
Tok... tok... tok...
Mina mengetuk pintu kamar sang tuan. Mina berdiri di depan pintu dengan 1 tangan ia masukan kedalam saku celananya dan yang satunya sedang memegang ponselnya, ia sedang membalas chat dari suaminya.
Ceklek...
"Ada apa Mina...??" tanya sang tuan.
"Makan malam anda sudah siap Mr...!!" kata Mina tanpa menatap tuannya dan segera berlalu kembali ke dapur. Tanpa menghiraukan sang tuan yang mengikutinya di belakang.
Adam menatap punggung maidnya itu dengan seksama sambil berjalan mengikuti wanita itu menuju ruang makan dan segera mendaratkan pantatnya di kursi. Mina langsung menghampiri tuannya untuk melayani kebutuhan makan pria itu, serta menemaninya makan malam seperti biasanya.
Tidak ada percakapan di ruang makan tersebut seperti hari hari biasanya. Tidak ada hal mereka bicarakan. Untuk sekedar bertanya mengenai keadaan masing masing pun, tidak mereka lakukan. Hanya keheningan yang tercipta, meskipun setahun lebih mereka tinggal bersama sebagai tuan dan pelayannya.
Mina melahap makanannya dengan cepat. Ia tidak ingin berlama lama dengan orang yang membuat emosi serta moodnya itu naik turun. Meski pria itu adalah tuannya, ia tetap tidak habis pikir dengan ide konyolnya tadi. Sesekali Mina melirik sekilas wajah tuannya itu. Pria bule yang sebenarnya sangat tampan nan rupawan itu kadang kadang bersikap dingin dan bersikap hangat. Membuatnya begitu bingung dengan sikap pria itu. Seakan remaja yang labil.
Sementara Adam juga sesekali menatap Mina sambil menikmati makanannya. Melihat Mina makan dengan cepat, membuatnya berasumsi bahwa wanita itu tengah marah padanya. Dan hal itu memicu pikiran buruk di dalam otaknya.
'Apakah dia benar benar marah dengan ideku tadi...? Hah... biarlah... aku tidak peduli...' batin Adam. Pria itu memakan habis pork cop steaknya (bistik daging babi) sampai bersih tidak tersisa. 'Dia sudah cukup mahir memasak... makanan yang iya masak juga lebih baik dari sebelumnya... tingkat kematangan serta teksturnya juga pas...' batinnya memuji.
Mina juga telah selesai memakan makanannya. Untuk dirinya ia memasak bistik daging ayam. Karena ia memang tidak di perbolehkan makan pork ( daging babi). Selain daging ayam dan hasil laut, Mina memang tidak suka makan daging.
Mina beranjak dari kursinya, ia membereskan piring kotor miliknya sekaligus milik tuannya. Seperti biasa, setelah makan malam Adam akan duduk di ruang tengah dengan menikmati buah ataupun kopi. Tergantung keinginannya.
Mina duduk memunggungi tuannya di kursi ruang makan yang bersebelahan langsung dengan ruang tengah di mana sang tuan sedang menonton sebuah acara di televisi swasta. Sesekali, Adam juga melirik Mina yang tengah asik memainkan ponselnya, setelah meletakan secangkir kopi dan camilan yang dapat menemaninya menonton televisi.
Adam sudah jarang mendengarkan obrolan maidnya dengan sang suami melalui sadapan di ponselnya. Hanya sesekali jika ada waktu luang saja. Karena, selalu saja hal hal sama yang Mina bahas dengan sang suami.
Adam begitu takjub pada wanita yang sedang memunggunginya itu. Terbuat dari apa sebenarnya pikiran serta tubuhnya itu. Bagaimana bisa, bertahun lamanya ia bertahan dan betah tidak disentuh oleh seorang pria. Adam lebih memikirkan hal konyol itu dari pada menonton acara televisinya.
Ia menggeleng cepat. Bukankah dirinya juga begitu konyol, hampir 6 tahun juga dirinya tidak menyentuh wanita. Bahkan merasa bahwa tidak ada yang sepadan dengan Sarah menurutnya. Meskipun dengan seorang Angel di sebuah Fashion Show seperti Jane sekalipun.
Belum ada 1 wanita pun yang dapat menggantikan posisi Sarah, mendiang istrinya itu dari dalam hatinya. Adam menghela nafasnya pelan. Mengingat tentang Sarah, ia cukup untuk tidak memikirkan masalah percintaan dengan wanita lain. Hanya mendiang istrinya saja yang menjadi nomor satu.
Adam menatap jam di dinding menunjukan pukul 22:00. Sudah cukup malam untuk maidnya serta dirinya harus beristirahat di kamar masing masing. Adam beranjak dari sofanya, mematikan televisinya, serta membawa cangkir kotornya ke kitchen sink. Ia beranjak dari dapur dengan membawa segelas air putih.
"Istirahatlah... Mina...!!!" perintah Adam pada maidnya.
"Hmmm... selamat malam...!!" jawabnya.
Mina beranjak dari kursi yang ia duduki itu dan berjalan menuju kamarnya. Adam menatap punggung wanita yang selama hampir 2 tahun tinggal bersamanya itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia menyadari, bahwa wanita itu hidup disini hanya berputar putar dengan kesehariannya saja tanpa mengeluh. Mungkin jika dirinya, ia akan merasa bosan dan ingin mencari kesenangan sesekali.
Tapi, dari hasil intaian orang yang menjadi suruhannya itu, ia tidak pernah sekalipun bersenang senang mencari hiburan di manapun. Bahkan saat dirinya melakukan perjalanan bisnis ke manca negara selama beberapa minggu, ia tetap tidak sekalipun pergi mencari kesenangan. Hanya berada di dalam apartemennya dengan melakukan tugasnya sebagai maid.
Bisa di katakan orang yang cukup langka. Adam tersenyum sekilas dan berbalik menuju kamarnya sendiri, setelah maidnya masuk kedalam pintu ruang tidurnya. Wanita itu selalu menemani dirinya duduk meskipun dengan memunggunginya dan tidak pernah mengobrol bersama ataupun menonton televisi bersama.
Mina selalu tidur ketika Adam sudah masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Itu sebagai rasa hormatnya pada sang tuan rumah.
-----------
Seperti biasa, rutinitasnya setiap pagi tidak pernah ia lupakan. Kesehariannya selama hampir 2 tahun mengabdi pada sang tuan, telah membuatnya terbiasa. Mina telah menyiapkan sarapan milik tuannya, asisten Stanly, serta miliknya.
Adam sang tuan baru keluar dari sarangnya menggunakan pakaian kantornya. Seperti biasa, ia selalu tepat waktu dan sudah terlihat rapi. Memang ketampanannya bisa membuat kaum hawa menjerit histeris dan berkata ia pria yang sempurna. Pria yang bak dewa dewa yunani kuno itu, memanglah sangat tampan dan rupawan.
Namun, bagi seorang Mina yang notabene hanya pembantu, ia hanya mengagumi saja. Selain pria itu adalah tuannya, ia juga telah memiliki pasangan sendiri. Dan ia cukup tau diri dimana posisinya sebagai apa disini.
"Good morning Mr... !!!" sapanya datar.
"Hmm... morning....!!!" balasnya tak kalah dingin.
Mereka telah bersiap untuk menyantap sarapannya di meja. Namun terhenti sesaat ketika ada seseorang membuka pintu utama masuk. Terlihat Stanly sang asisten telah datang dan akan bergabung dengan Adam dan Mina untuk sarapan.
Adam tercekat saat seseorang di belakang asistenya itu tengah berjalan menghampiri mereka dengan senyuman merekahnya itu.
"Good morning everybody..." sapanya sambil tersenyum dan duduk di salah satu kursi kosong di antara Adam dan Mina. Wanita itu menatap sendu wajah Adam yang semakin berumur semakin tampan. Sesekali ia melirik wanita yang di katakan Adam bahwa dia itu kekasihnya yang tengah menikmati sarapannya tanpa memedulikan kehadirannya.
Jane menyeringai, ada raut kemenangan di wajahnya, mengira wanita itu tengah bertengkar dengan Adam, karena mereka duduk berjauhan. Itu menjadikan dirinya lebih bersemangat untuk memisahkan mereka.
'Kita lihat saja wanita sialan, seberapa lama kau akan kuat berada di sisi Adam ku...' batinya.
Sementara Adam, Stanly dan Mina menikmati sarapan mereka dengan santai tanpa memperdulikan kehadiran Jane