My Maid And I

My Maid And I
Part 48. My Maid and I



Setelah motor milik Yuni yang mogok itu hidup kembali, Jono langsung pamit untuk pulang karena ia harus memberi makan kambingnya setelah sampai di depan halaman rumah Yuni yang memang sejalan arah pulang dengan rumahnya. Ia menolak ajakan sahabat istrinya itu untuk mampir sebentar sekedar ngopi atau minum teh.


Jono langsung saja menancapkan gas motornya dan berlalu meninggalkan halaman rumah Yuni. Yuni hanya tersenyum menatap kepergian suami dari sahabatnya itu. Ada rasa aneh yang timbul dalam dirinya, namun ia tepis agar segera pergi jauh jauh dari pikirannya. Mengingat pria tadi adalah suami sahabatnya.


Yuni menggelengkan kepalanya dan mulai memasuki rumahnya.


Jono sudah sampai di halaman rumahnya dan langsung menuju halaman belakang rumahnya untuk memberi makan kambing kambingnya itu. Ia tidak menyangka bahwa 1 jam lebih ia membetulkan motor milik Yuni sahabat istrinya itu dan baru bisa kembali, setelah motor wanita itu sudah tidak mogok lagi.


Jono menatap kambing kambingnya itu dengan seksama. Ia mengingat dulu kambing kambing ini adalah hasil dari perjuangannya dan Mina yang selalu bekerja sama. Ia bahagia telah di pertemukan dan dijodohkan dengan Mina untuk menjadi ibu dari anak anaknya, meskipun wanita itu dulunya sangat tomboy dan tidak pernah mempermasalahkan penampilannya, serta membuat sang ibu sulit merestui hubungan mereka, tapi hari ini, ia begitu bahagia saat ibunya memberinya restu dari dalam lubuk hatinya untuk selalu bersama Mina.


Ia memasuki rumah yang kini sepi tanpa kehadiran istri dan anak anaknya itu. Ia merindukan moment moment kebersamaannya dengan sang istri. Canda tawa dan senyum bahagia istri serta anak anaknya yang entah kapan akan terulang lagi.


Ia merebahkan tubuhnya di kasur sederhana yang Mina beli sewaktu akan ijab qobul. Dari uang yang ia beri sebagai mahar. Ia bahagia dengan kesederhanaan hidupnya. Dengan kehadiran istrinya di hidupnya yang jauh dari kata mewah.


Jono mulai memejamkan matanya dan terlelap begitu saja terhanyut ke dalam alam mimpi.


-----------


Hari hari Jono di lalui dengan rutinitas biasanya. Bekerja sebagai kepala cabang sebuah toko material membuatnya lebih memiliki uang yang cukup di banding ketika membawa truk umplung dulu. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja dan sesekali mengunjungi putranya yang berada di sebuah pondok pesantren di kota.


Suatu hari, ia tidak sengaja mampir di sebuah warung makan 24 jam yang ada di pinggir jalan. Setelah mengunjungi putranya Eko di pondok pesantren. Karena hujan ia mampir untuk sekedar meminum kopi agar menghangatkan badannya dari hujan yang tengah melanda.


"Mau pesan apa Mas..." seru seorang pelayan.


Jono memalingkan matanya, ia menatap sang pelayang dengan kaget. Ternyata dia adalah Yuni. "Yun... jadi kamu kerja disini ya...???" tanya Jono pada Yuni.


"Loh... mas Jono... kok disini...??? tumben ke kota... memang dari mana...???" tanya Yuni dengan senyum di wajahnya.


"Oh... aku dari pondok pesantren tadi... jengukin Eko... sekalian bayar bulanan sekolahnya dia....!!!" jawab Jono.


"Ya... gitu lah... mas... sekarang aku kerja disini... ngomong ngomong, mau pesen apa nih...???" tanya Yuni sambil membawa menu.


"Kopi sama nasi campur aja lah..." jawab Jono.


"Kopi sama nasi campur..." gumam Yuni, sambil menuliskan di kertas.


"Eh... kopinya pake susu apa kopi hitam...???" tanya nya lagi.


"Kopi hitam aja..." jawab Jono.


"Oke... di tunggu ya.. Mas...!?!!" kata Yuni sambil berlalu masuk ke dalam.


Setelah membayar di kasir, Jono langsung bergegas ke parkiran mencari sepeda motornya untuk pulang. Di pintu keluar, ia berpapasan lagi dengan Yuni.


"Yun... belum mau pulang...???" tanya Jono.


"Belum... mas... ni masih nanggung banyak kerjaan... nanti bentar lagi kalau udah ada ganti sif malam...." kata Yuni.


"Oh... kalau begitu, aku duluan ya...!!!" kata Jono sambil tersenyum.


"Oh... iya... hati hati di jalan ya... Mas Jono... kapan kapan mampir lagi kesini...!!!" seru Yuni sambil tersenyum.


Jono yang sudah menggunakan helm nya mengangguk sambil tersenyum kemudian menaiki motornya dan berlalu meninggalkan rumah makan yang menjadi tempat kerja Yuni sahabat istrinya itu.


"Stt... stt... siapa...???" tanya salah satu teman Yuni yang memang kepo dan biang gosip.


"Bukan siapa siapa kok...!!!" jawab Yuni sambil berlalu meninggalkan temannya itu.


"Ah... masa... kok kayak deket... gitu...??? Pacarnya... ya...???" goda temannya itu yang bernama Wiwik.


"Hus... ngawur kamu... dia itu, suaminya sahabatku yang lagi kerja di luar negeri... jangan punya pikiran aneh aneh lah kamu...!!!" kata Yuni berbalik menatap kepada temannya itu.


"Eh... luar negeri ya... wah... kesempatan dong... dia kan lagi sendirian, jarang di pake itu kerisnya... pasti udah karatan itu keris pengen di asah..." cerocos teman Yuni yang memang suka asal kalau ngomong dan juga blak blakan.


"Kamu itu, nggak usah ngawur... lah... dia itu setia sama istrinya, mana mungkin dia mau sama sembarang orang... emang kamu..." sindir Yuni pada temannya itu.


"Ya.. elah... Yuni... Yuni... justru orang yang lagi di tinggal istrinya itu yang sudah pasti memendam hasrat... enggak kayak duda yang emang nggak perlu mikirin nanti gimana perasaan pasangannya...nah kalau dia, pasti udah ingin, takut ketahuan saudara istri terus di laporin ke istrinya... kan pusing..." cerocosnya lagi.


"Kayaknya dia nggak kaya gitu deh...!!!" tepis Yuni.


"Lah... emang dia suami mu... dia kan suami sahabat mu... emang kamu tau sifatnya...??? Enggak kan...??? Coba aja Yun... kamu goda... kan lumayan... siapa tau dia tergoda, kan lumayan dapat uang dari dia, kalau bisa porotin terus duitnya, terus... suruh itu istrinya kerja... terus... di luar negeri... biar kamu dapat enaknya, dapat uangnya... kan lumayan, kamu nggak usah capek capek kerja sampai malam..." hasut Wiwik.


"Kamu itu gila ya... Wik.... masa aku tikung teman sendiri... kamu itu udah edan kali wik..." Yuni memarahi teman sepekerjaannya yang bernama Wiwik itu.


"Nggak ada salahnya... Yun... kita pingin hidup mapan dan enak ngorbanin teman sendiri...!!!" seru Wiwik yang merasa geram pada Yuni karena tidak bisa di hasut dengan baik.


Yuni menepis jauh-jauh pikiran-pikiran yang mulai masuk ke dalam otaknya. Ia terus berusaha untuk tidak menanggapi ide dari temannya itu. Ia begitu geram dengan mantan suaminya yang selingkuh dengan salah satu temannya. Ia akan sama saja dengan wanita yang di nikahi mantan suaminya itu, jika ia menggoda Mas Jono, suami Mina yang memang adalah sahabat baiknya itu. Tentu saja, Mina sudah ia anggap selayaknya saudara sendiri.


'Ya... Allah... lindungi hati hamba dari segala godaan godaan yang mulai meracuni pikiran hambamu ini...' batin Yuni penuh harap.