My Maid And I

My Maid And I
Part 13. My Maid and I



Ketukan di pintu membuyarkan ingatan kenangan masa lalu. Seorang pria masuk ke dalam kamarnya dengan balutan jaz yang masih melekat. Senyum merekahnya membuat pria itu nampak tampan dan berwibawa.


Allan Crishtian Johanson adiknya. Pria yang 4 tahun lebih muda darinya itu datang dengan senyum bahagianya. Pria itu memandangi sang kakak yang tengah berbaring dengan tangan yang di selipkan di bawah leher.


Allan benar benar senang. Setelah 4 tahun lebih pria yang menjadi kakaknya itu pergi, meninggalkan tanggung jawab perusahaan orang tua mereka di pundaknya. Kini saatnya ia mengembalikan semuanya di tempat semula. Dan dirinya bisa mengejar mimpinya yang sempat tertunda. Yaitu, menjadi Dokter yang dapat melayani semua kalangan. Dari kelas menengah kebawah dan menengah keatas. Atau menjadikan dirinya relawan untuk mengabdikan dirinya demi kemanusiaan.


Berharap semua ini adalah keputusan bijak sang kakak untuk kembali ke Canada dan ia bisa meraih mimpinya kembali. Dengan senyum cemerlang ia menghampiri sang kakak.


"Hai... kak... apa kabar..?" sapa Allan pada Adam yang sedang berbaring di ranjang. "Akhirnya kau kembali... aku sudah menunggu hari ini tiba... aku akan dengan lega dan senang hati untuk terbang bebas...." sambungnya. Allan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang kakak.


Sambil mendudukan tubuhnya, Adam meraih tangan Allan dan kemudian menarik tubuh sang adik untuk memeluknya sekejab. Adam tersenyum sekilas dan berkata : "Allan... kau berpikir aku kembali untuk mengambil alih posisimu di perusahaan Dad.... hmm....?" tanya Adam pada Allan sambil melepas pelukannya pada sang adik.


"Sayang sekali Allan... kau harus tetap pada posisi itu selamanya.... Aku sudah punya usahaku sendiri dan aku tidak kekurangan uang untuk merebut atau mengemis uangmu ataupun uang Dad..." tegas Adam.


"Jadi kenapa kau kembali kak... bukankah jika kau kembali kau akan kembali memimpin perusahaan Dad...? Bahkan kau sudah berjanji padaku..." kata kata Allan mengingatkan Adam tentang janjinya pada sang adik bahwa jika dirinya kembali maka ia akan kembali memimpin perusahaan milik keluarga.


Flashback on...


4 tahun silam...


"Kak... kau akan kemana... ?" tanya Allan yang melihat Adam memasukan beberapa pakaiannya kedalam koper.


Adam menghentikan kegiatannya dan menatap sang adik dengan sendu.


"Aku ingin pergi ke suatu tempat Allan... aku ingin menenangkan diriku dahulu... tinggal di tempat ini membuatku frustasi... aku belum bisa merelakan kepergian sarah untuk selamanya... aku juga tidak ingin berlarut larut membenci Mommy karena ia yang membuat aku kehilangan sarah....." kata Adam panjang lebar.


" Lalu bagaimana dengan perusahaan....? Apa kau tega dengan semua hasil jerih payah Dad hancur begitu saja...?" Allan bertanya.


."Untuk sementara perusahaan kau yang meng handel..." jawab Adam enteng.


"Jangan seperti itu kak... aku punya mimpiku sendiri... aku juga ingin meraih cita citaku menjadi Dokter... aku juga ingin keliling dunia untuk menjadi relawan tenaga medis apa kau lupa kak... aku pernah mengatakan itu semua bukan...?" bentakan Allan yang tidak terima keputusan sang kakak.


"Apa kau ingin aku menjadi gila... Allan...? Aku tidak bisa serumah dengan Mommy... aku takut semakin membencinya... aku tidak mau menjadi anak yang durhaka... Simpan dulu mimpimu kelak ketika aku kembali , kau bisa terbang bebas semaumu..." kata Adam sambil kembali memasukan barang barangnya dengan memunggungi Allan.


"Aku tidak bisa kak....!!! Bisnis bukanlah integritasku... bahkan aku tidak tau menau mengenai bisnis... apa kau ingin aku menghancurkan usaha Dad...?" suara Allan mengeras.


"Aku tagih janjimu kelak... Kak jika kau kembali aku akan terbang bebas seperti yang kau janjikan..." kata Allan sambil memandangi punggung sang kakak yang akan keluar dari pintu kamar.


Adam tidak berkata apa apa. Hanya tangannya yang membentuk huruf ok... 👌...


Allan sedih sekaligus kecewa dengan sikap kakaknya.


Flashback off...


"Apa kau tak mengingatnya kak.....?" tanya Allan pada sang kakak.


"Entahlah... Al... aku lupa...." kata Adam santai. Adam memandangi tubuh sang adik dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Kau lebih cocok seperti ini Al... menjadi Dokter tidak cocok untuk dirimu..." kata Adam sambil terkeh.


"Tak usah memujiku kak... aku tidak akan terbang membubung tinggi dengan semua pujianmu... aku kemari hanya memastikan bahwa kau tidak akan pergi lagi... aku sudah muak berpura pura di depan Dad... berpura pura menjadi pebisnis yang baik... aku bukan kau kak... aku punya mimpiku sendiri...." kata Allan menegaskan.


Adam semakin terkekeh. "Aku disini hanya 1 minggu Al... tidak lebih... aku kesini hanya menjenguk Mommy... aku tidak ada waktu untuk mengurusi bisnis yang kau kelola saat ini... aku punya usaha sendiri... untuk itu bertahanlah di posisi itu... hmm " Adam tersenyum setelah mengatakan kalimat yang membuat Allan bertambah emosi.


"Mungkin sesuatu yang kau anggap tidak baik dan juga tidak kau sukai adalah hal yang terbaik untukmu Al... dan mungkin juga sebaliknya... apa yang kau anggap baik belum tentu baik kedepannya... dengan bisnis yang kau lakukan saat ini kau punya banyak uang... dan dengan uang yang kau hasilkan, kau bisa membangun rumah sakit atau fasilitas kesehatan atau yayasan amal untuk orang orang yang tidak mampu atau apapun untuk kemanusiaan Al..." kata Adam menceramahi.


"Jadi meskipun kau tidak turun tangan sendiri, uangmu yang turun tangan. Kau paham maksudku kan....?" tanya Adam.


Allan menimbang kata kata sang kakak. Dia tidak pernah berpikir sedemikian rupa. Adam sang kakak memang tidak pernah memberi tau kan pernyataan ini. Hanya dengan uang ia bisa membangun fasilitas apapun untuk kemanusiaan. Tanpa turun tangan ke lapangan sebagai relawan dan mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan.


"*Kenapa kau diam Al... ?" tanya Adam.


"*Kau sedang berpikir tentang apa yang ku katakan....? Bukankah aku benar...?" tanya sang kakak.


"Aku pikirkan kak... mungkin kita makam malam dulu... sebenarnya selain menyapamu, aku bemaksud untuk mengajakmu turun untuk makan masam bersama. Saat ini Mom , Dad, Ellen dan allina kembaranku sudah menunggu...." kata Allan sang adik*.


Allan berlalalu sebelum benar nenar menutup pintu, Allan membalikan tubuhnya dan berkata..; "Kami menunggumu di bawah kak..." pria itu tersenyum kemudian menutup pintu.


Adam bersiap untuk turun, sebelum itu ia mengecek handphonenya. Ternyata ia mendapat email dari Stanly. Adam membukanya dengan sedikit terkejut kemudian menjadi perasaan senang. Entah apa yang ada dalam pesan email tersebut. Sehingga seseorang seperti Adam dapat tersenyum*.