Mysterious Love

Mysterious Love
Kau sama saja!



Langkah cepat para Pria berpakaian compang-camping itu lansung kembali ke Alaska dengan langit yang berubah menjadi gelap. hanya senter ditangan mereka yang digunakan untuk penerangan, selebihnya Kota ini begitu menakutkan dengan suhu yang mendingin.


Mereka berlari masuk kembali kedalam Gedung membuat para Penjaga diarea depan terkejut melihat wajah-wajah pucat anggota mereka.


"Kalian kenapa?"


"Ini bahaya!" ucap salah satunya khawatir hingga Berots yang melihat dari kejahuan lansung mendekat.


"Ada apa?"


"Tuan..Tuan mereka..mereka sudah tahu penyamaran kita. salah satu dari kami tertangkap!"


Berots lansung terkejut hingga lansung menatap kesekeliling tempat ini, semua anggota saling pandang mulai menguarkan rasa tak nyaman atas ucapan itu.


"Kalian kembalilah ke Ruang bawah. dan yang lain perketat keamanan!"


"Baik!"


Berots mengangguk lansung melangkah masuk kedalam Gedung menuju tempat Masternya. jika Dapartement Kepolisian itu sudah tahu bagaimana Metode penyerangan mereka maka akan sulit pergi ke Venuz.


Ia terus melewati beberapa anggota yang bertugas hingga sampai ke Lantai 12 dimana para Pelayan tengah menyiapkan makan malam hari ini tapi ia lansung melewati menuju ruangan biasa Masternya Merokok dan Minum.


Kebetulan ia berpapasan dengan Hera yang terlihat melangkah tertatih-tatih ke bawah hingga langkahnya terhenti.


"Ada apa?"


"Nona. salah satu Rekan kita tertangkap!"


Degg..


Hera terkejut hingga ia lansung bungkam dengan Berots yang melanjutkan langkahnya menuju ruangan Lucifer dengan wajah benar-benar serius tanpa ada raut candaan. ia mendorong pintu ruangan itu hingga matanya lansung disuguhkan dengan seorang pria yang tengah menyesap rokoknya seraya menatap kearah luar Jendela.


"Master!"


"Hm!"


Lucifer masih diam berdiri tegap dengan Baju kaos oblong yang berganti warna tapi masih saja model yang sama, salah satu pria yang suka hidup santai tanpa keformalan sama sekali.


"Master. salah satu Rekan kita tertangkap Sore tadi."


Lucifer hanya diam masih menghembuskan asap rokoknya keluar dengan raut wajah tak bisa ditebak begitu saja. tak ada mimik terkejut atau panik dari wajah Tampan datarnya.


"Apa kami harus menyerang? Master!"


"Berapa anggota?"


"Satu! yang lainnya berhasil melarikan diri, dan mereka bilang kalau Dapartemen Kepolisan di seluruh penjuru sudah tahu Metode penyerangan kita bahkan sudah memasang semua pengintai diseluruh sudut perbatasan."


Lucifer diam lalu berbalik menatap Berots yang menunduk hormat penuh rasa sopan.


"Biarkan!"


"M..Master. anda.."


"Perlu ketenagan mengambilnya kembali!"


"Baik!"


Berots pamit pergi akan ucapan Lucifer yang pasti tak akan diam saja, ia yakin Masternya tak akan membuang satupun anggota di Alaska ini.


Kepergian Berots membuat Lucifer kembali menatap keluar dengan pandangannya sendiri.


"Aku benar bukan? Master!"


Sekarang, Hera telah berdiri didepan pintu dengan wajah penuh keggeraman menatap Lucifer yang masih santai menyesap rokok ditangannya dengan satu tangan didalam saku celananya seakan membatu.


"Ini hanya permulaan. Master! kita tak tahu apa lagi yang wanita itu lakukan kedepannya, dia itu sangat berbahaya!"


"Itu bukan urusanmu!"


"Maaf, tapi aku juga sangat ingin Alaska kembali tapi dengan keberadaan wanita itu bisa merusak semua rencana kita selama bertahun-tahun."


Hera berusaha memprofokasi Lucifer agar terpancing. ia tahu betul pria ini sangat tak suka jika Alaska mulai disakiti manusia Venuz yang mencari mati disini.


"Dia memakai alatnya?"


"Iya. kita bisa tahu apa yang terjadi disana dari perangkat sini!"


Lucifer manggut-manggut mengerti kembali menyesap Rokoknya membuat Hera tak sabar menunggu keputusan Lucifer bagaimana?


"Pantau perangkatnya. kalian kendalikan dari sini."


"Tapi wanita itu.."


"Itu urusanku!"


Ucap Lucifer lalu melangkah pergi melewati Hera yang lansung meninju Pintu disampingnya, entah apa yang dilakukan wanita sialan itu sampai membuat Masternya berat mengambil keputusan.


"Sial!!! wanita itu memang sudah sangat berpengaruh."


Umpat Hera berfikir keras. ia harus mencari cara agar Dapartement keamanan Venuz datang kesini menjemput Athena atau ia harus membuat desakan pada Nyonya Violette untuk mengusir Athena dari Alaska.


"Hm, Yah! aku harus membuat Athena sendiri yang pergi dari sini, dengan cara.."


Hera menatap kebelakang hingga ia berfikir jika Athena adalah seorang Intelijen yang perduli pada rekannya maka ia akan membuat wanita itu pergi dengan suka rela.


.......


Athena mengupat saat tubuhnya pegal sedari tadi berbaring dan duduk bersandar lalu berbaring lagi, ia berusaha untuk melepas Borgol ini tapi nihil, hanya pergelangan tangannya yang tersayat pinggir besi itu hingga darah segar keluar sedikit.


"Dia pikir aku peliharaan? yang benar saja!"


Umpat Athena melempar Bantal diatas ranjang kebawah sana membuat ruangan ini berantakan. tubuhnya sudah begitu gerah sedari tadi belum mandi apalagi ini sudah malam.


"Apa aku memanggilnya? Cih, yang ada dia akan besar kepala menatapku seakan-akan hanya dia yang memerintah disini!"


"Fyuhh, Tenang! setelah menyelesaikan kasus ini kau bisa pergi Athena. kau tak akan mengingatnya lagi."


Gumam Athena menekan dirinya agar tak jatuh dalam rencana sendiri. masuk kesini sangat mudah tapi keluar dari sini butuh perjuangan yang sangat besar.


"Shitt. perutku lapar!"


Gumam Athena memeggangi perutnya laku menatap ke pintu kamar. sialanya ia sangat gengsi memanggil Lucifer dari sini.


Drett..


Telinga Athena menajam kearah meja hingga ia melihat Ponsel yang kemaren ia gunakan untuk menelfon seketika menyala hingga ia membuang muka.


"Itu bukan urusanku!"


Ketus Athena berusaha acuh, tapi ia sangat penasaran siapa yang menelfon sedangkan dulu Ponsel itu tak berdering sedetik pun.


"Haiss. Aku terpaksa melihatnya."


Athena lansung menyimpangkan tubuhnya mengulur kaki jenjang yang meraih Ponsel dipinggir meja itu dengan kuat sampai membuat lukanya sedikit nyeri karna teggangan perutnya.


"Ayolah!!"


Geram Athena lansung menarik kakinya yang sudah mendorong benda itu keatas ranjang hingga tangan panjangnya dengan cepat mengambilnya. dahi Athena menyeringit menatap layar Ponsel yang menyala memperlihatkan nomor yang tak ada namanya.


"Ini siapa?"


Gumam Athena menggeser tombol hijau hingga panggilan itu terangkat dengan Speker yang Athena aktifkan.


"Lucifer!"


Athena diam saat suara yang sangat familiar ditelinganya itu hingga ia tersigap mengingat Nyonya Violette yang tadinya datang kesini.


"Lucifer! kau harus segera pulang atau aku akan menghancurkan Alaska kota kecil itu."


Athena terdiam cukup lama. pantas jika Nyonya Violette menyuruh Lucifer pulang karna disini Lucifer menjadi Penjahat kelas kakap. tapi kenapa Lucifer sangat enggan padahal Keluarga Istana Negara begitu berkecukupan dan terkenal dengan Citra harmonisnya.


"Kau dengar aku? Kakakmu sangat mengkhawatirkanmu!"


Athena hanya diam tak mau menjawab hingga ia mendengar suara langkah didepan pintu membuat jantungnya berdebar kuat takut Lucifer kembali terpancing dengan ini.


"Lucifer!!"


Tutt..


"Kau!"


Suara Lucifer menatap Athena yang tampak pucat menelan ludahnya kasar seraya mematikan Ponsel Lucifer yang menyala. ia menatap Lucifer dengan pandangan gugup membuat Lucifer terdiam ditempat.


"A.. kau..kau kenapa kesini?"


"Menurutmu?"


Tanya Lucifer mendekat membawa Nampan berisi piring makanan, segelas susu dan ada beberapa potongan buah yang sangat segar.


"Kau demam?"


"A.. tidak!"


Athena semangkin jantungan saat Lucifer memeggang pipinya lalu meletakan punggung tangannya kekening Athena yang terlihat pucat membuat ia khawatir.


"Apa lukamu masih sakit?"


"A.. Iya, tadi..tadi aku tak sengaja menyentak jadi.."


"Kau bisa tidak menuruti ucapanku? aku seperti itu karna kau sedang luka. jika tidak kau terserah ingin bagaimana diatas ranjang ini!!!"


Bentak Lucifer lansung membuat Athena termenggu diam dibuatnya. hatinya menghangat mendapat perhatian yang begitu besar dari seorang laki-laki yang jelas itu musuhnya.


"Pembangkang sepertimu seharusnya ku pasung. diam dan berbaring atau aku bilang kau bisa memanggilku. apa tak bisa? apa itu sulit?"


"A.. itu.. aku tadi hanya agak pegal."


Jawab Athena menunduk menyembunyikan Ponsel Lucifer kepinggir ranjang. wajah Lucifer meradang tapi ia tak bisa mengkasari Athena yang terlihat memang Pegal. tangan Lucifer terangkat membelai kepala Athena yang diam mematung sendiri karnanya.


"Aku hanya ingin kau mengerti. Luka diperut ini sangat berbahaya apalagi kau wanita, ada banyak hal yang harus kau lindungi, hm?" suaranya sangat lembut.


"Kenapa kau perduli padaku?"


Satu pertanyaan yang membuat lidah Lucifer kaku hingga wajahnya lansung mendatar tak tahu jawabannya apa, tentu itu membuat Athena merasa sangat dipermainkan. walau ia juga tak tahu kenapa ia begitu lemah saat bersama pria ini tapi ia juga perlu tahu apa alasan Lucifer bersikap begitu baik padanya.


"Karna Alaska? Dendam? atau ..atau sebuah rencana?"


"Aku tak tahu!"


"Cih, Kalau begitu kau hanya berpura-pura kan? aku tahu betul Penjahat sepertimu tak akan memiliki sifat seperti Malaikat begini. berapa banyak orang tak bersalah mati di.."


"Hentikan!"


"Mati di tanganmu!! kau bermasalah pada siapa dan yang kau bunuh siapa, ha??"


"Kau sama saja seperti mereka!!!"


Prankk..


Lucifer melempar Nampannya ke lantai lalu melangkah pergi membuat Athena mematung diam melihat lantai yang sudah berserakan semuanya, matanya lansung termenggu dengan wajah mengeras merasa sangat tak berguna.


"Aku..Aku tak pernah bisa memahamimu. karna kau memang sulit aku pahami. Cifer!!!"


....


Vote and Like Sayangku..


Hihi.. maaf ya akhir-akhir ini Author terlambat terus. maklum say.. mau ujian Sekolah jadi banyak kegiatan😊