Mysterious Love

Mysterious Love
Sangat khawatir!



Perlahan mata pria itu menyeringit saat secercah cahaya dari Fentilasi kamar ini lolos begitu saja seakan menusuk matanya yang lansung terbuka kecil, netra elang kecoklatan itu lansung terlihat berkedip hingga ringisan kecilnya keluar seraya memeggangi kepalanya.


"Haiss!!"


Lucifer mencengkram kepalanya kuat saat merasakan pusing yang teramat. ia memejamkan matanya untuk sementara menormalkan keadaan pikiran dan nyeri yang seakan mengikat kepalanya.


"Sayang!"


Lirih Lucifer masih mengira ia didalam kamar Athena, ia meraba tempat disampingnya hingga matanya membulat sempurna saat merasakan ukuran Ranjang yang berbeda.


"Hena!"


Lucifer lansung bangun hingga pandangannya lansung menajam kesekelilingnya, kamar bernuansa Abu dengan keluasan dan mewah yang sangat menakjubkan membuat Lucifer lansung menyibak selimutnya menduga ini dimana.


"Bagaimana bisa aku disini?"


Geram Lucifer mengambil Jaketnya dipinggir ranjang dan dengan agak oleng ia berjalan menuju Balkon terlihat sangat muak menapakai lantai ini.


"Berhenti!"


Suara sanggahan itu membuat langkah Lucifer terhenti tanpa menatap kebelakang. wajahnya mengeras mendengar suara yang sangat tak asing baginya itu.


"Kau belum sehat betul! kembalilah berbaring!"


"Ini semua rencanamu, kan?"


Lucifer berbalik menatap murka Cestor yang tengah membawa nampan makanan dan minuman pereda Mabuk, ia tahu kepala Lucifer pasti belum sepenuhnya terlepas dari rasa pusing,


"Aku tak ingin membahasnya!"


"Kenapa aku bisa disini?"


Geram Lucifer lagi-lagi tak ingin berbicara santai membuat Cestor menghela nafas meletakan nampan ditangannya diatas ranjang.


"Kau datang sendiri!"


"Ini semua rencana picikmu, kan?"


Lucifer mendekat lansung menarik kerah kemeja Cestor yang melihat jelas wajah Tampan Lucifer yang begitu tersulut emosi dan ini karna Athena.


"Apa aku salah mengundang seorang Intelijen ke Kediamanku untuk menyelidiki Pengeboman ini?"


Bugh..


Lagi-lagi Lucifer meninju wajah Cestor untuk yang kedua kalinya, mata Lucifer sudah berkobar dengan amukan dan rasa panas saat Cestor tak berhenti memanfaatkan Athena sebagai pancingan untuknya.


"Kau berani mendekatinya!!!!"


"Kau semangkin bodoh hanya karna wanita itu!"


Ucapan Cestor kembali menarik tinjuan Lucifer kewajahnya hingga rahang Cestor benar-benar terasa remuk dihantam bongkeman keras ini sampai hidung pria itu berdarah, tapi Lucifer tak mengindahnya terus memukuli sampai Cestor juga membalasnya hingga keduanya mulai terpancing.


"Dia hanya akan menyakitimu, Cifer!!!"


"Tutup Mulutmu!!!!"


Geram Lucifer bertarung secara jantan, ia menyerang membabi-buta sampai Cestor kualahan melawan pukulan Lucifer yang sangat kuat, bahkan tangan pria ini seperti besi memukul dadanya.


Brughh..


Lucifer memadatkan tubuh kekar Cestor ke bagian rak lemari kaca disamping ranjang hingga keduanya benar-benar saling mencekik satu sama lain.


"Kauu memang ingin mati!!!"


"C..Cifer!"


Cestor mencengkram pergelangan tangan Lucifer yang mencekiknya kuat sampai ia merasakan tengkunya mau patah, melihat Cestor yang sulit bernafas dan tak ingin melawannya Lucifer lansung meninju kaca disamping kepala Cestor.


Prankk!!!


"Aaaaa!!!! Sialan!!!"


Lucifer tak bisa membunuhnya hingga ia mengusap wajahnya kasar menjahui Cestor yang mengambil nafas cepat dan memburu, ia terbatuk memeggangi tengkuknya yang membiru hingga wajah Cestor yang tadi pucat terlihat perlahan membaik.


"Kau tak melawanku!!! Dasar bajingan!!!"


"Kau..jauhi dia! dia hanya akan membuat hidupmu semangkin hancur!!!"


Cestor begitu terlihat kekeh dalam ucapannya. tapi Lucifer tak pernah berniat untuk meninggalkan atau menjahui Athena.


"Kau yang harus menjahuinya! sekali lagi kau mencoba menjebaknya, maka aku tak akan perduli kau Kakakku atau tidak!"


Lucifer lansung ingin pergi tapi ia terkejut saat melihat Botol Minumnya semalam, ia menatap Cestor yang diam melenturkan lehernya.


"Kau melukainya!"


Degg..


Lucifer lansung terkejut setengah mati dengan ucapan Cestor yang seakan menarik jantungnya keluar, tubuh Lucifer meneggang menatap tangannya.


"A..Apa aku.."


"Dia tak ingin lagi bersamamu!"


"Tidak, S..Sayang!"


Lucifer lansung berlari meloncati Balkon membuat Cestor lansung dibuat tercekat dengan nafasnya sendiri, perasaannya pada Lucifer itu sangat sukit diartikan, ia hanya ingin Cinta itu tak terlalu dalam hingga nantinya tak melukai diri mereka masing-masing.


"Tuan!"


Asisten Biran yang muncul dari pintu kamar menatap prihatin Cestor yang sudah sangat berusaha keras, tapi tetap saja Lucifer kekeh tak akan mendengarnya.


"Lihatlah! betapa keras kepalanya dia!"


"Apa saya harus me.."


"Tidak! ini sudah cukup, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau."


Jawab Cestor menegguk segelas air putih diatas nampannya. ia sangat kagum cara bertarung Lucifer yang begitu lihai dan gesit penuh ketangkasan, tapi emosi pria itu masih sulit dikendalikan.


.......


Lucifer begitu cepat mengendalikan Mobil, seraya terus menghubungi Nomor Athena di Ponselnya, tapi hanya suara Operator yang menjawab membuat hatinya benar-benar gelisah.


Ia memacu Mobil yang tadi dibawakan Anggotanya ke samping dinding beton Istana hingga ia bisa melaju cepat sampai menerobos jalanan yang sangat ramai.


Sesekali Lucifer menambrak beberapa palang yang dibuat diperbaikan jalan hingga membuat teguran dari Staf yang bekerja.


"Dasar tak waras!!!"


Mereka meneriaki Lucifer yang sudah melesat jauh meninggalkan debu dan angin yang berlari beriringan, pikirannya hanya tertuju pada satu nama, Athena dan Athena.


"Sayang! aku..aku minta maaf!"


Gumam Lucifer sangat khawatir, bagaimana kalau Athena meninggalkannya? ia sangat muak dengan dirinya sendiri yang begitu tak bisa mengendalikan diri.


"Master!"


Alat Komunikasi ditelinga Lucifer menyala mengaktifkan suara Berots yang tadi ia perintahkan mencari keberadaan Athena dan kejadian semalam.


"Bagaimana?"


"Kami menemukan Ponsel Nona pecah berserakan didekat jalan pintas diRumah Tinggi, disini juga ada ceceran darah lembab dan bekas pekelahian!"


Lucifer semsngkin dilanda rasa sesak. ia sangat takut jika semalam ia menyakiti wanita itu apalagi sampai melukainya. sumpah demi apapun Lucifer tak akan memaafkan dirinya sendiri.


Setelah beberapa lama. Mobilnya sampai kedepan Rumah Kecil Athena hingga ia lansung bergegas turun berlari kedepan rumah minimalis ini.


"Sayang!! Hena!!!"


Lucifer menggedor pintu itu kuat beberapa kali melihat kearah Jendela didekat pintu yang ditutupi tirai.


"Sayang!! Sayang aku..aku mohon!"


Semuanya hening, tak ada yang menyahut seakan kediaman ini mati tak berpenghuni, dada Lucifer semakin dilanda bongkeman menduga Athena benar-benar marah padanya.


"Sayang! Hena! kau..kau didalam kan?"


Sang empu yang ditangan itu hanya diam menulikan telinganya, ia menggulung tubuhnya dengan selimut membuat Nneek Nuseta yang tadi ada didalam kamar Athena menjadi bingung.


"Hena!"


"Nek! aku tak ingin menemuinya!"


Pinta Athena memohon hingga Nenek Nuseta menghela nafas halus mengangguk mengelus kepala Athena yang tak ingin pergi kemanapun, sedari semalam dia pulang hanya mengurung diri dikamar ini.


"Sayang!!! Athena kau..kau dengar aku, kan!!!!"


"Sebenarnya ada apa, hm?"


Nenek Nuseta begitu merasa aneh, si Panci itu terdengar terus memanggil tapi Athena hanya diam membekap telinganya. ia mulai merasa khawatir jika ada hal yang serius.


"Nek! Nenek bisa melakukan pekerjaanmu, abaikan saja dia!"


"Dia akan merusak pintu itu!"


Gumam Nenek Nuseta mendengar suara gedoran keras dipintunya membuat Athena membisu, ia tak bisa untuk bertemu sekarang karna ia belum memiliki keputusan, rasanya ia masih sangat sesak memikirkannya.


"Suruh saja dia pulang! bilang padanya kalau aku tak ada di rumah!"


"Hm, Baiklah! Nenek akan mencoba."


Nenek Nuseta melangkah pergi keluar dari kamar Athena yang telah mengunci Jendela rapat, lagi pula ada Trali disini maka Lucifer tak akan bisa masuk.


Nenek Nuseta menggeleng saat engsel Pintu ini mau rubuh saat tangan kekar Lucifer terus mendorong Pintu yang dikunci.


"Hena!!!"


"Sebentar!"


Nenek Nuseta terpaksa membuka pintu hingga terlihatlah wajah tampan merah penuh kecemasan Lucifer menatap Nenek Nuseta yang lansung mengambil suara.


"Sayang!!!"


"Athena tak dirumah!" Nenek Nuseta menghalang Lucifer masuk hingga wajah Lucifer benar-benar mengeras.


"Dia ada disini! dia disini aku tahu itu!!"


"Dia itu di.."


Brak..


Pintu itu jebol Lucifer dorong membuat Nenek Nuseta terkejut bukan main melihat Lucifer yang sudah berlari menerobos masuk menuju kamar Athena.


"Sayang!!! Hena!!!"


Lucifer menekan peggangan pintu yang dikunci hingga ia memanggil Athena yang tak kunjung menjawab, Athena masih diam mengigit bibir bawahnya untuk menahan diri.


"Sayang! aku..aku minta maaf, aku minta maaf, Hena!!"


Nenek Nuseta menatap kasihan Lucifer yang terus menggebrak pintu hingga ia menghela nafas melangkah pergi keluar, ia tak ingin ikut campur dalam urusan cucunya.


"Sayang!!! aku..aku mohon!!"


Athena masih diam tak ingin terbujuk, tekatnya semangkin kuat untuk tak ingin lagi ikut campur urusan apapun. ia berusaha untuk tak perduli.


"Kenapa kau kesini?"


Lucifer berbinar saat suara itu akhirnya terucap membuatnya seakan mendapat pasokan oksigen.


"Aku..Aku minta maaf, kau mohon kau...kau jangan begini!"


"Kau tak salah!"


Jawab Athena tersenyum sinis membayangkan ia yang terlalu bersemangat dalam hubungan ini, ia begitu berharap kedepannya mereka akan bersama maka masalah itu harus cepat diselesaikan. tapi nyatanya tidak, tak ada yang bisa ia harapkan lagi.


"S..Sayang!"


"Aku yang salah! aku begitu banyak berharap dengan hubungan kita!"


Lucifer menggeleng merasa sangat dibuat tercekat dengan ucapan itu seakan-akan Athena tak lagi ingin meneruskan ini.


"Kau..Kau bicara apa? itu tak benar. Sayang!"


"Mulai sekarang, kau jalani saja hidupmu sendiri dan aku.."


Brakkk...


.....


Vote and Like Sayang..