
Mina menggeliat pelan. Ia mulai mengerjapkan matanya perlahan. Dirabanya sisi sebelah tempat tidur. Ia mencari pria tampan yang membuatnya melayang layang di surga. Namun, tidak ada tanda tanda dari prianya itu di sampingnya.
Ceklek...
Mina memusatkan pandangannya dan mencari asal suara itu. Ia menatap Adam yang baru saja selesai mandi. Pria itu hanya menggunakan handuk putih sebatas pinggang. Dan sedang mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Sisa air di rambutnya menetes di dada serta tubuh sixpacknya. Membuat pria itu nampak begitu sexy meskipun telah berumur.
Mina yang melihat itu hanya merona malu dan memejamkan matanya. Ia bisa mengingat dengan jelas betapa gagah dan perkasa tubuh prianya itu. Apalagi.... Ah... malu aku...😂😂😂...
Adam tau, jika wanitanya itu sedang berpura pura tidur. Ia juga tau, jika Mina sedang mencuri curi pandang. Adam masih mengingat dengan jelas jika tubuh wanitanya begitu memabukan. Ia tidak bisa berkonsentrasi dan ingin mengulangnya serta menahan istrinya itu di dalam kamar seharian.
Tapi, ia urungkan saat ia mendengar notifikasi dari ponselnya tadi. Sebuah pesan dari orang kepercayaannya Stanly. Stanly sang asisten saat ini berada di kediaman orang tuanya. Adam bergegas mandi. Namun, saat ini melihat istrinya terbaring di dalam selimut yang tentu saja masih dalam keadaan telanjang bulat, membuat sesuatu dalam dirinya terbangun.
Adam mendekati Mina dan mencoba untuk menggodanya. Di singkapnya selimut yang membungkus tubuh istrinya itu. Seketika, Mina membuka matanya lebar lebar dan menatap wajah sang suami.
"Bangunlah sayang, atau aku akan membuatmu berada di atas ranjang seharian untuk melayaniku..." ucap Adam dengan senyumnya.
"Ya... Bie..." ucap Mina dan langsung duduk dan hendak berlalu ke kamar mandi dengan langkah kecilnya. Namun, Adam langsung menangkap tubuh telanjang istrinya dan membopongnya.
"Ada apa Bie...?" tanya Mina yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan suaminya sambil menatap wajah pria itu.
"Mungkin lebih baik jika kita mandi bersama..." ucap Adam dengan senyuman lebarnya.
"Bukankah kamu sudah mandi Bie..." ucap Mina yang merasa bahwa mereka tidak hanya sekedar mandi.
"Tapi aku ingin memanjakan dia dan kamu..." ucap Adam. Tersungging seringaian di wajahnya.
"Uh... dasar..." Mina menggerutu kesal. Ia tau apa yang di maksud suaminya itu. Karena ia cukup berpengalaman sebagai wanita dewasa.
Mereka berlalu ke kamar mandi dan keluar setelah mereka menuntaskan hasrat mereka yang menggelora.
***
Stanly merasa jengah dengan penantiannya. Pasalnya, Sang Boss mengatakan setengah jam lagi ia akan menemuinya. Tapi, ini sudah lebih dari 1 jam dia menunggu. Ia tau apa yang menjadi kendala dari Bossnya itu saat ini. Ia paham betul dengan apa yang saat ini terjadi.
Stanly bangkit dari tempatnya duduk dan berdiri menatap ke halaman. Pandangan matanya terpusat pada seorang Wanita yang tengah berenang di kolam renang. Ia begitu merindukan senyuman wanita itu.
Tanpa di sengaja, tatapan mereka bertemu. Sang wanita langsung memalingkan wajahnya. Pandangan mata Stanly masih tetap pada satu titik yaitu wanita itu.
"Al, aku merindukanmu..." ucap Stanly tanpa sadar. Stanly langsung memalingkan wajahnya dan kembali duduk di sofa. Ia mulai kembali mengingat saat wanita yang ia cintai itu meninggalkan dirinya dan memilih kariernya ketimbang dirinya.
"Kau sudah lama Stan...?" tanya sebuah suara yang ia tau adalah suara Adam sang Boss.
"Ya... mungkin sudah mulai karatan..." ucap Stanly sambil menatap Bossnya. Tatapannya juga beralih pada wanita yang ia kenal. Istri dari sang Boss saat ini tengah tersenyum padanya.
"Apa kabar anda Nyonya Mina...?" ucap Stanly secara formal.
"Ya... ampun Mr Stanly, tidak perlu terlalu formal..." ucap Mina menepis kata kata Stanly.
"Akan sangat tidak sopan jika, aku memanggil istri Boss dengan sembarangan..." ucap Stanly datar.
"Ehem..." Adam berdehem untuk mencairkan suasana yang ia rasa mulai memanas.
"Sayang, buatkan aku kopi... Aku merindukan kopi buatanmu agar rasa kantukku hilang..." Adam memerintah Mina agar dia bisa bebas berbicara dengan Stanly.
"Aku juga ingin secangkir kopi buatan anda Nyonya Mina, aku cukup merindukan kopi yang engkau seduh itu. Punyaku sudah habis, karena menunggu kalian selesai memupuk tanaman kalian..." ucap Stanly memberi istilah pada hal yang ia bicarakan agar tidak terlalu fulgar, yang mungkin bisa membuat istri dari Bossnya itu malu.
"Baiklah... Bie... aku ke dapur dulu..." ucap Mina dan langsung berlalu kembali ke belakang.
Di tengah perjalanannya menuju dapur, ia berpapasan dengan Allina yang baru saja selesai berenang. Wanita itu menggunakan bathrobe di atas lutut dan memperlihatkan kaki jenjangnya.
"Al... kau baru selesai berenang...?" tanya Mina basa basi untuk mencairkan suasana. Karena ia bingung saat menghadapi adik iparnya ini.
"Panggil aku Nona Muda. Kau bahkan lebih rendah dari pelayan disini. Apa kau tau, jika bukan karena kau mengandung anak kakakku, dia tidak akan mau membawamu kemari. Ingat jangan sembarangan memanggilku...!!!!" ucap Allina yang tengah emosi, karena melihat pria yang ia benci sekaligus ia rindukan. Dan ia melampiaskan itu pada Mina sang kakak ipar yang seharusnya ia hormati.
"Baiklah... Nona Muda Allina, saya minta maaf atas ucapan saya yang sembarangan... " ucap Mina sambil menunduk dan berlalu kembali ke arah dapur.
Allina berlalu menaiki tangga yang berada di sebelah barat di antara tempat Adam dan Stanly duduk. Lirikan Allina tertuju pada pria yang ia benci sekaligus ia rindui itu.
Stanly tidak begitu konsen menjelaskan pada sang Boss saat tatapan matanya menangkap keberadaan Allina. Dan buru buru ia mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
Adam yang tau duduk permasalahan mereka, hanya menghela nafasnya pelan. Allina lah, yang membuat pria se setia Stanly menjadi seorang Lady Killer. Adiknya lah yang membuat orang kepercayaannya itu menjadi pria berbeda. Stanly pria yang hangat dan murah senyum. Tapi, semenjak perpisahannya dengan Allina, membuatnya berubah menjadi pria berbeda 180°. Dari segi apapun.
Adam juga merasa bersalah karena tidak bisa membuat mereka kembali akur dan menjalin hubungan baik meskipun, mereka bukan sepasang kekasih lagi. Adam tau, jika Stanly masih mencintai adiknya itu. Hanya saja, pria itu takut membuat Allina kecewa. Kecewa karena tidak bisa memberinya apapun yang ia inginkan.
'Aku berharap, ada jalan keluar yang baik di antara kau dan Allina...' ucap Adam dalam hati.