
Jane mengompres wajah Allan dengan air dingin. Allan yang masih pura pura pingsan, mulai mencoba membuka matanya perlahan. Di tatapnya wajah cantik Jane. Wanita yang ia cintai dan ia rindui selama beberapa hari terakhir. Allan masih belum mengeluarkan suaranya. Ia hanya menatap wanita itu dengan tatapan kosong. Wajah bengkaknya mulai menyusut dan hanya menyisakan goresan bekas tonjokan sang kakak.
"Kau sudah sadar...?" tanya Jane lembut.
Allan hanya mengangguk pelan.
"Apa yang terjadi...? Bagaimana kau bisa terluka...? Dan bagaimana kau bisa sampai disini...? Apa seseorang menculikmu dan mencelakaimu...?" tanya Jane lagi dengan pertanyaan yang sangat panjang.
"A - aku tidak apa apa Jane... Aku juga tidak tau kenapa aku sampai disini. Aku kehilangan mobilku sebelum aku pingsan..." bohong Allan.
Dalam hatinya, Allan tertawa menertawakan dirinya yang mulai berbohong pada wanita pujaannya itu untuk meraih simpati darinya.
"Apa kau masih ingat dengan ciri ciri mobilmu serta orang yang saat itu terakhir bersamamu...?" Jane terus bertanya seakan mendesak Allan untuk menjawab.
"Aku tidak ingat... Aku tidak ingat sama sekali..." Allan pura pura lupa.
Dan Jane hanya menganggukan kepalanya pelan tanda mengerti.
" Terima kasih karena kau telah menolongku... Aku berutang nyawa padamu..." ungkap Allan pada Jane.
"Aku hanya menolongmu sebagai kemanusiaan saja. Aku harap kau cepat sembuh. Untuk sementara, aku berharap kau akan merasa nyaman di sini. Karena di sini tidak ada fasilitas yang lengkap seperti di Mansionmu... Karena disini adalah pemukiman yang paling terpencil". Jane menjelaskan.
"Well... Makanlah... Selagi buburnya hangat. Aku keluar dulu..." ucap Jane berpamitan.
Allan memakan buburnya pelan sambil sesekali mendesis karena bibirnya robek saat di pukuli sang kakak tadi. Allan menatap sekeliling ruangan yang ia tempati. Dalam hatinya, ia tidak menyangka jika Jane mampu bertahan hidup di tempat yang super waow dari kata mewah. Tempat sederhana nan kumuh di pedesaan. Namun Allan menyadari jika tempat ini cukup bersih dan terawat.
Sambil melahap buburnya, pandangan Allan tertuju pada bingkai photo memperlihatkan Jane kecil yang sangat cantik. Di baluti pakaian koboi dan tengah menunggang kuda. Di dekatnya terpampang sepasang pria dan wanita yang ia ketahui sebagai orang tua Jane. Yaitu, Mr dan Mrs Milano. Allan tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Allan berharap jika kelak ia dan Jane dapat memiliki anak anak yang cantik dan tampan. Itu impiannya.
'Jane, semoga aku bisa memiliki anak anak yang manis seperti dirimu...' harapan Allan dalam hatinya.
...
Sudah lebih dari 1 minggu, Allan berada di desa itu bersama Jane serta Kakek dan Nenek wanita itu. Allan juga mulai mengetahui sisi lain dari wanita yang ia cintai itu. Wanita yang tak hanya bisa berjalan di atas Chat walk dan melenggak lenggokan tubuhnya disana. Ia juga bisa beradaptasi di mana pun ia berada. Semakin menambah kekaguman seorang Allan pada Jane.
Seperti saat ini, wanita itu tengah mengangkati rerumputan yang ia kumpulkan keatas mobil pickup milik sang kakek. Allan menatap Jane dengan penuh rasa kagum dan terheran heran. Pasalnya, selama menjadi model, Jane lebih terlihat begitu angkuh dan sombong di mata orang lain meskipun di mata Allan terlihat mengagumkan.
Dengan di baluti pakaian sederhana kemeja lengan panjang dan celana jeans tua serta topi cowboys yang tidak pernah lepas dari kepalanya, membuat Jane terlihat **** sekaligus menawan di mata Allan.
Allan berusaha mengimbangi pekerjaan kasar Jane yang tentu belum pernah ia lakukan seumur hidupnya itu. Allan sangat ingin cepat selesai namun, apalah dayanya yang seorang tuan muda dari keluarga Johanson itu. Yang tentunya orang tuanya tidak pernah mengajarinya pekerjaan kasar. Ya meskipun ia pernah menjadi nelayan bersama Dorian. Allan mencoba untuk membantu sebisanya. Rasa kagumnya bertambah saat wanita itu meminta rumput yang ia bawa itu dengan senyumnya. Dalam hati Allan, ia tidak menyangka jika Jane menampilkan sosoknya yang berbeda.
Setelah selesai mengumpulkan semua pakan kudanya ke atas mobil pickup, Allan dan Jane beristirahat sejenak sebelum kembali ke pondok sang kakek. Jane mengibas ngibaskan topi cowboynya di depan wajahnya untuk memberikan kesejukan di wajahnya dari terik matahari.
"Uhuk .... uhuk... uhuk ..."
"Al... kkau tidak apa apa ...?" tanya Jane kawatir.
"Aku hanya tersedak Jane. Karena kurang hati hati...." jawab Allan pelan.
Allan hanya merasa takjub dengan apa yang ia lihat sekilas. Meskipun ia sering melihat tubuh Jane yang berpose dengan bikini di atas Chat walk, tapi melihat secara langsung, membuat jiwanya meronta.
"Ayo kita berangkat...?"ajak Jane. Dan membuyarkan lamunan Allan.
"Baiklah... biar aku yang mengemudi..." Allan langsung masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin.
Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol serta sesekali bernyanyi saat mendengar lagu kesukaan mereka yang sedang di putar di radio. Allan tidak pernah merasa sebahagia ini selama hidupnya. Meskipun dalam keadaan kekurangan materi seperti saat ini.
...
Sementara itu di kediaman Johanson.
Adam tengah uring uringan. Pasalnya sudah seminggu lebih Mina mendiamkan dirinya. Hanya betsikap hangat di depan orang tua mereka. Selebihnya, di dalam kamar maupun saat berdua saja, Mina seakan menghindarinya.
Allan merasa bersalah pada Sarah. Tapi ia lebih merasa bersalah lagi pada Mina. Ia tidak tau harus berbuat apa.
Saat ini, Adam tengah menatap Mina yang sedang duduk di taman belakang. Duduk sendirian di sebuah bangku sambil membaca buku. Adam ingin menghampirinya, namun ia urungkan saat ia melihat sang ayah berserta Allina menghampiri Mina dan bergabung dengan istrinya itu. Ya, Adam hanya bisa duduk diam menguping pembicaraan mereka.
" Kak Mina... Apa kau sedang bertengkar dengan Kak Adam...?" tanya Allina pelan.
"Tidak Al.. Aku tidak bertengkar dengan kakakmu..." jawab Mina dengan senyum di bibirnya.
"Tapi aku merasa ada yang tidak beres di antara kau dan kak Adam..." tebak Allina.
"Ah... mungkin itu hanya perasaan mu saja Al... Aku sedang tidak bertengkar dengannya. Hanya saja, aku sedang memberinya waktu..." Mina tersenyum dan menyesap jus jeruk yang baru saja di sajikan oleh pelayan.
"Waktu...? Waktu apa maksudmu kakak ipar...? Apa kakakku melakukan sesuatu...?" tanya Allina penasaran.
"Aku memberi kakakmu waktu untuk mengenang mendiang istrinya itu. Aku juga tidak ingin egois. Tidak ingin egois meminta Adam hanya memikirkan aku dan perasaanku. Aku memberinya ruang serta waktu untuk berpikir, mungkin untuk mengenang serta merindukan mendiang istrinya...." jawab Mina dengan senyumnya.
Alvin hanya duduk sambil menyesap teh herbalnya saja dan hanya menjadi pendengar setia di antara Mina dan Allina. Alvin merasa ia tidak patut dan tak akan mencampuri urusan rumah tangga anaknya itu. Ia yakin, Adam akan segera sadar dan menyesali tingkahnya itu. Karena ia juga yakin, anaknya itu tengah uring uringan tidak mendapatkan cukup asupan dari sesuatu yang menyenangkan.
Alvin tersenyum pelan. Sementara Adam, duduk dengan menyesali semua yang ia lakukan pada Mina.