
Adam merintih merasakan kepalanya pusing serta perih. Ia memegangi pelipisnya dan mengusapnya pelan ia mendapati bau darah yang anyir dan telah mengering di telapak tangannya. Di rasakannya nyeri yang bertubi tubi di kepalanya serta punggung dan dadanya.
Adam terkejut mendapati dirinya telanjang bulat. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk dengan perlahan. 'Apa yang terjadi...??? Ah... kepala ku...!!!' pekiknya dalam hati sambil memegangi pelipisnya.
Langit telah berubah menjadi gelap. Menandakan malam telah tiba. Adam mencari ponselnya yang seingatnya ia letakan di atas nakas. Jam sudah menunjukan pukul 19: 30 pm. Tak lupa pula ia menyalakan lampu yang ada di atas nakas untuk penerangan.
Adam tersenyum, mengingat hayalan serta mimpinya menggagahi Mina. Sampai sampai ia harus melepas pakaiannya. Adam bangkit dari ranjangnya dan berdiri dengan sempoyongan ingin ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dan meminta Mina membuatkan sesuatu untuk dirinya makan karena saat ini ia begitu lapar.
Tanpa sengaja, kakinya menyenggol sesuatu yang lembut dan hangat di lantai. Ia meraba raba penasaran dengan apa yang ia sentuh. Ketika mendapati apa yang ia sentuh itu seperti sesosok manusia, ia langsung mencari saklar lampu dan menyalakannya.
Adam terperangah dengan apa yang ia lihat. Seorang wanita tergeletak di lantai dengan telanjang bulat seperti dirinya, serta di bagian dada dan lehernya begitu banyak kiss mark. Dengan cepat ia menyibakan rambut yang menutupi wajah wanita itu.
Dan betapa terkejutnya Adam saat mengetahui bahwa Mina lah yang sedang tidak sadarkan diri itu. Adam melihat tangan Mina tengah menggenggam pecahan botol kaca, pecahan itu sedikit menggoreskan telapak tangan wanita itu.
Adam memeriksa denyut nadi serta hidung Mina. Ia bersyukur karena wanita itu masih hidup. Adam mengangkat tubuh Mina yang lemas dan tidak sadarkan diri itu menuju ranjangnya. Tubuh wanita itu telah dingin karena mungkin sudah terlalu lama tergeletak di lantai marmer kamarnya itu.
Adam menatap mata sembam, bibir yang bengkak di sertai lecet serta kissmark yang bertebaran di dada serta leher wanita itu. Wanita itu terlihat sangat mengenaskan serta memilukan bagi yang melihatnya.
Adam memunguti pakaian wanita itu satu per satu dan membawanya mendekati wanita yang tengah terbaring di ranjangnya saat ini. Dalam keadaan dirinya yang tengah telanjang bulat, ia memakaikan bra serta kaos oblong milik wanita itu. Saat akan memakaikan celana dalamnya, ia mendapati milik Mina begitu bengkak dan kemerahan serta sisa cairan seputih susu yang telah mengering. Sesaat ia mengingat kegiatan panas yang ia pikir hanya sebuah hayalan itu.
Dan betapa terkejutnya saat dirinya mulai mengingat satu per satu kejadian kejadian yang berputar putar di otaknya itu. Adam merasa begitu bersalah pada Mina karena telah memaksakan kehendaknya pada wanita itu. Meskipun kenyataannya ia melakukan hal itu dalam keadaan tidak sadarkan diri karena mabuk berat.
Di pegangnya tangan Mina dengan erat. Tangan yang lebih kecil dari miliknya serta kasar karena selalu melakukan pekerjaan yang berat dan kasar. Adam membawa buku tangan Mina yang ia genggam itu ke bibirnya dan menciumi telapak tangan wanita itu penuh dengan penyesalan. Berharap ketika wanita itu sadar, ia mau memaafkan kesalahannya dan kebejatannya.
Adam memakaikan celana dalam serta celana panjang milik wanita itu dengan hati hati dan segera menyelimuti tubuh Mina dengan selimut miliknya agar tubuh wanita itu mulai menghangat. Setelah ia juga memakai pakaiannya, Adam langsung masuk ke dalam selimut yang sama dengan Mina. Memeluk penuh possesif di tubuh wanita itu sambil menciumi pucuk kepala Mina dengan derai air mata.
"Sorry..." gumamnya dengan tangannya mengelus surai lembut wanita itu.
Rasa laparnya menguap begitu saja. Di ganti dengan rasa bersalah yang bertubi tubi. Seandainya saja, ia tidak meminum minuman beralkohol dan mabuk berat, tentu saja pikiran waras serta jernih di kepalanya masih menguasainya dengan baik.
Ia menyesali kebodohannya itu dan terus saja memeluk wanita yang ia sakiti serta ia lukai itu dengan erat. Berharap tidak terjadi apa apa pada wanita itu. Ia ingin menghubungi asistennya untuk memanggil dokter. Tapi tentu saja ia harus menghadapi semuanya dengan segala konsekuensinya.
Adam begitu bingung akan hal itu. Di satu sisi, ia takut Mina kenapa napa. Di sisi lain, jika dokter melakukan visum, pastilah dirinya akan terjerat hukum karena walau bagaimanapun, ketika Mina sadar, wanita itu dengan mudahnya mengatakan jika dirinya di perkosa.
Adam merasakan Mina menggigil. Tubuh Mina yang semula dingin, menjadi panas. Wanita itu gemetaran dengan menggumamkan sesuatu yang sangat menyesakan serta menghujam dada Adam bertubi tubi. Adam begitu menyesal telah memaksakan kehendaknya pada maidnya itu. Mungkin wanita itu akan merasakan yang trauma berkepanjangan kedepannya meskipun ia pernah melakukannya dengan suaminya.
Karena tentu saja mungkin suaminya itu melakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Tidak seperti dirinya, yang bersikap kasar dan memaksa. Adam begitu tegang saat wanita itu menjerit dalam tidurnya, minta di lepaskan dan meminta untuk berhenti.
Tbuh Mina semakin panas karena demam. Ia tau, jika Mina terus saja di biarkan, nyawanya akan dalam bahaya. Adam dengan segera mengambil ponselnya yang ia letakan di nakas. Hendak meminta Stanly untuk memanggil dokter. Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya saat ini. Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab pikirnya.
Saat Adam akan menghubungi asistennya, bel pintu apartemennya berbunyi.
Ting... tong...
Adam bingung dengan siapa yang datang. Jika asistennya, biasanya pria itu langsung saja masuk, tanpa menekan bel. Adam begitu penasaran dan langsung keluar dari kamarnya berjalan menuju pintu itu tanpa melihat layar monitor dahulu dan langsung membuka pintu itu dengan cepat.
"Kak..." ucap suara pria di depannya.
"Al... kau..." suara Adam tercekat di tenggorokan, sangat sulit untuk keluar.
Alan membelalakan matanya saat melihat luka di pelipis Adam.
"Kak... apa yang terjadi...??? Dan siapa yang melukaimu kak...???" tanya Allan dengan kawatir dan langsung menghampiri sang kakak dan memegangi luka pria itu.
"Tidak Al... ini bukan ulah siapa siapa... aku hanya kurang hati hati dan menabrak pintu..." jawab Adam tidak ingin adiknya kawatir.
Allan menatap raut wajah kakaknya yang kurang baik, seaakan sedang tegang menghadapi sesuatu.
"Kak... apa terjadi sesuatu...???" tanya Allan lagi.
"Tidak... Al... tidak terjadi ses-"
"KUMOHONN... LEPASKAN SAYA...."kata kata Adam berhenti ketika Mina berteriak dari dalam kamar miliknya minta di lepaskan.
Allan yang penasaran langsung menghampiri ruangan yang menjadi asal suara seorang wanita. Allan menatap iba seorang wanita yang tengah berbaring di ranjang dengan mata sembam serta mulutnya bengkak. Allan menggeleng tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seketika, ia langsung menghampiri wanita itu untuk memeriksa keadaannya.
"Kak... siapa wanita ini...???" tanya Allan dengan menyentuh dahi wanita itu.
"Apa yang terjadi... kenapa dia seperti ini...???" Allan memberondong sang kakak dengan pertanyaan yang bertubi tubi.
Adam hanya diam sambil menatap wanita itu dengan tatapan bersalahnya.
Allan melihat pecahan botol kaca berserakan di lantai. Ia cukup tau, mungkin telah terjadi sesuatu di antara mereka.
"Kak... jawablah...!!!" suara Allan meninggi.
Adam menghampiri adiknya dengan langkah gontai dan berlutut di hadapan sang adik dengan wajah tertunduk.
"Al... kumohon selamatkan dia....!!!" ucap Adam memohon.