
Mina benar benar tak percaya. Belum selesai masa potongannya, sang tuan sudah memberinya handphone. Meski dengan satu syarat dirinya harus lebih banyak belajar memasak dari sebuah aplikasi di handphone itu, tapi Mina benar benar bersyukur dengan semua yang di berikannya hari ini.
Mina tersenyum sembari meneteskan air matanya. Dia benar benar gembira saat ini. Tak ada kata kata yang dapat ia ucapkan saat ini. Dia membawa paper bag tadi dan menyimpannya di ruangan tidurnya kemudian ia kembali ke kamar tuannya untuk melanjutkan acara bersih bersihnya.
-------
Sementara itu di ruang kerjanya, Adam sedang menatap layar yang sedang memperlihatkan aktifitas rumahnya lewat CCTV. Entah kenapa Adam ingin melihat expresi dari wajah maidnya ketika mendapat barang yang ia berikan saat ini.
Namun yang ia dapat hanya senyuman dengan air mata. 'Apa ia saking senangnya sampai menangis sambil tersenyum' batin pria itu.
CCTV ada di mana mana. Ruang tidurnya juga ada dan sedang memperlihatkan Mina disana. Tidak ada hal yang aneh. Dan masih seperti biasa, wanita itu memang cekatan dalam bebersih.
Adam mematikan layar TV nya dan bersiap siap keluar untuk menghampiri sang asisten di parkiran.
"Mina... Mina..." Adam memanggil maidnya ketika sudah di luar rung kerjanya.
Orang yang ia panggil baru saja keluar dari kamarnya dengan menenteng ember berisi alat alat kebersihan.
" Ya ... Mr... ada apa....??? Ada yang bisa saya bantu Mr...???" kata wanita itu sembari menghampiri dirinya.
" Aku akan keluar dan kembali malam hari.... kamu tidak usah masak untuku... masaklah untuk kamu makan sendiri..." Adam berkata pada maidnya.
"Oh... Ya... Mr..." jawap Mina sambil menganggukan kepalanya.
"Apa ... Stanly sudah memberimu handphone yang aku titipkan...???" tanya Adam kepada Mina.
"Sudah... Mr... dan terima kasih untuk handphone nya... saya akan menggunakannya dengan bijak.." Mina berterima kasih pada sang tuan.
" Stanly sudah mengajari cara menggunakannya...???" tanya pria itu antusias.
"Sudah... Mr..." jawab Mina sambil menatap binar tuannya.
Merasa di perhatikan maidnya, Adam berdehem untuk menetralisir rasa antusiasnya dan berkata...;" Baiklah ... Mina... handphone yang ku berikan itu barang mahal... jadi, gunakan ia dengan baik... dan juga jangan sampai rusak ataupun hilang... karena kau baru bisa membeli hanphone itu dengan 6 bulan gajimu bekerja disini... intinya, kau boleh menggunakannya selama kau bekerja disini...." kata Adam panjang lebar.
Mina sedang mencerna kata kata tuannya dengan seksama. 'Selama bekerja disini... selama bekerja disini... jadi...' Mina melototkan matanya dan menatap tuannya tak percaya...
"Maaf... Mr... apakah anda tidak jadi mengirim saya kembali ke agenci...???" tanya Mina antusias.
"Apa kau pikir aku bodoh... Mina... atau kau yang bodoh... kalau aku akan mengembalikanmu ke agenci untuk apa aku membelikanmu handphone... hmm...,???" jawabnya sembari bertanya.
"Aku bisa langsung membawamu ke agenci dari hari kamu memberiku sarapan nasi goreng kalau aku mau... Aku memberimu kesempatan untuk bekerja disini... jadi, gunakan kesempatan itu dengan baik... !!" kata pria itu dingin.
Mina meletakan ember yang ia bawa dan berlari ke arah sang tuan... meraih tangan tuannya untuk berterima kasih...
"Terima kasih...Mr... terima kasih... sekali lagi terima kasih..." Mina berbicara sambil memegangi tangan tuannya.
"Hey...!!! Baiklah...!!! Aku terima ucapan terima kasihmu ... tapi kau tak perlu menyentuhku... Apa kau mengerti...!!!" nada suara Adam meninggi karena sentuhan tangan Mina di tangannya.
"Ah... iya... Mr... saya minta maaf..." cepat cepat ia melepas tanganya dari tangsn sang tuan dan merutuki dirinya sendiri. Bagaima bisa dirinya sampai kehilangan kendali dan menyentuh tuannya.
"Oke... aku pergi dulu... Mina..." Adam berkata sambil berjalan menuju pintu keluar apartmennya untuk menghampiri Stanly sang asisten di parkiran mobilnya.
"Iya.. Mr... hati hati di jalan..." suara Mina meninggi karena tuannya telah keluar dari pintu.
Mina berjingkrak jingkrak kegirangan. Senang gembira bahagia jadi satu. Bagaimana tidak.... Tuannya tidak jadi mengembalikannya ke agenci penyalur pembantu dan dia di belikan handphone agar bisa belajar masak sekaligus bisa menghubungi keluarganya atau suaminya memberi kabar bahwa dirinya baiik baik saja.
Bahkan sampai dirinya lupa bahwa ia bukan anak kecil ataupun ABG lagi... kegirangan saat diberi permen.
Mina memukul jidatnya dan berjalan meraih ember yang ia letakan tadi dan membawanya ke belakang.
Adam menghampiri Stanly sang asisten yang berada di parkiran. Stanly membukakan pintu mobil untuk sang Boss... dan menutupnya kembali ketika Adam sudah memasukinya.
Stanly masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan stir... Stanly mengendarai mobil itu dan mulai keluar dari pelataran apartment Boss nya... menuju jalan raya yang padat namun teratur.
Mendapati sang Boss terkikik geli sambil menatap layar hanphonenya, membuatnya terheran heran. Hal apa yang membuatnya begitu senang sampai ia menjadi orang lain.
"Kau tidak perlu menatapku sampai segitunya... Stan... apa kau pikir aku lucu... hmm... !!??" tanya Adam pada Stanly.
"Tidak ada... Boss... saya hanya heran kepada anda setelah bertahun tahun anda disini, ini pertama kalinya anda terkikik sampai segitunya.... saya kira anda sudah lupa bagaimana caranya tertawa..." Stanly mencibir sang Boss sambil tertawa.
"Tapi , saya senang... Boss... akhirnya anda terlihat lebih hidup saat ini..." Kata Stanly mengungkapkan sambil tersenyum.
"Benarkah... Stan...???" tanya Adam tak percaya. " Kau hanya berasumsi sesuka hatimu Stan..." Adam menepis perkataan Stanly.
Setengah jam perjalanan tiba tiba hanphone Adam terhubung dengan sebuah server asing.
Dia mulai mengotak atik hanphonenya dan mulai marah. Siapa yang telah berani membajak informasinya.
"Stan... carilah tempat berhenti segera...!!!" perintah sang Boss sambil berteriak.
"Ada apa ... Boss.... apa yang terjadi...!!????" tanya sang asisten panik.
"Seseorang mengirim atau memberi sinyal aneh... atau jangan jangan ia membajak handphoneku ... Stan...???" Adam berasumsi buruk.
"Biar saya cek hanphone anda... Boss...!!!" Stanly menengadahkan tangannya meminta handphone Adam.
Adam memberikan handphonenya pada Stanly ketika ia sudah berada di parkira sebuah super market kecil 7 Ele**nt di daerah Jurong West.
"Baiklah... Stan... aku keluar dulu untuk membeli air minum...." Adam keluar untuk membeli beberapa botol air minum. Selang beberapa saat, Adam telah kembali dengan membawa 2 kantong plastik berisi penuh.
Stanly mengecek seluruh aplikasi di dalam server handphone Adam. Dan menemukan bahwa handphone sang Boss telah terhubung dengan handphone Mina. Yang menandakan bahwa wanita itu telah mengaktifkan handphonenya.
"Apa sudah ketemu permasalahannya Stan....???" tanya sang Boss.
"Maaf ... Boss..." kata Stanly pelan.
"Ada apa Stan... apa seseorang menginginkan info pribadiku dan menyadap handphoneku...???" tanya Adam tak sabar.
"Bukan... Boss... maaf saya lupa memberi tahu anda sebelumnya...bahwa hanphone Mina telah saya sadap dan terhubung dengan server handphone anda..." kata sang asisten panjang lebar.
"Untuk apa...Stan... kau melakukan itu... hmm...??? Aku harap kau segera kembalikan semuanya seperti semula....!!!" nada bicara Adam begitu tinggi penuh emosi.
"Bukankah... anda tidak ingin kejadian maid sebelum Mina itu terulang kembali...Boss...??? Maaf... saya tidak ingin kejadian itu terulang... dan saya berinisiatif agar maid anda saat ini lebih bisa terkontrol dari sebelumnya..."
" Anda bisa mengecek apa saja yang ia lakukan dengan handphonenya dan siapa saja yang ia hubungi... dan handphone anda akan menerima hal sama persis dengan milik maid anda..." kata Stanly panjang lebar.
"Tapi itu menyangkut urusan pribadi Stan... apa itu tidak keterlaluan... hmmm....???" tanya Adam pada Stanly.
"Apa anda lebih suka kejadian itu terulang lagi ...Boss...???" tanya sang asisten.
Adam berpikir sejenak dan mencoba berpikir positif dari tindakan sang asisten saat ini adalah hal yang terbaik. Daripada kejadian maid sebelumnya terjadi lagi.
"Baiklah...Stan... Aku turuti maumu saat ini... kita lanjutkan perjalanan kita..." kata Adam.
" Baik... Bosss...." Stanly kembali menyalakan mesin stir dan mengemudikan mobil sang Boss untuk keluar pelataran parkiran supermarket dan menuju jalan raya.