
Adam menyugar rambutnya dengan pelan. Ia tengah duduk di ruang kerjanya. Setelah keluar dari acara makan siang yang menyesakan dan penuh kebisuan itu membuatnya menghela nafasnya pelan.
Lagi lagi dirinya menyakiti hati maidnya. Meskipun dia orang luar dan orang asing di rumahnya, bukan siapa siapa dirinya, tapi selama wanita itu di rumah ini, ia adalah bagian dari keluarganya disini. Bagaimana tidak, orang asing yang terpaksa masuk ke kehidupannya dan menuruti aturan aturan di rumahnya serta memenuhi kebutuhannya setiap hari, mengabdi menjadi pelayan di rumah orang asing bagi wanita itu tanpa mengeluhkan beratnya perjuangan dirinya di rumah orang lain.
Tidak pernah sekalipun ia memikirkan perasaan maid ataupun pelayan pelayannya sebelum ini.
Bagi Adam, ia bisa sesuka hati untuk memarahi dan menghina kebodohan kebodohan pelayannya terdahulu karena ia bisa membayarnya dengan nominal yang ia bisa bayarkan.
Baru Adam sadari, bahwa setiap orang memiliki nasib yang berbeda beda. Kadang menjadi pelayan bukanlah keinginan hati mereka namun karena keadaan hidup mereka yang tidak memadai, serta pendidikan yang kurang cukup untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekedar menjadi seorang pelayan.
Adam menghela nafasnya pelan. Ia menyenderkan kepalanya di sofa yang tengah ia duduki sambil menatap langit langit ruang kerjanya. Menyesali perbuatannya dulu yang sering memaki, memarahi serta menghina pelayannya terdahulu. Bahkan sampai memecat pelayannya dengan tidak hormat tanpa mendengar penjelasan penjelasan dari mulut mereka.
Adam menyadari, mereka juga sama sama manusia seperti dirinya. Tidak sepatutnya ia menghina atau apapun pada sesama. Adam menyadari, mungkin Tuhan memberinya lebih dalam harta agar ia bisa berbuat baik. Tapi kenyataannya, ia menjadi sombong dan bermulut pedas.
Adam tidak ingin lagi menjadi manusia yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah Tuhannya berikan. Ia ingin berubah menjadi orang yang lebih baik dari dulu. Adam menyadari, bahkan harta yang banyak ini, tidak bisa membawa istrinya kembali kesisinya. Tidak bisa menukar nyawa istrinya.
Saat ini, memang ia mendapatkan kenyamanan dari usahanya, dari kerja kerasnya selama ini. Tapi ia lupa akan kuasa dari Tuhan yang maha esa. Menganggap apa yang ia capai adalah semata mata perjuangan serta kerja kerasnya selama ini. Lupa bagaimana Tuhan memberikan semua ini dengan kemurahannya atas kerja keras yang ia lalui.
Adam bangkit dari duduknya dan menuju jendela. Memandang susana sekitar yang memperlihatkan hiruk pikuk West coast dari kejauhan. Adam berlalu dan mendudukan dirinya di kursi kerjanya dan membuka laptop yang dari tadi ia hiraukan tepat berada di meja.
Kopi yang ia inginkan baru saja tersaji di meja. Wanita yang menjadi maid di rumahnya itu berlalu dengan masih menunjukan hormat pada dirinya. Meskipun mungkin di dalam hatinya mungkin masih marah serta dongkol pada dirinya, tapi ia sama sekali tidak menujukan tidak kesopanannya pada Adam. Walaupun raut wajahnya terlihat lebih suram dari biasanya.
Adam menyeruput kopi yang masih panas itu dengan hati hati. Ia mulai menelusuri dunia maya yang ada dalam laptopnya itu. Mengerjakan pekerjaan yang tertunda sedari dirinya kembali.
***********
Stanly kembali ke apartemennya yang berada 1 lantai di bawah Boss nya itu dengan perasaan berkecamuk. Setelah penolakan Mina kemarin karena kesalahannya sendiri, serta hari ini ia melihat leher wanita itu tidak mengenakan lagi kalung pemberiannya. Membuatnya tidak begitu menikmati makanan yang disajikan wanita itu tadi.
Ada penyesalan yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata kata. Di hatinya kini begitu terluka. Seakan tidak ada lagi wanita yang ia inginkan kecuali wanita bersuami yang 1 itu.
Stanly mengacak rambutnya frustrasi. Bagaimana ia bisa tertarik pada diri Mina. Pada kehidupan Mina. Pada apapun yang ada pada wanita itu. Apakah pemaksaan bisa membuat wanita itu takluk padanya.
Stanly mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu mengingatkan dirinya bahwa, ia terlalu terobsesi pada sesuatu yang terlarang serta sesuatu yang berada di luar kenalarannya.
Ia dengan bebas bisa mencari wanita dimana saja yang bersedia jatuh ke dalam pelukannya. Ia tidak akan lagi terobsesi pada Mina lagi. Penyesalannya ialah, 1 menguji wanita itu apakah seperti wanita yang selama ini ia kenal.
Stanly meraih kunci mobilnya di atas meja dan berlalu keluar apartemen untuk mencari angin segar. Ia begitu lelah, selama 2 bulan terakhir ia begitu terfokus pada pekerjaannya. Tanpa mempedulikan keinginan hatinya.
Sementara itu, Mina tengah membereskan ruang tidur tuannya setelah mencuci bersih peralatan makan siang mereka di dapur.
Kamar seorang pria lajang dewasa yang di dominasi warna hitam, abu abu serta putih itu terlihat sangat elegant di padukan dengan 2 lukisan bergambar pohon di dinding, memberikan kesan yang mistis dan creepy. Seduai dengan sang pemilik kamar pikir Mina kemudian tersenyum.
Setelah selesai membersihkan kamar serta kamar mandi milik tuannya itu, Mina kembali ke belakang dengan membawa pakaian kotor serta alat alat kebersihannya.
Mina istirahat sejenak di kamarnya. Merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Ruangan kecil tempatnya di sini. Dimana markasnya berada
.
ruangan yang di dominasi warna krem coklat dan putih itu adalah tempat yang cukup nyaman untuknya. Mina terlelap sejenak. Melepas penat hari ini dengan tidur siannya yang terlambat.
Pukul 16:30 pm, Mina terbangun dari tidur siangnya. Setelah mencuci muka dan menguncir rambuatnya yang telah memanjang, Mina keluar dari ruangannya tersebut menuju tempat setrikaan. Mengambil girden yang tadi belum sempat ia pasang kembali.
Setelah mengambil tangga berukuran kecil dan memasang kembali kaitnya di kain gorden, ia mulai menaiki tangga dengan menyampirkan gordennya ke bahunya yang kurus. Kaitan demi kaitan ia sematkan di besi yang tergantung di tembok. Mina cukup berhati hati dengan apa yang ia lakukan. Karena cukup berbahaya bagi siapa saja.
Mina kembali menaiki tangga dengan membawa gordennya seperti tadi. Sebagian telah terpasang sempurna hanya tinggal sebagian saja dan hampir selesai.. Karena kurang hati hati, ia terpeleset kain yang tergerai di tangga. Mina memejamkan matanya. Ia seakan kehilangan akal sehatnya begitu saja saat dirinya akan terjatuh dari tangga.
Bugh....
Sesaat kemudian, mata mina terbuka dan mendapati tubuhnya di tahan seseorang. Tanpa di sadarinya, tangan sang penolong mendarat tepat di dadanya yang membusung. Mina membelalakan matanya dan berusaha untuk terlepas dari sang penolong.
Mina terbelalak sempurna, karena mendapati sang tuanlah yang menangkapnya dan menahannya agar tidak terjatuh. Pipi Mina panas merah merona karena malu. Mina memalingkan wajahnya dari hadapan sang tuan.
Adam yang tadi tidak sengaja menyentuh sesuatu yang kenyal dan lembut itu, tidak menyadari bahwa ia menyentuh buah dada Mina.
Sesaat setelah dirinya sadar karena melihat wajah mina merona menahan malu, dirinya juga malu dengan apa yang baru saja ia lakukan tanpa di sengajanya.
Melihat sang maid dalam bahaya, Adam langsung bertindak tanpa pikir panjang. Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan sedikit menjauhi Mina.
"Lain kali hati hati... itu bisa membahayakan nyawamu..." kata pria itu lembut kemudian berlalu kembali ke ruang kerjanya.
Mina hanya menunduk tanpa melihat wajah dari tuannya.