besar!"
Lucifer mengecup kilas bibir Athena lalu meraih Jaket diatas Nakas hingga ia terdiam saat Athena menggeliat.
"N..Nek!"
Lucifer merubah raut wajahnya datar dan dingin melangkah ke Sofa sana hingga kelopak mata indah Athena terbuka dengan nanar memandangi Lucifer yang memakai jaket dan Topinya.
"K..Kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu!"
Degg..
Athena lansung tercekat menatap sendu Lucifer yang melangkah keluar pintu kamar membuatnya seakan kaku bahkan dadanya benar-benar sesak.
"K..kau.."
"Nona!"
Athena segera menghapus lelehan bening yang keluar dari sudut matanya hingga ia merubah raut wajahnya datar dengan Luifi yang perlahan masuk dengan canggung.
"Nona. anda butuh sesuatu?"
"Tidak!"
"Nona. saya akan menjaga anda di.."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!"
Luifi menghela nafas halus menatap Athena yang sangat keras kepala. pantas Masternya memilih jalan ini untuk menundukan keangkuhannya.
"Saya hanya khawatir pada Penerus Alaska. izinkan saya menjaganya, Nona!"
"D..Dia kemana?"
Athena bertanya hal yang tak merujuk pada pembahasan. Luifi menarik sudut bibirnya kecil mendengarnya.
"Saya tak tahu. Nona!"
"Aku tak perduli."
Ketus Athena menyelumbungi tubuhnya kembali bersikap emosi membuat Luifi mengelus dadanya penuh kesabaran.
.........
Tatapan penuh binar itu lansung meruak melihat satu pesan yang masuk ke Ponselnya. Dunia wanita itu seakan mau meledak saan Nomor itu sendiri yang menghubungi dengan kalimat yang sangat ia nantikan.
Temui Aku di Hotel Tengah Kota.
"A..Apa aku bermimpi?"
Gumam Hera menepuk pipinya tak percaya hingga lansung berjingkrat kegirangan membuat Relov yang tengah membawakan makanan kemarnya lansung terdiam didepan pintu.
"Aaaa!!! Akhirnya, aku sudah tahu. Sayang! kau..kau akan bosan memperjuangkan wanita sialan itu!!!"
"Hera!"
Hera lansung menatap kearah Pintu hingga ia lansung berbinar mendekati Relov yang terlihat menatapnya penuh arti.
"Kau tahu?"
"Apa?"
"Lucifer!!! Lucifer mengajakku ke Hotel!!!"
Relov terkejut mendengarnya. ia sangat tak percaya semua itu karna ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau pria itu terlihat sangat mencintai Istrinya.
"Hera kau.."
"Relov! kali ini dia akan benar-benar menjadi milikku. Milikku!!!"
Teriak Hera melengking benar-benar bahagia membuat Relov terdiam. ia yakin ada sesuatu hal yang tersembunyi disini.
"Sebaiknya kau berhati-hati. jangan terlalu percaya dengan .."
"DIAM!!! kau tahu apa soal Cinta, ha? kau urus saja Paseanmu di Rumah Sakit sana sampai kau tua!!!"
Relov hanya diam meletakan nampannya diatas meja disamping pintu lalu kembali memandang Hera.
"Kau wanita, Hera! kau punya harga diri, hewan pun kalau sudah disakiti dia tak akan mau mendekat. tapi kau.. Cihh!"
"Kauuu!!"
"Semoga kau baik-baik saja."
Peringat Relov lalu melankah pergi membuat suara lemparan nampan tadi terdengar jelas.
Vote and Like Sayang..