My Maid And I

My Maid And I
Part 69. My Maid and I.



Mina menggeliat kesana kemari mencari tempat yang nyaman untuk meneruskan tidurnya. 'Tunggu, kok... kursinya jadi lebar begini ya...???" batin Mina.


Mina merasa, bahwa kursi pesawat yang tadi ia duduki itu, tidak mungkin bisa untuk berbaring. Sayup sayup Mina mulai membuka matanya dengan perlahan. Ia syok bahwa saat ini ia terbaring di sebuah ranjang besar dan lebar yang ada di dalam cabin pesawat.


Mina mengecek pakaian yang ia kenakan. Ia takut jika hal yang sangat tidak masuk akal terjadi lagi. "Ah... syukurlah..." Mina mendesah lega.


"Apa kau berpikir aku memerkosamu lagi Mina...???" tanya sebuah suara yang ia tau pastilah suara dari Mr Adam.


"Tidak... " ucap Mina dengan keras sambil menatap pria itu, yang saat ini tengah duduk sambil membaca sebuah majalah bisnis.


"Lalu, kenapa kau mengecek pakaianmu...???" tanya Adam sambil menatap Mina yang masih berada di atas ranjang.


"Saya hanya memastikan saja..." ucap Mina santai.


"Memastikan apa...???" Adam masih menatap Mina dengan tatapan datar.


"Saya hanya memastikan, anda tidak berbuat macam macam saja terhadap diri saya...!!!" ucap Mina sama sama datar.


"Oh... Jadi, kau berharap sesuatu terjadi...???" ucap Adam datar.


"Tentu saja tidak Mr... karena saya tau, anda bukan orang yang seperti itu..." ucap Mina sambil tersenyum menatap pria itu.


"Apa arti senyumu itu...??? Apa kau meledekku...??? Aku tau, aku bukan pria baik baik...!!!" Adam mulai tersulut emosi. "Aku bisa saja memaksakan kehendakku lagi saat ini. Apa kau masih berpikiran akan terlepas dariku saat ini...???" Adam mencoba menetralisir emosinya perlahan.


"Saya tidak tau Mr... yang pasti, saya mempercayai anda bahwa anda orang baik. Contohnya, anda tidak menyentuh saya selama saya bekerja dengan anda. Anda dapat menahan hasrat anda meskipun pernah seranjang dengan saya di hotel waktu itu. Hanya saja, karena minuman laknat itu, anda menjadi hilang kesadaran. Saya tau anda pria baik Mr..." Mina mencoba memuji pria di depannya agar tidak tersulut emosi. Mina juga tau jika di mata pria dewasa itu ada secarik hasrat yang sedang di tahan mati matian oleh pria itu.


"Apa kau tau Mina, aku begitu menginginkanmu bahkan saat ini..." ucap Adam sambil menghampiri Mina yang masih di ranjang. "Apa kau tau Mina.... aku begitu tertekan karena tidak bisa menyentuhmu... aku juga tidak mau menyakiti janin yang sedang kau kandung itu dan aku juga tidak tau sejak kapan aku tertarik padamu, sedangkan kau tidak pernah menggodaku sama sekali..." Adam berkata sejujur jujurnya sambil meraih pundak Mina dan menatap wanita itu dengan intens.


"Apa pun keputusanmu nanti, aku harap kau tidak mengecewakan aku. Aku begitu mengharapkan bisa hidup bersamamu, bersama anak anak kita..." ucap Adam meyakinkan.


Mina menatap mata grey milik pria di depannya itu. Di mata pria itu, hanya ada pantulan dirinya. Serta tatapan hangat itu selalu tertuju padanya. Mina menggelengkan kepalanya agar tersadar dari hipnotis yang keluar dari sorot mata Mr Adam. Agar tidak tenggelam dan tidak bisa keluar lagi. Mina menepis tangan Mr Adam dari pundaknya.


"Saya hanya takut Mr..." ucap Mina jujur. Mina memalingkan wajahnya agar pria di depannya ini tidak melihat air matanya yang mulai keluar dari pelupuk matanya.


Adam meraih wajah Mina agar kembali menatap matanya.


"Katakan padaku Mina, apa yang kau takutkan...??? Aku ingin kau jawab sejujur jujurnya padaku..." Adam mengusap air mata yang keluar dari pelupuk mata Mina.


"Saya hanya takut, saya tidak pantas mendampingi anda karena saya tidak sebanding dengan anda. Anda orang kaya, saya hanya orang biasa yang tak berpendidikan serta tak berkedudukan tinggi. Saya kurang dalam segala hal. Apakah kelak anda tidak akan kecewa dengan apa ada dalam diri saya...???" Mina menatap manik Mr Adam dengan masih berkaca kaca.


"Serta, saya belum siap untuk kehilangan segalanya Mr... Saya belum siap berpisah dengan orang orang yang saya cintai selama ini... Suami saya, anak anak saya, orang tua saya, semuanya. Ketika saya mendengar bahwa anda mengatakan jika suami saya sudah menerima kompensasi dari apa yang anda perbuat terhadap diri saya, saya merasa sangat sedih dan kecewa Mr... Anda tidak mengijinkan saya dengan membiarkan apa yang akan saya pilih nanti. Meskipun saya tau, saat ini saya tidak punya hak untuk memilih karena janin yang anda sematkan pada diri saya..." air mata Mina bertumpah ruah dengan isakan yang mulai tak beraturan.


Adam diam membisu. Ia hanya menatap Mina dengan perasaan bersalahnya. Adam menarik Mina kedalam dekapannya dan menenggelamkan kepala wanita itu di dadanya. Ia tidak menyangka, bahwa ia sudah menyakiti wanita ini serta menghancurkan kebahagiaannya. Kata kata jujur Mina membuatnya sakit serta tertohok.


"Sorry... Mina... I'm sorry for everythings that I do..." Adam memeluk Mina lebih erat lagi. Air matanya meleleh merasakan Mina gemetar dalam pelukannya.


Mina berhenti menangis saat ia mulai mendengarkan suara perutnya yang lapar. Adam tersenyum dan mengusap air matanya pelan. Menjauhkan tubuh Mina dari dekapannya.


"Ada apa...??" tanya Adam pada Mina.


"Um...." Mina bingung mau mengatakannya.


"Kau ingin memakan sesuatu...???" tanya pria itu.


Mina mengangguk tanda mengiyakan.


"Kau ingin makan apa...???" tanya pria itu lagi.


"Sebelumnya maaf Mr... tapi,...!!!" ucap Mina namun ragu.


"Katakanlah...!!!" seru Adam.


"Saya ingin memakan nasi goreng, tapi anda yang memasaknya Mr...!!!" ucap Mina sambil menunduk.


"Hmmm... baiklah... tunggu 15 menit ya...???" ucap Adam dan keluar dari ruangan itu.


Mina menganggukan kepalanya. Ia begitu antusias ingin segera menikmati nasi goreng buatan Mr Adam.


💗 💗 💗


Mina menunggu dengan duduk di kursi yang tadi di duduki Mr Adam sambil menatap keluar jendela. Menatap awan awan putih nan tebal yang lebih mirip seperti bongkahan kapas yang berkilau. Mina tersenyum dengan sesekali menbelus perutnya yang mulai keroncongan.


Ia beranjak dari tempat ia duduk dan berjalan menuju pintu. Ia ingin keluar dari ruangan dan melihat proses memasak sang tuan. Mina tidak yakin dengan apa yang Mr Adam lakukan itu benar. Bisa saja pria itu tidak tau bagaimana caranya memasak.


Sesampainya di dapur pesawat, Mina tersenyum melihat pria yang biasanya mengatur dirinya tentang makanan, sedang mengatur makanan untuknya di meja makan. Sepiring nasi goreng telah tersaji di atas meja.



Dari penampilannya, nasi goreng itu cukup menggugah selera. Mina mendekati meja makan dan langsung mencicipinya.


"Ini enak sekali Mr..." ucap Mina tanpa sadar dan langsung melahap nasi goreng itu dengan cepat.


Adam yang sedang memunggunginya, langsung menoleh saat mendengar Mina mengatakan bahwa nasi gorengnya enak. Adam penasaran dengan apa yang di makan Mina itu benar atau tidak. Adam menghampiri Mina dan langsung menyuapi dirinya sesendok nasi goreng buatannya itu.


Tanpa menelannya pun ia tau bahwa nasi goreng buatannya itu begitu asin serta terlalu pedas karena ia banyak membubuhi bubuk lada ke dalamnya. Adam langsung mengambil piring itu dari Mina dan akan membawanya ke dapur.


"Apa yang anda lakukan Mr...??? Kenapa anda mengganggu acara makan saya....??? Kembalikan nasi goreng saya Mr...!!!" Mina berteriak dengan keras dan merebut piring itu dari Mr Adam.


"Nasi goreng ini tidak enak Mina... terlalu asin, nanti kau keracunan...." ucap Adam kawatir.


"Kembalikan atau saya tidak mau makan sama sekali... biar anak anda kelaparan..." ancam Mina.


Adam menghela nafasnya pelan. Ia mengembalikan piring berisi nasi goreng asin itu kembali ke meja dan membiarkan Mina memakannya. Adam melihat Mina yang dengan lahapnya memakan nasi goreng itu, hanya merasa kawatir saja. Jika nanti ia akan sakit perut.