
"Akhirnya, selesai juga". gumam mina pelan. Setelah menata gelas terahir di dalam lemari dapur, ia kembali memeriksa ruangan lain yang mungkin masih ada yang tertinggal. Ya mungkin sampah sampah kecil yang di sebabkan oleh teman teman tuanya semalam.
Pesta malam tahun baru yang di adakan tepat di apartemen tuannya ini. Meskipun hanya dihadiri kurang dari 10 orang , tapi ruangan di apartemen ini sempat berantakan melebihi kapal pecah. Entahlah, mungkin pukul 3 mereka bubar pergi satu persatu kembali ke kediaman masing masing yang entah dimana. Karena yang ia tau bahwa semalam suntuk ia kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Tuannya pun memasuki kamar tidurnya setelah mereka kembali. Sebenarnya tuanya itu sudah menyuruhnya untuk istirahat terlebih dahulu dan kekacauan yang mereka buat bisa di kerjakan esok hari.
Tapi mina lebih memilih untuk menerjakannya hingga selesai kemudian istirahat. Karena keasikan melamun mina tanpa sadar mendapati jam di dinding ruang keluarga sudah menunjukan pukul 6 pagi waktu SINGAPURA. "Ah, sudah pagi rupanya". mina menghela napas lega.
Tapi matahari belum menampakan wujudnya pikir mina. Tidak habis pikir saja. Rumah yang lebih mirip kapal pecah itu sekarang sudah kembali ke bentuk asalnya.
Dan semua itu ia yang mengerjakannya. Sambil menggelengkan kepalanya mina berjalan menuju ruangan tepat di sebelah dapur dan tempat cuci pakaian. Yang ia sebut sebagai kamar. Ya kamar tidurnya di tempat ini.
'Semoga di tahun baru ini di beri kesehatan keselamatan umur panjang rezeki yang banyak dan keluargaku bahagia amin'.
Setelah melapalkan doa mina merebahkan tubuhnya di atas kasur yang begitu ia rindukan. Rasa lelah serta kantuk mulai merenggut kesadarannya dan ia terlelap begitu saja.
Adam Christian Johanson pov
Matahari berpendar silaunya menembus jendela kamar Apartmenku. Aku mengerjapkan mataku, mulutku mengerang karena silaunya cahaya matahari menembus indera penglihatanku. Tangan kiriku menahan sinar matahari agar tidak lagi menyilaukan mataku. Aku terduduk setelah aku meraih kesadaranku. Dan mencari hand phoneku yang aku letakan di atas nakas untuk menilik jam, tanpa sengaja aku menyenggol gelas diatas nakas yang berdampingan dengan hand phone yang berisi air minum dan menumpahkannya ke karpet .
Utung saja air itu tidak membasahi hand phoneku. Aku membuka layar sentuh hand phoneku dan ternyata am sudah menunjukan pukul 10.00 pagi, yang hampir menuju siang pikirku. Cacing cacing dalam perutku pun sudah meronta ronta meminta makan.
Setelah membersihkan diri aku keluar mencari maid bermaksud untuk menyuruhnya membuatkanku sarapan. Tapi aku tidak mendapati dirinya di ruang manapun.
Lalu tiba tiba aku berhenti sejenak. Aku memandangi seluruh ruangan sudah kembali ke bentuk asalnya, bukan lagi tempat yang terporak poranda seperti semalam. Seakan pesta malam tahun baru hanya sebuah ilusi ataupun mimpi.
Aku benar benar merasa takjub. Apartment ku yang cukup luas ini telah bersih rapi dan wangi tanpa sisa sisa bau dari asap panggangan barbeque semalam. Tapi dimana dia... ah, maksudku maidku itu.
'Aku benar benar lapar'. pikirku. Mungkin dia sedang istirahat. Lebih baik aku membuat sarapan sendiri.
Ternyata di atas meja hanya ada roti tawar dan juga selai saja tak ada yang lain bahkan buah pun sudah habis semalam. Biarlah. Untuk sementara aku melahap beberapa helai roti untuk mengganjal perutku.
Aku kembali ke kamarku memeriksa pekerjaan yang ada dalam laptopku. Ada beberapa hal yang harus ku urus dan membutuhkan berkas berkas yang aku simpan dalam rak buku.
Aku mengabil map berwarna biru dan tanpa sengaja aku menjatuhkan map bertuliskan L*B**R EX****S EMPLOYMENT pte. ltd.
Ah, ya ini adalah tempat dimana aku merekrut maidku. Beberapa bulan yang lalu. Kalau tidak salah sekitar 3-4 bulan yang lalu.
Aku tidak begitu memperhatikan seluk beluk dan asal maidku. Aku menyerahkan setiap urusan yang tidak bersangkutan dengan urusan kantor kepada asistent pribadiku Stanly. Ternyata wanita berperawakan sedikit gempal dan berkulit sawo matang itu bernama SARMINA dengan tinggi 157 cm dan berat badan 67 kg. Berasal dari INDONESIA. Entahlah aku tidak tau dimana ia tinggal. Dan meskipun alamat wanita itu tertulis jelas juga terpampang disana di atas kertas yang sedang ku baca saat ini.
Dia seorang ibu untuk 2 anaknya. Istri dari seorang pria bernama Jono Raharjo. Entahlah, bagiku itu nama nama yang asing.
Aku tidak menyangka dan baru menyadari setelah membaca detail kontrak dan juga biodata wanita itu bahwa umurnya baru menginjak 28 tahun . Karena tertulis disana bahwa dia terlahir pada tahun 90 an. Aku hanya mengira umurnya sudah hampir 35 an. Dilihat dari segi fisiknya yang gemuk dan juga kulitnya yang kusam coklat akibat terpapar sinar matahari terlihat menua. Dibandingkan dengan umurku yang baru 37 tahun, aku terlihat lebih muda darinya. Mungkin karena masalah dan beban hidup seseorang bisa membuat orang itu terlihat menua sebelum saatnya. Tapi aku cukup memahami bahwa sikapnya dewasa bukan menua.
Adam pov end
Mina terbangun pukul 12 siang. Dengan wajah panik ia segera pergi ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi(maksudnya kaos oblong dan celana pendek sebetis) mina keluar kamarnya untuk membuat secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Buat kan secangkir juga untuku". suara itu terdengar dari ruang tengah.
" Baik, mr". jawab mina lirih. ' Oh... tidak' batin mina. Bahkan tuannya sudah terbangun lebih awal. mina mengernyitkan dahi menahan malu. Karna bangun kesiangan.
"Ini kopinya mr". mina menyerahkan secangkir kopi didepan tempat sang tuan duduk. "Ya, terima kasih mina" jawab pria itu.
"Um, itu mr. anu..." sambil menundukan kepala dan tangannya gemetar meremas ujung kaosnya mina berbicara terbata. Takut.
"Ya, mina bicaralah dan jangan bertele- tele aku tidak suka". jawab tuanya itu. karena Melihat raut ketakutan di wajah mina membuatnya heran. Apakah kata katanya terlalu kasar. Hei bung bukankah kamu sering bicara kasar padanya hem... jawab hati kecilnya... Hanya saja gerangan apa yang membuatnya takut saat ini ataukah ia membuat kesalahan pikir pria itu.
"Saya minta maaf mr". mina memulai. Dengan sedikit gemetar ia melanjutkan. " Karena saya bangun kesiangan". mina berbicara sambil menundukan kepalanya.
Pria itu tersenyum karena ia pikir bahwa maidnya itu telah melakukan kesalahan besar. Dia tidak mengira, hanya karena bangun kesiangan saja sudah membuat wanita itu tertunduk takut.
'Waow... apa ini tidak salah' sambil mengerjap ngerjapkan matanya mina keheranan karena baru pertama kali melihat tuanya itu tersenyum.
"Sekali lagi saya minta maaf mr dan terima kasih . Saya permisi ke dapur untuk membuat makan siang anda". ungkap mina dan berlalu ke dapur.
Meskipun tidak ada kemarahan seperti sebelumnya di wajah tuannya itu, Tapi nada bicaranya tadi yang membuat mina masih merasa tidak enak hati. Pasalnya walau bagaimanapun ia di gaji di beri makan dan tempat bekerja bahkan tempat untuknya tidurpun lebih dari kata nyaman untuk dirinya.
Beberapa hari yang lalu tuannya masih bersikap dingin acuh tak acuh. Tidak ada senyum dan juga sering marah marah. Entah gerangan apa yang telah membuatnya sedikit berubah. Bahkan kemarin malam di saat pesta berlangsung ia lebih banyak memerintah.
Entahlah, sambil menghela napas pelan ia mengenyahkan segala keburukan tentang tuannya. Walau bagaimanapun orang itu yang telah mempekerjakan dirinya dan menggajinya.
Asalkan tidak ada kekerasan fisik baginya sudah cukup. Walau hari hari yang dilalui sangat melelahkan.
"Mina, kamu tidak perlu memasak untuk makan siangku" kata pria itu dari tempat ia duduk.
"Aku akan menghadiri jamuan makan siang dari salah satu temanku. Jadi masaklah untuk kamu makan saja". ia berbicara sambil melihat koran yang ada dihadapannya.
"Baiklah Mr". jawab mina. Dari balik penyekat di antara dapur dan meja makan.
"Mina, kemarilah dan duduklah disini sebentar, aku ingin bicara padamu" kata pria itu sambil menunjuk kursi di sebelah meja yang berhadapan dengannya.
"Ada apa Mr" jawab mina seraya mendaratkan pantatnya di kursi yang dimaksud tuannya itu.
"Ngomong ngomong sudah berapa bulan kamu bekerja disini" pria itu memulai.
"Mmm... hampir 4 bulan Mr" jawab wanita itu.
"Apa kau betah bekerja disini" tanya pria itu lagi.
"Ya... Mr... saya mulai terbiasa dengan pekerjaan dan rutinitas disini" jawab mina jujur. Walaupun tidak dapat menyangkal bahwa ia merindukan keluarganya di INDONESIA.
Ada sedikit keraguan di wajah mina untuk mengatakan keinginannya. Namun mina harus mengungkapkannya demi menuntaskan kerinduannya kepada keluarga di INDONESIA.
"Um, anu mr maaf apakah saya boleh membeli hand phone apabila saya telah melewati masa potongan saya Mr" ijin mina.
"Saya ingin menghubungi keluarga saya di INDONESIA, karena sudah 4 bulan lebih semenjak saya datang ke negara ini dan belum sekalipun mengabari keluarga saya bahwa saya baik baik saja." kata mina panjan lebar.
"Boleh saja... tapi berapa lama masa potongan kamu mina?". pria itu balik bertanya.
"Kira kira masih 2 bulan lagi Mr" jawab mina sambil memasang wajah sedihnya. Memang benar benar sedih pikir wanita itu.
Wah ...wah ...wah
Pikir pria itu sambil menggelengkan kepala tak percaya. Bahkan ia saja tak mampu berpisah dengan benda pipih itu untuk waktu yang hanya sebentar saja. Bagaimana bisa manusia di depannya ini mampu. Sungguh tak percaya sama sekali...
"Apakah kau benar benar tak membawa benda pipih ini di sini" tanya Adam pada maidnya ini sambil menunjuk hand phone nya yang tergeletak di atas meja.
"Tidak Mr... tidak sama sekali" jawab mina pelan.
"Jadi kau berbicara pada siapa sewaktu kau berbicara dengan bahasa negaramu itu" tanya pria itu sedikit curiga.
"Saya tidak pernah mengobrol ataupun berbicara dengan siapapun disini Mr. Mungkin yang anda maksud adalah sewaktu saya bersenandung. Maafkan saya. saya tidak akan mengulangi lagi. Anda bisa mengecek kamar saya apabila anda tidak percaya kepada saya" jawab mina panjang lebar.
"ok... aku percaya" jawab adam sambil menengadahkan kepalanya menatap langit langit ruangan.
Adam menghela napasnya dan menyesap kopi yang terakhir. "Baiklah mina, mungkin lain kali kita bisa mengobrol lagi di lain waktu. Aku harus segera bersiap siap untuk menghadiri jamuan makan siang. Bersihkan kamarku setelah aku pergi" kata pria itu sabil beranjak dari kursinya.
" Baiklah Mr" jawab mina pelan. Membersihkan cangkir tuanya dan berjalan menuju tempat cuci piring.