
Senja menjelang. Adam bergegas untuk kembali ke apartemennya dan membawa sebagian Map yang belum sempat ia pelajari di kantor dan akan ia kerjakan di rumah.
Sesampainya di dalam apartemen nya, ia mendapati ruangan masih gelap dan sepi. Seakan tidak ada kehidupan disana. Ia menyalakan lampu dan melihat sekelilingnya. Mina, maksudnya maidnya itu kemana...??? Apakah pergi keluar tanpa pamit. Adam langsung menuju kamarnya dan mandi.
Stanly datang dengan membawa paper bag berisi kotak makan siang yang tadi siang ia bawa. Ia berjalan sedikit jauh dari Adam dan masuk beberapa menit setelahnya. Ia bermaksud untuk membawanya ke dapur. Namun belum sampai di sana, ia di kejutkan dengan sesosok perempuan yang terbaring di lantai.
Stanly histeris dan berteriak kalang kabut memanggil sang Boss yang tengah berada di dalam kamarnya.
"BOSSSS....!!!!"
"BOSSSSS....!!!!"
Teriak pria itu sambil menggedor gedor pintu kamar Boss nya. Adam yang baru saja selesai berpakaian langsung menghampiri asistennya itu dan ingin memarahinya karena, ia sudah membuat kegaduhan di rumahnya.
"Tak bisakah kau sopan di rumahku Stan..!!! Berteriak seperti di dalam hutan saja.... apa kau ingin aku mendapat komplen dari tetanggaku...???" ucao Adam dalam nada yang tinggi.
"Maaf... Boss... tapi ini darurat. Mina tergeletak di lantai...!!!" Stanly menjelaskan.
"Di mana...???" Adam bertanya sembari mencari dimana Mina berada.
Mendapati maidnya itu tebaring di lantai, ia menepuk nepuk tubuhnya dan memintanya untuk bangun. Tapi , nihil wanita itu lemas di lantai dan terbaring dingin disana. Masih ada denyut di tangannya. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tubuh Mina dengan cepat dan membawanya ke kamar wanita itu.
Adam membaringkan tubuh Mina di ranjang dan menyelimutinya dengan pelan. Di pegangnya kening maidnya itu dan merasakan bahwa wanita itu tengah demam. Setelah memerintah Stanly untuk menghubungi dokter, ia keluar dari kamar Mina dan mulai berkutat di dapur membuatkan bubur untuk wanita itu.
Setelah menelpon dokter untuk datang, Stanly duduk di kursi ruang makan. Melihat apa yang ada di meja makan adalah makanan yang sama persis seperti makanan yang di lahap habis sang Boss tadi, ia mulai mencicipinya. Dan kebetulan, makanannya masih terpisah pisah. Mina hanya sebagian memakannya dan tidak mencampur sausnya.
Stanly dengan lahap memakan makakanan yang ada di meja sampai habis meskipun sudah mendingin. Adam yang tengah berada di dapur, menatap asistennya itu dengan tatapan datarnya. Seperti biasa.
Bubur yang dimasak Adam sudah matang. Adam mematikan kompornya dan mengambil mangkuk untuk menuang buburnya dan menunggu bubur itu menghangat.
Dokter yang tadi Stanly panggil juga sudah datang saat ini tengah memeriksa Mina di dalam kamarnya. Dokter yang biasa menangani dirinya dan Stanly ketika sakit itu adalah salah satu Dokter yang ada di sebuah rumah sakit terkenal di negara itu.
Stanly dengan seksama mendengarkan apa yang di ucapkan dokter pribadi Boss nya itu.
"Dia mengalami guncangan pikiran yang berat. Jika berkelanjutan, ia akan depresi. Apa Mr Johanson sering memarahinya? Atau ia punya masalah yang lain...? Sebaiknya, ia benar benar mengistirahatkan tubuh serta otaknya beberapa hari. Wanita ini tidak akan kuat jika pikirannya terguncang. Bisa memicu melemahnya jantung dan membuatnya pingsan begitu saja seperti saat ini. Untung saja masih sempat terselamatkan. Mungkin, jika ia tidak tertolong beberapa jam lagi, ia akan tinggal nama saja. Sebaiknya, ia tidak melakukan aktifitasnya dahulu. Biarkan ia istirahat..." kata sang Dokter pada Stanly panjang lebar.
"Berikan obat yang sudah aku resepkan itu, 1 hari 3 ×. Dan harus memakan sesuatu yang lembut dahulu seperti bubur misalnya. Setelah cairan infus itu habis, ia akan tersadar. Ingat, jangan menanyakan beberapa hal yang dapat membuat pikirannya kembali terguncang. Meskipun fisiknya kuat, tapi pikiran serta hatinya sangat lemah untuk saat ini..."
Setelah Dokter perempuan tadi berpamitan, ia menghampiri sang Boss. Dan memberi tahukan apa saja yang telah di sampaikan oleh Dokter itu padanya.
Adam mengangguk tanda mengerti dengan apa yang di sampaikan asistennya itu. Stanly berpamitan pada Adam, ia akan kembali dahulu ke apartemennya untuk mandi dan akan kembali nanti. Tapi Adam meminta asistennya itu untuk beristirahat saja. Untuk masalah Mina, ia yang akan mengurusinya. Walau bagaimanapun, ia adalah majikan yang harus bertanggung jawab pada apapun kondisi yang sedang di alami pelayannya.
Pukul 21: 35 pm, Mina tersadar. Ia menatap nanar sekelilingnya. Matahari sudah tidak lagi memancarkan sinarnya, telah tergantikan dengan gelapnya malam yang pekat. Ia sudah terbaring di ranjangnya. Seingatnya, ia tengah memakan makan siangnya tadi kemudian, ia terjatuh tak sadarkan diri.
'Apa yang terjadi...?' batin Mina.
Ketika ia akan bangun dan beranjak dari rebahannya, ia tersentak kaget karena pergelangan tangannya ngilu. Tangannya telah terpasang selang infus yang tersalur dari sisi atas ranjangnya serta isinya hampir habis.
Mina merintih dan berusaha untuk bangkit dari ranjangnya. Membawa infusnya ke dalam kamar mandi yang ada di ruangannya itu.
Mendengar suara gemercik air dari dalam kamar Mina, Adam beranjak dari duduknya dan menghampiri sang maid di dalam sana. Ia tau bahwa wanita itu telah sadar. Mungkin ia membutuhkan sesuatu. Adam melihat wanita yang terlihat begitu lemas itu terhuyung huyung mendekati ranjang. Dengan sigap, ia meraih tangan Mina dan membantunya berjalan menuju ranjang.
"Eh.... Maaf... Mr... saya bisa sendiri kok..." kata Mina pelan merasa tidak nyaman dengan sikap tuannya saat ini.
"Aku hanya membantu..." jawabnya datar.
"Terima kasih... Mr..." ucap Mina pelan. "Dan maaf... telah merepotkan anda..." tambahnya.
." Maka dari itu, jangan sakit...!!!" kata pria itu datar dan ia beranjak keluar dari kamar maidnya itu.
Beberapa saat pria itu kembali dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur tawar yang sudah ia beri irisan sayur serta segelas air putih dan menghampiri Mina yang tengah duduk di ranjangnya.
"Makanlah..." perintah pria itu.
" Saya belum lapar Mr... nanti saya akan memakannya..." jawab Mina.
"Makanlah selagi hangat... kemudian minum obatmu... aku tidak ingin mendengar alasan... aku tidak mau melihatmu terus seperti ini.... cepatlah sehat... aku tidak punya waktu untuk merawatmu...!!!" perintah pria itu sambil bersedekap di depan Mina setelah meletakan nampan yang ia bawa di pangkuan wanita itu.
Mau tidak mau, Mina harus memakannya. Pria itu menunggui dirinya sampai memakan habis bubur yang pria itu bawa. Setelah selesai makan dan meminum obatnya, Mina memberikan nampan yang berisi mangkok serta gelas kotor itu pada tuannya.
"Terima kasih... Mr..." ucap Mina tulus dengan senyuman merekah di wajahnya.
Adam menatap wajah maidnya itu dengan datar seperti biasanya. "Hmm... istirahatlah...!!! " jawabnya singkat dan meninggalkan Mina di sana sendiri.