My Maid And I

My Maid And I
Part 54. My Maid and I



Mina tengah menikmati makan malamnya sendiri. Setelah tadi Mr Stanly asisten tuannya itu mengabari, jika sang tuan tidak makan malam di rumah. Mina merasa cukup lega, pasalnya ia tidak perlu menghadapi wajah tuannya itu. Mina cukup bingung bagaimana caranya bersikap dengan sang tuan kelak jika berpapasan.


Pria itu tentunya tidak tau jika dirinya mendengar apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi. Jadi, ia hanya bisa bersikap seperti tidak melihat atau mendengar apapun.


BIP...


Mina tersentak kaget, dan langsung pergi menghampiri pintu masuk ketika mendengar pintu terbuka. Mina berdiri di ruang tengah menatap sang tuan yang baru kembali dari kantornya itu dengan perasaan berkecamuk, bingung akan dan harus bagaimana.


"Anda sudah kembali Mr...?" tanya Mina dengan senyum paksa di wajahnya untuk menghilangkan kecanggungannya di hadapan sang tuan.


"Hmmm...." ucap pria itu dan berlalu melewati Mina dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah tanpa melepas sepatu dan juga jasnya.


Mina hanya menghela nafasnya pelan. Meskipun tadi pagi ia sangat ilfeel pada sang tuan karena kelakuannya, tapi melihat raut wajah tuannya saat ini membuatnya begitu iba. Ia berlalu ke ruang makan dengan tidak mengganggu tuannya yang mungkin kelelahan setelah bekerja.


Mina melanjutkan acara makan malamnya dengan cepat. Ia tidak ingin mengganggu tuannya dan nantinya akan terus berurusan dengan pria itu. Pria yang kadang seperti remaja labil itu bisa saja memaksakan kehendaknya begitu saja jika dirinya tidak hati hati. Mina memang selalu siap siaga untuk menghadapi kemungkinan itu.


Setelah membereskan piring kotornya, ia menatap ke sofa dimana sang tuan tengah berbaring. Ia tidak tau harus berbuat apa. Jika meminta pria itu untuk segera bangun agar berpindah ke kamarnya, tentu saja ia harus menyentuhnya saat membangunkannya. Sedangkan ia sedang keadaan dilema, takut mengingat kejadian tadi pagi.


Mina menghampiri tuannya yang sedang terbaring serta terlelap dengan tangannya bertumpu di atas keningnya. Pria itu masih menggunakan sepatu juga jas kantornya dengan lengkap. Karena bingung, ia kembali ke kamar tidurnya untuk istirahat.


Tengah malam, Mina terbangun karena haus. Ia keluar kamar bermaksud untuk mengambil air untuk dirinya minum. Langkahnya terhenti saat ia melihat sang tuan masih saja berbaring di sana dan belum berpindah ke kamar.


Karena tidak mau sang tuan sakit, Mina menghampiri pria itu untuk membangunkannya agar masuk ke kamar. Tapi, lagi lagi Mina terkejut dengan apa yang ia lihat. Tubuh sang tuan, menggigil kedinginan, keringat juga keluar dari pelipisnya.


Meski ragu ragu, Mina mendekati tubuh tuannya dan memegang kening pria itu. Mina tersentak kaget, karena ternyata tubuh pria itu begitu panas. "Ya.... Allah... panas sekali...." gumam Mina.


Adam mengerang sambil bergumam sesuatu yang tidak di mengerti Mina. Mina melepas sepatu milik tuannya itu serta memberikan bantal di bawah kepala pria itu dengan hati hati.


Adam begitu lemas tidak bertenaga. Seakan melayang layang di udara. Mina melepaskan jas yang melekat di tubuh Adam serta dasi, ia juga melepas beberapa kancing kemeja pria itu agar lebih nyaman.


Mina beranjak ke dapur, mengambil baskom berisi air hangat untuk mengompres sang tuan. Mina dengan telaten mengompres pria itu dan sesekali pergi ke dapur untuk memastikan bahwa bubur yang ia masak tidak kekurangan air dan gosong.


Pukul 02: 30 am, Adam terbangun dari lelapnya. Ia mendapati maidnya tengah tertidur dengan bertumpu pada meja di dekatnya berbaring. Adam mengambil kain handuk yang menempel di dahinya yang sudah mulai mengering itu dan meletakannya kembali.


Ia menatap maidnya itu dengan senyum serta tatapan intensnya. Ia tau, Mina akan peduli padanya, walaupun sangat kecil kemungkinan wanita itu terpaksa melakukannya. Karena ia tidak ingin dirinya sakit, memang wanita itu selalu sigap dengan hal apa pun. Senyum Adam bertambah lebar.


Adam pura pura tertidur lagi ketika mendapati Mina mengerjapkan serta mengucek matanya dengan di barengi mulutnya menguap. Adam merasa tangan wanita itu menyentuh dahinya.


"Ah... syukurlah... demamnya sudah reda..." gumam Mina pelan, takut besar kemungkinan akan membangunkan sang tuan.


Mina mengambil kain handuk yang sudah mengering itu dan di masukan ke dalam baskom kemudian ia kembali membawanya ke dapur.


Bubur yang ia masak sudah mendingin. Ia mencoba menghangatkan lagi bubur itu dan akan memberikannya kepada sang tuan.


"Mr... Mr... bangunlah...!!!" ucap Mina pelan.


Adam yang sedari tadi sudah bangun, berpura pura mengerjapkan matanya.


"Ada apa Mina...?" tanya pria itu dengan suara serak khas bangun tidur yang di buat buat.


"Bangunlah... Mr... makanlah dulu bubur ini... setelah itu, minumlah obat demam ini, besar kemungkinan demam anda belum sepenuhnya turun..." ucap Mina pelan.


"Aku malas sekali Mina... tanganku kebas sulit untuk ku mengambil sendok itu..." ucap Adam sambil menunjuk sendok dengan dagunya.


"Tapi, setidaknya anda harus makan dulu Mr... perut anda kosong... anda tidak makan malam kan...???" tanya Mina.


Adam yang tadinya memunggungi Mina, langsung menengokan kepalanya lagi menatap wanita itu dengan tatapan mengiba.


"Aku akan makan jika seseorang menyuapi ku tanganku lemas... dan di sini hanya ada kau, apa kau mau menyuapiku...???" tanya Adam pada Mina.


Mina terperangah menatap sang tuan dengan perasaan bingung. Ia sedang berpikir sejenak:


' Jika Mr Adam tidak makan, ia akan bertambah sakit, tentunya ia akan tinggal di rumah selama ia sakit. Dan itu sungguh sangat tidak mengenakan jika dia berada di rumah... kalau begitu, biar aku suapi saja agar dia cepat sembuh. Anggap ini adalah sebagian dari pekerjaanku saja...' batin Mina


"Duduklah... Mr... biar saya suapi..." ucap Mina.


Adam tersentak kaget. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut maidnya itu. Pria itu langsung bangkit dari rebahannya dengan pelan pelan dan menyenderkan tubuhnya di senderan kursi.


Mina menyuapi tuannya dengan telaten. Pria itu juga makan dengan lahap, karena ia memang sendari pagi tidak makan. Hanya minum kopi saja tadi, buatan Alice sekretarisnya di kantor.


Mina tersenyum melihat tuannya makan dengan lahap. Setelah selesai menyuapkan bubur itu sampai habis, ia memberikan obat penurun demam dan segelas air putih hangat.


"Minumlah... Mr..." ucap Mina sambil menyodorkan gelas berisi air itu ke hadapan tuannya.


"Suapkan Mina... sungguh tanganku masih lemas..." ucap Adam pura pura.


Tanpa kata kata, Mina mendekati sang tuan dan menyuapkan obat penurun panasnya ke dalam mulut sang tuan dan segera memberinya air dari gelas yang ia bawa.


Selesai minum obat, Adam kembali merebahkan tubuhnya lagi ke bantal. Ia menatap Mina yang tengah membersihkan sisa mangkuk dan gelas kotor. Ia tersenyum sekilas, dengan dirinya demam, ia dapat lebih dekat dengan wanita itu.


'Aku tidak tau apa yang aku rasakan padamu ini benar atau salah Mina. Aku tidak peduli, aku tidak tau kedepannya akan bagaimana tentang kita. Untuk saat ini, aku hanya bisa dan cukup menikmati pelayananmu sebagai maidku. Entahlah... hanya Tuhan yang tau tentang masa depan... Aku tidak bisa merasakan hal ini dari wanita lain... apa yang harus aku lakukan Mina...??? Beri tahu aku bagaimana, bagaimana caranya untuk diriku menepis perasaan ini tertuju untukmu...???' batin Adam menjerit sambil menatap Mina yang berlalu meninggalkannya ke dapur.