
Keinginan Mina untuk pergi ke ikon negara tersebut terbayarkan sudah. Mina saat ini sedang menatap serta meresapi setiap sudut dan juga tempat itu perlahan lahan. Ia ingin mencetak memori yang indah agar ia dapat menyimpannya dalam memori di kepalanya dan mengenangnya ketika dirinya sudah tidak berada di tempat ini lagi.
Masih beberapa bulan lagi dia disini. Ia begitu bahagia, pasalnya hutang yang menjadi tanggungannya telah terlunasi. Hanya tinggal mengumpulkan uang untuk membuka usaha kecil kecilan ketika ia sudah kembali berada di Indonesia serta di tengah tengah keluarganya.
Hampir seminggu ini, ia tidak mendengar kabar dari sang suami. Ia juga tidak mengirimi kabar. Ia tau, suaminya sedang marah. Bahkan, kini ia lebih marah dari sang suami , karena suaminya itu tidak mempercayainya bahkan menuduh dirinya menaruh hati pada sang tuan. Memang bisa saja ia terhanyut dengan ketampanan sang tuan. Tapi ia cukup tau diri siapa dirinya dan siapa tuannya itu.
Meskipun ia tau, mungkin berciuman dengan pria lain yang bukan suaminya tentu saja itu juga bisa disebut penghianatan. Tapi, yang terpenting ia tidak membalas ciuman pria yang menjadi tuannya itu. Bahkan ia menolak pria itu, selain takut dengan dosa, ia juga takut berhianat pada suaminya. Meskipun, terkadang ia mulai larut dalam kebahagiaan semu yang di ciptakan oleh tuannya itu.
Mina menghela nafasnya pelan. Ia tidak pernah merasa terbebani lebih berat dari saat ini. Saat pertama kali ia menginjakan kaki di negara ini, dan menjadi pembantu di rumah tuannya, ia hanya mengira bahwa tuannya tidak akan pernah merasa tertarik dengan dirinya. Lebih baik tuannya itu bersikap seperti dulu, cuek, dingin, galak dan arrogant. Itu menjadikan dirinya lebih nyaman bekerja di sini.
Mengingat yang tertera di dalam surat kontrak kerjanya, yang mengharuskan dirinya bebas dari hubungan apapun di sini kecuali mengenai pekerjaan, itu membuatnya seakan tenang dengan aturan aturan itu karena ia memang tidak akan menjalin hubungan percintaan disini.
Tapi, jika mengingat saat ini tuannya mulai menggodanya, bahkan menjadikan dirinya sebagai fantasi liar pria itu, rasanya sangat sulit bagi Mina untuk menepis kemungkinan kemungkinan buruk itu kedepannya. Pria itu tiba tiba bersikap hangat dan tiba tiba bersikap dingin. Membuatnya begitu sulit untuk mempercayai semua tindakan pria itu.
Seandainya ia menyerah dengan godaan tuannya, banyak konsekuensi yang harus ia tanggung. Selain kehilangan suami serta anak anaknya, ia juga tidak akan di izinkan masuk ke negara ini lagi, dengan di Black list ataupun di cap buruk karena tidak mematuhi aturan jika itu ketahuan oleh pihak pihak yang berwenang.
Sebagai seorang wanita yang bodoh karena tidak berpendidikan tinggi, Mina selalu belajar untuk patuh dan mentaati segala aturan aturan yang di berlakukan, untuk mencari keamanan dirinya. Tidak sekalipun ia berusaha untuk melanggarnya.
Mina menghela nafasnya pelan. Ia mulai menyusuri jalan yang memang di khususkan untuk pejalan kaki. Ia menatap sekitar. Sejenak ia ingin menghilangkan semua beban pikirannya dengan melihat pemandangan buatan manusia ini.
Marina Bay Sands...
Singapore Flyer...
Esplanade...
Bahkan Merlion dan lain lainnya, ia cetak di memory kepalanya. Sebagai seorang Foreign Domestic Worker, ini lah yang membuatnya merasa betah bekerja disini. Ia begitu senang ketika mendapat 1 hari libur dalam 1 bulan ia bekerja. Selain itu, ia diwajibkan untuk Medical check Up setiap 6 bulan sekali. Itu merupakan antisipasi yang bagus untuk semua pekerja agar selalu sehat dan juga berdaya tahan tubuh bagus.
Mina bersyukur mendapatkan seorang majikan yang memperhatikan asupan gizi setiap harinya. Bahkan, ia membuatkan tabel menu makanan setiap minggunya untuk ia dan sang majikan, agar mudah dirinya berbelanja kebutuhan mingguannya.
Mina terus menerawang, ketika dirinya sudah tidak bekerja lagi disini, ia akan berkumpul kembali dengan keluarganya dan dengan senang hati merawat dan membesarkan putra putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia tau, 2 tahun ini ia sangat jauh dari anak anaknya. Ia begitu merindukan moment moment sederhana yang membahagiakan. Bahkan, sudah 1 tahun ia tidak mengontek orang tuanya yang saat ini ikut sang adik bertransmigrasi ke pulau Kalimantan.
Mina kembali menyusuri tempat itu untuk mencari tempat duduk untuk memakan bekal makan siangnya. Selain dia bisa berhemat, itu lebih sehat dan higienis.
Mina memakan makananya dengan sesekali menatap air laut yang tenang. Semilir angin menambah segarnya siang hari yang terik. Di bawah pohon yang rindang, ia bisa melihat banyak pasang manusia berlalu lalang menikmati pemandangan itu. Dari Turis Mancanegara sampai Turis Domestic.
Ada yang mengabadikan lewat photo Shot camera ponsel, ada juga yang menggunakan Camera Cannon serta lainnya. Mina memandangi Turis yang mungkin berasal dari benua Eropa. Rambutnya blonde tubuhnya putih serta matanya biru. Ia tengah kesulitan membopong putranya yang sedang menangis. Sedang sang pria, ia tengah menggandeng tangan putrinya. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan juga harmonis. Mina tersenyum melihatnya.
Dari kejauhan, Adam memandang Mina yang sedang duduk menghadap ke arah laut. Ia ingin sekali menghampiri wanita itu untuk mengajaknya makan di restoran Rooftop Marina Bay Sands. Tapi ia urungkan karena, tentu saja wanita itu akan menolaknya. Selain makanannya mahal, bagi wanita itu tentunya tidak akan mengenyangkan.
Adam tersenyum mengingat hari di mana Mina ketahuan sedang melahap pizza di sebuah food court. Mina mengira bahwa Adam belum sempat melihatnya di sana. Mina langsung melahap pizza itu sampai habis agar dirinya tidak tau. Padahal, ia sudah melihatnya dari kejauhan.
Karena setiap kali Mina ketahuan makan junk food, ia akan di marahi dan hanya di beri jatah makan sayuran dan daging selama seminggu. Adam menggelengkan kepalanya. Ia sudah begitu keterlaluan pada wanita itu. Dan yang membuatnya tidak habis pikir, mungkin ini adalah hukuman untuknya karena dulu terlalu membenci wanita itu sehingga, saat ini begitu tertarik padanya.
Adam menghela nafasnya pelan. Ia mulai menyusuri jalan, mengikuti langkah pelayannya dari kejauhan. Ia cukup berhati hati agar tidak ketahuan oleh Mina. Dia menggunakan kaca mata hitam, topi hitam serta menggunakan jenggot palsu.
Mina bergidik ngeri, merasa sedari tadi ada yang mengikutinya dari kejauhan. Pasalnya, setiap kali dirinya berhenti di suatu tempat, orang itu selalu saja ada di sana dengan jarak yang tidak jauh. Mina berusaha menghindar dari pria berjenggot yang memakai topi serta kacamata hitam itu dengan menyelinap di antara kerumunan orang banyak.
Mina melepas jaket serta topinya dan menyimpannya dalam ransel. Agar bisa mengelabuhi pria yang sedari tadi mengikutinya itu. Selain panik, ia juga merasa tidak aman dan nyaman. Mina bersembunyi di dalam sebuah toilet umum khusus wanita.
Adam sedang panik, karena kehilangan jejak maidnya. Entah pergi ke mana wanita itu. Setelah melacak ponsel milik Mina, ia tersenyum bahwa wanita itu tidak jauh dari dirinya berada. Adam memutuskan untuk menunggu wanita itu di pintu keluar masuk toilet umum khusus wanita.
Mina tercekat serta menelan ludahnya kasar. Pria yang sedari tadi mengikutinya, betada di depan pintu keluar masuk toilet, entah ia menunggu siapa. Apakah dirinya batin Mina mulai panik. Mina berusaha untuk tetap bersikap biasa saja melewati pintu tanpa memedulikan keberadaan pria itu disana. Mina mencoba memancing, apa memang pria itu mengikutinya, dengan berjalan ke gang sempit serta sepi yang tidak banyak di lalui banyak orang.
Benar saja, ketika Mina menoleh ke belakang, pria berjenggot tebal itu mengikutinya. Mina yang sydah mulai ketakutan, langsung lari sejadi jadinya ke tempat yang lebih ramai orang agar pria itu mungkin enggan berbuat jahat.
Namun na'as, gang yang ia lalui adalah gang buntu. Mina gemetar ketakutan saat pria itu mulai mendekat ke tempat dirinya saat ini. Mina tidak melihat tatapan mata pria itu karena tertutup kaca mata hitamnya. Mina takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkannya. Ingin berteriak minta tolong, tidak akan ada orang yang mendengar, karena memang ini cukup jauh dari keramaian.
'Ya... Allah... apakah ini adalah akhir dari hidup hamba...???' batin Mina bergetar ketakutan.
Mina berbalik ingin melewati jalan di mana pria itu berdiri. Dengan hati yang mantap, ia langsung berlari dari sana. Namun, lengannya di cekal oleh pria itu dengan erat.
"Tolong lepaskan saya tuan..." ucap Mina memohon dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.