My Maid And I

My Maid And I
Season 2 MOO. Part 7. Kesalah pahaman Stanly pada Ellen.



Sebelum menemui Mina di ruangan kamar mereka, Adam baru saja meminta Ellen adik bungsunya untuk mengantarkan ponsel Stanly yang tergeletak di meja kerjannya. Kebetulan Ellen akan pergi ke Vancouver untuk menemui sahabatnya yang baru saja datang dari Brazil.


Sesampainya gadis itu di Kota tersebut dengan mengendarai mobilnya, Ellen langsung mencari alamat yang sudah di beri oleh kakaknya itu. Sebuah apartemen di pinggiran sungai Kota Vancouver berdiri dengan elegant. Suasana tenang dan jauh dari hiruk pikuk kesibukan Kota itu. Ellen memasuki loby dan menuju ke tempat informasi. Menanyakan pada Security apakah Stanly benar benar memiliki tempat tinggal disini. Ellen langsung menuju ke lift yang akan naik. Ellen menekan tombol untuk pergi ke lantai 8 setelah ia mendapat informasi bahwa memang Stanly berada di tempat ini saat ini.


Sesampainya di depan pintu apartemen Stanly, Ellen ingin memencet bell tapi di urungkannya saat pintu tidak sepenuhnya rapat. Ellen memasuki ruangan apartemen itu karena memang, ia kenal baik dengan asisten pribadi kakaknya itu. Ellen menyusuri ruangan depan dan memanggil manggil nama pria itu.


"Kak... Kak Stanly..." seru Ellen mencari keberadaan Stanly.


Sambil menggenggam tali sling bag nya, Ellen memberanikan diri untuk masuk lebih dalam lagi ke ruangan lainnya. Ellen terkesiap, melihat asisten pribadi kakaknya itu tertidur di atas sofa. Dan yang membuatnya malu, pria itu bertelanjang dada serta memperlihatkan beberapa kissmark di leher dan dada bidang pria itu. Ellen tau, meskipun ia belum menikah apalagi memiliki pacar, ia tau jika pria yang tengah terbaring itu baru saja menghabiskan siang penuh gairah. Ellen malu membayangkan hal itu.


Ellen tidak tau siapa wanita itu. Yang ia tau, saat ini dirinya begitu bingung. Menunggu pria itu bangun atau pergi menemui sahabatnya.


"Tring..."


Sebuah pesan, masuk ke ponsel miliknya. Ia bergegas membaca pesan itu. Takut sahabatnya sudah menunggu lama. Ellen tertegun saat ia tau bahwa temannya menunda pertemuan mereka untuk esok karena sahabatnya kelelahan sehabis perjalanan jauh, sementara dirinya hampir sampai. Hanya tinggal menyerahkan barang milik Kak Stanly saja kemudian menuju tempat janjian mereka. Ellen juga merasa kelelahan. Ia mencari tempat untuk duduk dan menunggu pria itu terbangun. Ia mendaratkan pantatnya di sebuah kursi di dekat meja lukis yang lumayan jauh dari Stanly berbaring.


Hari sudah semakin sore. Ellen palah tertidur di kursi yang ia duduki karena terlalu lama menunggu pria itu terbangun. Tanpa sadar tangannya menyenggol kaleng cat air yang tidak tertutup rapat serta tergeletak tak jauh dari dirinya duduk dan membasahi baju yang di kenakannya. Ellen sedikit panik. Pasalnya, ia takut akan membuat ruangan itu kotor.


Ellen segera membersihkan tumpahan cat itu dan masuk ke dalam kamar yang ia tau itu milik kakak perempuannya Allina ketika sang kakak berkuliah di sini. Ellen membuka lemari pakaian tersebut dan memilih salah satu mini dress selutut dan masuk ke dalam kamar mandi. Tumpahan cat tidak hanya mengenai pakaiannya tapi juga rambut dan sebagian tubuhnya. Sehingga mau tidak mau Ellen mandi.


***


Stanly mengerjapkan matanya mulai mencari kesadaran. Dirinya kaget mendapati tubuhnya telanjang bulat dan hanya tertutup selimut. Stanly mendengr suara gemercik air di dalam kamar mandi yang menjadi kamar Allina. Stanly bergegas memakai pakaiannya. Stanly menatap sofa dengan seksama. Noda merah di sofa seperti bercak bekas darah yang telah mengering. Stanly mengusap wajahnya kasar. Ia yakin, dirinya telah merusak seorang gadis. Namun entah siapa. Mungkin gadis itulah yang ia kira Allina pikir Stanly dalam hati.


Ceklek...


Stanly merasa bersalah karena tidak ingat apa pun untuk memperjelas apa yang terjadi. Seingatnya ia tengah bercinta dengan Allina dan bukan Ellen. Stanly menatap gadis itu dengan senyum canggung.


Ellen tidak ingin menggoda Stanly dengan kekonyolannya seperti dulu. Ia kini merasa sudah tidak pantas untuk menggoda pria yang telah berumur. Ia juga tidak mungkin bersenda gurau dengan pria itu saat ini. Selain dirinya juga canggung di hadapan pria itu, ia juga tidak ingin bertanya apapun pada pria yang baru saja melewati siang penuh gairah yang entah dengan siapa.


Ellen mendudukan tubuhnya di sofa seberang setelah melewati Stanly yang masih berdiri mematung menatap dirinya. Entah tatapan seperti apa yang ada di mata pria itu. Yang Ellen tau, Stanly menatap dirinya penuh rasa bersalah.


"Kak..." ucap Ellen memanggil pria itu.


"Hmm... Ada apa El...?" nada suara Stanly tercekat dan berat. Rasa bersalahnya begitu besar pada Ellen. Ia tidak tau mau bersikap bagaimana. Yang ia tau, ia harus bertanggung jawab pada hal yang beberapa saat lalu itu terjadi.


"Apa kau tidak mau mandi dulu...? Tubuhmu sangat lengket dan berkeringat... Apa kau tidak risih kak...?" Ellen berbicara seolah ia tau jika tubuh pria itu begitu lengket.


Stanly tercekat. Suaranya berhenti di tenggorokan dan tidak mampu berkata apapun. Ia bingung dan hanya berlalu ke sebuah pintu kemudian masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati. Ia tidak tau harus berbuat apa. Yang ia cintai Allina. Tapi, ia telah merusak Ellen...


'Oh... Tuhan... apa yang harus aku lakukan...?' batin Stanly berteriak. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin dengan masih menggunakan pakaiannya. Ia tidak tau, apakah kelak ia berani mengutarakan kenyataan yang baru saja terjadi pada keluarga besar Johanson.


Ia juga tidak akan punya muka untuk menghadapi Allina. Meskipun ia tau jika Allina masih membencinya. Adam sang Boss sekaligus sahabatnya itu, pasti tidak akan memaafkan dirinya telah merusak adik bungsu kesayangannya. Stanly menyugar rambutnya di bawah guyuran air dingin. Ia begitu frustasi. Ia menyesali dirinya yang tidak kuat minum anggur namun masih meminumnya dan membuat kesalahan pada seorang gadis.


Stanly terduduk sambil menatap kosong sekitar dengan masih dibawah guyuran air dingin. Ia merasa begitu buruk. Selama ini ia berusaha untuk berubah. Tidak ingin bermain wanita lagi. Tapi, ia melukai gadis cantik itu serta menodainya.


Stanly mencoba bangkit dari duduknya dan berusaha menghadapi apapun yang akan terjadi nanti.


'Tuhan... tunjukan jalan terbaikmu untukku... apa pun itu...' batin Stanly sambil melepas pakaiannya yang basah dan meraih handuk di lemari kecil kemudian berlalu keluar dari kamar mandi.