
Ting tong,
Ting tong...
Suara bel berbunyi...
Mina beranjak dari tempat menjemur pakaian dan berlari tegopoh gopoh menuju pintu.
Tentunya dengan mengecek di layar dahulu sebelum membukanya.
"Siapa... Mina....??" tanya sang tuan , yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Ah... itu Mr... Asisten anda..." jawab Mina.
"Bukakan pintunya..." perintah sang tuan dan pria itu kembali keruang kerjanya.
"Ya... Mr..." jawab Mina. Dan kemudian ia meraih gagang pintu di sebelahnya.
"Selamat pagi asisten Stanly..." sapanya pada pria di balik pintu.
"Selamat pagi... yang sebenarnya hampir siang Mina..."jawab sang asisten sambil tersenyum ramah.
"Silahkan masuk..." kata Mina.
"Tentu..." jawab pria itu.
"Di mana Mr Johanson... apa ia berada di ruang kerja...???" tanya sang asisten.
"Sepertinya..." jawab Mina.
"Baiklah... aku akan segera kesana..." kata pria itu sambil berlalu menuju ruang kerja sang Boss tentunya.
Ketika, Mina akan berlalu kembali menuju tempat jemuran, ia mendapati piring dan perlengkapan makan tuannya tadi masih berada di meja. Belum ia kemasi tadi... karena mencuci pakaian dahulu.
Setelah selesai semua pekerjaannya, Mina melahap sarapannya yang bisa di katakan hampir makan siang. Karena kebiasaannya sebelum menyelesaikan pekerjaannya dia belum konsen untuk makan.
Sementara itu di ruang kerja Adam.
"Pagi ... Boss..." sapa sang asisten pada Adam.
"Hmm... pagi... Stan... kau sudah datang....???" jawab pria yang sedang konsentrasi menatap laptopnya. Dan tidak menatap asisten yang sekaligus sahabatnya.
Merasa tidak di hiraukan, Stanly mulai jengah. Bukankah hari ini tidak ada pekerjaan pikirnya. Tapi, Bossnya itu selalu saja tidak bisa jauh dari laptopnya barang sebentar.
"Apa ada yang masih belum selesai ... Boss...??? " tanya sang asisten. " Anda terlalu fokus dengan laptop anda. Apakah anda tidak bisa jauh dari benda itu barang sebentar saja.... !!???" protesnya.
"Lalu... aku harus apa.. hmm... ini juga gara2 kamu kurang sportif dalam bekerja Stan..." Adam menunjuk laporan yang ada di laptopnya. "Dan kau hanya terlalu memikirkan ************ wanita... ahir ahir ini." kata Adam tanpa expresi.
"Ayolah... Boss... saya butuh hiburan... Mungkin anda juga butuh refresing Boss... kita pergi ke klab bersama... ...???" Stanly mengingatkan.
"Begitukah Stan... Hmm... jadi kau membutuhkan hiburan... kau tidak usah kembali bekerja hari Senin besok... aku akan cari asisten baru" kata Adam dengan tetap menatap laptopnya.
"Ampun... Boss... saya tidak butuh hiburan... saya tarik semua kata kata saya..." Stanly meminta sambil memelas.
"Bukankah kau butuh kebebasan... hmm... akan aku kabulkan mungkin...tapi tak semestinya kau nyaris menghancurkan usahaku... Stan" tanya Adam pada sang asisten.
"Berkerjalah dengan serius... atau aku kembalikan kau ke Negara asalmu..." tambahnya.
" Baiklah... Boss..." jawab Stanly sambil menunduk lemas.
Adam terkekeh geli melihat sang asisten tak lagi se semangat tadi. Mungkin kata kata asistennya itu ada benarnya. Dia juga membutuhkan hiburan.
Tapi untuk masalah wanita.... itu urusan nanti.
Tok
Tok
Tok
Mina masuk membawa nampan berisi 2 cangkir kopi hitam.
" Maaf ... Mr... ini kopi anda... silahkan" kata Mina sambil meletakan cangkir berisi kopi di meja dekat sofa panjang...
" Ya... terima kasih... Mina" kata kedua pria itu.
"Saya... permisi..." kata Mina sambil berlalu pergi dan menutup pintu ruang kerja sang tuan.
"Minumlah... Stan... lalu kita berangkat" kata sang Boss.
"Ya... Boss..." jawab Stanly kemudian meraih cangkir berisi kopi dan menyesapnya.
"Mina, selalu pas saat membuatkan kopi untuku... takaran gula dan kopi selalu seimbang..." Stanly memuji.
"Itu karna dia membuat kopi sesuai sachet nya Stan... siapapun bisa membuatnya..." Adam menepis kata2 sang asisten.
" Tidak ... Boss... anda salah..." Stanly mengelak.
"Dia, tidak pernah membuat kopi sachet... karena tidak ada 1 pun di rumah ini... yang ada hanya toples berisi kopi Nes**fe original kesukaan anda..."kata sang asisten menjelaskan.
"Oh... ya... apa... anda sudah memberikan handphone yang saya bawa kemarin..???" Stanly bertanya.
"Ah... aku lupa... Stan..." Adam menepuk jidatnya dan meraih laci di meja kerjanya.
"Berikan itu padanya dan tunggu aku di parkiran mobil, kita berangkat..." perintah Adam pada Stanly.
"Baiklah... Boss... saya mengerti..." Stanly meminum habis kopinya dan meraih paper bag yang berisi handphone dan berjalan keluar ruangan itu.
💐💐💐💐💐
Stanly mencari keberadaan Mina sambil menenteng paper bag yang ia bawa dari ruangan Bossnya...
"Mina... Mina... kau dimana...???" Stanly memanggil wanita itu dengan suara lantang.
Mina berlari tergopoh gopoh keluar dari kamar tidur sang Boss, mencari asal suara yang memanggilnya dan masih membawa sapu di tangannya. Karena memang Mina sedang membersihkan kamar tidur tuannya.
"Iya... Mr Stanly... ada apa...???" tanya Mina pada Stanly dan berjalan mendekat.
"Kemarilah....!!!" pintanya.
"Duduklah disini..." Stanly menunjuk kursi di depannya pada Mina.
Mina menuruti kata kata Stanly dan dia sudah mendaratkan bokongnya di kursi yang di maksud sang asisten tadi.
"Ada apa ... Mr..." tanya Mina dengan suara lembut.
"Mr Johanson, memberimu handphone ini untuk kebutuhan pekerjaanmu disini. Didalam handphone sudah tertera nomer ku dan nomer Mr Johanson saja. Kau bisa menambahkan nomor temanmu keluargamu suamimu dan lain lain..." kata sang asisten panjang lebar.
"Tapi, ingat... gunakanlah dengan baik dan bijak... Setiap bulan ada paketan data untukmu... aku yang mengirimi untuk keperluan luar ruangan... maksudku diluar rumah ini..."
"Tapi untuk di dalam rumah ini, kamu cukup membuka jaringa WIFI saja... handphonemu harus selalu aktif... kamu juga harus belajar memasak masakan barat dari aplikasi Yo* Tub* " kata pria itu menjelaskan panjang lebar.
Mina hanya mengangguk dan mengangguk tanda mengerti. Dan tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada sang asisten.
Setelah menjelaskan tata caranya memakai handphone pada Mina, Stanly berlalu ke parkiran dan menunggu sang ...Boss... disana.