My Maid And I

My Maid And I
Part 4. My Maid and I



Adam duduk di kursi ruang kerjanya, yang berada tepat di sisi kanan kamarnya. Sambil menikmati secangkir kopi, ia memandangi suasana senja sore hari.


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat seakan tertelan lautan. Burung burung camar berterbangan untuk kembali kesarangnya.


Pria itu bangkit dari kursinya untuk membuka jendela. Angin berhembus sepoi sepoi, mengibaskan anak rambutnya yang mulai memanjang.


Pria itu menengadahkan kepalanya kearah langit. Berharap ia bisa lupa akan kerinduannya pada sang kekasih. Walau barang sekejap saja ia berharap dapat mengiklaskan kepergiaannya untuk selamanya.


Adam meraih laci dan mengambil bingkai photo yang berisikan cintanya , kenangannya , kekasihnya.


'Sarah... ' batin pria itu sambil menitikan air matanya.


'Tenanglah di surga... tunggulah aku di sana... sampai kapanpun kau tetap hidup di sini...' Adam mendekap photo wanita yang ia cintai itu di dadanya.


Photo seorang Wanita yang sedang tertawa dan memancarkan aura cantiknya itu adalah mendiang istri Adam yang meninggal karena kangker darah.


Berbagai upaya dilakukan untuk menyembuhkannya. Tetapi, Tuhan berkehendak lain kekasih hatinya tidak bisa diselamatkan.


Sepeninggalnya sang istri, Adam menjadi pribadi yang berbeda. Pemarah pemabuk dan keras hati.


Karena frustrasi Adam meninggalkan Negaranya untuk menenangkan diri.


4 tahun berlalu pun belum bisa menghapus kenangan kenangannya bersama sang istri.


Dia memulai dari awal semua bisnisnya di Negara ini. Meninggalkan kekayaannya dan kenangannya di sana.


4 tahun pula pria itu hidup tanpa pendamping. Karna hanya 1 cinta di dalam hidupnya.


Yaitu... Sarah...


Adam kembali meletakan photo wanitanya di laci. Pria itu mengusap air matanya dan berjalan menuju sofa untuk merebahkan tubuh lelahnya.


Karena permasalahan proyek pembangunan Real Estate nya yang harus ia tangani sendiri hari ini.


Pria itu menyalakan TV, menonton rekaman CCTV yang ada di dalam Apartmentnya. Untuk melihat apa saja yang di lakukan maidnya selama di rumahnya.


Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Yang di lakukan wanita itu hanya bebersih dan berbenah.


Tapi, Adam melihat seluet wajah sedih maidnya. Tidak ada lagi senandung keluar dari mulut wanita itu. Bahkan saat ia men forrward rekaman CCTV nya sampai di saat ini, Adam mendapati maidnya sedang memakan makanannya sambil menangis.


Ternyata bukan hanya dirinya saja yang bersedih pikir Adam.


Mina ...


Ya ... bahkan wanita itu pergi meninggalkan orang orang yang paling ia cintai di dunia ini.


Tapi, wanita itu lebih beruntung ketimbang dirinya. Karena suatu saat ia akan bertemu kembali dengan mereka.


***


Ting tong...


Ting tong...


Suara bel pintu berbunyi.


Mina menekan tombol di layar untuk memastikan, siapa yang berkunjung saat ini.


" Siapa itu ... Mina...." tanya Adam. Ketika pria itu baru saja membuka pintu kamarnya untuk beristirahat.


"Um...itu... asisten anda Mr..." jawab Mina singkat.


" Bukakan pintunya" perintah tuannya.


"Baik ... Mr..." jawab Mina.


"Katakan padanya, aku sudah menunggu di ruang kerjaku" sambung adam sambil berlalu kembali ke ruang kerjanya.


"Ya... Mr..." jawab Mina.


Ceklek...


Mina membukakan pintu dan melihat seluet wajah lelah sang asisten tuannya.


" selamat malam Mr Stanly... anda sudah di tunggu Mr Johanson di ruangannya" kata Mina pada sang asisten.


"Ya... selamat malam juga Mina... aku akan segera kesana... terima kasih untuk infonya" kata sang asisten sambil memberi senyum lembut kepada Mina. Pria itu berjalan menuju ruangan yang Mina sebutkan tadi dengan menenteng sebuah tas kecil bertuliskan SA*S*NG.


" Sama sama Mr..." jawab Mina sambil membalas senyuman Mr Stanly. Melihati pria itu sudah memasuki ruang kerja tuannya, Mina berlalu ke dapur untuk membuatkan minum untuk sang tuan beserta asistennya.


Setelah semuanya siap, Mina beranjak keluar dapur, membawa dua cangkir teh dan setoples biscuit yan ia taruh di atas nampan. Mina menghampiri pintu di mana sang tuan beserta asistennya disana.


Ketika akan mengetuk pintu, Mina mendengar percakapan dari dalam ruangan tuannya. Yang mengatakan bahwa apabila dirinya tidak bisa menyesuaikan diri dengan apa yang di minta tuannya itu, maka ia akan di kembalikan ke agensi perekrutan pembantu dan menggantinya dengan yang baru.


Mengetahui itu, Mina langsung syok... dan hampir saja menumpahkan teh yang ia bawa.


Dentingan cangkir yang bertabrakan itu membuat dua orang di dalam ruangan yang pintunya sedikit terbuka tersadar dan menyudahi pembicaraan mereka. Asisten Stanly tahu bahwa Mina telah berdiri di ambang pintu.


"Oh... Mina ya... masuklah..." kata sang asisten sambil tersenyum.


Sementara itu, sang tuan terlihat duduk di sofa dan sedang memeriksa hand phone baru yang di bawa asistennya tadi.


"I... iya... Mr Stanly" kata Mina pelan dan berjalan menuju meja yang terletak di antara sofa yang sedang di duduki tuannya. Setelah meletakan kedua cangkir teh dan toples berisi biskuit, Mina berdiri sambil berkata ; " Silahkan di minum tehnya Mr. Saya ... permisi" kata Mina sambil menunduk dan berjalan menuju pintu keluar.


"Ya..." kata kedua pria itu bebarengan.


"Stan... kenapa kau memandangi Mina dengan senyuman... hmm?" Tanya Adam pada sang asisten. "Jangan jangan kau menyukainnya" tebak pria itu.


Sang asisten hanya tersenyum. "Sayang sekali dia sudah ada yang punya" kata Stanly pelan.


"Seandainya saja dia mau bersamaku dan meninggalkan suaminya. Tapi dia begitu setia walau jauh darinya" pria itu melanjutkan.


"Maksudmu...?" tanya Adam pada sang asisten.


"Ia... dia begitu setia pada suaminnya" kata Stanly memulai. "Alih alih mengawasinya karna anda yang meminta malah membuatku tau bahwa dia benar benar wanita baik baik" pria itu melanjutkan.


"Anda tau... Boss dia bahkan melewati offday nya hanya di sekitaran sini saja. paling jauh hanya pergi ke West Coast Mall saja tidak lebih" Stanly menghela nafasnya pelan.


"Setelah aku tau apa tujuannya bekerja disini, membuatku begitu tersentuh" kata Stanly mengungkapkan pikirannya.


"Aku semakin tak faham Stan... sebenarnya apa yang kau bicarakan...?" kata Adam pada asistenya itu.


"Anda tau... Boss... dia bekerja di sini untuk melunasi hutang suaminya di Indonesia. Dia mengatakan bahwa , mereka tertipu seseorang yang baru mereka kenal beberapa bulan saja. Mereka mengijinkan atas nama mereka untuk berhutang di bank" Stanly berhenti dan mengambil cangkir teh di atas meja dan kemudian menyesapnya. Setelah meletakan kembali cangkir tehnya dia melanjutkan kata katanya.


"Tapi orang yang ia bantu malah melarikan diri tanpa kabar. Ketika hutang telah jatuh tempo, orang orang dari bank tersebut datang kerumahnya untuk menagih. Alhasil penagih meminta mereka melunasi segera hutang mereka. Sang penagih tidak mau tau tentang seluk beluk semula, Yang ia tau bahwa dia menagih hutang tersebut dengan atas nama yang tertera di surat perjanjian hutang tersebut". kata Stanly panjang lebar.


"Bagaimana kau bisa tau sebegitu detail Stan...?" tanya Adam pada pria itu.


Stanly kesal dengan pertanyaan boss nya itu dan menjawabnya dengan suara sedikit keras. "Bukankah... anda menyuruh saya untuk mencari seluk beluk kehidupannya sebelum dia kemari... Boss... apa anda lupa...?" pria itu sedikit emosi.


"Tidak perlu membentaku Stan... bahkan kau makan juga menggunakan uang dari aku yang menggajimu..." kata Adam enteng.


"Maaf... Boss, saya hanya kesal pada anda" kata Stanly pada bosnya "Apa lagi anda akan mengembalikan wanita itu ke agensi hanya gara gara dia memasak nasi goreng untuk sarapan anda Boss ... sungguh tidak masuk akal"


"Anda melewati hampir 4 bulan ini dengannya dan di layani kebutuhan anda setiap hari dengan sepenuh hati tanpa ia mengeluh pada siapapun. Sungguh tidak adil jika anda membalasnya dengan mengembalikan dirinya ke agensi" kata sang asisten panjang lebar.


"Beri dia kesempatan Boss... dan juga... anda harus berinteraksi dengannya. Maaf ... Boss, saya berbicara lancang" kata Stanly sambil menundukan kepalanya.


Adam berpikir sejenak...


"Baiklah... Stan..." kata pria itu pada sang asisten. "Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya...?" tanya Adam pada sang asisten.


"Maksud anda cerita apa...?" tanya Stanly kebingungan.


"Ya... cerita tentang kehidupan Mina... bukankah kau tadi menceritakan tentang hidupnya apa kau lupa...?" jawab pria itu santai.


"Oh... baiklah akan saya lanjutkan" kata Stanly.


"Suaminya meminta bantuan pada boss tempatnya bekerja setiap hari untuk menalangi hutang tersebut dengan syarat sebagian tanah pertanian miliknya menjadi jaminan. Jika dalam 2 tahun uang tersebut tidak kembali, tanah tersebut menjadi milik boss suaminya" kaya Stanly menjelaskan.


"Memang berapa jumlah hutang Mina... Ah... ralat maksudku hutang suami Mina pada bossnya...?" tanya Adam penasaran.


"Sekitar 50 juta Rupiah... jika dalam uang dollar negara ini..., mungkin sekitar 5000 Dollar kalau tidak salah" jawab sang asisten.


"Berapa gaji Mina disini...?" Adam bertanya pada Stanly.


"Gajinya 1 bulan hanya 530 Dollar negara ini dan masih di potong 6 bulan untuk biaya pemberangkatan serta perekrutan , sedangkan kontrak kerja hanya 2 tahun saja. Penambahan kontrak tergantung ketentuan majikan dan kemauan pekerja. Sedangkan anda ingin memutus kontrak kerja dengannya. Bisa jadi dia mendapat majikan baru namun harus menambah potongan lagi sekitar 2 bulan. Apa anda tidak merasa kasihan padanya Boss...? Belum tentu juga majikan barunya itu cocok dengannya. Setelah itu dia di kemalikan lagi dan mendapat potongan lagi apabila mendapat majikan baru lagi" kata Stanly panjang lebar.


"Jadi menurut anda kapan dia bisa mengumpulkan uang untuk melunasi hutang suaminya di Indonesia ?" tanya pria itu pada bossnya.


"Apa suaminya tidak bekerja...?" tanya Adam pada asistennya.


"Dia bekerja Boss... dia harus memberi makan orang tua dan kedua anaknya. Maka dari itu dia mencari uang untuk makan keseharian mereka. Sedangkan Mina, dia membantunya mencari uang disini untuk melunasi hutang mereka" jawab Stanly panjang lebar.


"Baiklah... Boss... ini sudah larut malam. Anda harus istirahat. Saya akan kembali kerumah dan akan menjemput anda pukul 10 besok" kata Stanly setelah menghabiskan tehnya dan pamit undur diri kepada Adam.


"Baiklah... Stan... hati hati di jalan" jawab Adam sambil meletakan cangkir teh yang baru saja ia cecap.


Setelah kepergian Stanly, Adam keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamar tidurnya. Tapi perjalanannya terhenti ketika ia mendapati Mina masih terjaga dan sedang duduk di kursi sambil membaca buku.


Saat hendak menyuruhnya untuk tidur, Adam mendapati bahwa Mina tertidur sambil membawa buku. Adam terkekeh geli melihat Mina yang hampir terbentur meja makan di depannya.


"Mina..." Adam menyentuh pundak wanita itu bermaksud untuk membangunkan Mina agar ia tidur di kamar.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Mina berusaha meraih kesadarannya dan mencari suara itu. Mendapati ada pria di depannya membuat Mina heran. Seakan ia berada diantara mimpi an kenyataan.


"Loh... Mas... kapan pulang..." kata Mina dalam bahasa Indonesia. Tapi mendapati pria di depannya diam, Mina berusaha meraihnya.


Mendapati dirinya di sentuh seorang wanita, Adam langsung mencekal tangan itu kemudian berkata ;" Mina bangunlah... jangan tidur di sini... masuklah ke kamarmu..."


Mina terkikik geli... merasa lucu saja, bahwa sejak kapan suaminnya itu bisa berbahasa Inggris. Sangat aneh...


"Mas... sejak kapan kamu bisa berbicara bahasa Inggris...?" tanya Mina pada pria yang ia kira suaminya itu dengan bahasa yang sama.


"Hey... Mina sadarlah...!!!" kata pria itu sambil menepuk nepuk pipinya dengan telapak tangannya agar tersadar. Tapi wanita itu tak kunjung sadar.


Mendapati nafas Mina berbau cola, Adam mengira bahwa wanita itu sedang mabuk. Karena dari nada bicaranya seakan dia sedang berbicara dengan orang yang begitu ia kenal.


Mina bergelayut pada lengan tangan Adam dan berkata; "I miss You..." Adam tersentak kaget. Dan melepas tangan Mina kasar. Dia bahkan tidak pernah membiarkan wanita lain selain


Sarah yang menyentuhnya.


Dia melihat 2 kaleng cola kosong di atas meja. Mendapati bahwa mungkin Maidnya itu tidak kuat minum walau hanya minuman bersoda. Dia memapah tubuh wanita itu ke kamarnya dan menidurkannya di ranjang milik wanita itu.


Kemudian ia berjalan keluar dai ruang tidur maidnya itu dan menutup pintu perlahan.


Adam kembali ke kamarnya. Pria itu merebahkan tubuhnya di kasur miliknya dan berusaha memejamkan matanya ketika sudah di dalam kamarnya.


Mengingat kata kata Mina barusan, membuatnya tidak bisa tidur. Entah apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Bagaimana ia bisa merasakan sesuatu yang aneh pada wanita itu. Sedang dia tidak pernah merasakan apa apa pada wanita lain selain Sarah istrinya.