Mysterious Love

Mysterious Love
Perkelahian ditengah kesedihan!



Langkah kosong Athena lansung menapaki tanah yang lembab dari dedaunan yang diguyur hujan baru beberapa jam tadi, masih ada rintikan kecil yang membuat suasana mendingin dengan kelembaban naik menambah kebekuan.


Namun, semua itu tak dihiraukan Athena yang tetap melangkah ditengah sunyi dan gelapnya malam ini. ia tak tahu lagi harus berbuat apa dengan semua yang sudah menyayat hatinya.


Aku hanya ingin kau bebas. tapi kenapa kau selalu menganggapku seakan mementingkan diriku sendiri? kau selalu bertanya dimana dia menyentuhku seakan aku menjadi penghibur setiap pria yang ku dekati. apa aku serendah itu?


Athena masih bergelut dengan pikirannya hingga ia menghela nafas halus untuk tak terlalu memikirkan ini, ia ingin istirahat sekarang.


Drett..


Ponsel Athena berbunyi membuat langkahnya diakhir jalan setapak gelap ini terhenti seketika berteduh dibawah pepohonan yang agak rimbun, kilauan lampu jalan dari arah samping sana bisa menjadi penerangan bagi Athena.


Namun. wajah Athena seketika murung saat melihat nama yang memanggilnya itu adalah Jendral Guinter, dengan terpaksa dan sangat lelah Athena menjawabnya.


"Jendral!"


"Bagaimana? apa kau mendapatkan sesuatu? kau dekati dia atau bisa berbaur dengan Nyonya Violette untuk.."


"Aku sudah pulang!"


Tak ada jawaban dari seberang sana, yang hanya suara gertakan gigi yang terdengar nyaring membuat Athena terdiam membisu.


"Kau memang benar-benar! ini kesempatan emas dan kau melewatkannya? kau pikir, berapa lama kita mencari dalang dari semua ini dan sekarang kau melepasnya!!!"


"Aku tak bisa. aku punya Nenek yang harus ku.."


"Kau ingat, Athena! aku yang selama ini membantumu ketika tak ada seorangpun yang mau. bahkan, Ayahmu yang sudah meninggal itu tak ada gunanya untukmu!"


"Jaga bicaramu, Sialan!!!"


Geram Athena mulai terpancing dengan ucapan kasar Jendral Guinter yang selalu memaki kedua orang tuanya. selama ini ia akui Jendral Guinter yang memasukannya ke Akademi, tapi pria itu lepas tangan setelah membiayai uang masuknya saja, hanya ia yang berusaha kuat masuk ke Dunia Militer melewati semua latihan diusia muda, tak ada yang tahu bagaimana ia bisa berdiri dengan wajah datar, tubuh tegap tanpa tangisan ini.


"Apa? kau seharusnya ingat Jasaku saat kau masih belia. untuk sekolah saja kau susah! kemana kedua orang tuamu? kau hanya anak tanpa Ayah dan Ibu. jadi jangan pernah mencoba melawanku!"


"Brengsek!!!"


Brakk..


Athena melempar Ponselnya ke Pohon disampingnya hingga benda itu lansung berserakan begitu saja ditengah gelapnya malam yang mencekam, dada Athena naik turun menahan emosi dan rasa sakit atas semua penghinaan itu.


"Kalian semua sialan!!!"


Teriak Athena meninju Pohon disampingnya kuat sekuat amarah yang keluar begitu saja hingga barulah ia luruh begitu saja, tangisan Athena pecah setelah bertahun-tahun menahan semua ketidak adilan ini.


"Momy!!!! hiks, kenapa kalian pergi, ha??"


Athena terisak tertahan ditengah gerimis yang menelan suaranya. tak ada yang akan mendengar tangisan isak pilu yang selama ini bungkam itu hingga Athena leluasa meluapkan semua rasa sesaknya.


"Dia..Dia selalu memakiku, Mom hiks! dia.. dia bilang aku..aku anak tanpa ayah hiks, Momy!!"


Isak Athena bersandar ke pohon yang tadi ia tinju. sungguh rasanya sakit menahan ini semua, ia sudah berusaha untuk menerima tapi seakan tak ada yang mengerti penderitaannya.


"M..Mom!"


Lirih Athena serak karna sudah keras berteriak, Athena mengadah menatap langit gelap tanpa rembulan yang biasa ia pandangi.


"H..Hena sangat merindukan. kalian!"


Lirih Athena bergetar menekuk kedua kakinya didekat pohon seraya menyandarkan kepalanya disana. ia sekarang berubah jadi sosok yang rapuh tak kuasa menahan semua takdir ini.


"Kalau Da..Dady ada, aku..aku tak mungkin begini, aku..aku pasti.."


Athena tak mampu melanjutkan kata-katanya hingga ia hanya menangis begitu saja beriringan dengan isakan awan yang menurunkan air mata.


"Ouhh! anak tanpa Ayah!"


Athena tersigap saat ada suara dari arah jalan hingga Athena melihat sekilat tubuh yang dibaluti Mantel dan rambut emas yang sangat ia kenal.


"Kenapa, hm? kau dibuang?"


Athena hanya diam kenbali berdiri menghapus lelehan bening itu kembali. wajahnya seketika berubah datar seakan tak terjadi apapun dengan gestur tubuh santai.


"Tak punya cara lain selain menguntit?" Athena meremehkan Hera yang lansung tertawa kecil.


"Hey! ayolah, aku sedang melihat seorang wanita yang begitu malang. tak punya kedua orsng tua, hidup pas-pasan dan yang paling penting.."


Hera menyeringai mendekati Athena yang tetap diam tapi kedua tangannya mengepal kuat.


"MURAH!"


Tekan Hera begitu sinis membuat darah Athena mendidih, wanita ini memang benar-benar ingin diberi satu bongkeman yang akan ia ingat selamanya.


"Aku Murah? memangnya aku dibayar berapa? atau.."


Athena menyeringai melangkah semsngkin dekat dengan Hera yang mendengarkannya.


"Atau kau lebih murah mengemis Cinta dari seorang pria!"


"Kauu!!!"


Hera lansung mengeluarkan pisaunya menyabitkan ke pipi Athena yang sempat menghindar dengan kilat menendang pinggang Hera hingga terhuyung kembali ketempat semula.


Keduanya sama-sama terlihat emosi, kali ini Athena begitu tak mampu menahan dirinya hingga terlihat jelas dari kobaran mata tajamnya.


"Cih! jeritanmu tak akan didengar ketika Hujan ini!"


"Kita lihat, aku atau KAU yang menjerit!"


Geram Athena lansung menyerang Hera dengan tangan kosong tanpa senjata, liukan tubuhnya begitu pas dan tepat sampai beberapa kali meninju dada Hera yang juga tak mau kalah menyabitkan pisaunya ke lengan Athena.


"Kau akan mati!!!"


Hera berbalik seketika ingin menusuk Athena yang dengan kilat bersalto dari tembok disampingnya melayang indah dengan kaki jenjang yang menendang kepala Hera ke tembok.


Brughh..


Athena kembali berdiri tegap dengan cucuran darah dilengannya, tapi ia menatap bengis Hera yang terlihat tersungkur ke tembok dengan keadaan kening yang dialiri cairan merah amis itu.


"Carilah lawan yang sepadan!"


Athena berucap tegas lalu melempar batu yang tadi ia ambil saat berkelahi kewajah Hera yang tak bisa melihat gerakan Athena yang cepat hingga batu itu mengenai matanya.


"Wanita Sialan!!!"


Bentakan Hera hanya dijawab angin dan hujan yang semangkin lebat. sedangkan Athena sudah melangkah pergi entah pulang karna ini sudah sangat larut, ia tak ingin Neneknya juga jadi sasaran wanita jadi-jadian itu.


"Kau lihat saja, Athena!! aku tak akan melepaskan mu. kau tak akan pernah bisa bersama dengannya!!! tak akan bisa!!!!"


"Terserah kau saja!"


Gumam Athena yang masih mendengar teriakan Hera yang benar-benar sudah gila. karena ambisinya ia rela melakukan apapun termasuk menghilangkan nyawa orang lain.


....


Vote and Like Sayang..