
Adam dan Mina saat ini berada di dalam jet pribadi milik keluarga Johanson. Adam menatap Mina dengan sendu. Mina tengah tertidur di kamar pribadi milik Adam yang ada di dalam jet itu. Adam tersenyum simpul. Ia begitu bahagia saat ini, karena Mina akan sepenuhnya menjadi miliknya. Ia tidak mengira bahwa maidnya akan ia peristri segera. Dulu ia begitu membenci wanita itu karena gemuk dan kulitnya kecoklatan serta masih rada bodoh dalam hal memasak. Entahlah kenapa saat ini Adam begitu menginginkan wanita itu begitu besar. Adam dan Mina sedang dalam perjalanan menuju pulau Kalimantan. Untuk meminta restu dari orang tua Mina. Adam ikut merebahkan tubuhnya di samping Mina dan ikut terlelap.
Sementara itu, di rumah Bu Ratmi.
Jono mengunjungi rumah ibunya ketika malam hari. Ia memang selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk ibunya pasca oprasi yang di lakukan beberapa minggu yang lalu. Jono menatap putrinya Dwi yang telah tertidur sambil memeluk bukunya. Gadis kecilnya memang sangat hobi membaca. Ia mengusap kepala putrinya pelan kemudian menciumnya sekilas.
Di lihatnya pula, sang ibu yang tertidur di kasur yang ada di ruang tengah. Jono senang karena ia dapat melihat ibunya pulih meskipun bertahap. Meskipun ia harus kehilangan wanita yang ia cintai. Seandainya pun jika Mina kembali dan tidak diperkosa majikannya, ia tetap tidak bisa bersama dengan mantan istrinya itu.
Ia harus bertanggung jawab pada Salimah karena tanpa sadar ia telah menghamili wanita itu karena mabuk berat setelah mendengar kabar Mina keluar dari sebuah hotel dengan seorang pria yang tak lain adalah majikannya. Ia berasumsi buruk pada Mina. Bahwa Mina selalu tidur bersama dengan majikannya itu dan mereka tinggal serumah layaknya suami istri yang berkedok majikan serta pembantunya. Itulah yang selalu ia pikirkan. Apa lagi majikannya itu tampan dan kaya. Itu tentu saja membuatnya begitu berpikiran buruk padanya.
Tapi, mendapat kabar dari pria yang tak lain ialah asisten pribadi dari majikan Mina, dan mendengar penjelasannya. Jono merasa bersalah seharusnya ia mempercayai wanita itu dengan sepenuh hatinya. Ia merasa bersalah pada Mina, karena telah menukar wanita itu dengan uang.
"Mas... sudah datang...?" tanya Joko sang adik yang baru saja keluar dari kamarnya.
"he em..." jawab Jono.
"Oh...ya Mas... Tadi Mba Mina datang berkunjung. Dia menitipkan surat buat kamu dan buku tabungan buat Dwi... Sebentar aku ambil dulu..." ucap Joko sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya lagi.
Beberapa saat kemudian, Joko keluar dengan membawa amplop serta buku tabungan dari Bank BR* di tangannya. Joko menghampiri kakaknya yang tengah duduk menatap Dwi yang sedang tertidur. Joko menyerahkan amplop itu dan segera di terima oleh Jono.
"Bacalah... mungkin itu penting... aku keluar dulu cari angin sama teman di pos ronda..." ucap Joko berpamitan. Jono hanya mengangguk sambil menerima amplop serta buku tabungan itu dari tangan joko.
Jono membuka amplop yang berisikan selembar kertas yang penuh dengan tulisan Mina.
Surat dari Mina.
*Untuk Mas Jono Mantan Suamiku.
*Mas...
Aku tidak mengira bahwa keputusanku untuk pergi ke Singapura dan bekerja di sana untuk mengais rezeki adalah sebuah awal yang menyedihkan untuk kita.
Aku juga tidak mengira jika kita akan berpisah secepat ini. Mungkin dengan kamu membaca surat ini, kamu dapat mengerti isi hatiku yang terdalam.
Selama ini, aku tidak pernah sekalipun menghianatimu. Meskipun di sini banyak sekali godaan agar aku berpaling darimu. Sungguh... Bahkan sampai detik ini, hatiku masih saja menginginkan kamu berada di sisiku.
Aku tidak pernah menyesal menikahimu. Meskipun kamu bukanlah cinta pertamaku. Tetapi, aku mencintaimu dengan tulus. Tidak aku kira cinta ini dan kepercayaan ini hanya sampai disini.
Aku sudah mengambil akta perceraian kita. Aku tidak menyangka, saat ini aku hanyalah wanita buangan. Janda. Aku tidak mengira kamu akan sampai hati membuangku seperti ini.
Mas...
Sungguh...
Aku mencintaimu...
Aku menangis setiap kali mengingat jika kita tidak mungkin bersama lagi...
Tapi, aku juga tidak bisa kembali bersamamu...
Aku tidak bersih dan bukan milikmu lagi...
Aku menyadari, jika jodoh kita mungkin hanya sampai disini...
Tapi satu hal yang harus kamu tau Mas...
Aku tidak pernah sekalipun menghianati kamu, meskipun aku tinggal serumah hanya dengan seorang majikan pria. Aku tau posisiku. Aku juga ingat statusku apa. Aku juga tidak pernah sekalipun mengharapkan derajatku terangkat dengan cara menggoda majikanku. Aku bukan orang seperti itu.
Ku akui, saat ini aku sedang mengandung anak majikanku. Tapi, aku juga tidak mengharapkan itu. Janin ini hadir kerena sebuah pemerkosaan yang di lakukan majikanku terhadapku**.
Mas...
Walaupun kita telah terpisah dan hubungan kita berakhir, tapi kita tetaplah orang tua dari anak anak kita, Eko dan Dwi...
Mas...
Kita jalani hidup kita masing masing. Ini adalah keputusanmu untuk berpisah. Meskipun aku kecewa, tapi apa mau di kata. Aku hanya ikut alur hidup ini saja. Yang menjadikan aku sangat malas menjalaninya, lagi lagi aku harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari sebuah keluarga baru. Aku ingin menangis saja. Setelah aku mendapatkan cinta dari keluargamu, tapi aku tidak bisa lagi betada di sisimu.
Seandainya saja waktu dapat di putar kembali, aku tidak akan pergi bekerja dan meninggalkanmu. Tapi saat ini, layaknya nasi sudah menjadi bubur, tetaplah harus di nikmati agar membuat kita kenyang. Aku hanya berpikir, mungkin tidak ada salahnya menikmati bubur.
Mas...
Ini buku tabungan milik Dwi. Isinya tidak seberapa. Tapi tetap saja, jika ingin mengambilnya harus di dampingi kamu. Milik Eko aku berikan padanya. Untuk keperluannya di pesantren. Itu adalah seluruh hasil keja aku di Singapura dan juga Kanada sebagai pembantu. Aku sudah memberikan seluruh hasil kerjaku untuk kamu dan anak kita. Itu merupakan hak kamu dan mereka. Karena tanpa tanda tanganmu, aku tidak akan bisa pergi bekerja di luar negeri.
Selama hampir 3 bulan aku berada di Kanada karena di bawa oleh orang yang aku kira orang asing. Tapi ternyata adalah adik dari majikanku. Ia membantuku untuk sembuh dari trauma pasca pemerkosaan itu. Aku hampir gila. Banyak pskiater yang kewalahan menanganiku. Aku hampir membunuh diriku sendiri karena aku berpikir, aku tidak pantas untukmu lagi. Memanglah begitu kenyataannya.
Aku harap, kamu bahagia dengan pilihanmu. Dan juga, aku harap suatu saat nanti kita bertemu dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apa apa. Meskipun aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa bersamamu.
Terima kasih sudah menjadi suami yang baik selama ini. Selalu membimbingku dengan sabar. Terima kasih untuk 15 tahun kebersamaan kita. Aku tidak pernah sekalipun menyesal pernah hidup bersamamu dalam suka dan duka serta dalam keadaan kekurangan materi.
Bahagiaku bersamamu. Biarlah menjadi memori yang indah terpatri di otak dan hatiku.
Berbahagialah...
Aku akan berusaha bahagia meskipun tanpa kamu...
Sekali lagi untuk yang terakhir kalinya, Aku mencintaimu mantan suamiku.
SARMINA.
****
Setelah membaca isi surat itu, Jono menangis sesegukan. Ia tau keputusannya salah. Tapi apa mau di kata, ia tidak bisa kembali lagi. Sudah ada orang lain yang ada di sisi masing masing. Jono mengusap air matanya pelan. Meskipun matanya merah sembam, ia tidak peduli. Ia masih menangisi cintanya serta mantan istrinya sejadi jadinya.
" Mina, berbahagialah... jangan sampai tidak bahagia... aku tulus berdoa apapun yang terbaik untukmu..." gumam Jono.