
Sementara itu di Indonesia, tepatnya di kampung halaman Mina.
Hujan begitu lebat, sedari pagi hingga sore hari. Sepulang bekerja, Jono ( suami Mina ) tengah bersiap untuk menghadiri undangan resepsi pernikahan salah satu teman sepekerjaanya yang berada di desa tetangga.
Setelah menggunakan pakaian batik dan juga celana katun hitam, yang memang biasa di gunakan untuk menghadiri acara acara penting di daerahnya. Ia mengenakan jaz hujan dan mulai mengendarai motor revo racing warna birunya yang beberapa bulan lalu ia beli dari uang kiriman istrinya yang bekerja di luar negeri.
Ia berharap, istrinya itu selalu baik baik saja dan bisa menjaga hatinya untuk dirinya seorang. Mengingat ia bisa saja terpincut dengan majikannya yang sedang berstatus duda. Sebisa mungkin, setiap selesai sholat, ia mendoakan istrinya agar selalu setia padanya dan menjaga martabatnya sebagai istri.
Ia tau, istrinya begitu mencintainya dan juga dirinya juga mencintai Mina sepenuhnya. Mengingat kejadian yang membuatnya harus berpisah sementara seperti saat ini, membuatnya begitu menyesal tidak pernah mendengarkan nasehat istrinya itu.
Jono menghela nafasnya pelan. Perjalanan ke desa tetangga memakan waktu 15 menit karena jalanan yang terjal dengan bebatuan yang belum di aspal.
Sesampainya di desa tetangga, ia menghampiri rumah suami ibunya yang telah menikah dengan ibunya itu 1 tahun lebih telah berlalu untuk memarkirkan motornya. Selain untuk menjenguk ibu serta adiknya, ia juga ingin melihat putrinya Dwi anak ke 2 nya dengan Mina, yang juga berada disana karena tidak ada yang menjaganya di rumahnya saat dirinya bekerja, karena mertuanya ( orang tua Mina) ikut Trisno merantau ke Kalimantan.
Gadis kecil yang sudah duduk di kelas 2 itu, merupakan anak yang pintar dan supel. Wajahnya adalah kombinasi dirinya dan juga Mina. Sedangkan Eko, putra pertamanya yang sekarang berada di pondok pesantren itu, lebih mendominan mirip adik iparnya Trisno.
Jono begitu bahagia, setelah sekian lama ia bisa melunasi tanggungan hutangnya dan bisa memenuhi kebutuhan anak anaknya. Itu tentu saja tidak terlepas dari bantuan istrinya, Mina.
Tanpa ia sadari, ia begitu merindukan sosok istrinya yang saat ini berada di negara orang. Ia berharap, bisa kembali berkumpul dengan istrinya lagi.
Sesampainya di dalam rumah sang ibu, ia mendapati putrinya tengah tertidur di samping ibunya di tuang tengah denga televisi yang masih menyala. "Asalamuallaikum bu...???" ucap Jono.
Ibunya yang mendengar suara sang putra sulung memanggilnya langsung bangun dari tempatnya rebahan sambil mengucek matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Oh... kamu nak... kamu sudah datang...??? Sama siapa...???" tanya ibu Ratmi ibunya Jono.
"Iya... bu... aku datang sendiri... ini aku bawakan martabak kesukaan ibu...!!!" ucap Jono.
"Duh... terima kasih nak... seharusnya kamu tidak usah repot repot membawakan oleh oleh untuk ibu... buat jajan anak anakmu saja...!!!" ucap ibunya.
"Tidak apa apa bu... sesekali..." kata Jono.
"Joko di mana bu...???" tanya Jono mencari adiknya.
"Dia juga ikut membantu resepsi pernikahan temenmu itu... nak... karena masih saudara bapak sambung kamu..." ucap sang ibu.
"Oh... gitu ya... bu..." ucap Jono.
"Iya... nak... bapak sambung kamu juga di sana sebagai penerima tamu... kamu sudah kesana belum...???" tanya sang ibu.
"Belum bu, ini aja baru dari rumah langsung kesini, setelah pulang kerja tadi, aku terus berangkat ke sawah mencari rumput untuk memberi makan kambing kambingku, mandi dan siap siap kesini..." Jono bercerita.
"Kamu yang sabar dulu ya... Nak... nanti kalau istrimu sudah kembali, dia bisa membantu bantu kamu lagi untuk mencari rumput serta mengasuh anakmu... Dia wanita yang baik, aku menyesal, dulu ibu tidak merestui hubunganmu dengannya... ibu merasa bersalah, padanya... Sekarang, ibu sudah semakin tua... ibu tidak mau membuatnya sedih lagi... jadi, jaga selalu hatinya ya nak..." bu Ratmi menasehati putra sulungnya.
"Iya... bu..." kata Jono sambil tersenyum.
"Kalau begitu, Jono pergi ke acara resepsi teman dulu ya bu... nanti kita sambung lagi ngobrolnya..." ucap Jono.
Ibunya hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan menatap putranya yang mulai berjalan menyusuri hujan dengan membawa payungnya.
Pukul 22:00 malam, resepsinya baru saja selesai. Jono berpamitan pada kawannya itu untuk pulang. Hujan sudah sedikit mereda. Ia menghampiri rumah yang menjadi tempat tinggal ibunya itu dan berpamitan pulang.
"Tidak nginap saja ... nak... ini sudah malam...!!!" bujuk sang ibu.
"Aku harus pulang bu, kambing kambingku belum kenyang... tadi baru sedikit aku memberinya makan...!!!" kata Jono menolak keinginan ibunya.
"Ya sudah... nak... hati hati di jalan ya..." ucap sang ibu.
"Iya... bu... oh... iya... ini uang untuk jajan Dwi dan juga untuk membeli sayur, meski tidak banyak..." kata Jono sambil mengulurkan tangannya memberikan 3 lebar pecahan uang 100 ribu.
"Yang di kasih kamu minggu kemarin itu masih ada nak, kamu simpan dulu saja... bisa kamu kasih ke Eko kalau kamu mengunjunginya di pondok pesantren..." tolak sang ibu.
"Aku sudah kirim kok.. bu... buat Eko-nya... ini memang jatahnya buat Dwi... " kata Jono sambil tersenyum.
"Ya... sudah, ibu terima kalau begitu..." ucap bu Ratmi sambil menerima uang dari Jono.
"Kalau begitu, aku pulang dulu... bu..." pamitnya sambil mencium tangan sang ibu.
"Asalamuallaikum bu... salam saja buat bapak, tadi sih sudah ketemu disana. Aku pulang..." pamit Jono.
"Wa allaikum sallam... hati hati... ya... nak..." ucap sang ibu melihat anaknya pergi menyusuri jalanan gelap.
Di tengah perjalanan, ia melihat seorang wanita tengah mengutak atik motornya sendirian. Karena penasaran, ia menghampirinya dan mencoba membantu.
"Kenapa motornya..." tanya Jono yang tidak melihat wajah wanita itu karena memunggunginya.
"Eh ... Mas Jono... " seru wanita itu.
"Loh... kamu Yun... kenapa... motornya mogok...???" tanya Jono pada wanita itu yang ternyata adalah Sri Wahyuni sahabat istrinya.
"He.. em... nih .. mas... nggak tau kenapa...!!!" jawabnya.
Jono menghampiri motor Yuni dan mulai memperbaikinya. "Kamu sendirian saja Yun... di tengah jalan begini... memang kamu tidak takut ya... ada hantu apa begal gitu...???" tanya Jono sambil mengutak atik motor sahabat istrinya itu.
"Yah... mau bagaimana lagi Mas... karena tuntutan ekonomi aku harus kerja dan pulang malam karena lembur. Sejak bercerai dari mas Yudi, aku harus banting tulang mencukupi kebutuhanku dan Eki sendiri, dia kan sudah nikah lagi...!!!" cerocos Yuni menjelaskan.
"Oh..." Jono menanggapi sambil terus memeriksa keadaan motor Yuni.
"Mas, kapan Sarmina pulang...???" tanya nya kepo.
" Masih sekitar 6 bulanan lagi, kenapa...??" tanya Jono heran.
"Ah... enggak cuma tanya aja kok...!!!" jawab Yuni sambil tersenyum.
Yuni menatap punggung Jono yang sedang berjongkok meneliti motornya dengan seksama. 'Ternyata, kalau dari dekat kamu gagah juga Mas...' batin Yuni. Sambil tersenyum menatap punggung suami dari sahabatnya itu.