My Maid And I

My Maid And I
Part 25. My Maid and I



Semampainya Mina dan Stanly di restoran siap saji yang berada di lantai bawah. Stanly memesan burger pepsi dan juga french fries. Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, pria itu menghampiri Mina yang tengah duduk di antara beberapa kursi kosong dalam restoran cepat saji itu.


"Makanlah.... sebelum Mr Adam kembali.... dia tidak akan mengijinkan kita makan makanan seperti ini...." kata pria itu sambil menyodorkan sepaket burger untuknya.


"Terima kasih Mr..." kata Mina.


Pria itu mengangguk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Mina. Mereka mulai menyantap makanan itu dengan sesekali bercengkrama.


Setelah selesai menyantap makanan, mereka keluar dari restoran tersebut dan berjalan menyusuri lorong yang terdapat toko toko souvenir, makanan cepat saji, super market, toko roti, pakaian dll.


Mina berhenti tepat di depan toko perhiasan. Ia menatap sebuah kalung emas yang sangat cantik. Mina tertarik dengan model dari kalung itu. Mina tersenyum menatap benda tersebut.


Stanly dari kejauhan menatap Mina dengan seksama. Ia penasaran dengan apa yang Mina lihat saat ini. Pria itu mendekat dan memegang kedua bahunya.


"Kau menyukainya...?" tanya Stanly.


"Eh... Mr... maaf saya..." kata kata Mina terpotong.


"Jika kau mau bermalam dan melakukan one night stand denganku, aku akan membelikanmu kalung itu..." kata pria yang berdiri di belakangnya saat ini.


"Apa kau setuju Mina...?" tanya nya.


Mina bergidik ngeri dan menjauhi Stanly.


"Sorry Mr... saya tidak mau..." kata Mina tegas.


Pria itu hanya tersenyum. Dan mulai merayu.


"Ayolah... Mina... harga kalung itu 2500 dollar... kau tidak perlu 5 bulan lagi untuk membelinya...." kata pria itu membujuk.


"Maaf... Mr... saya takut dosa... saya juga tidak ingin menukar kehormatan suami saya dengan itu..." Mina menegaskan.


"Kau tidak usah munafik Mina... kau hanya perlu bilang iya... dan aku akan memanjakanmu..." Stanly tak kehilangan akal. Dalam hatinya ia terkekeh geli dan hanya mencoba apakah wanita di depannya itu masih bersikukuh untuk setia pada suaminya.


"Mr... saya menghormati anda seperti saya menghormati Mr Johanson dan saya menganggap anda selayaknya kakak bagi saya. Seandainya saya menerima tawaran anda Mr, saya sudah seperti tidak ada rasa hormat sedikitpun pada anda Mr... Saya seakan berharap bahwa saya bisa sejajar dengan anda dan mengharapkan saya menjadi seperti anda dan sepadan dengan anda. Seakan saya tidak tahu diri Mr... saya tidak bisa, saya minta maaf..." kata Mina panjang lebar dan membuat Stanly menyeringai di depannya. Pria itu tertohok dengan kata kata yang di lontarkan pembantu dari bossnya itu.


Mungkin jika wanita lain, ia akan segera menyerahkan dirinya tanpa pikir panjang dan menerima tawarannya. Meskipun ia hanya bercanda, namun hatinya tergores. Baru kali ini ia di tolak oleh seorang wanita. Meskipun hanya ingin bercanda pada Mina, tapi kata kata wanita itu benar benar telah membuka mata hatinya selebar lebarnya.


Stanly tersenyum menatap Mina dan mengajak wanita itu menuju sebuah butik kusus wanita. Mina yang merasa aneh dengan perlakuan Stanly padanya, membuat dirinya lebih takut dan waspada.


"Mr... maaf... bukankah saya sudah menolak anda... kenapa anda membawa saya ke tempat ini... apa anda akan membelikan pakaian untuk kekasih anda...?" tanya Mina penasaran.


"Tidak... aku hanya akan membelikanmu sepotong pakaian... apakah aku salah...?" pria itu balik bertanya.


"Bukankah... saya sudah meno-..." kata kata Mina terhenti karena jari Stanly berada di bibir Mina.


"Ssssst...." Kata pria itu.


"Diam dan jangan bicara... turuti kemauanku... tak ada penolakan..." kata pria itu tegas dan memasuki butik dengan menyeret Mina masuk.


"Mr... saya..." kata kata Mina terpotong ketika 2 pelayan butik menghampiri mereka.


"Pilihkan pakaian yang bagus dan pas dengan tubuh wanita ini..." kata Stanly pada 2 pelayan butik.


"Baik ...Mr..." kata ke 2 pelayan butik.


"Silakan Mr... anda dapat menunggunya di sana..." kata salah satu pelayan pada Stanly dan menggiring pria itu untuk duduk di sebuah sofa.


Mina hanya mengikuti sang pelayan butik itu dan berdoa agar Mr Stanly tidak berbuat macam macam setelahnya.


Mina keluar dari tempat fiting dengan memakai pakaian yang sangat pas dan cocok dengan bentuk tubuhnya. Stanly seakan terpesona dengan Mina saat ini.



Stanly menatap Mina dari atas hingga ke bawah. Terpesona dengan tampilan Mina yang natural.



"Baiklah aku akan bayar dulu..." kata Stanly mengalihkan pandangannya dari Mina.


Sesaat kemudian ia kembali menghampiri Mina dan memasukan kertas struk pembayaran ke dalam jasnya. Stanly menyodorkan papper bag yang berisi pakaian Mina yang tadi digunakan wanita itu sewaktu berangkat.


"Mr... saya tidak mau... menggunakan pakaian ini... saya malu..." kata Mina memohon.


Stanly langsung menyambar topi dan menaruhnya di kepala Mina.


"Kau tidak perlu malu... anggap saja kita sedang berkencan...." kata pria itu dengan mengerlingkan sebelah matanya.


"Mr... saya...." kata katanya kembali terhenti. Pria itu sudah berada di kasir untuk membayar topi yang sedang Mina gunakan.


Mina merasa tidak nyaman, karena ini pertama kalinya ia menggunakan pakaian yang memperlihatkan lengannya.


"Kita pergi nonton..." kata pria itu tegas dan menarik tangan Mina keluar butik dan berjalan menuju lantai atas.


Mina tak berkutik. Meskipun ia menolak sedari tadi, ia tidak bisa melawan dan ini sangat memalukan. Pasalnya banyak pasang mata memperhatikan dirinya. Sangat tidak mengenakan. Mina berjalan mengikuti Stanly dengan menutupi wajahnya menggunakan topi yang ia gunakan.


"Hey... Mina apa yang kau lakukan...?? Cepatlah....!!" kata pria itu kemudian meraih tangan Mina dan menggandengnya.


Pria itu kembali membawanya memasuki toko perhiasan tadi dan membeli kalung dan juga anting sepaket yang tadi sempat Mina lihat. Mina terbelalak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia begitu ketakutan dan bergetar matanya berkaca kaca karena ketakutan.


"Mr... saya bukan..." kata katanya terhenti melihat mata pria itu menajamkannya. Pria itu memakaikan anting ke telinga dan juga kalung itu ke leher Mina. Mina seakan tak percaya. Pikirannya kemana mana. Ketakutan merasukinya. Ia tidak bisa menatap wajah pria itu saat ini. Ia takut bahwa ia telah menghianati suaminya. Apa lagi banyak pasang mata memandang nya dengan sinis dan juga ada yang begitu iri.


Setelah melakukan pembayaran, ia menghampiri Mina dan mengajaknya keluar toko.


"Kita pergi..." kata pria itu dan menarik tangan Mina agar mengikutinya.


Sesampainya di bioskop, Stanly mengajak Mina untuk duduk di bangku paling belakang yang tidak ada orang. Ketakutan Mina bertambah 2 kali lipat.


"Kau tidak usah takut Mina... kita nikmati kencan buta ini... dan tidak usah memikirkan hal hal yang tidak perlu. Aku tidak akan berbuat sesukaku... aku juga menghargaimu selayaknya wanita baik baik dan juga aku telah menganggapmu seperti adikku... jadi kau tidak perlu gemetar ketakutan padaku... oke... aku memang Lady killer... tapi aku tidak akan melakukannya pada adikku. Kau ku anggap sebagai adikku... maka dari itu aku memanjakanmu dengan membelikan apa yang kau inginkan... kau tidak usah takut dengan kakakmu ini... okey..." kata pria itu menegaskan.


Mina terperangah dengan pengakuan Stanly. Dan tidak pernah menyangka pria itu telah menganggapnya sebagai adiknya. Tapi Mina tetap tidak bisa menerima pemberian pria itu.


"Mr... tapi ini berlebihan... saya tidak bisa menerimanya Mr..." kata Mina menjelaskan.


"Diamlah... atau aku akan berbuat semauku... " kata pria itu.


Melihat Mina bertambah ketakutan membuatnya begitu frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mina... sudah aku tegaskan padamu... terima lah barang barang itu... aku memberinya padamu sebagai seorang kakak yang menyayangi adiknya.... aku menganggapmu sebagai adikku... aku tidak punya maksud lain... jadi buang jauh jauh pikiran kotormu terhadapku..." kata Stanly menegaskan.


Mina membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi langsung di potong oleh Stanly.


"Kita fokus pada filmnya.... jangan berdebat lagi...." kata pria itu kemudian matanya kembali terfokus pada film yang mereka tonton.