My Maid And I

My Maid And I
Part 26. My Maid and I.



Tidak terasa hari mulai gelap. Setelah menyantap makan malamnya di sebuah restoran Jepang, Mina dan Stanly hendak berlalu menuju parkiran. Tiba tiba ponsel Stanly berbunyi dan mata Stanly terbelalak seketika.


"Apa yang terjadi Mr..." tanya Mina yang juga ikut heran dengan ekspresi pria itu.


"Mr Johanson kembali... ia memintaku untuk menjemputnya di Air port...." kata pria itu.


"Oh... iya Mr... saya bisa kembali sendiri..." kata Mina pelan.


"Tidak... kau ikut saja ke sana... aku tidak ingin membuat adikku dalam bahaya.... tidak ada penolakan..." kata pria itu menegaskan ketika melihat mulut Mina yang akan menolak ajakannya.


"Baiklah... Mr..." kata Mina dengan nada lemas.


'Meskipun aku menolak, toh tidak ada hal yang bisa aku perbuat...' bati Mina.


Mina menghela nafasnya dan berjalan mengikuti Stanly ke tempat parkiran. Pria itu masih menggunakan jaz kantornya. Bisa di bilang ia cukup tampan dan berwibawa. Cara berjalannya juga sangat khas. Pria berkulit putih itu memancarkan aura yang positif jika berada di sampingnya. Tidak seperti seorang Lady killer yang ia katakan tadi.


Mina menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Ia begitu berubah 180° derajat. Dulu ia begitu gemuk dan berkulit sawo matang. Setelah kehilangan berat badannya, ia begitu terlihat langsing dan cantik. Kulitnya yang kini memutih karena ia tidak pernah terkena paparan sinar matahari langsung setiap harinya. Tidak seperti ketika dirinya berada di Indonesia tepatnya di kampung halamannya. Ia harus setiap hari keluar rumah dan menghadapi teriknya matahari dari pagi hingga siang berada di sawah. Itupun belum termasuk mencarikan rumput untuk ternakan kambingnya.


'Wanita di kaca itu, benarkah dirinya....' batin Mina.


"Mina... masuklah... Mr Johanson hampir mendarat di Air port... kita tidak punya waktu..." kata pria itu kemudian masuk ke dalam mobil.


Mina juga bergegas untuk masuk dan segera menutup pintu mobil itu dengan keras.


Stanly mulai mengendarai mobilnya menuju bandara.


Sesampainya di parkiran Changi Air port, Stanly mengajak Mina untuk turun dan menunggu sang Boss di tempat tunggu Arrival. Mina duduk di samping Stanly dengan memangku tangannya. Ia masih menggunakan topinya dan menatap sekitar.


"Stan... " Stanly mendongak mencari asal suara itu.


Stanly tersenyum menatap sang Boss dan memberikan ucapan selamat datang.


"Selamat datang ,Boss... apa perjalanan anda menyenangkan..?" tanya sang asisten.


"Well... kau lihat sendiri kan.....??" kata pria itu santai. Terukir senyuman yang jarang sekali terlihat di wajah pria itu sebelumnya.


"Mari kita pulang..." kata sang asisten dan menyambar koper yang dibawa Adam Bossnya itu.


"Selamat datang Mr Johanson.." kata Mina sambil menunduk dari balik topi yang ia gunakan.


"Hmmm... kau siapa...??"tanya Adam.


"Stan... kau membawa teman kencanmu itu untuk menjemputku...?? Ck... kau keterlaluan Stan... kau tidak menghargaiku... " kata Adam dengan nada tinggi.


"Sorry... Boss... aku harus membawanya... aku tidak ingin terjadi apa apa padanya... agar anda tidak menyalahkan saya..." kata sang asisten tegas.


Adam masih bingung dengan kata kata asistennya itu. Ia tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Ia tidak mau tau dan mengangkat bahunya.


"Ayo... kita kembali ke rumah... aku sudah sangat lelah..." ajak Adam pada Stanly.


Mereka berjalan ber iringan. Mina berada di belakang Stanly.


"Mr. Stanly... koper Mr Johanson biar saya yang membawanya..." kata Mina berbisik.


"Tidak, Mina kau perempuan biar aku yang membawanya..." bisik Stanly.


"Diamlah dan jangan banyak bicara..." bisik Stanly lagi.


Adam merasa jengah dengan kelakuan 2 orang di belakangnya itu. Ia memutuskan untuk tidak mendengarkan bisikan bisikan mereka. Yang ia inginkan adalah segera sampai di apartemen dan berterima kasih pada Maidnya itu.


Sesampainya di parkiran, Adam duduk di kursi belakang. Setelah memasukan koper milik sang Boss, Stanly dan Mina masih setia duduk di tempat mereka masing masing seperti tadi. Adam merasa heran dengan tingkah Stanly. Ia tidak pernah sekalipun membawa wanita di hadapannya sebelum ini.


Adam menatap wanita itu dengan tatapan dingin. Menelisik dari belakang dimana dirinya duduk. 'Wanita itu cukup cantik, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya sepenuhnya karena tertutup topi... siapa wanita itu... kekasih Stanly yang ke berapa...?' batinnya.


Mina yang merasa di pandang pria di belakangnya secara intens itu, membuatnya sangat tidak nyaman. Stanly tau, Bossnya itu tengah mengamati wanita di sebelahnya dengan seksama. Ia melihat dari kaca spion bahwa Adam menatap Mina dengan tatapan intens dan sulit di artikan.


"Ah... Mina... dimana papper bag mu...?" tanya Stanly memulai percakapan untuk menghapus keheningan di dalam mobil.


"Saya letakan di bagasi bersama dengan koper milik Mr Johanson... kenapa Mr Stanly...?" tanya Mina .


"Ah... tidak aku hanya bertanya... mungkin saja kau melupakannya di suatu tempat.." kata Stanly basa basi.


Adam yang mendengar bahwa asistennya itu menyebut wanita di sampingnya dengan nama 'Mina' , sontak membuat matanya membulat sempurna. Adam beranjak dari duduk nya dan meraih topi yang di kenakan Mina dan menariknya dengan cepat. Sontak membuat Mina kaget dan memalingkan wajahnya ke hadapan Adam.


Adam terbelalak tak percaya. Ia menatap tajam Mina dan melihat lengan Mina yang terekspose itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Stanly yang tengah menyetir itu melirik Bossnya dengan heran dan bertanya pada sang Boss.


"Ada apa.. Bosss???" tanya Stanly.


"Apa yang kalian lakukan di belakang ku...?" tanya Adam dingin.


"Maksud anda .." tanya Stanly dengan santainya.


"Ada hubungan apa di antara kalian...???" kata pria itu dengan nada tinggi.


Mina yang mendengar nada tinggi tuannya itu, sontak menatap ke belakang dan pandangan matanya terkunci di mata Adam tuannya.


Adam geram dengan apa yang ia lihat saat ini. Di leher Mina telah bertengger kalung emas yang cukup mahal. Itu tidak mungkin bagi Mina untuk dapat membelinya.


"Apa kalian baru saja berkencan...?" tanya Adam dengan nada tinggi.


"Ah... kami baru saja jalan jalan di West Coast Plaza... Boss... Setelah aku mengantarnya melakukan medical check up yang seharusnya sudah ia lakukan setengah bulan lalu. Sambil menunggu hasilnya keluar, aku mengajak Mina untuk makan, jalan jalan berbelanja dan juga nonton di bioskop. Setelah itu aku mengambil hasilnya kemudian aku mengajaknya makan malam, dan mengajaknya menjemput anda...." kata Stanly santai.


"Bukankah melakukan medical check up biasanya di lakukan di Rumah sakit Stan...? Apa kau merencanakan sesuatu padanya...? Kau menyukainya...? Ingat Stan ia telah bersuami dan di negara ini tidak boleh ada hubungan apapun terhadap pekerja selain batas antara Boss dan pelayannya dan juga kuingatkan Stan ia pekerjaku... termasuk karyawanku... aku tidak mengizinkan kau mempermainkannya dan berimbas padaku lagi... Aku tidak ingin berurusan dengan Goverment negara ini lagi Stan... cukup 1 orang saja yang membuat masalah sebelum Mina bekerja padaku..." kata Adam dengan emosi.


"Kami tidak ada hubungan apa apa Boss...!!! Aku hanya membawanya jalan jalan, tidak lebih. Kau bisa bertanya pada Mina.... kami tidak melakukan apa apa...." jawabnya dengan nada tinggi.


Mina hanya terdiam mendengarkan perdebatan 2 orang pria itu dengan seksama. Mencerna kata kata tuannya dan sang asisten. Mina tau apa yang mereka katakan.


"Maaf... Mr Johanson... saya dan Mr Stanly tidak ada hubungan spesial..." kata Mina menjelaskan.


"Jika tidak ada hubungan, bagaimana bisa ia memberimu kalung mahal itu dengan cuma cuma..." kata Adam dingin.


Mina tidak menjawab, ia masih memikirkan jawaban apa yang pas untuk meyakinkan tusnnya itu.


"Mina sudah menolaknya..." kata Stanly membela.


"Tapi aku memaksanya untuk menerimanya... Aku memberikannya sebagai tanda aku menyayanginya layaknya ia adalah adikku...." lanjutnya.


Adam tak berkutik mendengar kata kata Stanly. Ia ingat bahwa asisten sekaligus sahabatnya itu telah kehilangan sosok adik perempuannya.