My Maid And I

My Maid And I
Part 42. My Maid and I.



"Baiklah, akan saya katakan semuanya...!!!" kata Mina dengan nada tinggi. Mina seakan sudah tidak takut dengan tuannya lagi.


"Oke, mari kita dengarkan...!!!" nada suara Adam tak kalah meninggi.


Stanly menganggukan kepalanya, dan meletakan cangkir tehnya kembali ke meja.


'Kita lihat Boss... apa yang akan pelayan anda katakan... sepertinya akan menarik....' batinya seraya tersenyum sekilas.



"Baiklah... Mr... saya akan memulainya..." kata Mina dengan berapi api.


Adam dan Stanly menganggukan kepalanya.


"Saya menolak ajakan anda untuk menjadi kekasih sementara anda atau bisa di katakan kekasih bayaran anda karena;


Saya sudah bersuami.


Rasanya saya tidak pantas menjalin kasih dengan pria lain, sementara ada seorang suami yang menunggu saya di suatu tempat. Saya tidak bisa menghianati suami saya.


Anda majikan saya.


Saya merasa tidak pantas untuk bersanding dengan anda karena, anda terlalu tinggi untuk saya gapai dan saya tidak sebanding dengan anda. Anda majikan saya, tentu saya harus menghormati anda dan menjunjung tinggi martabat anda. Jika saya menerima tawaran anda, sama saja dengan saya menginjak injak harga diri anda sebagai atasan saya, serta saya menganggap diri saya sebanding dengan anda. Maaf saya tidak seperti itu.


Saya hanya pelayan dan pekerja di rumah anda.


Sebagai seorang pekerja FDW( Foreign Domestic Worker), atau lebih tepatnya seorang pelayan yang terkontrak, saya harus mematuhi aturan aturan yang sudah saya setujui selama, saya bekerja dengan anda. Dengan tidak menjalin hubungan asmara atau hubungan percintaan dalam bentuk apapun di sini, tidak dengan tuan rumah dan juga tidak dengan sesama pekerja selama saya bekerja di sini. Jadi, saya tidak bisa seenaknya saja melanggar aturan itu.


Saya bukan wanita bayaran.


Saya hanya bertugas untuk memenuhi kebutuhan anda sehari hari bukan untuk menjadi kekasih anda meskipun hanya kekasih bayaran. Meskipun kelak, saya mendapatkan bayaran atas apa yang saya perankan, itu sama saja denga saya menjual diri saya pada anda. Saya wanita yang menjunjung tinggi kepercayaan serta kesetiaan. Jika saya menyetujuinya, saya telah menghianati pasangan saya meskipun pasangan saya tidak tau. Maaf, saya tidak bisa.


Menjadi kekasih anda tidaklah relevan.


Dengan menjadi kekasih bayaran anda, secara tidak langsung kita harus melakukan kontak fisik. Entah itu pegangan tangan, berpelukan, atau yang lainnya disaat anda membutuhkan peran saya. Itu sama saja membuat saya seperti seorang J***** tanpa anda sadari. Sementara anda, pernah melarang saya untuk menjadi wanita murahan dengan menegur saya ketika memakai perhiasan pemberian Mr. Stanly saat itu. Anda dan saya tidak ada sangkut pautnya dan tidak bisa terkoneksi walau hanya sebagai kekasih bayaran sekalipun. Hanya bisa sebatas tuan dan pelayannya. Tidak lebih. Jadi silahkan anda mencari wanita yang pas dan sesuai dengan apa yang anda inginkan. Maaf saya tidak bisa..." kata Mina setelah menyelesaikan kata kata panjang lebarnya itu.


Mina kembali duduk dan meraih gagang cangkir tehnya kemudian meneguknya sampai habis. Tenggorokannya serasa kering setelah berbicara panjang lebar pada tuannya itu.


Sementara itu, Adam dan Stanly hanya diam membisu, mencerna kata kata Mina dengan seksama.


Adam menatap Stanly dengan mengangkat alisnya, seakan sedang bertanya pada asistennya itu 'Bagaimana...???' tapi, sang asisten hanya mengangkat bahunya seakan berkata 'Tidak tahu...' dan meminum kembali tehnya.


Adam menghela napasnya kasar. Ia tahu, itu adalah kebodohannya sendiri. Memang benar kata Mina... itu urusan dirinya. Wanita itu hanya outsider di sini. Menjadi bagian dari hidupnya hanya karena kontrak pekerjaan. Tidak mungkin ia memaksakan keinginannya itu. Sementara dulu ia menghina Mina dan membuatnya sakit hati.


Seakan dirinya kini telah menjilat ludahnya sendiri. Dulu ia mengingatkan Mina untuk tidak menjual diri dan menghinanya dengan apa yang ia pakai dari Stanly asistennya itu, tapi sekarang, seakan akan ia meminta Mina untuk menjadi J***** nya dan ingin membayarnya tinggi.


Sungguh ironi. Ia hampir saja memaksa seseorang untuk memenuhi keinginannya itu. Benar apa kata wanita itu. Dengan menjadi kekasih bayaran, tentu saja agar peran itu maksimal harus ada kontak fisik antara pemeran pria dan pemeran wanita. Sementara itu, Mina tidak akan mau untuk melakukannya.


Adam menghela nafasnya pelan. Merutuki kebodohan yang baru saja ia ucapkan. ia telah mempermalukan dirinya sendiri di hadapan asistennya serta pelayannya. Tapi, ia bersyukur bahwa Mina menolaknya dengan memperjelas keadaan diri mereka saat ini.


Adam menyesap teh herbalnya untuk sedikit menenangkan kepalanya. Ia beranjak dari sofa yang ia duduki dan berlalu ke dalam kamarnya untuk mandi agar pikiran jernihnya kembali.


Stanly hanya tersenyum simpul. Ia tau, bahwa Mina akan menolak ide konyol Bossnya itu dengan caranya sendiri. Memang wanita itu benar benar the best untuk soal kesetiaan terhadap pasangannya. Mungkin jika wanita lain, ia akan dengan senang hati membantu tuannya itu apa lagi jika di iming imingi imbalan uang dengan jumlah yang banyak.


Stanly beranjak dari sofa yang ia duduki dan berlalu ke arah pintu keluar. Ia ingin kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Ini adalah kesempatan bagus untuknya agar bisa istirahat dengan baik setelah melalui hari yang cukup mencengangkan.


----------


Mina yang berada di dapur juga merasa begitu emosi. Pasalnya, selain ia kehilangan waktu istirahatnya, ia juga merasa begitu terhina dengan permintaan tuannya tadi. Seakan akan, ia bisa di beli dengan uangnya meskipun hanya sebatas kekasih bayaran. Ia benci sekali dengan pernyataan itu. Ia tau, ia miskin, tak berpendidikan tinggi. Makanya ia hanya bisa bekerja hanya sebatas pelayan saja.


Tak dapat di pungkiri, ia begitu membutuhkan uang yang banyak, untuk usahanya nanti ketika sudah kembali ke sisi suaminya di Indonesia. Tapi, tidak juga dengan hasil dari usaha yang tidak jelas jalurnya.


Ia tau dan mendapatkan bocoran dari salah satu ex pekerja sebagai FDW di sini, bahwa di sini begitu ketat memantau penghasilan serta pemasukan setiap warga dan pekerjanya. Dan selalu di pantau setiap bulannya agar tidak terulang lagi sebuah kasus, dimana seorang pekerja yang entah darimana asalnya itu, 15 tahun bekerja tanpa bayaran dan tanpa melihat dunia luar. Yang merupakan sebuah momok memalukan.


Entah itu hoaks atau nyata, ia tidak tau. Yang ia tau, ia ingin bekerja semaksimal mungkin tanpa adanya permasalahan dan juga sebuah kesalahan yang akan ia tanggung kelak. Ia begitu berhati hati melakukan tindakan apapun tidak di sini tidak di kampung halamannya.


Mina menghela napasnya pelan, iya sanggup menjaga dirinya dari apapun saat suaminya tidak berada di sisinya meskipun dengan nyawanya sekalipun. Ia berusaha sekuat tenaga agar selalu berada di jalan yang benar. Agar ia selalu merasa aman dan bahagia.


Tentu saja, Tuhan akan selalu melindungi umatnya yang selalu berhati hati dan berikir sebelum bertindak. Yang membuatnya begitu lega ialah, ia selalu bisa berpikir positif dan memecahkan masalah tanpa emosi.


'Aku berharap, dengan menghormati dan mematuhi aturan, aku akan selalu mendapatkan kemudahan selama berada di sini...' batin Mina penuh harap.


******


Sebagian cerita merupakan pengalaman pribadi menjadi ART di negeri orang yang tentunya bukan di negara tersebut. Sebagian lagi mencari berita di internet serta cerita dari beberapa ex yang bekerja di luar negri. Karena daerah tempat tinggal author itu merupakan mayoritas penduduknya menjadi ART di luar negeri, merupakan hal yang bisa di banggakan karena, mereka menjadi pahlawan devisa.


Mengenai cerita ini, sebagian isi ceritanya juga fiksi.... jadi harap maklumi.... itu hanyalah imajinasi authornya saja... jangan di bawa ke pemikiran buruk.