
Lilitan tubuh panjang berlendir itu lansung bergerak dengan brutal menumbangkan Pohon-pohon yang ia lilit kuat oleh tubuh besarnya yang begitu berat dengan bobot yang tak main-main.
Cestor hanya bisa berlari menjauh memastikan Ular ini tak menyerang yang lainnya hingga setidaknya perjuangan Lucifer tak sia-sia.
"Ke sini!!!"
Brakk..
Pohon-pohon itu tumbang membuat Cestor mulai kualahan berlari menyalip beberapa batang besar yang semangkin membuat tungkainya lemah hingga kaki Cestor sudah tak lagi mampu bergerak menjauh hingga ia terjatuh dililitan akar sana.
"Sial!"
Umpat Cestor memeggangi lehernya yang benar-benar terasa sakit bahkan kepalanya sangat berdenyut hingga matanya kabur melihat dikegelapan yang hanya diteringangi cahaya bulan redup ini saja.
"Tuan!!!!"
Cestor menggeram saat masih mendengar suara Brian diujung sana membuat Ular Piton besar ini terhenti ditempatnya dengan mata merah melihat ke asal suara.
"Tuan!!!!"
"Pergilah, Brengsek!!!"
Umpat Cestor pada Asisten Brian yang lansung berlari mendekat ke tempatnya hingga wajah pria itu memucat melihat Ular besar itu hanya berjarak 5 meter dari Cestor bahkan meratakan semak-semak disekitarnya.
Sssss...
"Kau bodoh, ha?? pergi dari sini!!!"
"Tidak!"
Asisten Brian tak mundur sekalipun Cestor melemparnya dengan ranting kayu. ia sangat menyayangi pria itu walau memang menyebalkan.
"ُKau makan aku saja! daging dia sama sekali tak enak."
"BRIAN!!"
Asisten Brian mengambil kayu hingga ia mengacungkan benda itu ke badan Ular itu hingga ia mengigil benar-benar gemetar, hal yang sangat ia takuti memang sebangsa ular dan Cestor juga tahu itu tapi kenapa Asistennya yang bodoh ini malah nekat menjadi pahlawan kemalaman.
"Pergi!!! kau..kau tak akan kenyang memakannya!!"
"Brian!!"
Cestor terkejut saat tubuh Asisten Brian ditepis ekor besar itu hingga sampai terpental menubruk pohon yang ada dibelakangnya. Asisten Brian terlihat meneggang kaku karna tulang punggungnya dihantam keras sampai Cestor berusaha berdiri mengambil kayu didekatnya.
"Disini!!"
"T..Tuan. kau..kau pergi..pergi saja, uhukk!"
"Diamlah. bedebah!"
Cestor melempar wajah Ular itu membuat mata merah diwajah hitam legam bersisiknya lansung mendesis mengerikan mengejar Cestor yang kembali berlari tertatih-tatih tapi tak bisa mengimbangi kecepatan Ular besar ini yang masih sigap bergerak liar.
Saat kakinya sudah terkilir Cestor lansung tumbang hingga tubuhnya lansung dililit dengan kuat membuat Asisten Brian menjerit berdiri membawa kayu ditangannya.
"Lepaskan. Tuanku!!!!"
"P,.Pergi. b.. bodoh!!"
Namun. Asisten Brian tetap menyonsong membawa kayu spergelangan tangan itu dan berlari cepat menghantamkan benda itu ke tubuh Ular Piton besar ini yang sudah menggila melilit batang dan mengurung tubuh Cestor.
Bughh..
"Lepaskan. Tuanku!!!"
Cestor menggeram menahan sakit ditubuhnya yang begitu dililit kuat sampai wajahnya merah memucat menatap tajam Asisten Brian yang terus memukul tubuh keras bersisik ini hingga ia beberapa kali ditepis ekor panjang bergerigi itu.
"P..Pergi!!!"
"Tidak. kau pikir aku mau jadi pecundang sepertimu. ha??"
Bentak Asisten Brian tampak murka dengan mata menggenang menatap remang wajah Cestor. ia bicara bukan lagi sebagai atasan dan bawahan tapi sebagai teman yang sangat akrab.
"B..Berani kauuu!!"
"Yah!! apa yang aku takutkan padamu. kau hanya pria egois yang tak pernah mendengarkan ucapanku!! sekarang apa??"
Cestor terdiam mendengar ucapan Asisten Brian yang terlihat mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia tahan saat bersamanya hingga sudut bibir Cestor terangkat dengan menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.
"K..kalau begitu. k..kau akan bebass. b..bukan?"
"Belum. kalau kau mati siapa yang akan memerintahku? tak ada pria seburuk kau yang berani menyerang adikmu sendiri!!"
Cestor tersenyum kecil lalu memejamkan matanya mengatur nafas dengan lilitan keras ini semangkin menekan perutnya.
"Ambilah semua Asetku!"
"K..kau.."
Cestor membuka matanya saat mulut Ular itu sudah menganga tepat diatas kepalanya hingga mata Asisten Brian berair benar-benar merasa takut kehilangan pria ini.
"Hanya kau yang ku percaya!"
"T..Tuan!!!!!"
Teriak Asisten Brian keras saat ular itu sudah mengarahkan taringnnya kekepala Cestor dan..
"Tuan!!!!"
Srekk..
Degg..
Asisten Brian terkejut saat sekilat bayangan itu lansung melewatinya hingga matanya terbelalak melihat siapa yang tengah membawa kayu runcing dan obor itu meloncat dari satu batang melempar kayunya menyengkang mulut besar itu.
Ssssss...
Ular itu mendesis saat mulutnya tersengkang kuat hingga lilitan tubuhnya ke tubuh Cestor mengurai dengan cepat Lucifer menarik Cestor keluar dari kurungan hewan melata ini.
"Sial!!"
Umpat Lucifer dengan cepat membopong Cestor menjauh hingga hewan itu lansung menggila menggeliat brutal menepis semua kayu-kayu disekitar mereka.
"M..Master!"
"Cepat bawa dia menjauh!"
Cestor yang terlihat sudah tak berdaya hanya bisa menarik ujung kaos Lucifer yang memindahkan bopongannya ke Asisten Brian yang diam.
"K..Kau.."
"Hidupmu saja menyusahkanku. bahkan matipun, kau sangat membebani!"
"Kesini!!"
Lucifer memancingnya dengan obor hingga saat Ular itu menyerangnya Lucifer berlari cepat membawa Obor ditangannya dengan kayu yang ia tusukan ke tanah ini setiap langkah cepatnya.
"D..Dia..Dia a..akan mati dan.."
"Master akan baik-baik saja."
"U..Ular itu b..besar dan beracun. dia bisa saja me.."
Mata mereka membulat saat tiba-tiba jalan yang tadi Lucifer lewati berapi hingga membuat Asisten Brian terngangak tak percaya melihat apa yang dilakukan Lucifer dikegelapan ini yang perlahan terang karna kobaran api yang muncul dari tanah ini.
"..C..Cifer!!!"
Teriak Cestor khawatir melihat api itu mengelilingi tubuh Ular Piton yang mengamuk menghantam pohon-pohon disampingnya hingga Api itu semangkin membesar dengan asap tebal dari arah dedaunan yang lembab.
"Cifer!!!! kau..kau keluar!!!!"
"Tuan!"
"D..Dia..."
Cestor benar-benar terlihat panik berusaha mendekat tapi Asisten Brian memeggang tubuhnya kuat menjahui api yang semangkin menyala-nyala membakar hutan ini.
"Apinya akan semangkin membesar! ayo kita pergi dari.."
"Dia..Dia masih disana!"
Gumam Cestoe mencari Lucifer yang sudah tak terlihat dikobaran api merah yang entah kenapa bisa menyala dengan suara desisan ular besar itu mengeras dengan liukan tubuhnya yang panas merah redam.
"Cifer!!!! Cifer!! kau..kau keluar dari sana, Bodoh!!!!"
Namun tak ada jawaban membuat Cestor benar-benar merasa khawatir melihatnya dari kejahuan. bagaimana jika pria itu ikut terpanggang? bagaimana jika Adiknya satu-satunya malah pergi menemui kedua orang tuanya?
"Cifer!!! kau..kau keluar!! aku ..kau bersumpah tak akan mengusik Istrimu dan.."
Brakk...
Suara reruntuhan pepohonan yang dimakan api hingga kehawatiran Cestor tak dapat lagi dibendung dengan rasa takut terjabar dimatanya.
"Cifer!!!!! kau dengar aku!!!! aku..aku akan membunuh Istrimu jika.."
Bughh..
Cestor terkejut saat ia dilempar dengan batu dari arah samping sana hingga mengenai dadanya membuat mata mereka lansung tertuju kearah asalnya.
Mata Cestor teremenggu melihat sosok gagah yang tak lagi memakai baju kaosnya hingga luka tusukan kayu dan goresan ranting itu terlihat di dada bidang dan perut berototnya.
"K..Kau.."
"Aku benci suaramu!"
"Kenapa kau lakukan itu, ha??? kau bisa saja mati di panggang didalam sana!!!"
"Apa perdulimu!"
Ketus Lucifer lalu mendekatinya hingga Cestor melihat sekujur tubuhnya yang benar-benar sudah terlihat digores banyak ranting.
"Terimakasih. Master!"
"Hm!"
Lucifer membantu membopong Cestor untuk melangkah kembali ketempat tadi hingga Lucifer benar-benar tergesa-gesa karna mengkhawatirkan Athena.
Apalagi ini sudah terlihat sudah mau pagi dengan bayang-bayang langit yang menenggelamkan Bulan yang tadi hampir sirna diatas langit sana.
Disepanjang langkah cepat ini Cestor memandang wajah Lucifer yang sudah jelas ditengah bayang-bayang langit sana. wajah Tampan yang terlihat datar mendingin dengan raut yang sangat kejam jika sudah murka hingga rasanya ada sekilas ingatan yang membuat mata Cestor memanas.
"Kau sudah besar sekarang!"
"Tutup mulutmu!"
Geram Lucifer tapi Cestor hanya menjawabnya dengan senyuman kecil. ada rasa sesal dihatinya ketika membayangkan sikap egoisnya pada sang Adik tapi ia masih belum bisa menerima semua ini.
Setelah beberapa lama melangkah tergesa-gesa. mereka sampai ke turunan sungai hingga Lucifer lansung cepat melangkah ke bawah melepas Cestor ke bopongan Asisten Brian.
"Sayang!!!"
Panggil Lucifer melangkah ke dekat batu tadi hingga matanya membulat melihat tak ada Athena disana.
"S...Sayang! Hena!!!"
"Ada apa?"
Tanya Asisten Brian tapi tak dijawab Lucifer yang berlari menyusuri sungai mencari wanita itu seraya terus memanggilnya.
"Sayang!!!! aku..aku pulang, Hena!!"
"A..Apa yang terjadi?"
Gumam Cestor lalu melihat ada sinaran kecil disamping mereka tepatnya didekat semak-semak hutan hingga matanya melihat beberapa orang dari arah sana.
"Sayang!!! kau..kau dimana? Hena!!!"
"Master!"
Berots yang berlari mendekati Lucifer yang lansung menarik kaosnya kuat dengan tatapan mata membunuh.
"Dimana Istriku???"
"T..tadi, Nona Pingsan dan dibawa ke Rumah sakit!"
Deg..
"A..Apa?"
Berots mengangguk menunjuk Helychopter yang mendarat dari pingggiran sungai yang cukup luas untuk menampung besarnya hingga anggota Team Medis mendekat menangani Cestor.
"Nona tadi mengeluh sakit diperutnya, saya berfikir untuk mencari obat alternatif tapi untung saja Team Medis datang tepat waktu dan membawa Nona duluan!"
"S..Sayang!"
Lucifer berlari menuju Helychopter membuat anggota yang tersisa diamankan para petugas yang datang karna melihat kobaran api yang tadi Lucifer buat membentuk tanda bahaya dan meminta bantuan.
Untung saja tanahnya bergambut hingga Lucifer bisa memanfaatkannya sebagai pembakar yang cepat dan tak akan mudah padam.
....
Vote and Like Sayang..