
"Bie... Cobalah untuk meredam emosimu... Dan juga, jangan biarkan kemarahan di hatimu menguasai sisi baikmu agar menjadi jahat. Mungkin Miss Sarah juga tidak ingin kau memiliki sifat pendendam. Apa lagi pada saudara kandung sendiri..." ucap Mina pada sang suami.
..."Aku yakin jika Miss Sarah adalah orang yang baik yang mampu memaafkan kesalahan orang lain. Jadi, belajarlah darinya. Bicaralah baik baik dengan Allan... Tanyakan apa maunya dan rundingkan bersama dengan anggota keluarga yang lain..." jelas Mina....
"Aku hanya tidak ingin Allan menikahi wanita busuk itu..." geram Adam.
"Bie... Allan melakukan itu sebagai wujud dari pertanggung jawaban pada Miss Jane... Karena ia telah merusaknya dulu... meskipun terlambat untuk saat ini..." Mina mengingatkan.
"Tapi kenapa harus sekarang bukan dulu saat ia mengetahui Sarah menderita...?" suara Adam meninggi.
"Aku tidak tau Bie... Karena saat itu aku tidak ada di dekatmu... Jadi aku tidak bisa ikut menyimpulkan... Untuk saat ini, mungkin kau belum bisa menerima kepergian Miss Sarah karena mendengar kenyataan sebenarnya ... Tapi, bisakah kamu menghargaiku untuk saat ini...? Karena aku juga istrimu saat ini. Meskipun aku tau, kau tidak bisa sepenuhnya melupakan Miss Sarah... Untuk saat ini, maafkan aku karena hatiku sakit saat kau menyebut nama wanita lain. Karena tengah mengandung, hormonku tidak setabil. Mood ku juga bisa berubah ubah. Tergantung situasimu. Dan satu lagi, tanyakan pada dirimu sendiri Bie... Mengapa kau harus menikahiku serta mengambil diriku dari sisi pria lain... Itu adalah salah satu jawaban dari apa yang kau pikirkan saat ini tentang Allan. Bukannya aku membela Allan, tapi itu memanglah kenyataan yang di rasakan Allan untuk Miss Jane." ucap Mina sambil berdiri dari pangkuan Adam dan berjalan gontai menuju pintu kamar mandi.
" Kau tau Bie... Aku tidak pernah berusaha membencimu meskipun kau telah merenggut semua kebahagiaanku bersama mantan suamiku..."Mina mengucapkan kalimat itu sebelum memasuki kamar mandi.
Adam hanya duduk termenung seperti mendapatkan tamparan hebat dari istrinya. Ia tidak tau dengan apa yang saat ini di pikirkannya. Mina telah terluka. Ya... ia melukai Mina dengan menyebut nama Sarah... Tapi, apakah ia egois ataukah Mina yang egois...? Adam semakin pusing karena kenyataan saat ini.
....
Alvin memasuki ruang diskusi. Ia mendapati putra ke 2 nya tengah duduk di lantai dengan bersandar di dinding dengan wajah babak belurnya. Alvin menghampiri putranya itu dengan rasa sedih di hatinya. Meskipun ia tau semua permasalahan yang terjadi, tapi ia ingin agar putra putri nya bisa berpikir dengan rasional dan tidak hanya mengandalkan kekuatan serta kedudukannya.
"Al..." Alvin menghampiri putra nya dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Allan.
"Dad... Bisakah kau membantuku meyakinkan Kak Adam dan memintanya untuk memaafkan aku, karena akulah penyebab dari penderitaannya selama bertahun tahun. Aku begitu menyesal karena tidak tegas pada pendirianku untuk memperjuangkan wanita yang aku cintai. Dad... kumohon... restui lah aku untuk meminang Jane. Karena tanpanya, hidupku tak berwarna dan bahagia. Dad... aku berjanji akan menjauhkan diriku dari Kak Adam dan keluarganya. Aku akan membawa Jane ke ujung dunia sekalipun agar Kak Adam tidak melihat keberadaan kami..." Allan berucap sambil mengatupkan kedua tangannya untuk meminta restu.
"Al... Apa wanita itu menyetujui pinanganmu...?" tanya Alvin pada Allan putranya.
Allan menggeleng. Ia tak yakin apakah Jane mau menerima dirinya sedangkan kemarin ia mendapatkan penolakan mutlak dari wanita itu.
"Jika kau benar benar yakin dengan pilihanmu, kejarlah ia sampai ujung dunia sekalipun. Perjuangkan dia meskipun sangat sulit. Aku akan merestui apa pun pilihanmu..." ucap Alvin memberi semangat pada putranya.
Allan tersenyum lebar saat mengetahui sang ayah menyetujui apa pun pilihannya kelak.
"Thanks Dad... I love you..."ucap Allan sambil memeluk erat sang ayah.
"Pergilah ... perjuangkan cintamu...." ucap Alvin merestui.
Allan bergegas keluar dari ruang diskusi itu dengan langkah tertatih. Meskipun dengan wajah bengkak, ia tetap melanjutkan langkahnya keluar dari Mansion milik orang tuanya itu. Untuk memperjuangkan cintanya pada Jane.
"Halo... DJ (Dorian Javier) cari tau keberadaan Jane Christine Milano segera. Dan Share lokasi wanita itu, aku akan segera kesana...)" perintah Allan pada sang asisten setelah sambungan telepon nya tersambung.
Allan berjalan dengan penuh semangat meskipun kakinya terluka akibat tendangan sang kakak tadi. Allan menuju garasi mobil dan memilih 1 mobil kesayangannya itu untuk ia kendarai. Ia langsung tancap gas mengendarai mobil itu meninggalkan kediaman orang tuanya.
Setelah mengetahui lokasi di mana wanita pujaan hatinya berada, Allan tanpa ragu menuju tempat itu. Meskipun menempuh waktu yang begitu lama, meskipun harus menggunakan penerbangan sekalipun. Allan akan terus mengejar Jane sampai ia mendapatkannya.
Allan berhenti di sebuah pondok kecil di sebuah Desa terpencil yang ada di Negara Bagian Florida, Amerika Serikat. Perjalanan dari Canada menuju Amerika memanglah sangat melelahkan apa lagi setelah mendapatkan amukan dari sang kakak.
Allan menatap wajahnya di cermin kaca mobilnya. Wajahnya babak belur. Ketampanannya berkurang karena luka lebam yang mulai membengkak.
Dari kejauhan, ia dapat melihat Jane tengah bermain dengan anjing kecil di sana. Ia dapat melihat wanita yang ia cintai itu tengah tertawa. Semilir angin membuat rambut wanita itu menari nari. Allan terpesona untuk yang kedua kalinya pada wanita itu.
Sepasang suami istri yang telah lanjut usia turun dari sebuah mobil jeep. Jane melambaikan tangannya dengan penuh kebahagiaan pada mereka. Allan sangat yakin jika kedua orang itu adalah kakek serta neneknya yang ada di sini.
Tiba tiba, anjing kecil itu sudah berada di dekat kaki Allan dan sedang menjilati serta mengendus celana katun milik Allan. Allan langsung berjongkok dan mengelus kepala anjing kecil itu. Allan tersenyum simpul saat merasakan betapa manjanya anjing itu.
"Charlie.... Charlie... Kau dimana sayang...?"
Allan tersentak kaget saat ia mendengar suara Jane yang tengah mendekat.
'Guk... guk...'
Anjing kecil bernama Charlie itu terus menggonggong di dekat semak semak. Allan begitu panik saat suara langkah kaki Jane terasa lebih dekat. Tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi. Allan merebahkan tubuhnya di semak semak. Ia pura pura pingsan di sana. Dengan wajah bengkaknya, ia ingin tau apakah Jane perduli padanya.
Charlie si anjing kecil terus saja menggonggong serta menjilati wajah Allan dengan penuh semangat. Allan merasakan perih di wajahnya. Tapi ia harus bisa melewati itu agar bisa lebih dekat dengan Jane.
"Oh... Charlie... ternyata kau disini...? Ah... kau sungguh membuatku kawatir... aku kira kau menghilang.....!" Jane memeluk anjing kecilnya dengan erat.
Tapi, si anjing kecil meronta ronta ingin turun dari dekapan Jane. Jane melepaskan anjing itu dan mengikuti langkah si anjing dan ia menemukan sesosok pria yang pingsan dengan wajah babak belurnya.
Jane terkejut karena ia bisa mengetahui jika pria itu adalah Allan. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Untuk sementara, ia hanya ingin menyelamatkan nyawa pria itu demi kemanusiaan.
Dengan cepat ia meminta bantuan kakek neneknya yang ada di pondok, untuk membawa pria itu ke dalam pondok. Dalam hatinya, Allan bersorak ria saat ia sudah berada di dalam sebuah kamar di pondok kecil itu.
"Jane... Aku akan mengejarmu sampai kau lelah dan menyerah serta mau menghambur ke pelukanku..." batin Allan penuh semangat