My Maid And I

My Maid And I
Part 39. My Maid and I



Pagi hari menjelang. Mina telah bersiap untuk melakukan aktifitas hariannya. Tubuhnya segar sehabis mandi. Infus yang sudah kosong itu ia sudah lepas semalam. Dengan rambut yang ia kuncir seperti ekor kuda serta menggunakan kaos oblong dan celana training panjang, ia keluar dari dalam kamarnya.


Lampu ruang tengah / ruang TV masih menyala sampai saat ini. Ia mendapati tuannya tertidur di sofa dengan masih banyak map serta kertas yang berceceran di meja dan lantai ruangan itu.


Matahari belum menampakan dirinya di ufuk timur. Masih beberapa saat lagi. Mina memunguti kertas di lantai dan merapikannya di meja. Sang tuan tertidur tanpa selimut seperti biasanya. Ia mengambil selimut di kamar tuannya kemudian menyelimuti pria itu dengan pelan dan hati hati.


Mina memulai aktifitas hariannya seperti semula. Membersihkan semua sudut dan setiap bagian apartemen milik tuannya itu dengan semangat. Sampai pukul 8 pagi ia masih berkutat dengan acara bebersihnya.


Tanpa sengaja ia menjatuhkan pisau yang ia pegang dan terjatuh di lantai dengan sangat keras. Dan membangunkan tuannya yang kala itu masih terlelap di sofa.


Adam menerjapkan matanya perlahan. Ia mulai mencari kesadarannya dengan mengusap usapkan telapak tangannya di wajah mengantuknta. Adam terbangun mendengar suara benda yang terhatuh di lantai. Pria itu bangkit dan mulai mencari asal suara itu tadi.


Adam tersentak kaget. Melihat maidnya tengah berkutat di dapur sedang memasak makanan untuk sarapannya. Pria itu menggampiri Mina dan menegurnya.


"Apa yang kau lakukan...?" tanya nya datar.


"Ah... Good Morning Mr... saya sedang memasak untuk sarapan anda.."jawab wanita itu dengan senyumnya.


"Bukankah kau sedang sakit...!!! Istirahatlah...!!!" perintahnya datar.


"Oh... maaf Mr... saya sudah sehat kok... tidak perlu kawatir..." jawab Mina dengan masih mengembangkan senyumnya.


"Aku tidak menghawatirkanmu... aku hanya tidak ingin harus 2 kali aku memanggil Dokter selama 2 hari berturut turut untuk memeriksamu dan menghabiskan banyak uangku..." kata Adam datar.


Niatnya ingin membalas kebaikan sang tuan pagi ini, tapi ia sudah mendapat kata kata tidak mengenakan dari mulut tuannya itu dan membuatnya tertohok. Dengan di temani senyum terpaksanya, ia menjawab pernyataan tuannya dengan nada sedikit emosi.


"Saya sudah sehat, terima kasih sudah merawat saya semalam, serta terima kasih karena sudah memanggilkan dokter untuk memeriksa saya... Dan saya akan berusaha untuk tetap sehat selama bekerja disini... agar saya tidak menghabiskan uang anda yang berharga itu untuk berobat. Maaf sudah merepotkan anda semalam..." kata wanita itu kemudian kembali berkutat dengan acara memasaknya di dapur.


Adam hanya menatap maidnya tanpa expresi.


"Baguslah... jika kau paham dengan apa yang ku maksud...!!!" kata pria itu dan melenggang pergi ke kamarnya.


Setelah bersiap untuk ke kantor, Adam menuju ruang makan untuk sarapan. Makanan sudah tersaji di meja.



Sarapan sehatnya telah tertata rapi dan tersaji dengan apik di meja. Di padukan segelas Milo hangat. Adam menatap seberang tempat duduknya, ia menatap makanan yang akan menjadi sarapan maidnya itu.



Serta bubur tawar yang sama persis seperti semalam.



Setelah melihat apa yang di santap maidnya, Adam hanya terdiam dan menatap wanita yang tengah mencuci bekas peralatan masaknya yang kotor.


" Kita sarapan...!!!" kata Adam datar dan membuat Mina berhenti dari aktifitasnya dan menghampiri sang tuan untuk sarapan bersama.


Sambil memakan sarapannya, Adam diam diam mencuri pandang pada wanita yang tengah menikmati bubur sisa semalam yang sudah di hangatkan oleh wanita itu untuk sarapannya.


"Bagaimana..." tanya Adam di sela sela makan nya.


"Ah... aku hanya ingin bertanya bagaimana buburnya...??" Adam bertanya sembari memasukan sosis ke dalam mulutnya.


"Oh... ini sangat enak Mr... terima kasih untuk buburnya... saya suka...!!!" jawab Mina antusias sembari tersenyum dan memperlihatkan giginya yang rapi.


Adam hanya mengangguk dan meminum Milo nya. Melihat wanita di depannya itu makan dengan lahap dan rona wajahnya kembali seperti semula, membuatnya merasa lega.


Meskipun ia sering berkata kasar pada wanita itu, tapi ia selalu tersenyum dan bekerja sesuai keinginannya. Ada sedikit kekecewaan dalam dirinya ketika ia mendengar apa yang di sampaikan Stanly padanya semalam. Wanita itu tengah tertekan batinnya dan pingsan karena tidak kuat menahannya.


Ia bersyukur kemarin ia cepat kembali. Kalau tidak, ia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastilah keluarga wanita itu di Indonesia menyalahkannya dan meminta ganti rugi atas apa yang terjadi. Terutama suaminya. Itu pasti.


Merasa di tatap secara intens oleh sang tuan, membuatnya tidak nyaman. Seperti biasa, ia beranjak dari duduknya dan pergi membawa piring kotornya ke dapur. Meninggalkan tuannya yang sedang duduk di kursi ruang makan sendirian .


Kedatangan asisten Stanly merupakan hal yang sangat ia syukuri, selain pria itu sering membuat suasana tegang mencair begitu saja karena tingkahnya.


Pria itu menghampiri sang tuan dan menyapanya dengan senyum tampannya.


"Pagi... Boss...?!!" sapa nya.


"Oh... Pagi Stan... duduklah...!!!" perintah Adam pada asistennya.


Stanly duduk tepat di kursi yang tadi Mina duduki. Ia menatap rolade yang ada di depannya dengan berbinar ☺☺☺. Saat akan mencicipinya, Adam menggeser piring yang berisi rolade itu menjauh dari jangkauan Stanly.


"Boss... aku hanya ingin mencicipinya... jangan pelit dengan orang yang paling setia di sisimu ini... Ayolah... Boss....!!!" Stanly merengek.


"Ini punya Mina, Stan... jangan kau makan... ia baru saja sembuh... ia harus memakan makanan yang di kukus dan bubur untuk sementara. Jadi, kau makanlah yang lain. Seperti biasa Mina pasti sudah menyiapkan makanan untuk sarapanmu...!!!" kata Adam datar.


Mendengar kata Mina, ia teringat bahwa wanita itu terkulai lemas semalam. Apa ia sudah sehat kembali...??? Tapi di mana wanuta itu...??? Pikiran Stanly berkutat dan mencari sosok Mina.


"Ah... dia Boss....??? Maksudku Mina...!!!" tanya sang asisten.


"Di dapur, mungkin..." kata Adam datar.


Stanly langsung beranjak dari duduknya dan mencari Mina di dapur. Setelah ia menemukan wanita yang ia cari itu tengah meminum obatnya, ia langsung menyambar kening Mina dan memeriksanya apakah masih demam.


Merasa ada yang menyentuhnya, Mina memalingkan wajahnya dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Stanly.


"Ehem... ehem..." suara deheman sang Boss menyadarkan mereka. Stanly langsung menarik tangannya dari kening Mina.


" Kau sudah baikan...???" tanya pria itu.


"Sudah...Mr... ah... anda sudah datang...???" tanya Mina pada pria itu.


Stanly mengangguk.


"Iya..." jawabnya singkat.


"Baiklah saya akan mengambilkan sarapan anda...!!" seru Mina.


Pria itu mengangguk dan berlalu kembali ke ruang makan. Stanly kembali mendaratkan pantatnya di kursi. Ia menatap Adam sang Boss tengah membereskan map yang ia bawa kemarin dan memasukannya kedalam tas kantornya.