My Maid And I

My Maid And I
Part 70. My Maid and I



Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 24 jam dari Kanada, Adam dan Mina saat ini berada di pintu kedatangan Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta.


Mina menghela nafasnya lega. Setelah hampir 2 tahun ia meninggalkan negara tercintanya, tanah kelahirannya, serta keluarganya. Tapi, senyum tidak lagi nampak dalam dalam wajahnya. Tidak seperti yang ia rencanakan dulu.


Mina Pov...


Aku tidak menyangka akan kembali dengan cara seperti ini. Meski aku lega, namun saat ini hatiku begitu kecewa. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Perjalananku belum usai dan masih menempuh 4 jam perjalanan lagi dari Yokyakarta menuju ke kota tempat kelahiranku menggunakan minibus.


Meskipun Mr Adam selalu mendampingiku selalu memintaku untuk tetap bersamanya aku tau mungkin karena janin ini, meskipun ia bersikeras untuk mengajakku menggunakan Helicopter agar cepat sampai di tempat tujuan, tapi aku menolaknya. Aku ingin menikmati setiap pemandangan yang aku lalui menggunakan minibus berserta supirnya yang sudah di sewa oleh Mr Adam. Tak lupa pula pria itu selalu duduk di sampingku.


Sesampainya aku di kampung halamanku yang berada di sisi barat gunung sindoro dan sumbing ini. Hatiku begitu sakit. Entah itu karena apa. Aku benar benar was was. Aku benar benar belum siap kehilangan semuanya. Aku benar benar takut, takut apa yang tidak aku inginkan terjadi.


Aku menatap punggung seorang pria yang tidak asing bagiku dari balik kaca dalam mobil. Pria itu tengah memotong kayu. Pria yang sangat aku rindukan, pria yang sangat aku cintai.


Aku ingin keluar dari sini dan berlari memeluk orang yang paling aku cintai itu dari belakang sebagai sebuah kejutan. Pria yang membuatku mengerti apa arti berjuang dan juga cinta. Namun, saat ini hanya angan belaka.


Rasanya, baru kemarin kami melakukan ijab khobul serta menyelenggarakan pesta pernikahan yang sederhana. Meskipun, ibu dari suamiku..., ah ralat... mungkin mantan suamiku untuk saat ini. Ibunya tidak setuju dengan hubungan kami, tapi dulu kami berusaha sekuat tenaga agar mendapat restu seutuhnya dari ibunya.


Aku tidak yakin dengan apa yang akan aku lalui saat ini. Akankah Mas Jono mau memaafkan aku serta menerima aku yang tidak suci lagi sebagai istrinya. Aku sungguh tidak menghianatinya sungguh. Seandainya tau menolong Mr Adam hanya akan membuatku kehilanganmu, aku tidak akan menolongnya. Dan jika saja waktu bisa terulang kembali, aku tidak akan pergi meninggalkanmu ke negeri orang.


Setelah mendapat izin dari Mr Adam, aku turun dari dalam mobil. Pria itu menungguku dari dalam mobil bersama dengan sang supir. Akuberjalan menghampiri rumah yang sudah di renovasi itu. Jauh lebih baik dari saat aku pergi dulu.


"Asalamuallaikum...!!!" seruku.


Pria yang sedang membelah kayu itu, langsung menghentikan kegiatannya dan menatap pada diriku. Ia mematung menatapku tidak percaya. Kampak yang ia bawa jatuh dari tangannya. Tatapannya begitu teduh dan menenangkan. Tapi aku melihat raut wajah penuh kekecewaan dari matanya. Tidak ada senyum dari wajahnya yang tampan khas orang jawa.


"Siapa mas...???" tanya suara seorang wanita dari dalam rumah. Dan suara itu membuatku begitu terpukul. Dari dalam rumah, keluarlah seorang wanita yang sedang tersenyum pada Mas Jono. Tapi senyumnya memudar saat ia melihatku di halaman rumah.


"Salimah... apa yang kamu lakukan di sini...???" tanyaku penasaran. Wanita itu hanya tersenyum sambil menggampiri Mas Jono.


"Aku istrinya Mas Jono sekarang, aku juga sedang mengandung buah cinta kami saat ini...." ucapnya dengan senyuman merekah.


JEDEEEEERRRRRRR.....๐ŸŒŠ๐ŸŒŠ๐ŸŒ‹๐ŸŒ‹โšกโšก


Seakan akan petir menyambar, hatiku kaget serta rapuh. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.


"Mas... bisakah kamu menjelaskan semua ini...???" ucapku sambil menggampiri pria itu untuk meraih tangannya. Namun di tepis oleh Salimah.


"Eh... bukannya kamu itu sudah selingkuhin Mas Jono ya... sama majikan kamu. Apa lagi kan kalian tinggal serumah. Bertahun tahun lagi...!!!" ucap Salimah.


"Apa buktinya aku selingkuhi Mas Jono, Sal....??? Coba perlihatkan padaku...!!!" ucap ku sebagai pembelaan.


Salimah pergi ke dalam rumah dan keluar kembali membawa ponselnya dan ia menghampiriku.


"Ini buktinya... Apa kamu mau mengelak...???" tanya Salimah padaku. Aku menatap ponsel milik Salimah dan benar saja, aku melihat wajahku berada di ponsel itu saat sedang keluar dari Shangrilla Hotel saat masih di Singapura, tempat yang dulu aku dan Mr Adam pernah datangi untuk istirahat. Tapi kami tidak melakukan apapun.


Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya. Tidak percaya bahwa ada seseorang yang mengambil gambar kami di sana dan menjadi boomerang saat ini. Aku menyadari kebodohanku dan aku sungguh tidak menyangka dengan hanya gambar itu saja Mas Jono percaya dengan apa yang ada di gambar itu.


"Aku tidak menghianatimu Mas... aku tidak selingkuh... aku benar benar tidak melakukan apapun meskipun kami keluar dari dalam hotel bersamaan. Aku mohon mas, percayalah padaku...!!!" ucapku memohon agar Mas Jono percaya.


"Dek... aku tidak tau kamu sel8ngkuh atau tidak. Yang tau hanya kamu karena kamu yang mengalami. Meskipun terbukti kamu tidak selingkuh, aku juga tidak bisa kembali padamu. Kita telah resmi bercerai satu bulan yang lalu, meskipun kamu tidak datang, tapi kamu sudah di wakilkan oleh pengacara. Dan saat ini aku sudah menikah dengan Salimah. Maka dari itu, maaf... aku tidak bisa menepati janjiku padamu dulu. Aku tidak bisa menepati jika aku akan menua bersamamu... Carilah bahagiamu, aku sudah bahagia saat ini... Aku juga kecewa padamu. Kecewa karena setelah mendapatkan kabar perselingkuhanmu, kau sangat sulit untuk aku hubungi. Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu. Aku ingin meminta penjelasanmu. Tapi, kau sama sekali tidak membalas ataupun menerima pesanku. Jadi aku percaya jika itu terjadi padamu bahwa kamu menghianatiku dek. Percaya bahwa kamu sudah melupakan aku dek...!!" ucap Mas Jono panjang lebar.


Tangan Salimah bergelayut di lengan Mas Jono. Seakan takut jika Mas Jono berlari menghampiriku. Ku lihat sekitar, beberapa orang tetangga menyaksikan perdebatan kami. Aku begitu terpukul dan malu. Setidak tidaknya, Salimah dan Mas Jono mengajakku masuk untuk membahas masalah ini di dalam. Bukannya membiarkan aku berdiri disini tanpa ada sambutan apapun serta menjadi bahan tontonan gratis untuk tetangga.


Tubuhku lemas dan tidak bertenaga. Dan aku...